Maidatul Khan

Maidatul Khan
chapter 40: Semakin Dekat


__ADS_3

[klo udh selesai kbri, aq jemput]


Datul typing...


[udh kog dr td, nih mo plg]


[wait, aq jemput]


Hamam bergegas menyambar jaketnya, dia agak heran kenapa Datul selesai secepat itu. Belum ada satu jam hlo ini. Ponsel Hamam bergetar lagi. Sambil jalan dia buka lagi pesan yang masuk.


[ga usah, udh bareng Mas Tomi]


Hamam mencengkeram ponselnya, ada yang bergemuruh di dada tapi bukan ombak. Rasa bersalah karena ucapannya yang kasar pada Datul membuat dirinya menyesal. Hamam bersedia melakukan apapun agar Datul bisa memaafkannya. Dia bahkan bertekad mengabdikan diri sebagai teman yang baik untuk Datul. Tapi sekarang nama Tomi muncul. Hamam setengah tidak rela.


"Sialan!"


Wajah Hamam mengeras, dia memutar tumitnya masuk lagi ke dalam kamar lalu membanting pintu.


BRAAAAKKK!!!!


***


"Kenyang aku Mas"


Datul menyandarkan punggungnya lalu mengelus perut yang puas di isi makanan.


"udah kenyang, gih sana bayar!"


Jantung Datul seperti berhenti berdetak saat itu juga. Dia hanya mengantongi uang dua puluh ribu, dan yakin sekali uang itu jelas kurang untuk membayar dua porsi nasi Padang, apalagi lauk rendang.


Datul memelas, menyondongkan tubuhnya agar bisa berbisik.


"Kali ini Mas Tomi yang bayar nasinya ya, aku bayar es tehnya aja gimana?"


Tomi tersenyum geli, patungan kog beraninya bayar es teh doang. Tomi ikut menyondongkan tubuhnya dan balas berbisik.


"Oke, ada syaratnya tapi..."


"Apa?"


"Lo panggil gue Tomi aja, buang itu panggilan Mas, gatel telinga gue di panggil pakai embel-embel gituan"


Datul terkekeh, dengan senang hati dia coba panggil nama Tomi tanpa embel-embel.

__ADS_1


"Tom, Tomi! gitu?"


"Yess!"


"Kog aku malah ingat kucing, Talking Tom Cat, hahaha..."


Tomi berdecak sebal saat di samakan dengan game kucing yang pandai menirukan suara manusia itu. "Ga ada miripnya gue sama dia, ganteng gue kemana-mana "


"ya seenggaknya rambut dia ga kriting kayak kamu, hihihi..." Datul tidak lelah tertawa sejak tadi. Tomi tipe-tipe cowok yang menyenangkan diajak haha hehe memang. Setidaknya setelah Mas Hamam.


"Ngeledek teross.. tak suruh Lo yang bayar kapok!"


"Getinggggg aku..." sebel aku. Keduanya saling melempar senyum.


"Ngiming-ngiming katanya kamu udah punya cewek ya Tom"


"Hmm... kenapa? cemburu?" sambar Tomi.


"enggaklah, cuma ga enak aja kalau kita temenan gini, ntar dia tahu ngambek lagi"


Tomi menyedot es teh di gelasnya untuk yang terakhir. Sampai bunyi sruuuuutttt... terdengar imut di telinga Datul. "Tenang, aman, cewek gue mah santai, kalaupun doi tahu gue selingkuh palingan bakal biasa aja"


"Emang ada cewek kek gitu? nih kalau aku di selingkuhi udah tak cakar-cakar pacarku!" Datul menggebu-gebu apalagi saat ingat mantan yang paling dia benci, Zaen brekele.


"ah tapi bohong, aku palingan cuma bisa nangis di pojok kamar, kayak dulu" nada Datul terdengar menyedihkan.


Datul mecucu, "di selingkuhi sama gadis penjual jamu, terus di putusin dengan alasan kecewa karena jerawat di wajahku ga ilang-ilang!"


"Wakakakakka...." Tomi ngakak sampai gebrak-gebrak meja. Sungguh ironis kisah cinta Datul.


"Puas-puasin ketawanya, aku batal patungan bayar es teh"


Tomi semakin terbahak. "Hadduuuhh... mules perut gue Mai, es teh doang, ga bakal mempan ancaman Lo"


"Sumpah, alasan terkonyol itu di putusin karena jerawat"


"Hihhhh... kamu ga bakal tahu bagaimana rasanya, jerawat ini seperti kutukan, ga bakal ilang sebelum aku nikah"


Tomi berhenti tertawa, "Really?" Terdengar seperti legenda.


"Tau ah, lihat ntar kalau aku udah nikah, kalau beneran ilang berarti ya benar"


"Turut prihatin ya Mai, kalau mau ayok kita ke KUA sekarang, kita buktikan kutukan itu bareng-bareng" Wajah Tomi bersungguh-sungguh, tapi Datul paham kalau itu hanya guyonan.

__ADS_1


"Enggak, makasih, rambut kamu kriting"


"Masalah?"


"Masalah besar karena itu mengingatkan sama mantan terbusukku"


"Yeaahhh... besok gue rebonding kalau gitu, habis itu kita nikah ya Mai"


"Dih..."


"Gue serius Mai,"


"Mustahil, buruan bayar sana, ngantuk nih"


"Elahhh Mai, jam segini ngantuk, pemuda apaan"


Datul nyengir, gimanapun tidur adalah hobinya. Tomi harus tahu itu.


Tomi mengantarkan Datul sampai depan rumah. "Mampir dulu, tak pesankan es teh Mbak Minem"


"Mbak Minem?"


"Tuh!" Datul menunjuk dengan dagunya kearah wanita berdaster bunga-bunga yang sedang memegang ember berisi air. Tempat mencuci gelas kotor.


"Oh itu... lain kali mungkin. Gue langsung cabut aja ada kuliah siang nanti"


Datul bergegas keluar dari mobil Tomi. "Makasih banyak ya Tom"


"Sami-sami ayang Mai, ntar gue bakal sering chat Lo, awas kalo ga Lo bales!"


"Wkkkkk... pasti aku balas, jomblo merasa terhormat jika ada yang ngechat"


Tomi terkekeh dengan jawaban Datul. Kalau di jawab pasti ga ada habisnya. Biar saja suara klakson menjadi jawaban sekaligus salam perpisahan mereka.


Terimakasih orang baik...


Keesokan paginya, Datul sudah berdiri di depan dispenser bensin. Seorang gadis lebih muda darinya namun sudah berseragam resmi SPBU baru saja mengajarinya cara mengisi bensin dengan baik dan benar.


Selamat bekerja Maidatul Khan, semoga betah.


_


_

__ADS_1


_


Kencengin like, bagi hadiahnya yok☺️


__ADS_2