Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Berbagi


__ADS_3

Selesai makan malam Hanum bergegas merapikan peralatan makan, mencuci piring-piring kotor bekas makan mereka, setelah selesai Hanum tertegun mengingat kembali perkataan suami nya "Aku menginap malam ini, aku merindukanmu," Hanum mengurut pelan dada nya terasa ada yang berdenyut nyeri saat ilham berkata rindu.


Hanum masuk kedalam kamar, dan melihat ilham yang tengah asik memainkan gawai di tangan nya, Hanum berjalan sangat pelan nyaris tidak menimbulkan suara, sampai terdengar suara ilham yang memanggil dirinya.


"Sudah selesai Dek."


Hanum berhenti dan menoleh sejenak kearah Ilham, "Sudah Mas, Hanum mau bersih-bersih dulu," ucap Hanum seraya meninggalkan Ilham dan masuk kedalam kamar mandi.


Hanum keluar kamar mandi lengkap dengan pakaian tidurnya, mengambil sedikit jarak Hanum duduk di pinggir tempat tidur.


Hanum tidak seperti perempuan di luar sana yang saat ingin tidur harus memakai skincare, air wudhu sudah cukup untuk nya karena Hanum percaya kebaikan dari air wudhu dan sholat nya membuat wajah nya bersinar. Apalagi di usia nya yang baru dua puluh delapan tahun dan belum memiliki momongan, membuat Hanum tampak seperti remaja kebanyakan.


Ilham meraih tangan Hanum, mengecup mesra, berharap sifat romantisnya mampu meluluhkan Hanum, disaat Ilham ingin mencium bibir ranum nya, tak sengaja Hanum memalingkan wajah nya.


"Maaf Mas, jangan sekarang aku berhalangan." cicit Hanum pelan.


Dengan perasaan yang kacau ilham melepas genggaman tangan nya, kecewa! itu yang dia rasakan saat rasa rindu itu membuncah dan ingin kembali memadu kasih, Hanum menolak dengan alasan berhalangan, mungkin kah Hanum nya sudah tak menginginkan nya lagi.


"Kamu masih marah dek sama Mas?" tanya Ilham sendu.


"Aku tidak marah Mas, hanya memang lagi berhalangan, apa Mas juga sudah tidak percaya denganku sekarang?"


"Bukan begitu maksud Mas, hanya saja kenapa tiba-tiba."

__ADS_1


"Apa Mas sudah mulai lupa sekarang tanggal berapa, bukanya selalu di tanggal ini kan Mas?"


Setelah mengingat-ingat kembali, ilham menepuk jidat nya, "Astagfirullah, iya dek Mas lupa!" seru ilham sambil cengar-cengir.


"Maka nya jangan su'udzon dulu Mas, Hanum tidak mungkin akan menolak karena Hanum sadar itu sudah menjadi kewajiban Hanum."


"Iya, Mas minta maaf ya sayang kalau begitu kita tidur aja, tapi izinkan Mas memelukmu sambil tidur, Mas rindu dengan mu."


Hanum hanya menganggukan kepala tanda setuju, Hanum juga lega karena malam ini dia bebas tidak melakukan kewajiban nya, bukan maksud hati untuk menolak tapi berbagi raga dengan wanita lain Hanum tidak sekuat itu, walaupun itu kenyataannya.


Ilham mengecup puncak kepala Hanum, sesaat sebelum ia masuk ke alam mimpi, berharap esok Hanum nya masih tetap Hanum yang sama, Hanum yang dulu sangat digilai nya, dicintainya sebelum badai itu datang menghancurkan dari dalam.


***


Keesokan paginya saat ilham meraba samping tempat tidurnya ia terkejut tak mendapati Hanum ada disisi nya, tak lama terdengar suara knop pintu dibuka dari luar.


Nampak Hanum muncul dari luar sambil membawa secangkir teh, "Mas sudah bangun?"


"Udah dek, Mas kaget lihat kamu nggak ada."


"Lho Hanum baru selesai membereskan rumah, ini baru mau Hanum bangunin, Mas ilham gak sholat subuh udah jam 5 pagi lho?" ujar Hanum.


"Iya Dek, Mas sholat dulu."

__ADS_1


Bergegas ilham bangun dan melaksanakan kewajiban nya dan Hanum kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan sarapan sebelum sang suami berangkat kerja.


"Mas." panggil Hanum.


"Iya dek, sebentar!"


"Sarapan dulu sebelum berangkat kerja, Hanum sudah siapin nasi goreng kesukaanmu."


Senyum di wajah ilham mengembang sambil mengecup kepala sang istri "Terima kasih sayang."


Hanum hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Dek, nanti Mas pulangnya agak malam gapapa kan? Mas akan bertemu dengan Amel setelah pulang kerja nanti, sekalian Mas mau menjelaskan pembagian hari untuk kalian biar adil."


"Iya, terserah sama Mas Ilham saja."


"Kamu mau nya bagaimana dek, Mas berpikir untuk tiga hari bersama kamu juga tiga hari untuk Amel nanti yang satu hari nya bisa kita bicarakan lagi?"


"Aku terserah sama Mas saja, tapi sesuai dengan janji. Mas akan adil dengan kita berdua, itu sudah cukup buatku Mas."


"Terima kasih untuk pengertian nya sayang, Mas janji akan adil untuk kalian," janji Ilham.


"Hm"

__ADS_1


Semoga janji Ilham mampu ditepati, semoga saja janji bukan hanya sekedar janji yang di awal terasa manis tapi pahit saat tak bisa ditepati.


***


__ADS_2