
Flashback
"Pa!" panggil Bu Suryo.
"Kenapa Ma?"
"Kenapa Papa setuju ilham menikah dengan wanita itu, padahal kita kan sudah melarangnya!"
"Papa bukan nya setuju Ma, tapi itu sudah menjadi keputusan ilham sendiri, lalu Papa harus bagaimana?"
"Ya terserah gimana Pa, kalau perlu ancam ilham supaya tidak menikah dengan wanita itu, kasian Hanum kalau di duakan." ucap Bu Suryo sendu.
"Apa Mama lebih tidak kasihan sama Hanum kalau terus-terusan hidup seperti itu?" tanya Pak Suryo.
"Maksud Papa apa?"
"Apa Mama tidak memperhatikan! hanum nampak tak bahagia setelah ilham memutuskan untuk menikah lagi. Kamu tahu bagaimana sifat menantumu itu kan, selama itu demi kebahagiaan ilham, hanum akan dengan senang hati menerima walaupun hatinya terluka."
Bu Suryo menganggukan kepalanya, menantu kesayangan nya dari dulu memang seperti itu dan karena sifat nya itu hati Bu Suryo yang dulu tak menerimanya sekarang malah menjadi orang yang paling menyayangi nya.
"Seandainya Papa menolak memberi ijin. Mungkin hanum yang akan mendatangi Papa dan memohon demi suaminya." ucap Pak Suryo disertai helaan nafas yang panjang.
"Lalu Mama harus bagaimana Pa? tanya Bu Suryo pasrah.
"Kita ikuti saja maunya anak-anak seperti apa? Papa sudah memberi ilham nasehat seandainya dia tak mampu untuk bersikap adil terhadap keduanya, lebih baik untuk melepas salah satunya. Dan Papa harap ilham akan melepaskan hanum." ucap Pak Suryo disertai air mata yang tiba-tiba menetes.
"Kenapa harus hanum Pa, yang harus di lepas bukan nya wanita itu?"
"Kenapa hanum, karena Papa yakin setelah hanum lepas dari pernikahan nya ini. Hidup nya akan lebih bahagia walaupun di awal akan sedikit terluka. Apa Mama tidak memperhatikan betapa kurusnya hanum sekarang, Papa saja tak sanggup bertatap lama dengan nya. Mata nya selalu memancarkan kesedihan."
Gurat wajah sedih jelas terlihat di wajah tua Pak Suryo, seandainya hanum itu putri kandungnya berapa banyak kesakitan yang akan diterima nya, kalau anak yang begitu baik disakiti sampai separah itu dan untuk melepaskan pun ia tak akan sanggup karena larangan dari dalam dirinya.
Bu Suryo termenung memikirkan perkataan suaminya dan membenarkan semua ucapan nya. Yang menjadi pertanyaan apakah dia sanggup kehilangan menantu seperti hanum. Bukan hanya menantu tapi lebih seperti anak kandung sendiri.
Saat memikirkan itu semua, Bu Suryo semakin terisak, "Lalu kita harus apa Pa?"
"Mencoba mengenal menantumu yang lain! walaupun kamu tidak setuju tapi cobalah dahulu. Supaya saat hanum benar berpisah dengan ilham, hanum akan menerima perpisahannya dengan ikhlas tanpa memikirkan perasaan kita. Papa tidak mau kita menjadi penyebab penderitaan hanum lebih lama, karena rasa tak tega nya meninggalkan kita." ucap Pak Suryo tegas.
"Kalau itu menjadi jalan terbaik untuk semuanya, Mama usahakan untuk bersikap baik dengan istri ilham yang lain. Besok Mama akan mengundang Hanum dan ilham untuk makan ya Pa, Mama akan menganggap makan bersama kita sebagai kenangan terakhir bersama hanum." ucap Bu Suryo meminta ijin.
"Ya, lakukan apa yang menurut Mama benar. Papa pasti dukung!"
"Makasih Pa?"
Flashback off
__ADS_1
Disaat Bu Suryo mengundang Hanum untuk makan bersama, tak disangka kalau dirinya akan menerima seorang tamu yang bergelar istri kedua dari anaknya.
Ajaib memang suatu kebetulan yang tak pernah Bu Suryo sangka, padahal niat nya untuk bertemu dengan wanita ini masih dalam angan saja. Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, wanita ini datang sendiri kerumah nya tanpa repot-repot harus mengajaknya janjian untuk bertemu.
Bu Suryo tersenyum saat membuka pintu, sosok yang muncul di depan nya begitu manis, tapi tak lama senyum itu memudar. Tatkala sang wanita yang berdiri di depannya ini memperkenalkan diri sebagai istri kedua anaknya.
Bu Suryo mempersilahkan sang tamu untuk masuk dan mencoba saling mengenal saat Bu Suryo, mengatakan ingin menyelesaikan acara memasaknya.
***
Di tempat lain. Hanum menyiapkan makanan kesukaan kedua mertua nya. Itu sudah menjadi kebiasaannya dari dulu setiap akan pulang ke rumah sang mertua. Bagi Hanum mertua nya seperti orang tuanya sendiri, sangat menyayangi nya melebihi sayang mereka ke anak mereka sendiri.
Walaupun selama lima tahun menikah dan belum bisa memberikan keturunan, kasih sayang mereka tak berkurang sedikitpun.
Mungkin Hanum tak tahu diri masih mempertahankan rumah tangganya, walaupun lama belum diberi momongan, tapi saat sang ibu mertua tak mempermasalahkan itu. Hanum masih tetap kuat menjalani, hingga semangat yang selalu membuatnya bersemangat kini berubah menjadi kesakitan dalam hatinya dan melunturkan semangatnya untuk terus bertahan.
Ilham dan Hanum sampai lebih awal di rumah mertuanya. Jalanan yang lengang membuat jarak yang ditempuh terasa lebih dekat.
Ilham masuk bersama dengan Hanum, tapi saat mendapati pintu terbuka dan tanpa merasa curiga. Mereka masuk bersamaan dengan pemandangan yang membuat hati Hanum sedikit teriris.
Di Depannya, sang ibu mertua sedang memeluk sayang sang madu yang juga hadir disana! Ilham dan Hanum sama-sama terkejut, tapi tak lama terdengar sapaan salam dari sang ayah mertua.
"Waalaikum salam! kalian sudah sampai?" tanya Pak Suryo.
Bu Suryo mengurai pelukannya dan terburu menghampiri hanum dan ilham, "Hanum sayang?" sapa Bu Suryo.
"Apa kabar Ma?"
"Mama baik sayang, sini kamu bawa apa itu?"
"Hanum bawa makanan kesukaan mama dan papa!"
"Sudah Mama bilang gak usah masak, kamu selalu saja!" gemas Bu Suryo.
"Ayo masuk Mama belum selesai masak nya, nanti kamu bantuin ya?"
Hanum mengangguk dan mengikuti Bu Suryo ke arah meja makan, disana juga sudah ada madunya yang juga membantu Bu Suryo.
"Mbak Hanum!" sapa Amel.
"Kamu kesini juga Mel?" tanya Hanum.
"Iya Mbak tadi gak sengaja ada urusan di sekitar sini, lalu mampir untuk menyapa Mama." ucap Amel menjelaskan.
Bu Suryo datang dengan membawa piring untuk menaruh lauk yang tadi di bawa Hanum. "Hmm, bau nya masih sama ya Num, Sama-sama bikin Mama lapar!" kekeh Bu Suryo.
__ADS_1
"Mbak Hanum pandai memasak ya Ma?" tanya Amel.
"Iya, Hanum pandai sekali memasak. Kalau kesini Hanum selalu membawakan makanan kesukaan Mama dan papa!" ucap Bu Suryo bangga.
"Wah pasti seneng banget ya Ma, Mbak Hanum pinter masak sedangkan aku gak bisa masak!"
Masih dengan kekehan Bu Suryo menjawab, "Setiap orang itu berbeda gak sama, kamu punya kelebihan sendiri dan Hanum pun sama, ya sudah Mama tinggal kedepan sebentar ya?"
Amel menatap Hanum, "Pasti enak ya Mbak jadi menantu kesayangan, apa lagi Mbak pinter banget masak?"
"Seperti yang tadi di bilang Mama, setiap orang mempunyai kelebihan masing-masing. Gak bisa di sama ratakan."
"Ya Mbak Hanum pandai memasak dan aku pandai menyenangkan mas ilham di atas ranjang dan kini sudah membuahkan hasil." ucap Amel sambil membelai perut nya yang masih rata.
Hati Hanum mencelos saat mendengar ucapan Amel, apa katanya tadi pandai menyenangkan di ranjang? mendengar itu ada yang tiba-tiba tercabik di sudut hati hanum.
"Ya kamu memang pandai, karena terlalu pandai, sampai tidak bisa membedakan mana suami orang dan mana yang bukan! apakah kepandaian yang kamu maksud itu dengan cara menggoda suami orang dan menikahinya. Kalau seperti itu apa bedanya dirimu dengan pencuri? merebut kebahagian orang lain demi kebahagiaannya sendiri, seandainya aku yang jadi kamu, aku memilih untuk tak menjadi pandai daripada menyakiti hati orang lain. Memilih menjadi orang biasa daripada harus menjadi pencuri!" ucap Hanum.
"Hanum …!!!" teriak ilham.
Ilham dengan marah, datang menghampiri Hanum yang masih terkejut dengan teriakan Ilham.
"Siapa yang kamu sebut pencuri, hah?" tanya ilham dengan geraman.
"A-aku!"
"Dia!" tunjuk ilham yang mengarah ke tempat Amel berada. "Dia itu istriku yang derajat nya sama denganmu dan dia sedang mengandung anakku, ibu dari anakku. Lalu siapa yang kamu sebut sebagai pencuri hah?"
Hanum mematung, untuk pertama kali dalam hidupnya. Sang suami membentak nya di depan adik madunya. Pandangan Hanum seketika kosong, memori kebersamaan dengan sang suami kembali menari di pikirannya.
"Kamu menyebut dirimu istri sah, istri pertama itu yang kamu banggakan iya? jangan bangga dengan statusmu itu, seandainya kata talak itu keluar dari mulutku kamu bukan lagi siapa-siapa dihidupku jadi apa yang kau banggakan? tanya ilham dengan suara yang menggelegar memenuhi ruangan.
Pak Suryo yang mendengar suara ribut-ribut segera menghampiri dimana anak dan menantu nya sedang bertengkar.
"Ilham … !!! jaga ucapanmu jangan sampai nanti kamu menyesal."
"Menyesal, bahkan aku akan sangat menyesal jika masih mempertahankan nya!" tunjuk ilham sambil menatap Hanum marah.
Bu Suryo ikut tergopoh menghampiri Hanum, memeluk bahu tubuh ringkih itu.
Ilham yang masih menggebu segera ditarik Pak Suryo untuk menenangkan diri, begitu pun dengan hanum yang masih menatap dengan pandangan kosong.
Dan Amel yang melihat pertengkaran itu sedikit menyunggingkan senyum, sekarang ia tahu bahwa dirinya, bukan tepatnya sang anak yang akan membuat hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
***
__ADS_1