Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Mencari Reyhan.


__ADS_3

Malam harinya.


"Kamu belum tidur, Mel?" Bu Ratna duduk sambil menatap sang putri, yang tengah termenung seorang diri di ruang tamu rumahnya.


Amel menoleh dan melihat sang ibu yang kini tengah duduk tak jauh darinya. "Belum Bu." jawab Amel pelan.


"Mikirin Ilham?"


Amel mengangguk pelan, "Mas Ilham gak bisa di hubungi Bu, aku sedikit khawatir perasaan ku akhir-akhir ini gak enak!"


"Kamu sudah coba telpon mertuamu?"


"Belum Bu, aku malah takut ganggu kalau seandainya aku telpon mereka?"


"Kenapa kamu mikir kaya gitu, siapa tahu mertuamu tahu Ilham pergi ke kantor cabang mana?"


Amel masih menggeleng, "Nanti saja Bu, kalau memang aku sudah tak bisa menunggu kabar nya. Nanti aku telpon orang tua mas Ilham."


"Yaudah sekarang kamu istirahat sana, lihatlah sudah jam berapa sekarang! Jangan sampai kamu sakit karena menunggu kabar dari Ilham?" ucap Bu Ratna.


"Iya Bu, sebentar lagi. Amel masih ingin duduk disini sebentar!"


"Ya sudah, Ibu masuk ke kamar dulu ya?" pamit Bu Ratna sembari beranjak dari duduknya. Tapi sebelum dirinya benar-benar meninggalkan Amel, suara lirih Amel yang memanggil dirinya membuatnya diam untuk sesaat.


"Bu, bolehkah aku tidur denganmu malam ini?


Bu Ratna menatap Amel dan mengangguk pelan, " Boleh, ayo kita tidur?" ajaknya lembut.


Amel tersenyum dan beranjak dari duduk nya, mereka berjalan beriringan masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh yang mulai terasa lelah.


Amel tidur sambil memeluk sang Ibu, "Bu, jangan pernah tinggalkan aku lagi seperti dulu ya?"


Bu Ratna mengusap lembut rambut Amel, "Iya Ibu tak akan pernah meninggalkanmu sendirian mulai dari sekarang, tetaplah kuat apapun yang akan terjadi nanti, hem?"


Amel mengangguk sebelum memejamkan matanya, masih tersisa air mata di sudut matanya, saat kenangannya bersama dengan Ilham tiba-tiba terlintas begitu saja.

__ADS_1


Melihat Amel yang sudah terlelap, bu Ratna merasakan sesak di dalam dadanya. Hari ini ia sengaja datang karena permintaan besannya, yang mengatakan kalau Ilham mengalami kecelakaan dan dalam keadaan koma. Sementara mereka menjaga Ilham, sang besan meminta dirinya untuk menemani Amel yang ada di rumah bersama dengan sang asisten. Mereka belum sanggup untuk menceritakan keadaan Ilham kepada Amel, karena mereka takut kondisi Amel akan kembali buruk setelah mendengar berita kecelakaan Ilham.


Akhirnya disinilah bu Ratna berada, menemani sang anak yang memang terlihat sangat rapuh. Karena kepergian sang suami yang tak kunjung memberi kabar.


Sambil menghembuskan nafas kasar, bu Ratna memilih untuk terlelap menyusul sang anak yang lebih dulu tidur. Sambil berharap semoga hari esok bisa lebih baik dari hari ini.


****


Keesokan pagi nya, keadaan Ilham masih tetap sama walaupun sempat sadar dan terus memanggil nama Reyhan, tapi kini ia kembali terlelap setelah dokter memberikan obat untuknya. Setelah sebelumnya Ilham mengalami kejang yang tiba-tiba.


Bu Suryo masih tergugu di depan ruang rawat Ilham. "Anak kita Pa?" ucapnya lirih disertai senggukan yang tak kunjung berhenti.


"Papa tahu Ma, semoga saja Ilham baik-baik saja."


Bu Suryo yang masih menangis, tiba-tiba mendongakkan kepalanya sambil melihat sang suami. "Ayo kita kerumah Bu Surti Pa, kita tanya dimana Reyhan! Siapa tahu setelah melihat Reyhan, Ilham akan kembali sadar dan sembuh?"


"Tapi ini masih terlalu pagi Ma, untuk berkunjung kerumah orang?" jawab Pak Suryo ragu.


"Malah bagus Pa, setidaknya tempat nya belum terlalu ramai sama pembeli. Itu akan membuat kita lebih mudah berbincang dengannya?"


Tak butuh waktu lama! Kini mobil yang dikemudikan Pak Suryo, telah sampai di pelataran rumah makan Hanum. Sepi! Satu kata yang bisa mereka ucapkan, mengingat waktu kedatangan mereka yang masih terlalu pagi, untuk ukuran sebuah rumah makan yang biasanya ramai di siang sampai malam hari.


Pak Suryo dan sang istri, berjalan masuk lewat pintu yang biasa di khususkan untuk keluarga, karena di sanalah bu Surti dan keluarga nya tinggal.


"Assalamualaikum." ucap bu Suryo memberi salam.


Tak lama terdengar suara seseorang yang menjawab salam darinya.


"Maaf Pak, Bu. Nyari siapa ya?"


"Bu Surti nya ada Mbak?" tanya Pak Suryo ramah.


"Ada sebentar saya panggilkan!"


Tak lama menunggu, Bu Surti datang menghampiri Pak Suryo yang tengah duduk menunggu di teras depan ruko yang disulap menjadi rumah itu.

__ADS_1


"Bapak dan Ibu mencari saya?" tanya Bu Surti yang keheranan saat melihat mantan besannya itu mencari-cari dirinya. "Ada yang bisa saya bantu?"


Bu Suryo langsung bersimpuh di kaki sang mantan besan, sambil berurai air mata ia menanyakan dimana Reyhan dan Hanum berada.


Bu Surti yang terkejut melihat sikap mantan besannya itu, cuman terdiam tanpa tahu harus melakukan apa? Sampai suara Ardi yang mendekat dan membawa bu Suryo untuk bangkit dari duduknya, membawa sedikit keterkejutan yang sempat hadir.


"Bangun Bu gak enak dilihat orang nanti!" ucap Ardi sambil memapah orang tua itu, untuk bangkit dari duduknya.


Bu Suryo masih sesenggukan, saat Ardi membawa nya untuk duduk. Sedangkan Pak Suryo hanya bisa diam, saat melihat istrinya itu mulai menangis sesenggukan.


"Sebenarnya ada apa ini Pak, Bu? Kenapa kalian datang ketempat saya sambil menangis?"


"Maafkan kami, Bu? Niat kami kemari sebenarnya, ingin bertanya kemana Hanum dan Reyhan berada?"


"Untuk apa Bapak sama Ibu, menanyakan Hanum dan Reyhan?"


"Ilham kecelakaan dan sekarang dia koma, tapi Ilham selalu menyebut nama Reyhan. Bahkan disaat Ilham baru sadar, nama Reyhan yang pertama disebutnya." ucap Bu Suryo. "Tolong kasih tahu saya dimana Reyhan sekarang?" pintanya sambil mengatupkan kedua tangan sambil memohon.


Bu Surti hanya diam tanpa menjawab, bahkan dirinya pun terkejut saat mendengar kalau Ilham kecelakaan tapi hati kecilnya seakan menolak untuk memberi tahu dimana Hanum dan Reyhan berada.


"Saya tidak tahu dimana mereka!"


Pak Suryo dan sang istri terkejut, mendengar ucapan mantan besannya ini. Bagaimana mungkin dia tidak tahu kemana anak dan cucu nya pergi.


"Tolong saya Bu, saya tahu Ilham pernah berbuat salah kepada Hanum dan juga Reyhan. Tapi apa hukuman ini belum cukup untuknya? Sekarang Ilham sedang sekarat dirumah sakit, saya hanya minta tolong siapa tahu saat bertemu Reyhan, Ilham akan segera membaik!" pinta nya semakin memelas.


"Saya tidak tahu dan saya juga tidak ingin tahu Bu. Maaf Hanum dan Reyhan sudah bahagia dengan keluarga barunya, jadi saya mohon jangan usik kebahagiaan mereka lagi."


"Mengusik kebahagiaan, apa maksud perkataan bu Surti? Reyhan anaknya Ilham wajar jika Ilham ingin bertemu dengannya kenapa ibu sebut itu mengusik?" ucap Bu Suryo dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Lalu apa nama nya kalau bukan mengusik, dulu saat kami bisa hidup tanpa Ilham, dia sendiri yang datang menawarkan diri untuk jadi ayah yang baik untuk Reyhan tapi apa buktinya? Cucuku sampai harus bolak-balik kerumah sakit hanya karena merindukan ayahnya yang sama sekali tak ada kabar beritanya."


Bu Suryo terdiam, mendengar ucapan bu Surti yang meluapkan semua perasaan yang telah lama dipendam nya itu.


Dirinya tak bisa berkata apapun, karena apa yang dikatakan mantan besannya ini benar adanya. Kesalahan Ilham juga terlalu banyak, tak akan bisa ditebus seandainya kesempatan Ilham untuk hidup itu ada.

__ADS_1


****


__ADS_2