Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Rasa Yang Sama.


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi, Pa?" cecar bu Suryo yang gemas, melihat sang suami yang terus diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Kita akan tahu setelah sampai, Ma! Karena Papa sendiri juga tidak tahu, apa yg sedang terjadi?"


Bu Suryo menarik nafasnya berat, "Semoga gak terjadi apa-apa sama Ilham ya, Pa?"


"Semoga saja, Ma!"


Tak lama mobil yang dikendarai pak Suryo, masuk ke parkiran rumah sakit, dimana anaknya dirawat. Dengan langkah tergesa-gesa, mereka menuju ruangan dimana Ilham dirawat.


Sesampainya disana, Pak Suryo dan istrinya terkejut saat melihat Amel dan ibunya juga ada disana.


"Amel?" panggil bu Suryo lirih.


"Ma?" Amel bergegas menghampiri mertuanya itu, dengan wajah sembab seperti habis menangis.


"Ada apa, bagaimana kamu bisa disini?" tanya Bu Suryo heran.


Amel baru ingin membuka mulut, untuk menjawab pertanyaan sang ibu mertua. Tapi suara bu Ratna lebih dulu membungkam kata-katanya.


"Saya yang membawa Amel kesini, besan! Maaf, tapi Amel memang harus tahu keadaan Ilham sekarang?" ucapnya memberitahu.


Bu Suryo mengangguk, "Iya memang sudah seharusnya seperti itu?" ucap bu Suryo sambil menghampiri Amel. "Mama harap, semoga dengan hadirnya dirimu. Membuat Ilham bisa segera pulih ya?"


Amel mengangguk, "Tapi bagaimana ini bisa terjadi, Ma?"


"Mama juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Mama hanya berharap semoga Ilham bisa segera sadar dan sehat kembali."


Saat Amel dan bu Suryo sedang berbincang. Pak Suryo menghampiri Adit, yang berdiri tak jauh dari tempat Ilham berada.


"Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Dit?" tanya Pak Suryo pelan.


"Saya juga tidak tahu pastinya, Pak! Saat saya sampai di sini, suster dan dokter keluar masuk dari tempatnya mas Ilham. Dengan wajah tegang, saat saya bertanya pada salah satu susternya, mereka bilang kalau mas Ilham sempat sadar dan berbicara tapi setelah itu ia kembali koma sampai saat ini?"


Pak Suryo menarik nafasnya berat, cobaan apa lagi yang akan dilalui nya kali ini. Dengan perasaan lelah, akhirnya tubuh tuanya tak sanggup untuk bertahan lebih lama. Pak Suryo memilih untuk duduk, sembari berdoa agar anaknya bisa kembali sadar.


****

__ADS_1


Di tempat lain.


"Gimana kondisi Reyhan, yang?" tanya Sakha saat sampai dirumah.


"Masih sama Bang, Reyhan masih demam. Apa sebaiknya kita bawa kerumah sakit aja ya?"


"Boleh, nanti sekalian cek kandungan kamu ya? Sekarang Abang mau mandi dulu!" jawab Sakha sambil mencium pipi sang istri.


"Iya, Hanum siapkan dulu bajunya ya Bang!" Hanum beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Sakha, tapi sebelum itu Hanum sudah berpesan kepada asisten rumah tangganya untuk menjaga Reyhan sebentar, sebelum nanti kerumah sakit.


Sesampainya di dalam kamar, Hanum bergegas menyiapkan baju untuk sang suami. Dan tanpa ia sadari Sakha sudah berada di belakangnya, sambil memeluk dirinya. "Bang, basah?" tegur Hanum saat badannya terasa dingin, akibat air yang masih menetes dari ujung rambut sang suami.


"Kalau basah berarti harus ganti baju, sini Abang bukain?" goda Sakha.


"Hanum sudah mandi Bang, masa mau mandi lagi?"


Sakha terkekeh mendengar ucapan sang istri, "Mandi lagi sama Abang, mau?" tawarnya.


"Lah, kan Abang udah mandi masa mau mandi lagi?" ucap Hanum heran.


"Kalau sama kamu, mau mandi sehari sepuluh kali pun. Abang gak keberatan!" jawab Sakha sambil mencium pipi Hanum.


Sakha tergelak semakin kencang, melihat wajah imut istrinya itu. Selama hampir setahun merajut rumah tangga bersama dengan Hanum, hanya kebahagiaan yang selalu Sakha rasakan. Melihat tingkah polos istrinya yang terkadang masih malu-malu. Membuat Sakha merasa lebih hidup untuk yang kesekian kalinya.


Dan yang membuat Sakha lebih bahagia, saat ia mendengar kalau sang istri kini tengah berbadan dua, yang membuat hidupnya lebih sempurna. Karena mempunyai istri dan juga dua anak yang akan menemani sisa hidupnya.


Sakha membalik tubuh sang istri menghadap dirinya, sambil berjongkok Sakha menyapa anak yang ada di perut sang istri. "Anak Papa hari ini gak bikin Mama repotkan?" ucapnya sembari mengelus dan mencium perut Hanum.


"Nggak, Papa aku pinter hari ini?" jawab Hanum yang menirukan suara anak kecil.


Sakha mencium kembali perut sang istri, sebelum ia memakai baju yang sudah disiapkan Hanum.


"Kita kerumah sakit sekarang, Bang?" tanya Hanum saat melihat sang suami sudah memakai pakaiannya.


"Iya, gak usah ditunda lagi takut demamnya makin tinggi!"


"Ya sudah, Hanum bersiap dulu ya Bang? Tapi apa Abang sudah makan?"

__ADS_1


"Abang makan nanti saja, sekarang Abang masih kenyang!"


Hanum mengangguk, sambil menyiapkan semua keperluan untuk kerumah sakit.


Tak butuh waktu yang lama untuk Sakha sampai dirumah sakit, sebelum pergi ke poli kandungan. Sakha dan Hanum terlebih dulu masuk ke poli anak, yang sebelumnya sudah mendaftar dan mendapat no antrian.


Reyhan ditangani langsung oleh dokter anak, yang biasa memeriksa nya saat kejadian seperti ini terulang kembali.


"Gimana Reyhan, Dok?" tanya Hanum, saat melihat anaknya kembali lemas dan demam nya belum turun.


"Saya juga sedikit bingung dengan keadaan Reyhan, karena sejauh ini semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah yang berarti selain, nafsu makan dan demam nya yang belum turun."


"Lalu kami harus bagaimana, Dok?"


"Coba di komunikasi kan lagi dengan putranya, mungkin ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Selain sakit medis yang terlihat ini Bu!" saran dokter Ika.


"Baik dok, saya akan coba tanyakan lagi nanti. Tapi untuk demamnya ini bagaimana?"


"Ibu tidak perlu khawatir, karena saya telah memberi obat khusus untuk menurunkan demamnya ini!"


"Baiklah kalau begitu kami pamit dok, terima kasih!"


Sakha mengangkat tubuh kecil Reyhan dalam gendongannya. "Abang kepikiran gak, sama yang baru saja dikatakan sama dokter Ika?" ucap Hanum sembari melangkah keluar dari ruangan dokter Ika.


"Tentang apa?" tanya Sakha.


"Tentang sakitnya Reyhan?"


"Mungkin Reyhan kangen sama neneknya, sudah lama sejak kita pindah ke Semarang dan sampai saat ini, kita belum berkunjung ke Jakarta kan?"


"Mungkin ya, Bang? Ya sudah besok Hanum coba telpon ibu, siapa tahu setelah mendengar suara ibu Reyhan bisa sedikit lebih baik?"


"Iya, ya sudah sekarang giliran kamu untuk periksa! Abang sudah tidak sabar, ingin melihat anak Abang yang ada di dalam perut kamu?"


Hanum tersenyum, melihat suaminya begitu bersemangat setiap kali ia pergi untuk memeriksakan diri ke poli kandungan.


Kehamilan kedua yang kini Hanum rasakan, menambah daftar panjang kebahagiaan yang kini di rengkuh nya. Tak hanya punya suami yang baik dan begitu bertanggung jawab, tapi kini Allah, melipat gandakan kebahagiaannya dengan hadirnya buah hati, dari pernikahan keduanya dengan begitu cepat.

__ADS_1


Jika ini sebuah anugrah karena karma baik yang selalu ia lakukan. Hanum dengan ikhlas, menjalani semua sisa kehidupannya dengan jalan yang telah Allah berikan. Buah dari kesabarannya, menjadi manis sampai akhir hidup nya nanti.


****


__ADS_2