Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 69: Tomi is Back


__ADS_3

Awalnya mereka bertiga terlihat canggung. Tapi setelah wajah Tomi terlihat tengil dan cengengesan, suasana mencair begitu saja. Tomi is back.


"Eh bangsat! Lo enggak mau nyalamin gue?"


Mas Hamam melirik tangan Tomi yang terulur duluan. Terlihat malas tapi tetap menyalami seperti keinginan Tomi.


"Selamat buat Lo, aslinya gue maunya yaasinin Lo aja, biar tenang di sana" ejek Mas Hamam.


"Tai Lo ah!"


"Hai, Datul... gimana kabar Lo?"


Datul terpaku. Setelah sekian bulan purnama, laki-laki yang pernah membuatnya selalu tertawa itu menyapanya lagi. Hati siapa yang tidak terenyuh sekaligus senang.


"Kenapa manggilnya gitu?"


Biasanya juga panggil Mai. Mai sayang, Mai ini, Mai itu. Datul lebih suka di panggil seperti itu. Terasa ada manis-manisnya.


"Hmm... iya karena gue udah enggak sayang Lo lagi sekarang"


Lalu keduanya tersenyum. Ternyata alarm marah Tomi sudah selesai. Dia berhasil berdamai dengan dirinya sendiri. Sudah memaafkan Datul begitu juga Hamam.


Benar kata Mas Hamam, Tomi tidak perlu di bujuk atau di rayu hanya untuk mendapatkan maaf darinya. Dia hanya butuh waktu.


"Mana kado buat gue hah?" todong Tomi saat memindai tangan Hamam yang tidak kosong.


"Mana ada kado buat orang yang doyan ambekan!"


Mana bisa Tomi diam saja di gas begitu. Tangannya langsung mengiting leher Hamam. Membuat laki-laki itu kesusahan bernafas.


"Dasar enggak tahu diri! siapa biang keladinya yang bikin gue budrek, kalau bukan lo!"


"Aduh... aduhh! sakit bangsat!"


"Jangan cuma ketawa Tul, tolong aku, bisa mati aku, bau ketek Tomi buaaadeeekk!"


"Bagus Tom, biar Mas Hamam tahu rasa"


"Hahahaha...." Datul tertawa karena Tomi semakin mengiting leher Mas Hamam. Melihat dua sarjana yang bertingkah layaknya anak SD seperti itu hati Datul menghangat. Entah kebaikan macam apa yang pernah Datul lakukan hingga bisa di kelilingi laki-laki hebat dan baik seperti mereka.


"Pssssttt.... Mbak Datul!"


"Itu cowok keriting mantan Mbak Datul? terus kenapa dia bilang Mas Hamam biang lala? eh maksudnya biang keladi?"


"Hush! bocil di larang kepo!" Zida merenggut, sudah dari tadi di kacangin doang. Giliran tanya malah di gusah.


"Cari makan yok!" Ajak Tomi yang sudah melepaskan Hamam. Mas Hamam mengatur nafas, terengah-engah gara-gara perbuatan Tomi tadi.


"Hayukk...!"

__ADS_1


"Gas toh ya!" sambar Zida yang sudah kelaparan.


"Anak ayam siapa ini lepas?" goda Tomi menunjuk Zida. Zida langsung merenggut.


"Kampret, aku di bilang anak ayam Mbak!" bisik Zida yang sebenarnya tidak terima. Mau nantangin kog orang tua. Batinnya.


"Sepupuku ini Tom, jangan ejek dia terus, dia anaknya nangisan" Sontak Zida mencubit pinggang Datul. Datul meringis geli.


"Apaan sih Mbak Datul!"


"WOI TEMEN-TEMEN, SIAPA YANG MAU IKUTAN MAKAN!?"


"HAMAM YANG TRAKTIR!'


"HORREEE....!"


"Gue ikut!"


"Gue juga!"


Teman-teman Mas Hamam yang lain bersorak gembira. Penerus bangsa seperti mereka auto kegirangan kalau denger gratisan. Kemriyik, kayak bebek di sawah.


"Setan Lo Ah!" umpat Hamam pada Tomi. Tomi sih slay aja ya, malah ngakak-ngakak merdeka.


****


"Tinggal pesan aja kalian mau makan apa, tapi ingat ya, budget perorang tidak boleh lebih dari 50k, kalau lebih kalian bayar masing-masing!"


"ATM gue isinya enggak banyak, Lo tanggung sisanya kalau entar kurang"


"Halah, Lo pikir gue percaya. Uang Lo banyak, jangan sok kere, iya kan Datul?"


Udah aku pinjam tapi, batin Datul. Lalu gadis itu hanya mengedikkan bahu tanda tak mau ambil pusing.


"Ini udah boleh di makan belum sih?" tanya Zida lugu.


"Wkwkwkwk... boleh Zid boleh..."


Lalu detik berikutnya mereka fokus pada makanan masing-masing. Datul terlihat kesusahan memotong chicken steak miliknya. Mas Hamam yang lihat jadi tidak sabar sendiri.


"Bawa sini aku bantu" Mas Hamam menarik paksa hotplate milik Datul.


"Kamu perhatikan ini Tul, mata pisaunya ada giginya kayak gergaji, jadi kayak gini motongnya, jangan samain kayak motong bawang merah, paham?" Datul hanya ber-oh kecil. Ternyata motong steak juga ada ilmunya.


Setelah daging itu terpotong kecil-kecil, baru Mas Hamam menggeser hot plate milik Datul lagi. "Udah, kamu tinggal makan. Jangan kebanyakan nambahin saos, entar perutmu sakit"


"Ekhem! yah meskipun udah gue maafin kalian berdua ya, tapi bisa enggak, jangan pamer kemesraan gitu? hargai hati gue yang baru sembuh woi!"


"Ngomong apa kamu sih Tom, enggak jelas banget!" Datul mulai gelisah. Zida sejak tadi sudah kepo. Ketambahan ini lagi. Pamer kemesraan? Kemesraan dari Hongkong?

__ADS_1


"Sek, sek, kalau boleh tanya, emang Mbak Datul sepupu saya ini pacaran sama Mas Hamam?"


"Apaan sih Zid, jangan salah paham, mulutnya Mas Tomi itu kayak ember bocor, enggak usah di dengerin"


"Emang gue salah? bukannya kalian berdua udah pacaran?"


"ENGGAK!!!" jawab Datul cepat. Sedangkan Mas Hamam masih santai meneguk jus alpukat miliknya.


"WHAT!!! gila kamu Mam, udah Lo *****, tapi masih Lo gantung aja!!!?"


Brrrruuuuuuuttttttt!!!


Seketika jus di mulut Mas Hamam tersembur. Untung Tomi gesit menghindar. Wajahnya selamat dari semburan Hamam yang mirip Mbah dukun yang sedang ngobatin pasiennya.


Sedangkan Datul wajahnya merah padam. Malu, kenapa itu harus di ungkit lagi, apalagi di hadapan Zida.


"Uhuk! Sori, sori, aku enggak sengaja... Zida kamu pesan makanan lagi sana, makanan kamu kena semburan saya"


Zida menarik senyum tipis. Potongan puzzle yang sejak tadi dia susun di otaknya kini sudah mulai terbaca.


Ah Mbak Datul, jangan pikir aku enggak paham ya, jadi Mbak Datul itu pernah pacaran sama Mas keriting ini, terus ketahuan ciuman sama Mas Hamam?, ahhhh... aku juga pengen jadinya... di cium Mas Hamam, siapa yang nolak!


"Tom, Lo bisa enggak, pakai filter dikit kalau ngomong, ada anak di bawah umur juga!"


"Hehe... sori, lupa kalau ada anak ayam, bocil jangan di pikirin ya obrolan orang tua, pikirin aja PR kamu di rumah!"


"Eh Mas kriting, jangan sembarang panggil bocil-bocil ya, bentar lagi aku dapat KTP, itu tandanya bentar lagi otw dewasa, aku paham kog yang kalian bicarakan"


"Asal Mas kriting tahu ya, pacar Mbak Datul itu namanya Mas Ali bukan Mas Hamam"


"Hah? serius?" Tomi kaget dan tidak habis pikir.


"Iya, Mas Hamam itu tidak pernah suka sama aku, mustahil! Jadi stop ngomong aneh-aneh. Kita berdua cuma temenan. Iya kan Mas?"


Datul menoleh, meminta pembenaran dari mulut Mas Hamam. Laki-laki itu biasanya akan berbicara pedas jika secara tidak langsung di tuduh menyimpan perasaan pada Datul.


"Hmm..."


Mas Hamam menunduk. Menghindari kontak mata dengan Datul. Entah, kenapa sekarang dia merasa terusik dengan kata-kata Datul. Harusnya itu benar, dia tidak mungkin mencintai Datul. Tapi kenapa hatinya juga seperti tidak rela. Tidak rela jika dengan mantapnya Datul mengakui siapa nama pacarnya. Mas Ali, nama itu yang sekarang ini menetap di hati Datul. Dan rutin Datul sebut-sebut.


"Gue masih enggak percaya kalau kalian berdua enggak saling cinta. Kalian cuma belum pada sadar. Atau sudah sadar, tapi kalian memungkiri perasaan kalian masing-masing?"


"Oh ayolah,... kalian benar-benar bodoh!"


_


_


_

__ADS_1


to be continue...


Segitu dulu ya, bobok udah malem😁


__ADS_2