
Amel mengerjapkan kedua matanya, cahaya lampu yang sangat silau sedikit mengganggu matanya yang hampir terbuka sempurna.
Ilham yang melihat amel mulai membuka mata, seketika berlari keluar untuk memanggil dokter. Entah itu terlalu bahagia atau terlalu panik, sehingga Ilham melupakan kalau ada tombol khusus untuk memanggil petugas medis tanpa harus berlari untuk memanggil dokter.
Dokter Ramli datang bersama dengan Ilham, semua orang yang berada di kamar tunggu Amel seketika menyingkir, saat dokter mengambil alih samping tempat tidur.
"Bagaimana keadaan Ibu Amel? Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Dokter Ramli di sela-sela aktivitas memeriksa nya.
"Saya kenapa Dok?" tanya Amel dengan suara serak.
"Apa Ibu tak ingat kejadian terakhir yang membawa Ibu sampai di sini?"
Amel menggeleng samar, memorinya masih terpecah. Sedikit demi sedikit Amel mencoba mengingat, tapi saat tangannya tanpa sengaja menyentuh perut datarnya. Ingatan itu kembali dengan sangat cepat.
"Ahhhh โฆ!" Amel berteriak sambil memegang perutnya, "Anakku." Setelahnya Amel kembali tak sadarkan diri.
Ilham pun mendekat, terlihat sedikit kekhawatiran di dalam dirinya saat melihat Amel berteriak histeris seperti itu, sebelum akhirnya jatuh pingsan kembali.
"Istri saya kenapa Dok?" tanya Ilham setelah berada disamping istrinya.
"Itu shock ringan Pak, saat istri anda mulai mengingat kejadian yang menimpanya. Terlebih setelah dua hari beliau tak sadarkan diri setelah operasi!"
"Apakah berbahaya Dok?"
"Sejauh ini saya belum melihat ada bahaya, tapi untuk kedepannya bisa kita pantau Pak dengan pemeriksaan rutin."
Ilham mengangguk, "Baik Dok, lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya?"
"Baik Pak, kami akan memberikan yang terbaik untuk istri anda. Sekarang saya pamit dulu, satu jam lagi saya akan kembali untuk memastikan keadaan istri anda?"
"Terima kasih Dok!"
Hanum menggenggam erat kedua tangannya, kekhawatiran Ilham sedikit mengusik hatinya. Bohong jika Hanum tak cemburu, walaupun ikatan itu sudah putus tapi kenangan yang pernah dilewati berdua dengan mantan suaminya itu bukan perkara mudah untuk dilupakan.
Sakha yang melihat Hanum sedikit gelisah lantas bertanya, "Kamu lapar gak?"
Mendapat pertanyaan yang tiba-tiba, Hanum memalingkan wajahnya. "Aku belum lapar Bang!"
"Tapi aku sudah, temani aku makan ya?" pinta Sakha.
__ADS_1
"T-tapi?"
"Gak ada tapi-tapi, anak kamu juga butuh makan lho Han!" ajak Sakha lembut.
Akhirnya Hanum luluh juga dengan ajakan Sakha dan mau gak mau Hanum mengikuti Sakha, yang kini membawanya ke kantin yang ada di rumah sakit.
"Kamu gapapa kalau kita makan disini?" tanyanya setelah sampai di kantin.
"Aku terserah sama Abang saja!"
"Tapi aku mau nya kamu juga makan Han! Gak cuma nemenin aku makan yang berarti cuma duduk melihat aku makan." ucap Sakha sedikit tegas.
"Harus banget ya Bang, padahal aku gak selera mau makan."
"Harus dong, kamu oke gak makan tapi anak yang ada di dalam kandungan kamu kan juga butuh makan Han!"
Hanum terdiam, dirinya tak membantah juga tak mengiyakan permintaan Sakha, tapi memang tak bisa dipungkiri juga bahwa anaknya juga butuh makan agar dia bisa selalu sehat.
Setelah terdiam cukup lama, Hanum dikejutkan saat Sakha mengangsurkan sepiring nasi beserta lauk dan sayurnya. "Makan gih supaya anak kamu tetap sehat!" serunya.
Hanum mengambil piring dan makan dalam diam. Sementara itu Ilham masih duduk di samping tempat tidur istrinya pikiran kembali bercabang. Resah itu yang kini tengah ia rasakan, saat sayup-sayup ia mendengar, saat Sakha mengajak mantan istrinya makan.
Disaat Ilham keluar disaat itu pula Rio datang dan masuk kedalam ruangan Amel. Hati Rio terenyuh melihat mantan kekasihnya itu sedang terbaring tak sadarkan diri.
Rio mendekat, mengusap pelan wajah wanita yang pernah ada di dalam hatinya. "Maaf!" kata itu terucap lirih dari bibir Rio.
"Maaf telah membuatmu jadi seperti ini, seandainya waktu itu aku tak berkata seperti itu. Mungkin saat ini kamu dan anakmu akan sangat bahagia."
Flasback.
Ilham berjalan ke sebuah restoran untuk makan siang, saat Amel dan Rio yang kebetulan tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Rio sempat melihat ilham dari pantulan kaca yang ada di depannya dan itu membuat Rio memiliki niat untuk membuat ilham ragu kepada Amel.
Dan sesuai dengan tebakan Rio, kalau ilham akan melihat dirinya bersama dengan Amel, walaupun posisinya saat itu membelakangi ilham.
"Kamu harus ingat kalau anak yang sekarang kamu kandung itu anakku?" Rio mengucapkan kata itu saat ilham berada persis di belakangnya, walaupun Rio tak melihat reaksi ilham tapi Rio dapat memastikan kalau kini ilham akan marah dengan Amel. Terbukti dengan pergi nya ilham dari restoran tempatnya dan Amel berada.
Tak cukup disitu, Rio pun mengirimkan pesan dengan nomor ponsel lain untuk memastikan kalau rencana nya berhasil.
__ADS_1
Dan semua itu terbukti saat Amel mendatangi dirinya dengan marah-marah saat itu.
Flashback off.
Rio masih menangis saat mengatakan semuanya kepada Amel, dirinya benar-benar meminta maaf! Jika akhirnya apa yang ia lakukan membuat wanita itu terbaring seperti ini.
Ilham yang tak sengaja mendengar pengakuan Rio seketika mengeratkan kedua tangannya. Emosinya berkecamuk saat kebenaran itu terbuka di depan matanya.
Ilham melangkahkan kakinya dan menarik Rio yang saat itu tengah menggenggam tangan Amel.
"Brengsek kau Rio!" hardik Ilham. Saat tangannya sudah menyentuh kerah baju Rio dan tanpa aba-aba, Ilham seketika melayangkan pukulan di wajah tampan Rio.
Rio tak menghindar, dirinya membiarkan Ilham melampiaskan semua amarahnya. Hingga nafas Ilham yang terengah-engah, menghentikan pukulannya di tubuh Rio.
"Apa kau sudah puas?" tanya Rio.
Ilham mengeraskan kepalan tangannya dan hendak memukul Rio tapi tangannya di cegah oleh Sakha, yang tidak sengaja melihat pertengkaran tersebut.
"Jangan berkelahi disini, ini rumah sakit." ucap Sakha melerai perkelahian tersebut.
"Urus urusanmu sendiri!" jawab Ilham ketus.
"Pergilah Kha, aku bisa menyelesaikan semua ini sendiri!" jawab Rio.
Sakha mendengus pasrah, "Baiklah selesaikan secara laki-laki Rio dan aku harap kamu bisa lebih dewasa disini!" ucap Sakha sembari menepuk pelan pundak Rio.
Sakha tak bisa ikut campur urusan keduanya, ia melerai perkelahian itu saat melihat Hanum yang panik, saat melihat Ilham memukuli Rio dengan membabi buta.
"Apa yang terjadi Bang?" tanya Hanum saat melihat Sakha kembali menghampirinya.
"Aku juga tak tahu, tapi aku juga tak bisa ikut campur urusan mereka Han!" ucap Sakha menjelaskan.
Sakha dan Hanum sama-sama mendesahkan nafas kecewa. Untuk pertama kalinya Hanum melihat Ilham yang begitu emosi sampai tak bisa menahan amarahnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Hingga membuat Ilham yang begitu sabar bisa begitu marah dan tak terkendali.
Hanum melangkah ke ruang rawat Amel dan melihat wanita itu terbaring tak berdaya dengan selang infus yang masih melekat di tangannya.
****
Maaf ya kak, saya belum bisa update rutin karena kesibukan RL yang tidak bisa ditinggal dan kesehatan saya sendiri yang kadang-kadang suka pusing kalau terlalu lama ngetik. Semoga tidak kecewa. Terimakasih karena sudah bersabar menunggu. Happy Reading ๐๐๐๐
__ADS_1