Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 10: Jadi Karena Itu...


__ADS_3

Ini sudah kali ketiga Datul membelikan pulsa untuk Nugroho. Barangkali setelah itu Nugroho akan menelpon atau sekedar membalas chat darinya. Datul butuh penjelasan. Sudah seminggu Nugroho tanpa kabar. Entah sudah mati atau masih hidup. Yang jelas sekarang nomor Datul bahkan di blokir. Tahu gitu tadi Datul tidak kirim pulsa lagi.


Apa memang harus kandas begini? lagi-lagi Datul di tinggal pas sayang-sayange.


Karena apa? apa karena tempo hari itu?


flashback on...


Nugroho menjemput Datul dari apotik tepat pukul sembilan malam, seperti biasa. Datul kira mereka akan mampir membeli makan seperti biasa. Tapi malam itu Nugroho melajukan motornya ke arah jalan pelabuhan.


"Nug, ngapain kita kesini?" Datul memang hanya memangil nama tanpa embel-embel mas atau sejenisnya. Secara tuaan Datul.


Nugroho pun memelankan laju motornya. Jalan gelap dan sepi. Datul takut lantas memeluk Nugroho semakin erat. Nugroho bersorak dalam hati. Lalu dia menghentikan motornya ke tepi jalan. Pencahayaan di sana hanya sebatas lampu jalan yang temaram dan cahaya bulan yang penuh sempurna.


"Aku kangen sama kamu, kita ngobrol di sini ya?"


Gila, ngobrol di tepi jalan dengan pemandangan tambak dan semak belukar, aku merinding cuy...


"Biasa juga udah ngobrol, di sini sepi kita pulang aja yok!"


Nugroho malah bersiap turun dari motor, otomatis Datul juga ikut melompat turun.


Lalu keduanya berdiri bersandar motor, menghadap tambak yang airnya terlihat memantulkan cahaya. Harusnya situasi seperti ini memang sangat romantis. Tapi Datul dan otaknya yang alhamdulilah masih waras terus waspada.


Ingat, berduaan, di tempat sepi bersama lawan jenis, berpotensi memunculkan pihak ke tiga.


"Aku kangen sayang" Nugroho malah menggeser tubuh Datul untuk berdiri di hadapannya. Lalu berondong manis itu memeluk tubuh Datul dari belakang. Dan meletakkan dagunya di bahu kanan Datul. Hingga deru nafas Nugroho mampu Datul rasakan, menggelitik kulit leher hingga membuat Datul sesak nafas. Datul terbuai untuk beberapa saat. Dan membiarkan Nugroho melakukan apa yang ingin pemuda itu lakukan.


"Nug, kita ketemu tiap hari hlo. Jangan gombalin aku kayak gitu... dosa hukumnya menggombali orang tua"


"Ckkk... bagiku kamu itu anak kecil yang menggemaskan tau..." Nugroho berdecak lalu bergelayut manja lagi.


"Aku sayang kamu, kamu percaya kan?"


"Hmm? gimana ya?" goda Datul. Berondong manisnya sontak merenggut tak suka. Merasa Datul masih meragukan cintanya. Datul tertawa, menggoda Nugroho ternyata mengasyikkan begini.


"Hahaha... Dih cemberut! Jelek tau, tuh bibirnya pengen aku gelung terus di jadikan dim sum!"

__ADS_1


Datul mentowel-towel pinggang Nugroho tapi pemuda itu tak bergeming. Ngambek.


"Apaan sih Tutul bedak! Aku kesinggung hlo ini, kamu ga percaya sama aku? kenapa? apa karena aku masih SMA? kamu pikir anak SMA ga bisa serius dengan perasaannya?"


"Kog jadi kamu marah-marah? aku bercanda sayang... Dih... ngambekan ternyata..." Tangan Datul baru akan mentowel perut Nugroho seperti tadi, tapi tiba-tiba Nugroho mencekalnya. Hap!


Pandangan mereka saling mengunci. Jantung Datul sudah tak karuan saat Nugroho mulai mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit. Nugroho menutup mata, Datul bisa lihat itu karena malah dia yang melek sambil mikir.


Apa ini akan seperti di film-film romantis? Apa Nugroho akan mencuri ciuman pertama ku? Ya Tuhan, aku harus bagaimana ini? Apa dia akan marah jika aku menolak di cium? Aku hanya ingin memberikan ciuman pertama ku pada suamiku nanti. Terdengar kolot memang. Sedangkan dia? masih sebatas pacar. Pacar belum tentu jadi suami. Bagaimana ini? Lagipula apa dia tidak ill fill melihat jerawatku? Aku minder ini... tadi di apotek aku bahkan makan malam dengan gulai yang di belikan mbak Nur, astoge bau kambing dong ini...


Datul menelan ludah dengan susah payah. Saat bibir Nugroho hanya berjarak beberapa senti dengan bibir Datul, Datul memejamkan mata lalu, "Mas, aku mules pengen pup..." dengan suara datar namun mampu menghentikan nafsu Nugroho.


Nugroho menautkan alisnya. Merasa kecewa mungkin. Tidak jadi merasakan bibir Datul yang diam-diam seksi dan menggoda iman.


"Ahh... beneran? harus sekarang ya mulesnya?"


Datul mengangguk dengan wajah memelas. Berbohong untuk menghindari zina selanjutnya. Semoga Datul mendapat ampunan.


"Ya udah ayo cari pom bensin, terus kita pulang!" Ada nada jengkel di kalimat yang diucapkan Nugroho. Datul bisa merasakan itu.


Nugroho benar-benar mengantarkan Datul ke pom bensin terdekat. Datul memang ke toilet tapi untuk pipis tok, tidak beol. Secara tadi dia hanya berbohong.


"Aku udah selesai, kamu mau minum? biar aku belikan!" tawar Datul.


Namun Nugroho hanya diam tak menjawab.


"Biar aku belikan, tunggu sebentar ya"


Datul berlari kecil ke cafetaria SPBU itu lalu membeli dua botol minuman. Setelah menerima uang kembalian, Darul kembali berjalan menghampiri pacarnya itu.


"Minum dulu, kamu pasti haus!"


"Ga perlu, ayo kita pulang!"


Datul dongkol, tahu gitu tadi ga usah beli minum. Keduanya hanya bisa diam sepanjang perjalanan. Datul bingung mau bicara apa, sedangkan lawan bicaranya terlihat mengunci mulut. Lalu melajukan motornya dengan sangat cepat. Seakan ingin secepat mungkin membuang Datul ke tempat sampah.


Rambut Datul jadi awut-awutan saat turun, apalagi dia sejak tadi tidak memakai helem. Datul sudah mirip gelandangan saat Nugroho menurunkan Datul di depan rumah.

__ADS_1


"Cepatlah masuk!"


"Kamu marah?" mata Datul berkaca-kaca. Hatinya terlalu peka untuk bisa merasakan kemarahan Nugroho. Cara mengendarai motornya tadi bahkan sangat kasar. Datul yang satu tangannya berpegangan dan satunya lagi menenteng kantong berisi minuman itu tadi sangat kepayahan. Untung masih di kasih selamet tidak ke jengkang.


"UDAH MASUK SANA! TADI KATANYA MAU CEPAT PULANG!"


Jleb! Datul di bentak. Di bentak oleh berondong manis yang satu bulan lalu mengemis minta di cintai. Tai sekali memang!


Untung saja malam itu mbak Minem ga jualan. Jadi ga ada orang yang lihat. Malu, kalau sampai di lihat dan di dengar orang yang lewat. Anak gadis Pak Farkhan di bentak, di depan rumahnya. Datul masih tak bergeming. Lalu Nugroho memilih ngegas motornya lalu pulang seperti orang kesurupan.


Flashback off...


Apa karena itu?


Karena itu dia mengakhiri hubungan kami?


Datul menangis lagi...


.


.


.


.


.


Reader: Thor kamu pengen apa?


Othor: Pengen like, komen, hadiah, vote yang banyak dari kalian...


Reader: Hilih, jelek gitu ceritanya...


Othor: ( Nangessss...)


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2