
Dada Ilham berdebar sangat kencang, saat langkah kakinya mulai mendekati ruang dimana anak dan mantan istrinya itu berada. Tapi langkahnya terhenti, saat matanya tak sengaja melihat mantan istrinya itu tengah berpandangan dengan lawan jenisnya. Dan sialnya, sorot mata teduh itu menunjukan kekaguman yang dulu pernah ia dapatkan.
Ada yang tertusuk perih, saat pandangan yang dulu selalu ia dapatkan. Kini beralih ke orang yang baru di kenal.
Ilham tersenyum kecut, menyadari kalau dirinya pun seakan tak diterima di antara mereka! Ilham melihat itu dengan jelas walaupun dirinya belum sekalipun menunjukan diri.
Hingga suara sang ibu yang memanggil dirinya, membuat Ilham sedikit memendam perasaannya. "Kamu sudah sampai dari tadi Ham?" tanya Bu Suryo saat melihat Ilham berdiri di depan pintu masuk ruangan.
"Baru saja sampai Bu!"
"Ya sudah ayo masuk Mama sudah tidak sabar melihat cucu pertama Mama!" ajakkan Bu Suryo di angguki Ilham, tapi untuk melangkahkan kaki masuk Ilham sedikit ragu.
"Assalamualaikum?" sapaan Bu Suryo, membuat ketiga orang yang ada di dalam ruangan sontak menatap ke arahnya.
"Waalaikumsalam salam!" jawab ketiganya serempak.
"Kamu sudah lahiran Num, bagaimana dengan bayinya, sehat?" Bu Suryo bertanya dengan bersemangat, seolah-olah kebahagiaan itu hanya miliknya.
"Alhamdulillah Ma, sehat!" jawab Hanum dengan raut wajah yang berbinar.
Tak lama setelah basa-basi keduanya, Ilham pun masuk dengan membawa buah tangan. Baju yang dulu sempat ia beli, kini bisa ia berikan dengan perasaan lega.
"Hai?" sapanya saat memasuki ruangan. Ilham mendekat seraya mengangsurkan hadiah yang tengah ia bawa.
Hanum menerima pemberian Ilham, walaupun sedikit merasa canggung tapi itu tak mengurangi sedikit kebahagiaannya. "Terima kasih Mas?"
"Sama-sama."
Tak ada obrolan lagi yang tercipta di antara mereka, sampai suara Bu Suryo yang menanyakan nama cucu pertamanya, yang mulai memutus keheningan tersebut.
"Kamu beri dia nama siapa Num?"
"Reyhan Mahendra, Ma!"
Bu Suryo dan Ilham sama-sama tersenyum bukan tanpa sebab bahkan setelah perpisahan itu. Hanum masih menyematkan nama belakang keluarganya di nama bayi mungil itu.
Ilham sangat berterima kasih kepada mantan istrinya itu, setidaknya masih ada bagian dari dirinya yang akan dikenang nanti. di dalam diri anak yang baru saja dilahirkan mantan istrinya.
Walaupun terasa canggung, tapi kehangatan saat penyambutan kelahiran anak pertama laki-laki Hanum tak sedikitpun berkurang.
Hingga suara Sakha yang berpamitan membuat rasa kehilangan itu sedikit ada. "Aku pulang dulu ya?" pamit Sakha sambil menatap wajah Hanum.
"Abang mau kemana?"
__ADS_1
"Abang harus kembali ke kantor tapi nanti Abang kesini lagi!" ucap Sakha.
"Hm, ya sudah terima kasih Bang. Hanum gak tau apa yang akan terjadi seandainya Abang gak ada tadi?"
"Sama-sama, mungkin sudah menjadi tugasku!" jawab Sakha dibarengi dengan kekehan kecil.
Sakha pergi meninggalkan ruangan Hanum dan tanpa disadari ada hati lain yang mulai merasakan sakit melihat kedekatan keduanya.
Ilham melihat semuanya, bagaimana tatapan saling memuja itu terlihat, tak hanya dari sang laki-laki tapi juga dari mantan istrinya. Apakah hatinya kini telah berubah dengan begitu cepat hingga mudah menerima orang baru?
Ilham merasa terusik saat menyadari, bahwa dirinya sudah bergeser dan kini mulai terganti dengan kehadiran laki-laki lain di hidup mantan istrinya itu.
Ilham membuang pandangannya saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata mantan istrinya. Ilham hanya tak ingin terlihat, sedang memperhatikan si mantan istri, yang tengah menatap kepergian lelaki yang baru saja berpamitan dengan semua orang yang ada di dalam ruangan.
Bu Suryo dan Bu Surti masih asik mengagumi cucu pertama mereka, hingga tak menyadari apa yang telah terjadi di sekelilingnya.
"Ham?" panggil Bu Suryo.
Ilham menoleh saat dipanggil sang Ibu. "Apa kamu gak pengen gendong anakmu?"
Ilham menatap nanar Ibu nya dan bertanya, "Apa boleh Bu?"
Bu Suryo mengangguk, "Boleh Nak kenapa nggak dia juga anakmu!"
Hanum sedikit terenyuh melihat Ilham menangis tapi seandainya ia boleh berucap ingin sekali ia berkata, "Anak yang dulu sempat kau inginkan, sampai kesabaran yang kamu punya hilang dan mengorbankan diriku. Nyatanya hanya aku, yang mampu memberikan senyum kebahagian itu Mas."
Tapi sekuat hati Hanum mengenyahkan pikiran itu, pikiran yang membuatnya untuk bersikap egois.
"Kamu dirawat berapa lama Num?" tanya Bu Suryo memecah lamunan Hanum.
"Belum tahu Ma, kemungkinan sore juga sudah pulang." jawab Hanum.
Bu Suryo beranjak dari duduknya dan berjalan ke tempat Hanum yang sedang berbaring. "Bolehkah kalau Mama sering-sering menengok reyhan Num?"
Hanum tersenyum dan menyambut tangan sang mantan mertua. "Boleh Ma kapanpun Mama ingin, Mama boleh menemui reyhan."
Bu Suryo menitikan air mata, mantan menantunya ini memang baiknya luar biasa. Bahkan setelah perceraian dan pengkhianatan putranya, Hanum masih mengijinkan dirinya untuk bertemu dengan cucu satu-satunya itu.
"Terima kasih Num, lain kali Mama akan datang bersama dengan papa. Akhir-akhir ini papa terlalu sibuk, hingga tak punya waktu walaupun untuk beristirahat."
Hanum mengangguk, tapi di sela-sela obrolannya dengan sang mertua. Ponsel yang ada di saku Ilham berbunyi dengan sangat keras, hingga membuat bayi kecil Reyhan terbangun dan menangis. Ilham meminta maaf dan kembali memberikan bayi mungil itu ke ibunya untuk kembali disusui.
Ilham pun beranjak meninggalkan ruangan Hanum dan memeriksa ponselnya. Saat Ilham ingin mengembalikan ponselnya ke saku, ponselnya kembali berdering dan nama Bi Tari muncul di layar ponselnya.
__ADS_1
"H-halo Pak…!"
Ilham yang tadinya ingin marah, terpaksa menahan amarahnya karena suara Bi Tari yang terdengar sedikit panik.
"Kenapa Bi?"
"I-itu Pak, ibu hilang!!"
Ilham terkejut bukan main, "Hilang bagaimana Bi, maksudnya?" tanya Ilham yang tak kalah paniknya.
"Tadi saya pergi ke belakang sebentar dan saya masih melihat ibu masih tidur, tapi saat kembali ibu sudah tidak ada Pak?"
Ilham menarik rambutnya frustasi, "Ya sudah sebentar lagi saya sampai dirumah, Bibi tetap cari ibu disekitar rumah ya?"
"Baik Pak, kalau begitu saya cari ibu dulu."
"Hm."
Telpon pun dimatikan, Ilham mendesahkan nafas berat seolah-olah oksigen mulai menghilang dari paru-parunya. Pikirannya buntu, disaat seharusnya dia sedang menikmati kebersamaan dengan anaknya, tapi ia harus pergi demi mencari istri keduanya yang tiba-tiba menghilang.
Ilham berjalan dengan gontai ke arah ruangan Hanum dirawat, saat dirinya ingin berpamitan sebelum pulang.
"Ada apa Ham?" tanya sang Ibu.
Ilham menggeleng, "Gak ada apa-apa Ma, hanya sedikit pekerjaan yang belum selesai." bohong Ilham.
"Oh, kirain ada apa?"
"Ilham pamit pulang dulu ya Ma, Mama mau bareng apa pulang sendiri?"
"Mama pulang nanti aja Ham, biar di jemput sama supir!"
"Ya sudah Ilham pulang dulu ya Ma?" Ilham pun berjalan menghampiri Hanum dan berpamitan kepadanya dan kepada bayi mungil yang kini kembali tertidur setelah menangis tadi.
"Mas pulang dulu ya Num, kalau kapan-kapan Mas datang untuk bertemu dengan rey, bolehkan?"
"Boleh Mas!" jawab Hanum tanpa melihat Ilham yang tengah berdiri di depannya.
Ilham mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi meninggalkan Hanum yang tengah bersama anak dan keluarganya.
Ilham melangkahkan kaki dengan perasaan sakit, bahkan kini Hanum mulai tak sudi menatap dirinya saat berbicara. Ada rasa sesak yang tak bisa Ilham ungkapkan, mungkin ini balasan dari sikapnya yang dulu pernah membuat Hanum terluka, hingga kini dirinya mulai terabaikan dan cenderung tak dianggap.
****
__ADS_1