
Ilham masih mematung menatap ruang dimana anaknya berada, air mata nya masih terus menetes. Penyesalan datang bertubi-tubi, kilas balik perbuatan nya yang meragukan anak itu kembali melintas di pikirannya.
Bahkan beribu kata maaf yang senantiasa terucap dari bibirnya tak mampu untuk meredam ketakutannya. Ilham takut kehilangan anak yang selama ini ditunggu, seandainya waktu bisa diputar kembali Ilham tak akan pernah melakukan kebodohan itu.
Kini menyesal pun tiada guna, saat pertengkarannya dengan sang istri kembali melintas masuk ke dalam pikirannya.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan Mas! Tapi ingat kamu akan menyesali semuanya, saat anak yang ku kandung ini benar anakmu dan saat kamu juga kehilangannya!" ucapan amel yang saat itu Ilham anggap sebagai angin lalu, hanya karena amel sedang marah. Tapi kini, saat matanya melihat anak yang sekian lama ia tunggu tengah tergolek dan sedang berjuang antara hidup dan mati, hatinya berdenyut nyeri.
Ilham tak melangkah sekalipun dari luar ruangan tempatnya menunggu sang anak. Matanya masih terus menatap ke dalam ruangan, hingga suara orang yang paling dikenal nya sedikit mengalihkan pandangannya.
"Assalamualaikum!" ucap Hanum bersamaan dengan Sakha yang juga mengucapkan salam.
Bu Suryo berdiri dari duduknya dan bergegas memeluk Hanum, tak dipungkiri Bu Suryo pun butuh seseorang yang mampu menguatkannya.
Ilham menatap Hanum sendu, bahkan sisa air mata itu masih mampu untuk Hanum lihat.
"Apa yang sebenarnya terjadi Ma?" tanya Hanum.
Bu Suryo menggeleng pelan, dirinya pun juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dirinya hanya menerima panggilan yang mengatakan kalau anak dan menantunya mengalami kecelakaan tapi untuk detailnya, Bu Suryo juga tidak tahu.
Hanum berpindah setelah pelukan mantan ibu mertuanya itu terlepas, lalu Hanum berpindah untuk mencium tangan mantan bapak mertua itu dengan takzim.
"Papa yang kuat ya?" ucap Hanum menguatkan.
Pak Suryo mengangguk. "Iya kamu juga ya?" jawabnya sambil mengelus kepala mantan anak menantunya itu. "Kamu sendiri apa kabar, bagaimana dengan kandunganmu?"
"Alhamdulillah Hanum sehat Pa, kandungan Hanum juga."
Lagi-lagi Pak Suryo mengangguk, lalu pandangannya jatuh ke sosok yang datang bersama dengan Hanum. "Itu siapa Num?"
Hanum menoleh, "Itu Bang Sakha Pa, tadi kebetulan Hanum dan Bang Sakha sedang membahas kerja sama. Saat Hanum melihat berita kecelakaan mas ilham dan akhirnya Bang Sakha yang mengantar Hanum kesini sesuai permintaan Ibu."
Sakha pun maju kedepan untuk memperkenalkan diri. "Saya Sakha Abimana." ucap Sakha sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan.
Pak Suryo melipat keningnya, ia berusaha mengingat siapa lelaki yang sekarang berjabat tangan dengan nya ini. Bahkan namanya sudah tak asing di pendengarannya.
"Sakha Abimana!" ulang Pak Suryo.
Sakha tersenyum mengiyakan, "Sepertinya saya pernah mendengar nama ini. Tapi saya sedikit lupa?" ucap Pak Suryo.
__ADS_1
Sakha kembali tersenyum, "Saya putra dari almarhum Hendra Abimana, pemilik Abimana Grub Pak." ucap Sakha.
"Ah iya saya baru ingat, terima kasih sudah mau mengantar Hanum kemari."
"Sama-sama Pak dengan senang hati."
***
Hanum melangkahkan kakinya, untuk menghampiri ilham yang masih setia berdiri di balik ruang kaca yang memisahkan dirinya dari anak yang sedang di tunggunya.
"Mas?" sapaan lembut Hanum mengalihkan perhatian Ilham.
"Hm!" jawabnya sambil kembali menatap ruang inkubator.
"Bagaimana keadaannya dan keadaanmu?"
"Aku baik, entah dengan dirinya! Sekarang ia sedang berjuang disana sendirian!" tunjuk Ilham.
"Semoga anak kalian cepat sehat Mas, lalu bagaimana dengan keadaan amel?"
"Aku tidak tahu, tadi dokter bilang kalau amel belum sadar pasca operasi kecelakaan dan kami juga masih menunggu!"
"Hm, semoga saja benar!" ucap Ilham sambil meneteskan air mata.
Hati Hanum sedikit merasakan nyeri saat melihat Ilham dalam keadaan terpuruk. Tak dipungkiri hidup bersama selama lima tahun dengan Ilham, membuat Hanum tahu seberapa terpuruk nya sang mantan suami nya sekarang. Bahkan dulu Ilham bisa menangis saat hanum sakit ataupun terluka. Jadi saat melihat Ilham seperti ini, Hanum sangat tahu kalau dirinya benar-benar terluka.
"Kamu datang dengan siapa?" Ilham bertanya tapi matanya tak berpindah sedikitpun, dari ruang di depannya.
"Tadi Hanum diantar Bang Sakha, Mas!"
Ilham mengeratkan kepalan tangannya saat Hanum menyebut nama pria lain. Tapi Ilham juga tak bisa melakukan apa-apa, karena ia sadar dirinya bukan siapa-siapa lagi di hidup Hanum.
"Oh."
"Mas sudah makan?"
Ilham menggeleng, jangankan untuk makan. Minum pun rasanya seperti tercekik. "Aku belum lapar nanti saja setelah memastikan anakku baik-baik saja."
Hati Hanum sedikit nyeri saat Ilham menyebut anak itu dengan sebutan anakku, lalu anaknya nanti bagaimana? walaupun Hanum tak berharap dari Ilham tapi kini ia juga tengah mengandung anaknya. Hanum mengangguk, "Baiklah Mas, kalau begitu aku kembali menemani mama disana?" Hanum berbalik sebelum air matanya menetes dipipi.
__ADS_1
Sakha yang melihat Hanum tidak baik-baik saja segera berhambur mendekatinya, Sakha menutupi jalan Hanum. Hingga air mata itu benar-benar jatuh tanpa ada satupun yang tahu.
"Kamu gapapa?"
Hanum mengusap air matanya dan tersenyum, "Aku baik Bang!"
"Ya sudah ayo kita duduk kamu pasti lelah, jangan terlalu banyak berdiri!" ucap Sakha sembari menunjuk tempat duduk.
"Iya, Bang terima kasih."
Ilham sempat melirik sekilas bagaimana perhatiannya lelaki itu kepada mantan istrinya. Kesal tentu saja! Tapi sekali lagi, Ilham sudah tidak mempunyai hak untuk marah ataupun cemburu. Dirinya kini sadar ada hati lain yang kini menyita perhatiannya.
Hanum duduk tak jauh dari kedua orang tua ilham. Mereka sama-sama menunggu dokter yang masih berada di dalam ruang periksa.
"Bagaimana dengan amel Ma?" tanya Hanum.
Bu Suryo menatap hanum, "Amel sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang ICU setelah itu kita kesana ya Num!"
"Iya Ma, Hanum juga ingin tahu bagaimana keadaan amel sekarang!"
Setelahnya mereka menunggu dalam keheningan, tak nada satupun yang bersuara. Masing-masing asyik tenggelam dengan pikirannya sendiri! Begitupun dengan ilham.
Matanya tak pernah lepas sedikitpun untuk memandang para dokter, yang kini tengah berusaha menyelamatkan anaknya.
Setelah menunggu selama dua jam, dokter yang berada di dalam ruang inkubator keluar. Semua orang berdiri, termasuk Ilham yang sedari tadi berdiri dan berharap-harap cemas menunggu kabar baik yang akan disampaikan oleh dokter tersebut.
"Bagaimana Dok dengan keadaan anak saya?" pertanyaan itu meluncur dari bibir Ilham, saat melihat dokter Ramli keluar dari ruang rawat anaknya.
Dokter Ramli menarik nafas nya panjang lalu menghembuskan lelah. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Pak!" ucapnya menjeda kalimat. "Tapi Tuhan berkehendak lain, seperti yang saya bilang, harapan untuk hidupnya sangat tipis dan saya hanya bisa berbicara, semoga Bapak sekeluarga bisa ikhlas menerima!"
Bagai disambar petir Ilham mendengar ucapan dokter Ramli, "Tapi bagaimana bisa Dok, bukankah dokter bilang akan berusaha?" tanya Ilham dengan marah.
"Kami sudah sangat berusaha Pak, kembali lagi hidup dan mati hanya ada di tangan Allah SWT."
Kaki Ilham lemas tak bertenaga, dirinya jatuh terduduk dan menangis meraung. Harapannya, keinginannya, kini hilang di ambil dari dirinya. Ilham menyesal tapi bibirnya tak mengatakan apapun hanya isak tangis yang terus menerus terdengar.
Hanum pun ikut terisak, tak sanggup melihat betapa rapuhnya Ilham sekarang. Semua orang pun ikut menangis mengantar kepergian bayi kecil yang baru saja dilahirkan.
***
__ADS_1