
"Jangan abaikan aku, kamu tahu seberapa aku sudah jatuh mati di pelukan mu"
"Aku sudah tergila-gila padamu, wahai Maidatul Khan"
"Jadi jangan abaikan aku, hmm! "
Datul bisa saja terbuai. Membiarkan tubuhnya jatuh ke pelukan Mas Hamam, atau melakukan hal yang lebih gila. Tapi tidak untuk saat ini. Dengan sekuat tenaga Datul menendang tubuh Mas Hamam. Bak baru terkena tendangan si Madun, tubuh Mas Hamam terpental, menggelinding di lantai. Sampai menimbulkan suara gedebuk.
Laki-laki tampan itu mengaduh kesakitan. Tidak menyangka calon istrinya sebar-bar itu.
"Datul, kamu keterlaluan!"
"Auchhh! ini sakit!" Mas Hamam meringis.
"Pergi atau aku teriaki maling!" Tidak meminta maaf atau apa, Datul malah mengusir Mas Hamam dengan kasar.
Mas Hamam duduk bersila di lantai, dengan wajahnya yang lelah dan memelas. "Hei, ada apa? kamu bisa cerita sama aku, kamu stress menjelang pernikahan?"
Tidak ada jawaban dari Datul, dia malah membuang muka.
"Aku sempat membaca sebuah artikel, beberapa wanita cenderung stres saat akan menikah, apa kau juga?"
"Katakan apapun, asal jangan hanya diam" Datul kekeh diam membisu.
Malam yang sunyi membuat hembusan nafas mereka terasa saling menyakiti. Datul tahu kalau perlakuannya sangat jahat. Membiarkan Mas Hamam tengelam dengan kebingungannya sendiri. Apa? kenapa? ada apa? Pasti Mas Hamam bertanya-tanya seperti itu.
"Jangan temui aku, sampai aku sendiri yang meminta Mas Hamam untuk ketemu"
Mas Hamam mengabulkan permintaan Datul. Barangkali memang Datul butuh waktu sendiri. Setelah itu dia pulang loncat jendela lagi dengan perasaan yang semakin kacau.
****
Keputusan Datul sudah bulat. Dia mengajukan resign lebih awal dari rencana resign untuk menikah. Temannya yang bernama Indah sampai terheran-heran.
"Mbak Datul kenapa buru-buru resign sih? memang harus ya secepat ini keluarnya?"
Datul menghiraukan cercaan pertanyaan dari temannya itu. Sembari mengemasi barang-barang miliknya yang biasa ia simpan di loker. Tidak banyak barang, hanya sepasang sandal jepit kusam, alat make up dan mukena.
"Apa Mbak Datul tabungannya udah berlebihan? CK, sini mending tak pinjam dulu"
"Atau Mas Hamam yang nyuruh?" Indah frustasi sendiri, pasalnya Datul hanya diam. Jalankan kasih jawaban, suara kentut aja Datul tidak kasih.
Sampai setelah selesai berkemas. Datul berpamitan sendiri dengan sahabatnya itu. Kebetulan juga jam kerja mereka sudah habis.
"Ndah, aku minta maaf ya, selama ini aku sering bikin kamu repot, banyak nyusahin kamu"
Indah mewek. Dari tadi gadis itu sebenarnya sudah berusaha membendung air mata. Meski iya seringnya Mbak Datul nyusahin, tapi mereka kan sudah jadi bestie. Lapar kenyang bersama.
"Kan aku jadi nangis, hewhew..."
"Dasar cengeng!" Meski begitu, Datul menarik Indah untuk di peluk. Diam-diam dia juga meneteskan air mata.
"Kita masih bisa ketemu, kamu kan juga tahu rumahku"
"Hiks... tapi kita udah enggak barengan lagi Mbak, nanti udah enggak ada yang aku ajak join beli gorengan"
"Dih! gorengan, hanya karena itu?"
"Hmm... aslinya enggak, aku bakal kesepian aja tanpa Mbak Datul, kayaknya mending aku ikutan resign"
"Hush! ngaco! sekarang cari kerja susah, kamu tahu sendiri Ndah, jangan karena cuma ikut-ikutan kamu malah jadi pengangguran, katanya mau nabung buat daftar kuliah"
"Entahlah Mbak, udah pegang uang sendiri malah sekarang kayak kendur semangat ku buat kuliah, hehe..."
Datul melepas pelukan mereka. Sepertinya Indah juga sudah tenang di banding tadi.
"Kamu kudu semangat terus, jangan kayak aku yang enggak berguna, enggak bisa membanggakan orang tua, apalagi membuat bangga tetangga, hehe..." Jelas Datul hanya pura-pura bercanda. Aslinya, nyesek!
"Hilih!"
"Doakan aku ya Ndah..."
__ADS_1
"Beres Mbak kalau urusan doa, lancar-lancar acara Mbak Datul besok, aku pasti dandan cantik, kan mau jadi mermaidnya Mbak Datul"
"Haha... Bridesmaids Ndah, ya Allah!"
"Ya itu... pokoknya aku pengen terlihat cantik, awas aja kalau Mbak Datul nyuruh kita buat enggak dandan lagi, aku enggak bakal mau!" Indah mengintimidasi, tampaknya pengalaman acara pertunangan Datul tempo hari membuat dirinya menyesal karena tidak tampil cantik.
Datul membuang muka.
Ini sangat menyakitkan, andai kamu tahu Ndah, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.
Setelah itu pun, selamanya aku tidak akan menikah dengan siapapun itu.
****
Di lain hari, Mas Hamam sengaja menunggu di warung kopi pojok pasar, tempat langganan Pak Farkhan ngopi. Seperti biasa, tebakan Mas Hamam selalu tepat dan akurat. Laki-laki separuh baya itu muncul tak lama setelah Mas Hamam memesan kopi.
"Hloh Nang Hamam, disini?"
Mas Hamam menyalim tangan bakal calon mertuanya. Kemudian mempersilahkan untuk duduk. Suasana pasar semakin ramai. Orang berlalu lalang membawa dagangan atau belanjaan. Di selingi suara musik dangdut lawas yang Mas Hamam tidak tahu judulnya. Meski begitu enak saja di dengar sambil ngopi.
"Memang Nang Hamam tidak kerja?"
"Sabtu-Minggu libur Pak"
"Oh... iya, sampai lupa kalau ini hari Sabtu, huh"
Keduanya nampak ada yang ingin masing-masing sampaikan. Tapi untuk mulai dari mana, terasa sulit mengutarakan.
"Nang..."
"Pak..."
"Monggo Bapak dulu, mau bicara apa Pak?"
"Kamu dulu coba, Bapak pengen denger dari kamu"
Mas Hamam mengernyitkan alis. Kenapa Pak Farkhan langsung bicara seperti itu.
"Maksudnya Bapak?"
"Ekhem, kamu merasa aneh tidak dengan anak saya?"
Mas Hamam terlonjak. "Hlah itu juga yang saya mau tanyakan"
"Akhir-akhir ini Datul sangat aneh, dia tidak mau menemui saya, saya pikir dia agak tertekan dengan persiapan pernikahan kami, tapi masak sampai segitunya"
"Nih ya Pak, pas kemarin itu saya juga di usir!"
Anjir, keceplosan gue!
Plak!
Lengan Mas Hamam di geplak Pak Farkhan.
"Jelas di usir, wong kamu edan, datang mertamu kayak maling!"
"Eh... kog Bapak tahu?"
"Saya denger suara kamu di kamar anak saya, kalau bukan kamu yang di dalam, sudah saya gebukin,"
"Gara-gara kamu juga saya harus keluar uang buat perbaikan jendela yang udah kamu songkel" gerutu Pak Farkhan.
"Hehe... Maap Pak, nanti di ganti"
"Jangan di ulangi, atau Bapak laporkan kamu ke Mamakmu, biar di cincang kamu kayak ayam potong"
"Eeiitttt... janganlah Pak, anggap ini rahasia kita, oke?"
"Sekarang Bapak cerita, Datul aneh kenapa?"
Pak Farkhan mengembuskan nafas sangat berat, seakan memang banyak beban yang berjubal di pikirannya.
__ADS_1
"Bapak merasa aneh, semalem Datul minta uang, katanya buat lunasi biaya dekor dan lain-lain, menurutmu apa ini tidak terlalu cepat?"
"Kalau udah ada uangnya sih tidak apa-apa, mungkin pikir Datul biar beres sekalian"
"Tapi rembukan dengan pihak sana pas waktu kemarin itu boleh di bayar sebulan sebelumnya, itu juga boleh pakai DP dulu, tidak kudu lunas"
"Padahal Bapak pikir, sementara bayar DP dulu aja, lunasinya nanti setelah ngitung amplop sumbangan gitu"
Mas Hamam hampir tersedak ampas kopi. Diam-diam calon mertuanya juga sebelas dua belas dengan sang anak.
"Uhuk!"
"Memang Datul tidak ajak kamu buat nganter itu uang?" Mas Hamam menggeleng bodoh.
"Wah, saya kira ngajak kamu makanya saya kasih ijin, bawa duit banyak hlo dia"
"Memang berapa Pak?"
"Lima puluh dua juta, semalem suntuk Bapak ngitung itu duit"
"Buruan kamu kerumah, antar Datul! Tadi pas Bapak mau tinggal, dia masih mandi"
"Bapak tidak sekalian pulang?"
"Lah kopi Bapak belum habis, dah sana!"
Mas Hamam bangkit dari duduknya. Tapi setelah itu duduk lagi. "Tapi Pak, pas kemarin kata Datul, dia tidak mau ketemu saya dulu, bagaimana kalau nanti malah dia marah?"
"Gusti... Gusti... di marahin sama kecolongan duit, kamu pilih mana?"
"Di marahin"
"Itu pinter..."
"Tapi-- ini kan belum tentu kehilangan uang Pak" Gimana sih konsepnya. Mas Hamam bingung sendiri.
"Astaghfirullah, amit-amit. Udah sana kejar, keburu Datul pergi, firasat Bapak tiba-tiba tidak enak ini, anak gadis Bapak bawa duit banyak, padahal seringnya tidak pernah punya duit"
"Oh ya, satu lagi Datul sudah tidak bekerja perhari ini! sudah tahu kamu?"
Mas Hamam menggeleng lagi. Terlihat bodoh karena ternyata dia tak tahu apa-apa.
****
Di rumah, Datul sudah selesai dengan berbagai persiapannya. Tanpa sepengetahuan Bapaknya, Datul sudah mengemasi beberapa potong pakaian ke dalam tas ransel lungsuran saudara. Tak lupa seperangkat skincare yang akan dia ajak kabur pun sudah bersemayam rapi di dalam sana. Uang lima puluh juta rupiah sudah ia bungkus dengan plastik kresek hitam untuk tebusan vidio asusila yang merekam dirinya.
Yang dua juta Datul pinjam Pak. Buat pegangan selama hidup di Jogja. Maafkan Datul Pak. Maafkan aku Mas Hamam. Maaf...hiks...
Aku tahu, resiko apa yang harus aku tanggung. Kalian pasti kecewa dan membenciku, tapi ini yang terbaik menurutku.
Aku tidak bisa menghabiskan hidup dengan bayangan rasa bersalah jika harus menyimpan rahasia ini sendiri. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga diri....
Aku cuma bisa membuat kalian susah dan membebani kalian...
Aku sama sekali tidak pantas bersanding dengan Mas Hamam. Maafkan aku Mas...
Meski aku sangat mencintaimu....
Hiks... hiks....
Datul menyeka air matanya. Sebelum keluar dari rumah, jangan sampai ada yang tahu atau curiga dia baru menangis. Sengaja Datul tidak membawa motor. Setelah selesai urusan dengan Ali, Datul akan langsung naik bus ke Jogja dari Terminal Mangkang. Datul sudah pesan tiket jauh-jauh hari.
Senatural mungkin Datul melangkah, meski hatinya berdebar tak karuan. Hari ini dia akan menemui Ali sendiri. Menyelesaikan masalahnya sendiri. Lalu menghilang untuk sementara waktu. Setidaknya itu rencana Datul.
_
_
_
_
__ADS_1
Aku nangis pas ngetik bagian akhir bab ini, kalian gimana?
Terimakasih sudah sabar menunggu 🙏