Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Hidup Baru Bersamamu.


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Hanum binti Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Sah … sah." Semua saksi yang melihat ijab kabul pernikahan kedua Hanum berkata sah dan air mata yang berusaha keras ditahan Hanum, akhirnya lolos juga.


Ardi lelaki yang menggantikan almarhum bapaknya. Untuk menjadi wali nikah Hanum, juga tak mampu untuk menahan air matanya. Air mata itu luruh dengan sendirinya saat dirinya untuk yang kedua kalinya, mengantarkan sang kakak untuk memulai hidup baru dengan lembaran baru dan status baru dengan menjadi istri dari seorang lelaki yang begitu mencintai kakaknya.


Setelah kata sah itu terucap, Bu Surti memeluk Hanum erat dan berdoa, "Semoga pernikahanmu kali ini menjadi pernikahan terakhir untukmu Nak. Ibu harap kamu selalu bahagia dimanapun kamu berada!"


Hanum mengangguk, air matanya masih terus mengalir dari mata cantiknya. "Semua untuk reyhan Bu, aku harap setelah ini tak akan lagi ada yg terluka baik aku ataupun reyhan."


Bu Surti kembali memeluk Hanum. "Ibu harap pernikahanmu langgeng, semoga cinta itu tumbuh lebih cepat agar kalian bisa selalu bersama sampai tua nanti dan semoga selalu bahagia. Ibu yakin sakha akan mampu menghapus rasa sakitmu dulu, dan mampu membuatmu menjadi wanita satu-satunya di dalam hidup sakha!"


"Aamiin Bu, semoga saja Hanum juga akan berusaha menjadi istri yang baik untuk bang sakha!"


"Ya sudah ayo kita keluar, sakha pasti sudah menunggu dan jangan lupakan kalian harus menjemput reyhan di rumah sakit?"


"Iya Bu!"


Setelah memikirkan permintaan sakha saat dirumah sakit dan melihat Reyhan yang tertidur lelap dengan menyisakan air mata. Hanum membulatkan tekad untuk menerima pinangan sakha. Setidaknya setelah keputusan yang di ambilnya itu, Reyhan akan bisa menjalani hidupnya dengan status keluarga yang utuh, kerena ada peran sakha sebagai pengganti ayah yang selalu di rindukan Reyhan.


Dan hari ini juga Hanum telah sah menjadi istri dari Sakha Abimana. Lelaki baik, juga penyayang dan tidak memandang Hanum dari masa lalunya. Ijab kabul dilaksanakan dengan khidmat walaupun tidak secara mewah, Hanum menolak untuk merayakan pernikahannya, cukup buku nikah sebagai bukti jika pernikahan mereka sah secara agama maupun negara.


Hanum keluar dari kamar setelah statusnya sah. Matanya bertemu dengan mata teduh Sakha yang melihatnya dengan tatapan kagum.


"Kamu cantik?" puji Sakha lirih saat Hanum duduk disampingnya.


Hanum melihat Sakha dan tersenyum malu, hatinya berdebar mendengar pujian yang Sakha lontarkan. "Terima kasih Bang!" Lalu Hanum mengambil tangan Sakha dan mencium takzim, bukti baktinya sebagai seorang istri, tak lupa Sakha juga membenamkan ciuman di kening Hanum sebagai ungkapan cintanya setelah kata sah itu terucap.


Setelah rangkaian proses pernikahan nya selesai Hanum pamit untuk kembali kekamar dan mengganti bajunya. Hanum sudah tak sabar untuk menjemput Reyhan, ada rasa rindu karena telah meninggalkan anaknya, walaupun disana Reyhan juga tidak sendirian karena sudah ada Siti yang juga ikut menemani menjaga Reyhan selama dirinya menikah dengan Sakha.


Kreek.


Suara pintu yang dibuka membuat Hanum terkejut, "Ah maaf aku tak bermaksud …?" ucapan Sakha menggantung saat melihat Hanum melepas hijab yang membalut kepalanya. Cantik, hanya kata itu yang mampu Sakha ucapkan, saat melihat rambut panjang berwarna hitam yang kini tergerai bebas tanpa penutup.


Hanum yang belum terbiasa, juga terlihat salah tingkah saat Sakha tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Ah iya gapapa Bang!" ucap Hanum sembari membenarkan hijabnya kembali.


"Maaf aku gak tahu kamu di kamar, aku kesini karena mau sholat dan di depan sangat ramai!" ucap Sakha memberitahu.


"Iya Bang gapapa, Abang sholat aja dulu nanti Hanum kembali lagi." Hanum berniat pergi dan mempersilahkan Sakha untuk sholat tapi sebelum dirinya benar-benar keluar, Sakha memegang tangannya lembut.


"Kamu sendiri udah sholat belum?" tanya Sakha.


Hanum menggeleng pelan, tadinya selain untuk mengganti baju, Hanum juga berniat untuk sekalian sholat sebelum menjemput Reyhan.


"Ya sudah sholatnya bareng ya, kan udah halal?"


Lagi-lagi Hanum tersipu malu saat mendengar kata halal dari Sakha. Hanum sedikit merutuki kebodohannya, karena lupa kalau dirinya dan Sakha sudah sah menjadi suami istri.


"Em, iya Bang. Hanum siapkan dulu ya alat sholat nya, Abang bisa kekamar mandi dulu untuk berwudhu?"


Sakha mengangguk patuh, lalu beranjak masuk kedalam kamar mandi. Tak dipungkiri jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya saat berdua dengan hanum. Dan itu membuatnya sedikit salah tingkah juga.


****


"Maaf Pak, bu amel memang sudah menunjukan kemajuan dalam pengobatannya. Tapi saat kami melakukan simulasi ternyata tanda kemunculan depresi itu terlihat lagi dan kami memutuskan untuk mengobati sampai benar-benar sembuh!"


"Tapi bukanlah terakhir kali dokter bilang kalau semuanya sudah baik-baik saja, kenapa semua jadi seperti ini?"


"Maafkan kami Pak, kami akan mencoba lagi nanti dan kita bisa lihat reaksi bu amel masih sama atau ada perubahan." ucap dokter menjelaskan.


Ilham menyugar rambutnya lelah, harapannya yang akan segera pulang ke tanah air untuk bertemu dengan Reyhan pupus sudah.


Entah bagaimana tepatnya saat melakukan terapi untuk yang terakhir kali, Amel lepas kendali ia tiba-tiba menangis histeris sambil berteriak memanggil anaknya yang sudah meninggal. Ilham mendesahkan nafas kecewa, kenapa rasanya semakin sulit untuk menjalani semuanya. Rindunya kepada anak semata wayangnya sudah tak bisa ditahan lagi. Ilham merasakan kekosongan dalam hatinya, entah hanya perasaannya saja atau memang sesuatu itu sudah pergi jauh dari hidupnya.


***


"Gimana kamu sudah siap belum?" tanya Sakha saat melihat Hanum selesai berganti baju.


"Sudah Abang, kita langsung jemput Reyhan ya?"

__ADS_1


"Hmm, ayo aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Aku harap setelah ini tak akan ada lagi kesedihan di hatinya!"


"Aku juga berharap seperti itu Bang, semoga Reyhan bisa bahagia seperti sebelumnya!"


Sakha menatap Hanum dan memegang tangannya. "Aku berjanji selama sisa hidupku, aku akan membuat kalian berdua bahagia selamanya sampai Allah yang akan memisahkan kita nanti?"


Hanum terharu mendengar janji Sakha, "Kita jalani dulu ya Bang, semoga apa yang memang ditakdirkan untuk kita akan selalu baik untuk kedepannya?"


"Aamiin." jawab Sakha disertai usapan di tangan Hanum.


Tak butuh waktu lama untuk Sakha sampai di rumah sakit, sesampainya disana Reyhan menyambut dengan senyum yang terus mengembang.


"Nah gitu dong anak Papa harus senyum?"


"Calam duyu Papa!" tegur Reyhan dengan suara cadelnya.


"Ah maaf Papa lupa, Assalamu'alaikum anak Papa yang paling ganteng!"


"Waalaikumsalam!" jawab Reyhan dan Mbak Siti bersamaan.


"Reyhan sudah sehat, sudah siap hari ini untuk pulang?" tanya Sakha lagi.


"Udah PaPa, eyhan udah ciap!"


"Ya sudah Papa ketemu sama dokternya dulu ya, setelah itu kita pulang. Oke?"


Reyhan mengangguk, Hanum yang melihat kedua nya begitu akrab membuat hatinya menghangat. Keputusannya menerima pinangan Sakha ternyata sudah tepat, mungkin memang benar apa kata Ibunya. Setidaknya membuka hati untuk orang yang benar-benar tulus kepadanya, akan mampu mengobati luka hatinya dulu dan membuat kehidupan yang dijalani sekarang akan lebih indah untuknya dan untuk anaknya.


Semoga kebahagiaan ini bukan semu belaka, semoga kebahagiaan yang baru diraihnya akan mampu membawa kebahagiaan lain di dalam hidupnya.


****


Belum end ya kak, saya putuskan untuk menambah part lagi🀭 maaf author sedang labilπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Terima kasih & Happy Reading πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2