
Sakha mematung, dunia nya benar-benar runtuh sekarang. Impian yang lama ia bangun, sekarang hancur berkeping-keping.
Sakha mendesah kecewa! dia kalah langkah, kalah cepat dari orang lain yang kini menjadi suami Hanum.
Hanum yang melihat Sakha terdiam, merasa heran! "Abang kenapa?" tanya Hanum.
Sakha yang mendapat pertanyaan dari Hanum, seketika memegang dadanya. "Sakit Han!" jawabnya sendu.
"Bang Sakha sakit!" sakit apa Bang?" tanya Hanum sedikit khawatir.
Sakha yang melihat kekhawatiran di wajah Hanum, sedikit membuatnya tersenyum. Tapi kenyataan kalau Hanum sudah menikah tetap menyesakan dada Sakha.
"Aku gak papa Han, hanya sedikit merasakan patah hati saja!" ucap Sakha sedih.
"Abang lagi jatuh cinta, sama siapa?" tanya Hanum sedikit terkejut.
"Bisa tidak kita ngobrol nya sambil duduk Han? kaki Abang sedikit pegal kelamaan berdiri." gurau Sakha.
Hanum terkekeh, tapi saat Hanum ingin mengiyakan permintaan Sakha. Hanum melihat kembali jam yang ada di pergelangan tangan nya.
"Tapi ini sudah mau magrib Bang, tidak baik kalau ngobrol nya hanya berdua saja dan juga saya harus segera pulang Bang!" ucap Hanum memberi alasan.
"Oh, iya maaf Abang lupa! tapi kamu beneran di jemput sama suami kamu?" tanya Sakha memastikan.
"Iya Bang tadi Hanum sudah memberi kabar mas ilham!"
"Hmm, ya sudah kamu nunggu nya di musholla panti aja Han! sekalian sholat magrib, nanti kamu kasih tau suami kamu biar jemput disana. Tidak baik perempuan berdiri di pinggir jalan seperti ini nanti kalau ada apa-apa bagaimana?"
"Iya Bang terima kasih saran nya, Hanum masuk dulu ya Bang!"
Hanum berniat berbalik untuk kembali ke dalam panti, selain untuk melaksanakan kewajiban nya. Ia juga ingin istirahat sekaligus menunggu kedatangan suaminya.
Tapi saat ingin berbalik, tak disangka dari arah belakang ada anak yang berlari dan tidak sengaja menabrak Hanum!
Karena gerakan yang tiba-tiba, Hanum tak sempat menyeimbangkan diri dan hampir terjatuh. Seandainya kedua tangan kekar lelaki yang ada di samping nya tak sigap menangkap dirinya.
Untuk sesaat Hanum terpaku. Menatap dalam kedua manik mata Sakha, sampai suara deheman dari Jerry menyadarkan kedua nya.
Ehem
"Ah, maaf Bang Hanum tak sengaja." ucap Hanum seraya menarik diri dari rengkuhan Sakha.
Sakha yang masih dalam keadaan kaget, hanya mengangguk. "I-iya kamu gak papa Han, ada yang sakit gak?" tanya Sakha khawatir.
"Hanum gak papa Bang, terima kasih sudah mau menolong hanum!"
"Sama-sama Han, kalau begitu yuk masuk sholat dulu, setelah itu kamu tunggu saja di dalam." ajak Sakha.
Hanum mengangguk dan mengikuti Sakha dari belakang. Berjalan beriringan hanya terpisah jarak satu meter saja. "Seandainya kamu belum menikah Han, aku ingin kita bisa jalan beriringan dengan tangan yang saling bertaut." ucap Sakha dalam hati.
***
Ilham melihat jam yang berada di pergelangan tangan nya, waktu menunjukan pukul enam belas tepat yang berarti, sebentar lagi Hanum akan selesai dengan acaranya.
Tak ingin terlambat menjemput Hanum, Ilham bergegas menyelesaikan laporan nya dan bersiap keluar dari kantor.
Ilham berjalan agak tergesa-gesa tapi saat ia sampai di parkiran tempat mobil nya berada. Amel muncul dari belakang mobilnya.
"Mas?" panggil Amel.
Ilham terkejut! mendapati Amel berdiri sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Ilham panik sambil berjalan mendekati Amel.
"Aku pusing Mas, kepala ku sakit!" ucap Amel lemah.
"Kok bisa?"
"Entah, Mas tolong antar aku pulang ya?" pinta Amel.
Ilham bimbang, ia seharusnya menjemput Hanum karena ia sudah janji tapi mengabaikan Amel. Ilham pun tak bisa!
Amel yang melihat kebimbangan Ilham, seketika menemukan ide. Ia berpura-pura pingsan tepat di depan Ilham.
Ilham yang melihat Amel limbung segera menangkap tubuhnya. "Mel, kamu kenapa?" ucap ilham sembari menepuk pelan kedua pipi Amel.
Merasa tak ada jawaban, Ilham langsung mengangkat tubuh Amel masuk kedalam mobilnya. Dan membawa nya pulang kerumah.
Ilham yang panik mendapati istri keduanya pingsan, tak sempat memikirkan yang lain nya. Bahkan dering suara ponsel pun tak dihiraukan, yang ada di pikiran nya hanya Amel.
***
Hanum melihat ponsel nya berulang-ulang, pesan dan telpon nya sama sekali tak ada jawaban maupun balasan.
"Apa mas Ilham sibuk banget ya sampai telpon dan pesan ku sama sekali tak di balas." monolog Hanum
Sementara waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, bahkan tak cuma magrib, Hanum sudah melaksanakan sholat isya juga sembari menunggu ilham.
Hanum khawatir hari sudah semakin malam dan panti pun akan segera tutup, Hanum tak mungkin menunggu ilham seorang diri di musholla ini.
Tapi tanpa Hanum sadari, ada orang lain juga yang ikut menunggu. Rasa khawatir nya tak membuat nya pergi meninggalkan wanita itu menunggu sendirian.
Berkali-kali Hanum mencoba menghubungi ponsel ilham tapi nihil.
Di tengah kebingungan nya, Sakha datang menawarkan bantuan.
"Kamu belum dijemput juga Han?"
Hanum mendongak, menatap Sakha heran! "Lho Bang Sakha belum pulang, kok masih disini?" tanya Hanum.
"Iya, tadi masih ada urusan sama ibu panti yang belum selesai, jadi abang baru pulang." bohong Sakha.
"Oh begitu!"
"Kamu belum menjawab pertanyaan Abang, kamu belum dijemput juga?"
Hanun tersenyum, "Belum Bang, mungkin mas ilham masih sibuk di kantornya." jawab Hanum.
"Ya sudah ayo Abang antar pulang!" tawar Sakha.
Hanum menggeleng, "Tidak usah Bang, Hanum tunggu disini saja. Takutnya nanti mas ilham datang dan tidak menemukan hanum kan kasihan."
"Ya ampun Hanum, ini sudah jam berapa?" tanya Sakha gemas. "Kalau pun suami kamu nyariin pasti dirumah, bukan disini karena berpikir kamu sudah pulang."
Hanum berpikir sejenak, "Tapi tak elok Bang, kalau Hanum cuma berdua sama Abang takut jadi fitnah."
Sakha terkekeh, "Kalau kamu pikir kita cuma berdua, terus kamu anggap Jerry itu apa?" tanya Sakha sambil menunjuk Jerry yang berdiri di samping mobil.
Hanum menepuk pelan bibirnya sambil mengucapkan maaf, "Maaf Bang Hanum ga lihat." ucap Hanum lirih sambil menggigit dalam bibirnya.
Dan apa yang dilakukan Hanum tak luput dari pandangan Sakha.
Sakha mengumpat dalam hatinya, "Sialan, kenapa imut banget sih istri orang!" runtuk Sakha dalam hati.
__ADS_1
"Ya Allah boleh gak sih istri orang nih di tikung, biar jadi milik ku?" doa Sakha dalam hati.
Sakha menepuk kepalanya sendiri, saat sadar doanya itu tak mungkin.
Hanum yang melihat Sakha menepuk kepalanya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana nyonya, apakah mau saya antar pulang?" canda Sakha.
Hanum melihat ponselnya dan sama sekali tak ada balasan maupun telpon dari ilham. Dengan berat hati Hanum menerima tawaran dari Sakha.
"Baiklah Bang, terima kasih sebelumnya."
Sakha tersenyum bahagia, sambil mengangguk dan mempersilahkan Hanum untuk masuk kedalam mobilnya.
Hanum duduk di kursi belakang dan Sakha duduk di samping kemudi yang juga ada Jerry di antara mereka.
Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Jerry sampai di depan rumah Hanum.
"Sudah sampai nyonya!" canda Sakha.
Hanum keluar dari dalam mobil Sakha dan mengucapkan, "Terima kasih Abang, sudah mau mengantar Hanum sampai dirumah."
"Sama-sama, kalau begitu Abang pamit pulang dulu ya?"
Hanum mengangguk dan memastikan mobil yang tadi ditumpangi nya melaju meninggalkan depan rumahnya.
Hanum terkejut saat ia ingin masuk kedalam rumah, sudah ada suaminya yang menunggu di depan pintu.
"Assalamualaikum."
"Oh jadi begini kelakuan kamu Num?" tanya Ilham sarkas.
"Apa maksud Mas Ilham?" jawab Hanum bingung.
"Siapa yang mengantarmu pulang, hah?"
"Hanum pulang diantar Bang Sakha Mas!" ucap Hanum jujur.
Plak
Tamparan mendarat mulus di pipi kanan wanita cantik itu. Hanum yang tak siap mendapat tamparan dari Ilham seketika terhuyung ke belakang.
Bening kristal itu menetes tanpa bisa dibendung lagi. "Apa salah Hanum mas?" tanya Hanum terisak.
"Kamu masih bertanya salah kamu apa?" tanya Ilham geram. "Apa pantas seorang perempuan yang sudah menikah pulang malam dan diantar laki-laki lain."
Hanum terkejut, bagaimana mungkin suaminya bisa berkata sekasar itu padanya.
"Seharusnya Mas berkaca sama diri sendiri, bukankah Mas yang berjanji untuk menjemput Hanum. Tapi mas lupa kan?"
Ilham terkejut, ya memang tadi ia berjanji untuk menjemput Hanum di panti tapi karena Amel, ia sampai lupa dengan janjinya.
"Mas gak lihat sekarang sudah jam berapa? mas gak tau dari jam berapa Hanum menunggu kedatangan Mas Ilham. Bahkan telpon dan pesan dariku tak satupun mas balas. Apa ini juga salahku?"
Ilham membisu, lidahnya kelu saat menyadari ini semua salahnya.
"M-Maafkan aku Num, aku terlalu marah melihatmu pulang bersama laki-laki lain." ucap Ilham mencari pembelaan.
"Ceraikan aku Mas."
****
__ADS_1