
Sakha menyandarkan dirinya di sofa yang ada di dalam kamarnya. Ingatannya kembali pada masa lalu yang telah lama ia kubur dalam-dalam. Masa lalu yang tak pernah ingin Sakha ingat lagi, tentang kesalahan dan kebodohan yang pernah ia lakukan dulu.
Sakha menarik nafasnya berat, ucapan ibu nya kembali menggema di pikirannya. Sakha harus jujur tentang dirinya, tak adil rasanya saat ia tahu masa lalu Hanum tapi tidak dengan Hanum. Jangan sampai suatu saat nanti hanum malah pergi dan menolak dirinya, saat hanum tahu bagaimana masa lalu nya dulu.
Sakha beranjak untuk membersihkan diri. Sakha sudah memantapkan diri untuk jujur kepada Hanum, jika tidak besok mungkin saat acara pembukaan restoran nya nanti, sekalian memperkenalkan Hanum pada ibunya.
"Malam Ma!" sapa Sakha sambil mencium pipi kiri Mamanya, saat dirinya turun untuk makan malam.
"Malam, jadi bagaimana? Sudah kamu pikirkan matang-matang, keputusan yang akan kamu ambil Kha?"
"Sudah Ma, untung Mama ngingetin aku. Nanti aku akan coba jujur sama Hanum!"
"Ya begitu lebih baik, sekarang kamu makan dulu?"
Sakha memulai makan dengan perasaan lega, setidaknya kini ibunya memberi restu untuknya. Dan Sakha juga tidak mau seandainya restu itu susah didapat, kehidupan Sakha akan kembali suram seperti dulu.
***
Hari berlalu dengan begitu cepat, tak disangka hari ini adalah hari dimana pembukaan restoran cabang baru yang kini bekerja sama dengan Hanum resmi dibuka. Ada debar yang tak menentu di hati Sakha, selain karena menunggu jawaban Hanum, dia juga merasakan debaran saat akan menceritakan masa lalunya. Akankah wanita itu menerima nya atau malah menolak dirinya.
Berbeda dengan Sakha, Hanum pun merasakan hal yang sama. Setelah berpikir sebanyak apapun, dirinya masih belum menemukan jawaban yang tepat. Untuk menjawab permintaan Sakha, Hanum menilai Sakha terlalu baik untuk dirinya. Bahkan Hanum merasa tak pantas jika nanti harus bersanding dengan Sakha, mengingat laki-laki itu terlalu sempurna untuk dirinya yang memiliki banyak kekurangan.
Tok โฆ tok โฆ tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Hanum dan saat dirinya melihat, nampak Ardi dengan baju yang telah rapi. "Ayo Mbak udah di tunggu Ibu sama reyhan."
Hanum mengangguk, "Iya sebentar lagi ya, ini tinggal menyiapkan keperluan reyhan saja!"
"Oke aku tunggu di depan ya Mbak?" Ardi beranjak meninggalkan kamar Hanum, Hanum pun mendesahkan nafas berat. "Bismillah semoga ada jalan!" ucap Hanum menyemangati dirinya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di restoran yang baru dibuka. Hanum menatap takjub, saat restoran itu kini tengah dipenuhi oleh orang-orang yang berpakaian rapi dan tentunya semua yang hadir adalah orang yang berkelas, melihat dari apa yang mereka kenakan.
Sakha sudah berdiri didepan pintu masuk, menyambut kedatangan wanita yang selama seminggu ini membuatnya menggantungkan harapan besar.
Dengan senyum yang menawan Sakha menerima uluran tangan, ucapan selamat tak hanya dari Hanum tapi seluruh keluarganya. Dan tangannya kini tengah menggendong anak, yang usianya hampir dua tahun itu dalam pelukannya.
"Masuk yuk?" ajak Sakha.
Hanum dan keluarga nya pun masuk kedalam dan sesampainya di dalam Hanum dibuat lebih terkejut, saat melihat desain interior restoran yang luar biasa bagusnya. Menggabungkan tema pedesaan dan makanan yang disuguhkan sungguh membuat pecinta kuliner akan sangat bersemangat.
Hanum masih tertegun menatap semuanya, hingga panggilan Sakha yang menyuruhnya untuk lebih dekat, membuatnya melangkah kan kaki di samping dirinya.
__ADS_1
"Ma kenalkan ini Hanum?" ucap Sakha yang kini tengah memperkenalkan Hanum kepada orang yang paling dicintainya itu. Setelah Hanum sampai didekatnya.
Hanum pun dengan perasaan canggung menyalami ibu dari lelaki yang kini tengah berdiri di sampingnya. "Hanum, Bu!"
"Cantik!" ucap Bu Ani sambil menerima uluran tangan Hanum.
"Terima kasih!" jawab Hanum tersipu.
"Ini Reyhan Ma!" ucap Sakha yang kini tengah memperkenalkan lelaki kecil yang berada di gendongannya.
"Aduh gantengnya, sini sama nenek Nak?" ucap Bu Ani sambil mengulurkan tangannya kepada Reyhan.
Reyhan pun dengan tertawa menyambut uluran tangan wanita tua itu, Hanum dan Sakha pun terheran, biasanya Reyhan sangat susah jika baru bertemu orang baru. Tapi ini Reyhan dengan mudahnya memberikan tangan untuk di gendong.
"Reyhan biar sama Mama, kalian temui dulu semua tamunya. Ini kan acara pembukaan usaha baru kalian!" usir Bu Ani halus, disertai kekehan kecil dari bibirnya.
"Ya sudah aku titip Reyhan dulu ya Ma, nanti kalau Reyhan rewel panggil Sakha aja!"
Bu Ani mengangguk, "Iya kamu tenang aja."
"Ayo Han, kita temui tamu yang lain?" ajak Sakha.
"T-tapi Reyhan gimana Bang?" Ada nada khawatir yang terselip di antara ucapan Hanum.
Hanum pun mengangguk dan mengikuti Sakha menyapa semua rekan bisnisnya. Hingga tepukan di bahu Sakha membuatnya memutar mata jegah.
"Congratulations, Dude. Akhirnya mimpimu tercapai juga." ucap laki-laki yang berpakaian rapi khas orang kantoran, sambil memeluk Sakha.
"Thanks, kamu datang sendiri?" tanya Sakha saat melihat sahabat nya ini, yang tengah berdiri sambil membawa minuman di tangan kirinya.
"Sejak kapan aku sendiri?" tanyanya balik, sebelum matanya menoleh ke sisi Sakha.
"Siapa ini bro, wanita cantik yang berdiri disampingmu?" tanya Bram sambil memperhatikan Hanum.
"Hai boleh kenalan, aku Bramantyo Adiwarman kamu siapanya Sakha?" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Hanum mengangguk dan hanya menangkupkan kedua tangannya di dada. "Saya Hanum, teman Bang Sakha!" ucapnya memperkenalkan diri.
Sakha yang melihat wajah kecewa Bram sedikit terhibur. "Jangan coba untuk menggoda nya Bram, karena itu tak akan pernah berhasil!" tegas Sakha.
"K-kapan โฆ?" ucapan Bram terputus saat ada wanita cantik yang berjalan dan memberikan sebuket bunga untuk Sakha.
__ADS_1
Sakha pun tersenyum, saat melihat wanita yang kini tengah berdiri depannya dan menyambut bunga pemberiannya. "Selamat Pak Sakha akhirnya mimpimu jadi kenyataan!" ucap Sisil sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Terima kasih nona, tanpamu aku bisa apa?" jawab Sakha dengan sedikit menggoda.
Bram sedikit menggeram, melihat interaksi keduanya. Hingga tanpa sadar tangannya menarik pinggang sisil dan berbisik. "Jangan coba-coba menggoda Sakha, atau aku akan menghukummu dengan membuatmu tak bisa bangun dari tempat tidur?"
Sisil pun tersenyum saat menatap Bram, sifat pencemburu atasannya ini memang tak pernah kenal tempat. Bram selalu cemburu dengan siapapun itu termasuk sahabatnya sendiri.
Melihat Bram yang sedikit cemburu, Sakha merasa terhibur. Jarang sekali sahabatnya ini menunjukan diri, pribadinya yang dingin dan terkesan tegas, membuat orang enggan berhubungan dengannya selain hubungan bisnis.
Hanum yang bingung melihat ketiganya, hanya terdiam tanpa bisa berkata apapun. Sampai suara Sakha yang mengajaknya untuk makan, membuatnya mengikuti langkah kaki Sakha.
"Bersenang-senang lah kalian, aku pergi dulu sama Hanum dan jangan lupa berikan nilai untuk restoran ini?"
Bram mengangguk begitupun dengan Sisil. "Kamu mau kemana?" tanya Bram yang melihat Sisil mulai menjauh.
"Aku mau menggoda pak Sakha!" kekehnya.
"Sil โฆ?"
Sisil berbalik sebelum dirinya pergi namun ia sempat berbisik. "Aku tunggu hukuman ku nanti malam tapi sekarang aku lapar!" ucapnya menjauh.
Dan tingkah absurd keduanya tak luput dari pandangan Hanum, "Kamu herannya mereka siapa?" tanya Sakha.
"Hm, mereka terlihat romantis Bang!"
"Itu Bramantyo Adiwarman, pemilik Adiwarman grub dan wanita itu istrinya yang merangkap jadi sekertaris nya. Mereka selalu seperti itu, aku bahagia saat melihat mereka bahagia?"
"Kenapa?" tanya Hanum heran.
"Kisah cinta mereka itu luar biasa, Han. Sisil itu wanita yang tangguh seperti dirimu, berapapun banyaknya cobaan yang datang dia selalu kuat. Karena itu aku kagum dengannya, termasuk denganmu juga!"
Hanum menatap Sakha, ada rasa yang tiba-tiba membuncah di dalam dirinya saat Sakha begitu memujanya. "Apa sudah kamu temukan jawaban atas pertanyaanku kemarin, Han?"
Hanum mengangguk walaupun sedikit ragu, Sakha yang melihat Hanum mengangguk sedikit mengembangkan senyumnya. Tapi saat ingin kembali berbicara. Sapaan suara wanita yang memanggil dirinya, membuatnya Sakha mengepalkan kedua tangannya.
"Apa kabar Mas Sakha?"
***
Nah lho siapa yang nyapa Sakha sampe bikin Sakha kesel.
__ADS_1
Ps: kalau kalian penasaran sama tokoh Bram dan Sisil kalian bisa baca ceritanya, judulnya Hasrat Terlarang Istri Simpanan ceritanya gak kalah seru sama ini, di beranda ku sudah ada baru bab 1๐๐๐๐คญ๐
Happy Reading ๐