Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Menguatkan Hati.


__ADS_3

Mata Ilham masih menatap Hanum, jelas nampak kesedihan yang coba untuk Ilham ungkapkan, tapi melihat tatapan Hanum yang sedikit datar mengusik hatinya.


Hanum menatap Ilham dengan banyak pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan. Apakah hatinya tak sedikitpun tersentuh, saat dirinya dan anak yang ada di dalam kandungannya hampir saja celaka! Saat istri sah nya dengan tidak sengaja mencoba membuatnya terluka untuk yang kedua kalinya.


Tapi melihat Ilham yang lebih panik saat melihat Amel yang hampir terjatuh. Sisi lain hati Hanum sedikit terusik. Mungkin memang sudah saat nya untuk Hanum mengakhiri perasaannya yang masih tertinggal untuk Ilham.


Pandangan mata keduanya terlepas saat Amel bersuara, "Mas dimana anakku?" Ilham mengalihkan pandangannya, ia menatap Amel sendu. Ingin rasanya Ilham berkata jujur tentang anak mereka, tapi melihat kondisi Amel yang sedikit tidak stabil membuat Ilham mengurungkan niatnya.


"Kamu istirahat dulu ya, nanti akan kita bicarakan lagi hem?" bujuk Ilham lembut.


Amel mengangguk dan kembali naik ke atas tempat tidurnya. Ilham pun mengambil selimut dan mulai membenahi tidur Amel. Tapi suara Hanum yang berbicara sangat lembut kearah Sakha, membuatnya menjeda aktivitasnya.


"Abang bisa antar Hanum pulang?" tanya Hanum sambil menatap Sakha.


Sakha tersenyum, "Tentu saja, ayo kita pulang kamu juga harus istirahat!"


Ilham berusaha menulikan telinganya tetapi hatinya, tak cukup mampu untuk ikut pura-pura tak tahu apa yang kini terjadi di belakang tubuhnya.


Sakha memapah lembut pundak Hanum karena jalannya yang sedikit terseok-seok, hati Ilham miris tapi tanggung jawabnya lebih besar, kepada istrinya yang kini tengah terbaring sambil menatap langit-langit kamar rumah sakit.


"Kamu mau ke dokter dulu Han?" tanya Sakha yang sedikit khawatir melihat Hanum yang mulai kesusahan untuk berjalan.


"Nggak Bang Hanum mau langsung pulang saja. Mungkin aku kecapean!" tolak Hanum sopan.


"Tapi tadi kan kamu hampir jatuh Han, aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan kandungan kamu?" ucap Sakha dengan kekhawatiran yang jelas terlihat di wajahnya.


"Gapapa Bang, aku baik-baik saja. Sekarang tolong antar aku pulang saja ya?" pinta Hanum.


Sakha dengan berat hati akhirnya menyetujui permintaan Hanum untuk cepat-cepat kembali pulang. Melihat Hanum yang sedikit kesusahan membuat hati Sakha sedikit tak tenang. "Ah seandainya kamu nikah sama aku, ku pastikan hidupmu akan jauh lebih bahagia dari sekarang Han!" monolog Sakha dalam hati.


Ilham melihat bagaimana sakha memandang hanum dengan penuh perasaan, hati kecilnya tercubit saat menyadari bahwa, dirinya tak mungkin lagi bisa membersamai hanum seperti yang Ilham lihat saat ini. Ilham berjanji dalam hatinya untuk benar-benar melepas hanum! Karena sekarang tanggung jawabnya hanya kepada istrinya saja. Jika seandainya mungkin, suatu hari nanti hanum memberikan ijin, untuk dirinya sekali saja bertemu dengan buah hatinya, maka Ilham tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu.


***


"Lho kamu sudah pulang, Num? Bagaimana dengan keadaan ilham dan istrinya?" tanya Bu Surti saat melihat Hanum kembali bersama dengan Sakha.


"Mas Ilham gapapa Bu, hanya luka kecil dan kalau amel dirinya kehilangan anak yang tengah ia kandung!" jawaban Hanum membuat Bu Surti terkejut, separah itukah kecelakaan yang dialami oleh mantan menantunya itu.

__ADS_1


Bu Surti ingin kembali bertanya, tapi melihat Hanum yang sedikit kelelahan membuat Bu Surti mengurungkan niatnya.


Sakha beranjak setelah mengantar Hanum kembali ke rumah yang juga sebagai tempatnya untuk berjualan. "Aku pamit ya?"


Hanum mengangguk, "Hm, Hati-hati ya Bang! Dan terima kasih untuk waktunya?" ucap Hanum tulus.


"Lho Nak Sakha gak mau makan dulu sebentar?" pertanyaan Bu Surti membuat Sakha berhenti dan mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Saya masih kenyang Bu, mungkin lain kali saja!" tolak Sakha halus.


"Oh ya sudah kalau begitu, terima kasih sekali lagi Nak, karena sudah mau mengantar Hanum pulang!"


"Sama-sama Bu kalau begitu saya pamit dulu!" Sakha pergi meninggalkan Hanum dan memilih untuk langsung ke kantor, banyak pekerjaan yang mulai terbengkalai saat dirinya memutuskan untuk menemani Hanum ke rumah sakit.


"Num?" panggil Bu Surti saat melihat Hanum sedikit termenung. "Kamu ada masalah?"


"Bu?" Hanum menatap Bu Surti sendu. "Salah gak sih Bu? Seandainya Hanum masih sedikit berharap, kalau Hanum kelak akan bahagia?"


Bu Surti menggeleng, "Kenapa cuma sedikit berharapnya? Kita tidak akan pernah tau masa depan seperti apa Num, banyak berharap juga tidak apa-apa setidaknya itu bisa membuat kita lebih bersemangat!"


"Tapi Hanum takut Bu!"


"Apa anak Hanum akan baik-baik saja seandainya hanya ada Hanum, Ibu dan ardi?"


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, Num?"


"Hanum hanya tidak mau berhubungan lagi dengan mas ilham Bu, apapun alasannya. Entah itu karena anak atau apapun."


"Tapi ilham kan ayah dari anakmu Nak?"


"Hanum tahu Bu, seandainya nanti anak ini lahir dan jika mas ilham ingin bertemu pun, Hanum pasti kasih ijin tapi Hanum tidak bisa untuk bertemu lagi dengannya!"


"Apa yang sebenarnya terjadi?" pertanyaan Bu Surti membuat Hanum terdiam, tak mungkin ia menceritakan apa yang sudah terjadi di rumah sakit. Tentang ketidakpedulian ilham terhadap dirinya.


Hanum menggeleng, "Tidak ada Bu, mungkin aku hanya lelah."


Bu Surti mengusap lembut kepala anaknya. "Kita serahkan saja semua sama yang di Atas, mungkin Dia sudah merencanakan yang terbaik untukmu nanti."

__ADS_1


Hanum pun mengangguk, "Kalau begitu Hanum istirahat dulu ya Bu!"


"Hm, pergilah!"


Di rumah sakit.


Amel masih terdiam, menatap langit-langit kamar rumah sakit yang kini ditempatinya. Hingga suara pintu yang terbuka membuat nya mengalihkan pandangan.


"Mas, gimana sama anakku. Anak kita?"


Ilham mendekat, "Maaf!" hanya kata itu yang bisa diucapkan dari bibirnya.


"Maaf untuk apa Mas?" tanya Amel yang sedikit kebingungan melihat Ilham yang kini malah berurai air mata.


Perasaan Amel mulai tak tenang, ada rasa yang tiba-tiba masuk dan susah untuk dijelaskan. "Jawab Mas ada apa? Mana anakku?" tanyanya dengan sedikit meninggikan suara.


Ilham menggeleng, "Maafkan aku, andai waktu bisa diputar kembali aku tak ingin menjadi seperti ini!"


"Bicara yang jelas Mas, ada apa?" tanya Amel yang mulai sedikit frustasi.


Ilham yang kembali sesenggukan, mengingat bayi mungil yang kini telah tiada. Air mata nya semakin deras membanjiri wajah tampannya.


"Anak kita sudah tiada Mel!"


"A-apa Mas, aku gak dengar?" ucap Amel sembari menahan sesak di dadanya, Amel ingin kembali memastikan ucapan suaminya ini. Mungkin pendengarannya sedikit terganggu karena kecelakaan itu.


"Maaf!"


"Aku gak butuh kata maafmu Mas, yang aku tanyakan apa maksudmu dan dimana anak kita?" ucapnya dengan sedikit meraung.


Ilham lantas berdiri dan memeluk istrinya yang kini tengah histeris. "Anak kita sudah tiada karena lahir prematur Mel!" ucap Ilham sembari mengelus rambutnya.


"Tidak Mas, itu tidak mungkin! Anakku baik-baik saja dia sehat jadi bagaimana mungkin?" ucapnya sambil sesenggukan.


"Benturan yang terjadi saat kecelakaan, membuatnya tak bisa bertahan sayang!"


Mendengar ucapan Ilham, Amel merasakan sakit di kepalanya yang tiba-tiba datang dan membuatnya meringis kesakitan, "T-tidak Mas?" pekik Amel sebelum dirinya kehilangan kesadaran untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


***


__ADS_2