
Dokter keluar dari ruang tempat Ilham melakukan operasi, gurat wajah lelah nampak sekali terlihat di wajah tampan sang dokter, yang khusus menangani Ilham.
Dengan langkah tergesa Pak Suryo menghampiri sang dokter. "Bagaimana keadaan anak saya Dok?"
"Pak Ilham masih belum sadarkan diri, benturan keras yang dikepalanya membuatnya mengalami koma untuk sementara."
"Tapi apa masih bisa untuk sadar Dok, kalau pun bisa kembali sadar butuh waktu berapa lama?"
"Kalau untuk sadar kembali, itu murni dari pak Ilham nya sendiri. Karena kami tidak bisa menjanjikan itu Pak! Kesadaran pasien tergantung dari pasiennya sendiri kami hanya bisa membantunya dengan alat dan obat saja. Selebihnya serahkan pada yang di Atas Pak!"
Pak Suryo kembali lemas mendengar ucapan sang dokter, di dalam hatinya ia ingin sang anak cepat sadar dan bisa memulai hidupnya yang baru.
***
Dua hari setelah operasi, Ilham belum menunjukan tanda-tanda akan kesembuhannya. Tubuhnya masih koma dan kesadarannya belum bisa dipastikan.
Pak Suryo dan bu Suryo tak henti-hentinya berdoa, berharap anak semata wayangnya itu bisa bangun dan kembali sehat seperti sedia kala.
"Ma kamu istirahat dulu saja, biar papa yang menunggu Ilham disini?" ucap Pak Suryo saat melihat istrinya itu tampak lemas duduk disampingnya.
Bu Suryo menggeleng samar, "Papa saja yang pulang, biarin mama disini. Papa pasti lebih lelah daripada mama, mengingat Papa juga harus bolak-balik ke kantor untuk bekerja!"
"Ya sudah kita tunggu bersama saja ya, tapi kalau mama sudah merasa lelah kita akan pulang bersama. Nanti papa akan minta perawat khusus untuk menjaga Ilham disini."
Bu Suryo mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Hari-hari yang dilalui bu Suryo terasa semakin berat. Melihat anak satu-satunya yang kini tengah berbaring tak berdaya, membuat tubuh renta nya semakin sakit.
Tak terasa air mata itu kembali luruh, akan seperti apa nasib anak laki-laki nya itu? Cobaan tak henti dan terus datang silih berganti, bu Suryo pikir, setelah drama pernikahan anaknya yang hancur dan keadaannya istrinya yang mulai stabil, mampu membuat Ilham sedikit menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya. Tapi harapan itu kini tinggal harapan, saat ia kembali dihadapkan dengan kenyataan kalau sekarang anaknya, Ilham tengah berada di keadaan koma tanpa bisa melakukan apapun.
"Kenapa semua jadi begini ya Pa?" tanya bu Suryo lemah.
"Sudah Bu, pasrahkan semuanya sama yang di Atas, mungkin ini sudah menjadi ujian buat hidup Ilham!"
__ADS_1
"Tapi β¦ apa Ilham bisa sembuh Pa?"
"Kita berdoa saja, semoga anak kita baik-baik saja."
Bu Suryo mengangguk, walaupun masih merasakan sesak yang terus menghimpit dadanya. "Apa kita akan memberitahu Amel, Pa?"
"Tidak, dia baru merasakan sehat setelah lama sakit. Papa gak mau kalau nanti dia tahu, malah akan memperburuk kondisinya dan itu akan lebih merepotkan untuk kita."
Bu Suryo mengangguk, "Tapi sampai kapan Pa, kita sembunyikan ini dari Amel? Mama takut kalau dia tahu dari orang lain, kesehatan mentalnya akan kembali terganggu!"
"Kita bicarakan ini nanti sama besan kita Ma, semoga bu Ratna mampu memberi pengertian kepada Amel."
***
Di tempat lain.
Amel berjalan mondar-mandir di dalam kamar nya. Ia merasakan perasaan tak enak, sejak kepergian sang suami yang katanya banyak kerjaan dikantor.
Perasaan Amel semakin resah karena sampai malam tiba, belum ada tanda-tanda kedatangan sang suami. Saat sedang menunggu, bi Tari datang dengan membawa secangkir teh untuk menemani sang majikan yang duduk di teras sendirian.
"Bu, ini teh nya?"
Amel menatap bi Tari bingung, "Saya kan gak minta teh Bi?" tanya Amel bingung.
"Saya tahu Bu, tapi udara semakin dingin. Kalau Ibu masih duduk disini saya takut Ibu akan sakit nantinya. Jadi ini saya buatkan teh, untuk menghangatkan badan Ibu!"
Amel menerima teh pemberian bi Tari dan mengucapkan terima kasih. Sebelum bi Tari berlalu pergi meninggalkan dirinya sendiri.
"Kamu kemana Mas?" monolog Amel dalam hati.
Untuk pertama kali di dalam hidupnya, baru kali ini Amel benar-benar merasa takut. Bayang-bayang Ilham pergi jauh meninggalkan nya sendirian, tercetak jelas di dalam hatinya.
__ADS_1
Masih dengan perasaan resah, Amel masuk kedalam rumah. Usahanya untuk terus menghubungi Ilham hanya sia-sia belaka. Bahkan saat jam dinding menunjukan pukul sebelas malam pun, belum ada kabar dari sang suami.
***
Ini adalah hari ketiga sejak menghilangnya Ilham, karena selama tiga hari ini Amel benar-benar kehilangan jejak sang suami. Rasa cemas yang berlebihan mulai Amel rasakan, ketakutan akan di tinggalkan makin terasa dan itu sedikit banyaknya sudah membuat jiwa stabil Amel mulai terguncang.
"Bu?" panggil bi Tari.
Amel menoleh dan bertanya, "Ada apa Bi?"
"Ibu makan dulu ya, dari semalam Ibu belum makan dan juga belum minum obatnya?"
"Saya gak lapar Bi, nanti kalau lapar saya pasti makan." jawab Amel sedikit ketus.
"Saya hanya menyampaikan amanah dari pak Ilham Bu, kalau saya harus menjaga Ibu saat bapak tidak ada atau belum pulang dari kerja."
Amel terenyuh mendengar ucapan asisten rumahnya ini, terlebih saat ia menyebutkan nama sang suami. Hatinya sedikit menghangat, bahkan saat suaminya gak ada sekalipun, dia masih memberikan orang yang perhatian dengan dirinya.
"Baiklah Bi, siapkan saja makanannya aku akan keluar sebentar lagi."
"Baik, Bu!"
Bi Tari berlalu pergi, meninggalkan sang majikan yang masih terdiam dengan pandangan kosong.
Amel menatap nanar ponsel yang tengah ia pegang, sambil berbisik lirih. "Kamu kemana Mas?"
****
Happy Independence Day, semoga Indonesia menjadi negara yang lebih maju, yang lebih makmur dan menjadi negara yang mampu mensejahterakan seluruh lapisan masyarakat. Dirgahayu Indonesia ku, selamat ulang tahun Indonesia MERDEKAπ²π¨π²π¨π²π¨
Happy Reading allπππ
__ADS_1