Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Kamu Milikku.


__ADS_3

Sakha pulang lebih cepat dari sebelumnya, sesuai dengan janjinya pada Hanum kalau dia akan pulang lebih awal, semua pekerjaan nya sudah mulai berkurang. Walaupun tidak sepenuhnya berkurang karena masih banyak hal yang belum sempat Sakha selesaikan.


"Assalamualaikum?" ucap Sakha saat dirinya masuk kedalam rumah.


Reyhan yang mendengar suara Sakha mengucap salam, segera berlari menyambut lelaki yang selalu menemani hari-hari nya itu.


"Waalaikum salam, Papa …!" teriaknya sambil berlari dalam dekapan Sakha.


Sakha yang siap segera mengangkat tubuh kecil anak lelakinya itu. "Bagaimana kabarmu, sayang?"


"Baik, Pa!" jawab Reyhan sambil memeluk erat leher Sakha.


"Mama kemana sayang?" Sakha bertanya saat tak melihat istrinya itu.


Tapi sebelum pertanyaan nya di jawab oleh Reyhan, Hanum lebih dulu menjawab.


"Aku disini Bang!" jawab Hanum sembari mendatangi Sakha dan juga Reyhan. Tak lupa Hanum mencium takzim tangan Sakha.


"Abang mau makan dulu, apa mau mandi dulu?" tanya Hanum sambil membawa tas kerja suaminya.


"Abang mandi dulu aja ya, habis itu kita makan sama-sama! Reyhan belum makan kan?"


"Eyhan mau mam cama Papa!" ucap Reyhan.


"Ya sudah ikut Papa ke kamar ya, Papa mau mandi dulu habis itu kita makan bersama!" tawar Sakha.


Reyhan yang memang dekat dengan Sakha langsung mengiyakan ucapan Papa sambungnya itu.


Sesampainya di dalam kamar, Sakha menurunkan Reyhan di atas tempat tidurnya. "Reyhan tunggu disini ya Papa mandi sebentar!" ucap Sakha sembari meninggalkan kecupan di kepala Reyhan.


Reyhan duduk sambil memainkan mobil-mobilan yang ada di kamar orang tuanya. "Air nya sudah siap Bang!" ucap Hanum sambil berbalik melangkah keluar dari kamar mandi. Tapi sebelum Hanum benar-benar keluar Sakha lebih dulu masuk dan menghadang jalan Hanum.


"Mau kemana?" tanya Sakha sambil membentangkan tangannya.


"Aku mau keluar Abang kan mau mandi, Hanum siapkan baju gantinya dulu!"


"Nanti saja!" ucap Sakha sambil memegang tangan Hanum.


Jantung Hanum berdebar saat Sakha dengan terang-terangan menggodanya. "Temani Abang mandi ya?" bisik Sakha lembut di samping telinga Hanum.


Hanum sedikit bergidik, saat hembusan nafas Sakha membelai manja telinganya. Pelan tapi pasti Sakha mulai mengecup lembut cuping telinga Hanum, hingga tanpa Hanum sadari bibirnya mengeluarkan suara yang membuat Sakha sedikit bersemangat. "Abangg …!" desahnya pelan.


Sakha berhenti sejenak, sebelum melanjutkan kegiatannya menggoda Hanum, rona merah jelas tercetak di wajah cantik Hanum. Dan saat Sakha ingin melanjutkan apa yang tengah ia mulai, suara kecil memanggilnya. "Papa, mandinya udah?"


Hanum terkejut dan tak sengaja mendorong dada Sakha untuk menjauh dari dirinya. Sakha yang tak siap hampir terjatuh, seandainya ia tak berpegangan erat dengan pinggir wastafel kamar mandi.


Melihat Reyhan yang berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi, membuat Hanum sedikit salah tingkah. "Reyhan kenapa kesini Nak? Nanti kamu jatuh sayang!" ucap Hanum sembari menghampiri Reyhan yang masih berdiri di antara pintu kamar mandi.


"Eyhan tunggu Papa, Ma. Tapi lama!" jawabnya polos.


Sakha terkekeh sebelum menghampiri Reyhan yang tampak sedikit cemberut. "Maaf ya, Papa tadi mau mandi tapi Mama gangguin Papa!" ucapnya sembari mengacak rambut Reyhan.


Hanum terkejut mendengar ucapan Sakha dan matanya seketika membola. "Abang, kok ngomong gitu?" protes Hanum.


Sakha tertawa terbahak melihat mata Hanum yang membola dengan bibir yang sedikit mengerucut, "Kan memang benar sayang, karena kamu aku jadi gak mandi-mandi!"


Hanum semakin memanyunkan bibirnya saat mendengar ucapan Sakha. Dan Sakha yang melihat Hanum merajuk terlihat lebih menggemaskan dimatanya. "Jangan manyun-manyun ntar Abang cium lho?" goda Sakha.

__ADS_1


Hanum yang tak tahan terus digoda Sakha, sedikit mendaratkan cubitan di perut sixpack nya. "Aduh yank jangan dicubit sakit!" ucap Sakha sambil memegang perut yang kena cubitan Hanum.


"Ya sudah sana Abang mandi, aku sama Reyhan nunggu di meja makan saja. Bajunya juga akan aku siapkan." ucap Hanum sambil berlalu keluar dari kamar mandi, sambil menggendong Reyhan.


Sakha senyum-senyum sendiri melihat tingkah malu-malu Hanum. Sakha sudah berumur tapi saat bersama dengan Hanum, dirinya seperti abege yang lagi jatuh cinta untuk pertama kalinya. Menggoda Hanum kini sudah jadi hobinya. Melihat semburat rona merah yang selalu hadir di wajah Hanum, memberi Sakha kebahagian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


***


"Hari ini kamu akan terapi lagi? Semoga hari ini perkembangannya lebih baik dari yang kemarin ya sayang?" ucap Ilham saat mengantar Amel untuk terapi yang terakhir kali.


"Semoga ya Mas, aku juga berharap seperti itu!"


"Hm, karena itu kamu harus semangat. Percaya setiap kesakitan pasti ada obatnya!"


Keduanya sampai di rumah sakit yang cukup terkenal di negara S. Keduanya berjalan beriringan sampai di ruang yang memang di khusus kan untuk terapi.


Ilham membuka pintu dan langsung disambut oleh dokter Noah, dokter yang khusus menangani Amel.


"Selamat pagi Pak Ilham?" sapa sang dokter ramah.


"Pagi Dok, apa langsung dimulai?" tanya Ilham sesaat setelah mendudukan dirinya di kursi depan meja praktek sang dokter.


Dokter Noah tersenyum seraya memandang Amel, "Apa Ibu Amel sudah siap dengan tes kali ini?"


Amel meremas tangannya dan mengangguk, "Siap Dok!" jawab Amel pelan.


"Kalau begitu bisa dimulai, Pak Ilham mau menunggu didalam apa diluar saja?"


"Sepertinya diluar saja Dok, saya ingin istri saya lebih fokus untuk saat ini. Saya takut kehadiran saya malah jadi menghambat penyembuhannya, seperti kejadian yang terakhir kali."


"Baiklah kalau begitu, silahkan Pak!"


Amel memejamkan matanya sejenak, saat Ilham mencium kening nya. "Iya Mas, aku janji akan sembuh?"


"Bagus!" ucap Ilham sambil berlalu pergi.


Ilham keluar dari ruangan dokter Noah, dan mengambil duduk tak jauh dari ruangan dimana istrinya sedang melakukan terapi. "Aku harap ini segera selesai, supaya aku lebih cepat bertemu denganmu?" ucap Ilham lirih sambil mengusap foto Reyhan yang berada di galeri ponselnya.


Perasaan rindu yang terkumpul berbulan-bulan, membuat Ilham merasakan perasaan sesak. Hingga tanpa disadari nya air mata itu turun perlahan tanpa bisa ia cegah. "Ayah rindu Nak?" batin Ilham menjerit setiap melihat kenangannya bersama putra semata wayangnya.


Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat, seperti saat ini saat Ilham yang tengah asyik memandangi foto anak lelaki nya. Amel sudah berdiri di depannya dengan wajah yang berbinar.


"Mas?" panggilnya.


Ilham yang masih larut dengan kenangannya bersama sang putra, sedikit tersentak dan tak sengaja menjatuhkan ponselnya. "K-kamu sudah selesai?" tanya Ilham sembari mengambil ponselnya yang jatuh didepan kaki Amel.


"Kamu kenapa Mas, kok kaya kaget gitu?"


"Aku gapapa hanya sedikit terkejut aja, melihat kamu udah disini. Gimana lancar terapinya?"


Amel mengangguk senang, "Kata dokter Noah sudah banyak perkembangannya Mas dan bisa dilanjut untuk terapi di rumah sakit biasa. Dan berita baiknya kita bisa pulang ke Indonesia?"


"Benarkah?" tanya Ilham tak percaya.


Amel mengangguk dengan pasti. "Terima kasih banyak, kamu sudah berusaha?" ucap Ilham hari sambil memeluk Amel. "Nanti aku bicara sama dokter Noah dulu ya, kamu gapapa nunggu aku sebentar?"


"Iya Mas, aku nunggu disini ya kalau nggak di taman sana?" tunjuk Amel.

__ADS_1


"Oke, aku masuk dulu!"


***


Ilham mendatangi Amel setelah obrolannya dengan dokter Noah selesai. "Hai?" panggil Ilham.


Amel pun mendongakkan kepala nya menatap Ilham. "Sudah selesai Mas?"


"Hm, sudah dan kamu benar kita bisa melanjutkan perawatan di Indonesia. Apa kamu sudah tidak sabar untuk kembali pulang?"


Amel mengangguk, "Iya, kalau kita pulang besok gimana Mas?"


"Baiklah kita akan urus nanti, oke?" jawab Ilham dengan hati yang bersorak bahagia. Ilham benar-benar bahagia mengingat sebentar lagi dirinya akan pulang dan bertemu dengan jagoan kecilnya. Menunggu hari esok sungguh membuatnya semakin tak sabar dan Amel pun merasakan perasaan yang sama.


***


"Reyhan udah tidur sayang?" tanya Sakha saat mulai naik keatas tempat tidur.


Pasalnya setelah acara makan malam tadi. Sakha langsung masuk ke dalam ruang kerja yang berada tak jauh dari kamar mereka, hingga Sakha melewatkan waktu untuk menemani tidur sang anak, dikarenakan pekerjaan nya yang belum selesai.


"Sudah Bang, sebelum Abang masuk kedalam kamar!" jawab Hanum pelan.


"Maaf ya, Abang jadi melewatkan waktu tidur Reyhan karena kerjaan Abang yang belum selesai."


"Iya gapapa Bang, Hanum tahu Abang akhir-akhir ini sering sibuk gak dirumah maupun di kantor!"


"Hm ini karena rencana pembukaan cabang yang ada di Semarang benar-benar menguras tenaga Abang. Mana harus Abang yang kerjain soalnya si Bram gak mau!" desahnya lelah.


"Abang kerjasama juga sama teman Abang itu!"


"Iya kerjasama bisnis berdua, gak bisa di bilang berdua juga karena masih ada campur tangan orang tuanya Bram disitu."


"Ooh."


"Kok cuma o, sih yank?" protes Sakha.


"Kan Hanum gak tahu Bang, jadi cuma o aja!" kekehnya.


"Kamu nih ya benar-benar bikin Abang gemas?"


Tiba-tiba Sakha menaruh tangannya di perut Hanum dan mulai menggelitik. Hanum yang tak tahan geli seketika tertawa dan mohon ampun.


"A-abang geli ah, udah!" pintanya.


Tapi Sakha tak mendengarkan permintaan Hanum dirinya masih asyik menggelitik, hingga tanpa diduga Hanum jatuh terentang dan Sakha menindih atas tubuhnya.


Nafas keduanya mulai tak beraturan, keduanya saling menatap dalam diam. Hingga sapuan bibir lembut Sakha mendarat di bibir ranum Hanum.


Awalnya Hanum terkejut tapi, seiring waktu Hanum mulai menerima bibir Sakha yang bermain di bibirnya. Hingga keduanya mulai kehabisan nafas.


Dengan mata sayu dan penuh dengan kabut, Sakha menatap Hanum dan bertanya. "Bolehkah, Abang …?"


Hanum mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Sakha. Dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya, Sakha kembali mencium Hanum dengan pelan dan penuh rasa.


Malam ini Hanum sepenuhnya milik Sakha begitu juga sebaliknya. Kebahagiaan yang sesungguhnya baru saja dimulai, Hanum mulai membuka dirinya untuk sang suami. Memulai hidup baru dengan arti yang benar-benar baru.


*****

__ADS_1


Adegan di skip ya kak, author mau bayangin dulu sebelum ditulisπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€­


Terima kasih dan Happy Reading πŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2