
Sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Hamam kira itu hanya lelucon Datul. Ternyata gadis itu tidak main-main. Terhitung sudah dua minggu Datul tidak keluar rumah. Orangnya anteng saja, tapi sekarang Hamam yang kelimpungan.
Pemuda yang tersohor karena ketampanannya itu mulai tak tenang. Tak ada Datul, tak ada kurir yang bisa memahami Hamam sebaik Maidatul Khan. Hamam belum menyerah pada perasaannya, dia menginginkan Ativa. Meski respon balasan dari sahabat Datul itu sangat alot.
Semakin pusing saat Hamam mendapatkan kartu undangan pernikahan temannya. Hamam ko tidak mau jadi bahan olok-olok saat dia datang ke acara itu tapi tidak membawa gandengan. Sebenarnya mudah saja bagi Hamam, jika ingin mengajak gadis manapun. Mereka pasti dengan sukarela mau di ajak sebagai teman kondangan. Tapi Hamam tidak mau, hatinya menginginkan Ativa yang menemaninya bukan yang lain.
Lagipula ini bisa jadi alasan untuk Hamam mengiba. Hamam ingin Datul ikut mengiba atas nama dirinya. Agar apa? ya agar Ativa maulah menemui Hamam. Tapi sayangnya, jalankan Ativa, sang connector saja sekarang sulit di temui.
Hamam seperti orang bodoh mondar-mandir melewati depan rumah Datul. Gadis itu sama sekali tidak menampakan batang lehernya. Mau bertamu juga malu. Gimana nanti kalau yang menemuinya malah ayah Datul. Hamam tak kenal dekat jadi takut kena interogasi.
Baiklah Hamam menyerah. Capek mondar mandir, dia belok ke warung Mbak Minem.
"Mbak, es teh satu!" pesan Hamam sembari menjatuhkan pantatnya.
"Minum sini Mas Hamam?"
"Iya..." jawab Hamam singkat.
"Penglaris, penglaris!" gumam Mbak Minem lirih dengan wajah sumringah. Warungnya kedatangan pemuda tampan. Tunggu beberapa menit ke depan, kalau tidak banyak cewek-cewek yang ikutan melipir kesini untuk sekedar beli es teh.
"Apa Mbak?"
"Ga kog Mas, itu gorengan bakwan masih anget-anget!" tunjuk Mbak Minem pada sepiring bakwan di depan Hamam. Kebetulan yang nongkrong di warung Mbak Minem siang itu hanya Hamam. Sepi, entah orang-orang pada kemana.
"Tumben sepi Mbak" basa-basi Hamam.
"Iya nih Mas, bentar lagi baru rame Mas"
Yakin banget, batin Hamam.
Baru menyedot es teh miliknya. Sebondong-bondong gadis terlihat menyerbu warung Mbak Minem. Membuat warung itu seketika heboh.
"Mbak Minem buatin kita Thai tea ya, eh... ada Mas Hamam" Mbak Minem mengerjap bingung. Sedangkan Hamam hanya mengangguk kecil untuk menghargai sapaan gadis itu.
"Thai tea apaan yak? ada cuma es teh, es marimas, kopi-kopian, Ella aneh-aneh aja mintanya!" yang di tanya malah sibuk memandangi wajah Hamam. Bukan hanya Ella tapi keempat temannya yang lain, kaum Ababil, ABG labil.
Hamam membuang muka. Tapi gadis-gadis itu tak tahu malu, malah semakin keganjenan, terang-terangan menggoda Hamam.
"Mas Hamam, padahal minumnya es teh doang, kog bisa kelihatan mahal gitu ya..." di ikuti nada cekikikan kek Kunti
"Mas Hamam, semakin hari kog bisa semakin tampan sih"
"Mas Hamam, sering-sering main sini ya, mood booster banget bisa duduk sebangku sama Mas Hamam"
"Eh kalian, bisa diam ga!" semua langsung kicep. "Mas Hamam maafin temen-temenku ya, norak emang mereka." Padahal Ella sendiri juga sama. Ella memaksa teman-temannya mundur. Giliran dia yang mepet duduk di sebelah Hamam.
"Mas Hamam lagi ga sibuk ya? tumben di sini?"
"Haus, beli minum" jawab Hamam malas. Hamam meneguk habis es teh di gelasnya. Lalu bangkit dari duduknya.
"Mbak Minem, ini uangnya, terimakasih" Hamam harus cepat-cepat kabur dari mereka kalau mau selamat. Pandangan mereka, astaga, kayak yang mau menerkam. Hamam jadi takut sendiri.
"Mas Hamam! Mas Hamam kog pergi sih!"
"Mas Hamam kita belum ngobrol banyak!"
Hamam tidak peduli. Dia berjalan cepat setengah berlari,masuk ke gang-gang sempit agar terhindar dari pandangan mereka. Ella berniat mengejar, namun Mbak Minem menghentikan mereka.
__ADS_1
"Eh, eh.... ini di bayar dulu pesanan kalian!"
"ENAK AJA UDAH PESAN MAU DI TINGGAL! TAK LAPORIN EMAK KALIAN NANTI!"
Ella merengut, kesempatan dekat-dekat Hamam gagal lagi Jum!
"Es teh doang mau di laporin, Mbak Minem kena virus om-om pengacara di gosip-gosip tv mesti! dikit-dikit buat laporan"
"Hah, kalau iya emang kenapa? tak laporin emak kalian kalau anak-anak gadisnya keganjenan, ada tuh laki-laki yang goda kalian, bukan kalian yang goda laki-laki"
"Hlah, ini jaman akhir Mbak Minem, semua serba terbalik, jadi kenapa kita harus malu ya gaess?" Semua kompak mengangguk. Mbak Minem geleng-geleng kepala sambil ngurut dada.
"Nih, nih di bayar Mbak, jangan kuatir..."
Kalau ini sinetron, Mbak Minem mau tuh lempar uang kemuka Ella. Wajah dan omongannya tuh ngeselin. Cuma ini kehidupan nyata, jadinya di terima saja, sambil kasih lirikan tajam khas emak garang.
****
Nafas Hamam tersengal, gara-gara setengah berlari tadi ternyata capek juga. Hamam berhenti di gang sempit yang sepi. Lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Dia ingin meminta pertanggung jawaban Datul.
"Hallo, huh... hah... huh..."
Datul yang mendengar suara Hamam Ah, Uuh, Ah langsung mencak-mencak di sana.
"Astaga! Mas kamu lagi ngapain?!!! kenapa suaranya begitu! jangan bilang kamu lagi di kamar mandi terus lagi playing with soap!"
"Cocotnya!" (bahasa kasar kayak bacot!)
"Minta di setaples, parah!"
"Ahhh... aku habis lari nda! ah... bentar, atur nafas dulu, sialan!" umpat Hamam karena baru sadar sandalnya menginjak tai ayam.
"Hlah, malah misuh-misuh!"
Lalu sambungan terputus. Hamam bersihin sandal dulu. Jijik.
****
Di rumah Datul bingung sendiri.
"Mas Hamam ga jelas banget deh," dumel Datul yang sedang meratakan masker alami yang dia buat sendiri dari bahan kentang. Wes mboh, saran dari orang-orang sudah dia turuti. Pakai ini, pakai itu. Masih ga mempan.
Tak lama ponsel Datul berdering lagi. Dari orang yang sama.
"Pokoknya aku minta pertanggung jawaban kamu!"
"Hlah, apa lagi ini? Mas Hamam, saya anteng di rumah hlo, ga ngapa-ngapain, tanggung jawab apa?"
"Maidatul Khan..." panggil Hamam dengan suara memelas.
Apa sayang... harusnya gitu ya enak.
"Apa?"
"Please, bantu bujuk Ativa. Tadi empat kali aku muteri rumahmu, ga ketemu kamu malah ketemu ulat keket"
"Ulat keket?" Datul mengernyitkan dahi bingung.
__ADS_1
"Ella, Ella! makanya tadi aku lari sampai ngos-ngosan, malah di suudzoni playing with soap"
"emang Ella ngejar Mas Hamam?"
"Hmm... tadi ketemu di Mbak Minem, kamu tahu, hampir saja aku di *****-*****" keluh Hamam agak di lebih-lebihin emang. Biar dapat simpati Datul.
"Lagian, Mas Hamam biasa telpon ngapain harus ketemu aku"
"Ckkk... kalau ga ketemu kamu langsung rasanya ga mantep, kamu kudu lihat langsung gimana wajah memelasku, harusnya...."
Ini yang bikin Datul oleng, galau, serba salah. Resiko menjalani pertemanan rangkap menaruh hati secara diam-diam. Ga enak asli.
"Butuh bantuanku apalagi? nganter makanan ke Ativa? kan ada go food"
"Bukan! udah ga mempan ngirimin jajan. Ga tau caranya gimana, pokoknya kamu bantu aku buat bilang ke dia, aku pengen ngajak dia ke acara resepsi gitu, sekali ini aja, kalau dia mau nemenin aku, aku janji ga bakal ngejar dia lagi, misal dia ga mau lanjut-"
Hati Datul nyut-nyutan. Iya kalau setelah itu Ativa tetep kekeh ga mau kenal lebih, kalau malah terpesona? bentukan Hamam kinclong gitu siapa sih yang nolak. Tapi Datul harus sportif sebagai teman baik, meski sakit ya Jum!
"Kalau Ativa mau di ajak kondangan, aku dapat apa?" baik boleh, sedikit perhitungan itung-itung menutupi rasa sakit, bolehkah? Ya kali Datul gigit jare doang.
"Nasgor tiap malam satu bulan full?" tawar Hamam
"Kolesterol, bikin cepet mati"
"Seblak, mie gacoan, atau apa tinggal sebut"
"Makanan pedes semua bikin mules" meski Datul doyan aslinya. Datul bertekad mendapatkan keuntungan pokoknya.
"Voucher nginep di hotel?"
"Buat apa aku? mau tidur aja kog repot ke hotel" Dumel Datul. Otak Hamam kadang emang di luar nalar. Kalau pengantin baru di kasih voucher nginep itu baru bener.
"Ah... aku tahu, kali ini tidak mungkin kamu tolak!" dari suara Hamam terdengar antusias sekali. Membuat Datul menajamkan telinga.
"Apa, apa?"
"Aku tanggung biaya perawatan wajah kamu selama tiga bulan ke depan,"
"Setuju! habis ini aku calling Ativa" jawab Datul kilat.
Lumayanlah, pas sekali, krim saya juga udah pada habis. Tiga bulan ke depan, ga perlu pusing mikirin uang buat beli krim. Hahahah...
Ingat Maidatul Khan, resikonya apa nanti? itu hati di siapin, biar kokoh nantinya!
.
.
.
.
.
ga mau ngomong apa-apa ☺️
cuma terimakasih yang masih sayang sama cerita ini🥰
__ADS_1