
Hamam Amirul Mukminin merasa hancur. Di dalam sana Datul sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis tersedu di pojokan. Sendirian. Mas Hamam belum berani mengabari Pak Farkhan. Setidaknya sampai dokter nanti memberikan informasi kejelasan mengenai kondisi Datul.
Mas Hamam lebih memilih mengabari kedua orangtuanya dulu. Jujur dia butuh bantuan mereka. Dia tidak mau membuat Pak Farkhan syok dengan kejadian ini. Biar saja nanti orang tuanya yang menjelaskan ke Pak Farkhan langsung.
Mas Hamam masih tidak habis pikir, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa tadi dia sempat melihat Ali di lantai atas. Bagaimana mungkin laki-laki itu berkeliaran bebas sedangkan setahu Mas Hamam masa hukumannya belum selesai. Semua masih seperti potongan puzzle yang semakin membuat kepala Mas Hamam terasa akan pecah.
"Ya Tuhan...." Mas Hamam menjedor-jedorkan kepalanya sendiri ke tembok sangking frustasinya.
Bersamaan dengan itu, dua orang polisi namun tidak berseragam menemui Mas Hamam. Polisi itu yang tadi melakukan olah TKP.
"Saudara Hamam!"
Mas Hamam menoleh masih dengan wajah merah dan sisa air mata. "Gimana Pak?"
"Kami ingin menyampaikan hasil penyelidikan sementara, kami menemukan ini, apa ini ponsel milik saudara Maidatul?"
Mas Hamam mengamati ponsel di genggaman Pak Polisi, layar kacanya retak, kemungkinan ponsel itu jatuh bersama dengan Datul. Tapi itu bukan ponsel Datul.
"Bukan, itu bukan milik tunangan saya"
"Anda yakin? kami menemukan ini tepat di lantai kejadian"
"Iya, saya yakin itu bukan milik tunangan saya. Punya tunangan saya mereknya Samsoeng, dia juga cuma punya satu ponsel"
"Kalau ransel ini? Kami menemukan ini di lantai atas"
Seketika pernyataan Mbak Minem yang melihat Datul gendong tas ransel dan di kira mau kemah berputar di ingatan Mas Hamam.
"Boleh saya lihat isinya?" Pak Polisi itu mengangguk. Mas Hamam langsung membuka tas ransel itu. Baju-baju yang Mas Hamam kenali milik Datul. Lalu ponsel Datul dan seonggok buntalan plastik hitam. Mas Hamam membuka buntalan itu. Kontan matanya membola saat melihat isinya. Uang bergepok-gepok.
"Ini milik tunangan saya, ini ponsel miliknya" Mas Hamam begitu sedih melihat barang-barang milik Datul. Ingat orangnya masih dalam penanganan tim bedah di dalam sana. Padahal sudah dua jam berlalu. Tapi kabar kondisi Datul apapun belum Hamam terima.
"Kalau boleh kami tahu, untuk apa saudara Maidatul membawa uang sebanyak itu?"
"Apa anda menemukan orang yang mencurigakan Pak?"
"Maksud saudara Hamam?"
"Tunangan saya pamit ke Bapaknya untuk melunasi biaya dekorasi acara pernikahan kami, tapi saya curiga kalau uang ini bukan untuk itu, harusnya dia ke Kendal kalau memang ingin membayarkan, tapi untuk apa dia malah ke terminal, itu yang menurut saya aneh"
Dua polisi itu manggut-manggut mendengar penjelasan Mas Hamam. "Kami juga belum bisa memastikan apa dia jatuh karena kecelakaan atau ada orang yang sengaja mencelakainya, masih kami selidiki dan kami juga masih mencari rekaman CCTV yang jelas, agak kurang beruntung karena berdasarkan keterangan petugas Dishub, kamera di lantai atas rusak"
"Mengenai orang yang mencurigakan, apa saudara Hamam sendiri melihat ada seseorang di atas selain saudara Maidatul?"
Mas Hamam mengangguk. "Saya melihat seorang laki-laki sekilas ada di atas"
__ADS_1
"Apa anda kenal?"
"Hmm, namanya Ali, mantan kekasih tunangan saya"
"Benarkah?"
"Meski tidak begitu jelas karena laki-laki itu langsung menutupi wajahnya dengan topi, tapi perasaan saya yakin kalau itu dia, tapi masalahnya harusnya laki-laki itu masih di dalam penjara, karena beberapa bulan yang lalu saya sendiri yang menjebloskan dia ke penjara"
"Menarik, jika memang benar begitu, kami akan cek terlebih dulu, di rutan mana dia di penjara?"
"Semarang Barat"
"Baiklah, kami rasa besok saudara Hamam bisa datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut, sementara barang-barang ini kami bawa lagi sebagai barang bukti "
"Tunggu, apa boleh ponsel tunangan saya tetap saya bawa?"
"Kami butuh memeriksanya dulu, barangkali ada petunjuk dari sana"
Mas Hamam cekatan. Ada yang ingin dia pastikan sendiri. "Sebentar Pak! saya tahu pola sandi ponsel tunangan saya, bukankah itu membantu?"
Dua polisi itu menurut. Langsung Mas Hamam pergi ke menu pesan setelah memasukkan sandi yang begitu mudah dia buka. Nomor baru yang bahkan tanpa nama itu langsung menarik perhatian Mas Hamam.
Bola mata Mas Hamam seakan mau lepas saat membaca pesan itu dari bawah. Sebuah ancaman untuk datang sendiri ke terminal. Lalu tangannya menyekroll keatas dengan mata fokus membaca tiap kata yang tertulis di sana.
^^^DUA GUNUNG MILIK MU TERNYATA BENAR - BENAR INDAH, SANGAT MENGODA^^^
^^^KALAU TIDAK INGIN VIDEO ITU TERSEBAR DI MEDSOS^^^
^^^SIAPKAN UANG 50 JUTA!^^^
^^^WAKTU MU HANYA DUA MINGGU UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN^^^
Tangan Mas Hamam bergetar hebat manakala salah satu jarinya ingin memastikan isi Vidio itu. Baru beberapa detik berputar, Mas Hamam langsung memalingkan wajahnya. Emosinya meletup-letup bak gunung Semeru yang erupsi beberapa hari yang lalu.
"BAJINGAN ANJING!!!!"
BRAKKK!!! BRRAKKK!!!
Mas Hamam memukul tembok rumah sakit sampai tangannya berdarah. Dia sesegukan menangis lagi. Kenapa baru tahu sekarang setelah semuanya terlambat. Kenapa Datul tidak pernah memberitahunya jika dia diancam dengan vidio seperti itu. Dari pesan-pesan itu Mas Hamam tidak ragu lagi. Ali bermaksud memeras Datul secara langsung. Ini lebih kriminal di banding pencurian motor.
"Tenang dulu Mas! Ini rumah sakit!"
Bukannya tenang, Mas Hamam berteriak sekeras-kerasnya sampai otot-otot di lehernya hampir putus. Meluapkan emosi yang sudah tidak bisa di bendung.
"HOOAAAAAAAAAAAAaaaaa!!!!!!!!!"
__ADS_1
Suaranya menggema diantara lorong-lorong rumah sakit. Mayat di kamar jenazah bahkan sampai kaget mendengar teriakkan Mas Hamam.
****
Kejadian Datul jatuh dari lantai dua terminal Mangkang menjadi perhatian publik. Berita ini bahkan di muat dalam edisi khusus surat kabar. Banyak yang menunggu kelanjutan penyelidikan ini.
Satu Minggu berlalu, baik Mas Hamam atau orang tua Datul harus menerima kenyataan bahwa Datul koma. Kondisi dimana detak jantung seorang pasien masih bisa bekerja, namun hilang kesadaran dalam waktu yang tidak sebentar. Kata dokter, akibat jatuh dari lantai dua, kepala Datul cidera parah hingga terjadi penyumbatan di bagian otak. Selain itu tulang leher Datul juga retak, sehingga leher Datul pun di beri penyangga. Dokter tidak bisa memastikan kapan Datul sadar. Yang terpenting penanganan intensif sudah mereka usahakan sebaik mungkin.
"Perbanyak doa dan sabar" Hanya itu pesan sang dokter.
Mas Hamam menghabiskan waktunya untuk menemani Datul. Semenjak Datul masuk rumah sakit, dia belum pulang ke rumah. Pun juga dia tidak berangkat bekerja. Sementara ini Mas Hamam hanya bisa menunggu kabar dari pihak kepolisian. Meski sebenarnya dia ingin meluluh lantakkan tubuh Ali dengan tangannya sendiri.
Ibu Mas Hamam prihatin dengan kondisi anaknya. Tiap sore hari orang tua Mas Hamam menyambangi rumah sakit. Sekedar menengok calon menantunya yang masih belum sadarkan diri. Atau membawakan Mas Hamam baju ganti beserta makanan. Meski laki-laki itu jarang sekali menyentuh makanan yang di bawak ibunya. Sedangkan Pak Farkhan? Dia jatuh sakit setelah melihat kondisi anaknya sendiri. Oleh karena itu, Mas Hamam meminta adik dari Bapaknya Datul sementara yang merawat di rumah.
"Istirahat dulu, biar ibu dan bapak yang gantian jaga"
"Kasihan Datul Bu, kenapa dia tidak sadar-sadar? apa dia tidak lelah tidur terus?"
Mereka hanya bisa melihat Datul dari luar. Lewat jendela kaca yang memang sengaja di buat transparan agar para perawat bisa memantau kondisi pasien dengan mudah.
Tubuh Datul yang ringkih, terpasang begitu banyak selang medis di sana. Alat bantu pernapasan juga menempel lewat mulut Datul. Mendengar monitor denyut jantung yang terus berbunyi itu, saat ini seperti menjadi rutinitas bagi Mas Hamam.
Terkadang Mas Hamam takut sendiri bagaimana jika bunyi monitor itu tiba-tiba berhenti. Mas Hamam takut kehilangan Datul. Membayangkan saja takut.
"Dalam situasi seperti ini nak, hanya Tuhan yang bisa membuat Datul kembali, rayu Tuhan nak, dekatkan dirimu dengan-Nya"
Mas Hamam menoleh, pandangannya menelusuri wajah ibunya yang kian keriput di makan usia. Beruntung dia punya orang tua yang selalu menjadi suport sistem yang baik. Yang selalu mendahulukan kebahagiaan dan pilihan anaknya. Yang bisa membimbing, disaat Mas Hamam kalut seperti ini.
"Doakan kesembuhan Datul ya Buk,"
"Sudah pasti nak, tanpa kamu minta, ibu sudah doakan"
Setelah obrolan dengan ibunya itu, Mas Hamam selalu berdiri menunaikan ibadah lima waktu dan juga ibadah di sepertiga malam. Kata orang, berpuasa juga bisa mempermudah doa kita di kabulkan. Mas Hamam rela berpuasa di hari esoknya. Berharap untuk kesembuhan Datul. Anggap dia sedang merayu Tuhan. Agar Datul di berikan kesempatan untuk hidup sekali lagi.
"Datul, sudah aku bilang jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku bukan?"
"Cepatlah bangun, mari kita menikah"
Kenyataannya, satu bulan berlalu begitu saja. Datul masih terbaring tanpa kemajuan sedikit pun.
_
_
_
__ADS_1