Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Andini.


__ADS_3

"Ngapain kamu kesini?" ucapan ketus Sakha menghentikan langkah kaki seorang wanita yang berusaha mendekatinya.


"Aku merindukanmu!"


Sakha tertawa sumbang, mendengar ucapan wanita yang selama beberapa tahun ini coba ia lupakan.


"Rindu?! Atas dasar apa kamu merindukanku?"


"Mas jangan seperti ini, kesalahanku sudah bertahun-tahun lalu. Apa kamu tidak bisa melupakan dan memaafkanku?" tanyanya dengan wajah memelas.


"Memaafkan dirimu aku sudah melakukannya tapi melupakan penghianatan mu? Jangan pernah berharap karena itu tak akan pernah mungkin bisa!"


"Lalu aku harus seperti apa, agar kamu bisa melupakan dan menerima ku kembali? Aku masih mencintaimu Mas?"


"Bulshit, kalau kamu cinta sama aku! Gak mungkin kamu akan tega mengkhianati diriku dengan membawa laki-laki lain untuk masuk dan memadu kasih di ranjang tempat tidurku?"

__ADS_1


"Aku khilaf Mas dan aku juga punya alasan melakukan itu semua. Aku melakukan semua itu karena kamu! Kamu yang gak pernah ada waktu buat aku, kamu yang selalu sibuk dengan semua pekerjaanmu. Kamu yang terus mengabaikan ku saat kita sedang berdua!"


Sakha terkejut mendengar ucapan dari mantan istrinya itu, apa katanya Sakha yang gak perhatian. Emosi Sakha seketika tersulut. "Apa kamu bilang aku gak perhatian? Perhatian seperti apa yang kamu maksud hah? Saat semua permintaanmu selalu ku penuhi, saat semua keinginanmu dan semua gaya hidupmu yang terlalu wah. Membuat aku bekerja sangat keras. Aku memperjuangkan mu saat ibuku dengan jelas tak memberi restu.!" Sakha terlihat menggebu-gebu saat menyebutkan semua yang telah ia lakukan.


"Kau tahu aku cuma punya ibu dan saat dia tak merestui hubungan kita. Aku masih tetap mempertahankan dirimu, karena aku mencintaimu tapi balasan apa yang kudapatkan dari dirimu? Hanya pengkhianatan!" ucap Sakha sembari beranjak meninggalkan Andini yang tengah menangis.


"Mas…?" Andini memegang tangan Sakha. "Maafkan aku Mas, aku janji akan berubah, aku janji akan jadi istri yang lebih baik untukmu dan aku juga janji akan menjadi menantu yang baik untuk ibumu. Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi?" pintanya dengan wajah penuh air mata.


Sakha menghempaskan tangan Andini. "Maaf Din, masa lalu bukan untuk diulang lagi dan aku juga tak berminat untuk mengulang masa lalu. Aku sudah menemukan tambatan hati lain dan pastinya dia lebih baik dari dirimu! Carilah orang lain untuk mulai hidup baru dan aku juga berharap ini terakhir kalinya kita bertemu. Jangan pernah menemuiku dan jika kita tidak sengaja bertemu aku harap aku tak pernah mengenalmu?"


Ucapan Sakha benar-benar menyakiti perasaan Andini, walaupun dia sadar ini semua dimulai dari karena kesalahannya. Tapi tak bisakah Sakha melupakannya dan memaafkannya.


Cemburu itu masih ada dan karena itu pula, Andini memberanikan diri menemui dan berbicara dengan Sakha. Andini berharap rasa itu masih ada, hingga dirinya bisa kembali memulai hidup yang baru bersama Sakha lagi. Dengan melupakan semua kesalahannya dulu. Tapi Sakha yang tadi dia temui jauh berbeda dengan Sakha lima tahun yang lalu, Sakha yang begitu mencintainya, Sakha yang begitu memujanya dan Sakha yang rela melakukan apapun untuk dirinya. Andini tak melihat cinta yang dulu dia dapatkan di mata Sakha, hanya kebencian yang kini terlihat dari mata indah lelaki itu.


Andini duduk bersimpuh, meratapi perasaannya yang kembali ditolak oleh mantan suaminya itu. Hingga usapan lembut di punggungnya membuatnya mendongakkan kepala. "Sudah selesai ayo kita pulang?" ajak lelaki yang tadi datang bersamanya.

__ADS_1


Andini mengusap air mata yang masih tersisa dan mengangguk. "Ayo Mas aku juga lelah hari ini!" Andini berjalan lebih dulu, meninggalkan lelaki yang kini tengah mematung menunggu penjelasannya, tapi Andini memilih untuk bungkam. Hati dan pikirannya sedang tidak mendukung untuk berbicara ataupun menjelaskan keadaannya. Lelaki itu menatap lelah punggung perempuan yang kini berjalan jauh di depannya. "Sampai kapan kamu seperti itu, padahal selalu ada aku yang selalu ada disisimu?" ucapnya sambil menarik nafas lelah.


***


Sakha kembali ke dalam restoran, perasaannya kembali memburuk saat mengingat percakapannya dengan sang mantan istri. Dan itu semua tak luput dari pengamatan sang Ibu. "Apa yang kamu pikirkan Kha?"


Sakha menatap Ibu nya sambil menggeleng. "Gak ada Bu, Sakha hanya sedikit kepikiran Hanum saja?" ucapnya berkilah.


"Lah Hanum kan sudah pulang!"


"Iya Ma Sakha tahu, Sakha hanya merasa tak tenang saat melihatnya pulang sendirian tadi?"


Bu Ani terkekeh, "Kamu ini kaya abg saja, besok kan masih bisa ketemu. Kalau pun kamu kangen buruan di telpon sebelum Hanum tidur mengingat ini sudah malam!" saran Bu Ani.


Sakha terkekeh, "Besok saja Ma, sekarang kita pulang saja yuk. Mama harus istirahat juga kan?"

__ADS_1


Bu Ani mengangguk, "Ya sudah ayo kita pulang Kha?" Keduanya berjalan keluar, Sakha memilih untuk kembali pulang. Mengistirahatkan hati dan juga pikirannya yang sedikit berkecamuk akibat ulah mantan istrinya itu. Dalam hati Sakha ia tak ingin lagi terlibat ataupun kenal lagi dengan mantan istrinya itu. Apapun yang akan terjadi nanti. Karena kini fokusnya hanya kepada Hanum seorang.


****


__ADS_2