
Ilham menepati janjinya, tepat setelah adzan magrib Ilham membawa Reyhan pulang ketempat Hanum. "Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam, Mas ayo masuk?" ajak Hanum. "Reyhan tidur ya Mas?"
"Iya mungkin karena lelah setelah main seharian tadi!" jawab Ilham sambil menggendong Reyhan masuk.
"Langsung ditiduri di kamar aja Mas, nanti baru aku ganti bajunya?"
"Hm." Ilham berjalan mengikuti Hanum dan masuk kedalam kamar untuk menidurkan reyhan yang sama sekali tak terusik dan tetap tertidur pulas, walaupun sempat diangkat dan digendong sampai ke dalam kamar.
Selesai menidurkan reyhan, Ilham tak lupa menyelimuti badan anak kecil itu dengan selimut yang dulu pernah dia belikan. Sebelum beranjak pergi, Ilham menyempatkan memberi kecupan di dahi anak lelaki satu-satunya itu.
"Ayah pamit pulang dulu ya sayang?" bisiknya lirih.
Berat untuk Ilham berpisah dengan reyhan tapi, nasi sudah menjadi bubur masa lalu itu tak akan pernah bisa di ulang kembali. Ilham menatap Hanum sebelum dirinya keluar. "Dek ada yang ingin Mas bicarakan, boleh?"
Hanum menatap Ilham seraya mengangguk. "Boleh Mas, sekalian Mas mau minum apa?"
"Apa aja, aku tunggu di luar ya?" ucap Ilham sembari meninggalkan Hanum dan melangkah ke teras depan.
Tak lama menunggu Hanum datang dengan membawa secangkir teh hangat. Hanum duduk sambil memberikan teh kepada Ilham. "Tehnya Mas?"
"Terima kasih Dek?"
__ADS_1
Hening tak ada percakapan diantara keduanya, hingga suara Ilham yang berdehem untuk membuka percakapan sedikit mengurai kesunyian itu. "Ehem!" Hanum menatap Ilham yang sedikit ragu.
"Apa yang ingin Mas bicarakan?" tanya Hanum saat tak ada lagi percakapan selain suara deheman.
"Ini!" Ilham mengangsurkan sebuah kunci mobil berikut map coklat yang dibungkus rapi dalam kantong plastik bening.
"Apa ini Mas?" tanya Hanum heran saat melihat Ilham memberikan semua itu.
"Ini kunci mobil yang baru aku beli tadi!" ucapnya pelan.
"Untuk apa Mas memberiku kunci mobil?"
"Ini untuk reyhan, sebagai hadiah ulang tahun pertamanya. Maaf baru bisa memberikannya sekarang?"
Hanum tertegun. "Mobil? Reyhan masih kecil Mas belum bisa pakai mobil?"
Hanum yang tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, hanya diam melihat apa yang akan Ilham berikan. "Ini surat-surat rumah kita dulu. Aku memberikannya padamu?"
"Tapi untuk apa Mas?"
"Disini ada hakmu dan aku tak mungkin tak memberikannya. Kembalilah dan tinggallah di sana rumah itu tanpamu seperti kuburan sangat sepi?"
"Aku tak mungkin tinggal disana Mas, banyak kenangan yang menyakitkan yang aku lalui disana!" tolak Hanum halus.
__ADS_1
"Aku tahu, karena itu aku memberikannya padamu. Terserah jika kamu ingin menjualnya itu hak mu!" Ilham menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Dan ini…?" lanjut nya lagi. "Ini tabungan yang sudah aku buat atas nama Reyhan, disitu akan selalu aku kirim uang untuk Reyhan sampai nanti dia besar, untuk biaya hidupnya selama aku tidak ada!"
Hanum menatap Ilham tak percaya, kenapa mantan suami nya ini tiba-tiba melakukan semua ini. Hingga pertanyaan itu keluar dari bibirnya. "Untuk apa semua ini Mas, aku masih bisa membesarkan Reyhan sendiri dan aku pun masih mampu untuk memberikan semua kebutuhannya?"
"Aku tahu, aku percaya kamu bisa melakukan itu. Tapi aku mohon kamu terima semua ini. Anggap saja ini balasan atas semua yang belum pernah aku berikan sampai saat ini untuk Reyhan. Aku selalu berharap bisa terus mendampinginya, sampai dia dewasa dan bisa menentukan takdir hidupnya, tapi besok aku sudah harus pergi keluar negeri. Menemani amel berobat, aku takut akan lebih lama waktu yang kubutuhkan untuk bertemu dengan Reyhan."
Ilham menerawang jauh saat mengucapkan semua itu, ada rasa tak rela jika harus pergi tapi kewajibannya juga tak bisa untuk ia singkirkan. Untuk saat ini fokusnya hanya kepada amel saja.
"Tapi tak perlu semua itu Mas, masih ada hari dimana kamu yang akan memberikan semua ini untuk Reyhan. Aku akan berdoa semoga amel bisa lekas sembuh!"
Ilham menatap Hanum sendu, "Terima kasih untuk doanya Dek, aku juga berharap hal yang sama. Semoga saja tak butuh waktu lama untuk amel bisa cepat sembuh dari sakitnya. Tapi untuk sementara aku harap kamu bisa menerima pemberianku ini?"
Hanum mengangguk, "Tapi aku merasa berat menerima semua ini Mas?"
"Tolong ya?" ucapnya memelas.
"Baiklah tapi aku harap kamu bisa adil nantinya, saat amel sudah pulih dari sakitnya berikan juga gak yang sama untuknya?"
"Kamu tenang saja, semua itu sudah aku pikirkan baik-baik? Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, gak enak kalau dilihat orang lain?"
"Iya, terima kasih Mas untuk hari ini?"
"Hm, aku pamit ya?" Ilham melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mobil yang baru dia beli untuk Reyhan. Sejenak Ilham menatap Hanum sendu, membayangkan kalau besok dirinya sudah tak bertemu lagi dengan anak lelakinya itu.
__ADS_1
****
Segini dulu ya kak, udah masuk bab akhir soalnya jadi aku gak buat panjang biar konflik akhirnya lebih pas🤭🤭