Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 60: Kayak Sama Siapa


__ADS_3

Seonggok Maidatul Khan tidak akan kapok jatuh bangun naik sepeda motor. Hari-harinya dia gunakan berkeliling naik motor sehabis pulang kerja. Bak anak kecil yang baru saja pintar naik sepeda, gadis itu punya hobi baru sekarang, motor-motoran.


Maksudnya Datul sedang senang-senangnya naik motor tanpa tujuan. Dan yang lebih absurd lagi sepupunya yang bernama Zida ikutan membonceng kemampuan Datul pergi.


Zida tidak ada takut-takutnya, padahal bisa saja mereka jatuh sewaktu-waktu.


"Mbak Datul, sore ini agak jauhan dong naik motornya" Gadis yang sudah duduk di bangku SMA itu merengek, mirip anak TK yang minta naik odong-odong tapi emaknya tidak ada duit.


"Memang mau coba rute mana?"


"Pasar sore Mbak, yang ramai orang, biar Mbak Datul tambah pinter naik motornya, udah gitu di sana banyak jajan, barangkali Mbak Datul mau jajanin aku, hehe... ngarep dot com!"


Datul berpikir sambil membayangkan jalan ke pasar sore yang berliku-liku. Kayak jalan hidupnya. Melewati pengkolan tajam, jembatan rusak karena masih tahap perbaikan, lalu perempatan yang selalu ramai bak jalan tersibuk di New York. Belum lagi deretan pedang kaki lima yang gerobaknya mengganggu jalan, sampai kadang pernah dulu pas waktu Datul bersepeda hingga stang sepedanya nyenggol bokong semok ibu-ibu yang sedang antri beli martabak manis. Datul ingat, dia di marahi habis-habisan. Jadi ngeri sekarang.


"Enggak berani aku Da, rame banget di situ, nyeberang perempatan aku juga bingung nanti nyalain seinnya kanan atau kiri"


Zida kontan mengeplak lengan Datul. "Gitu aja di buat pusing Mbak, nyalain lampu sein kiri terus aja sih biar aman. Enggak apa juga belakang kita kalau mau nyalip. Oh, apa bikin tulisan aja, sedang belajar! kayak itu loh yang lagi belajar nyetir mobil, hehe..."


Datul meringis, generasi di bawahnya ternyata tak kalah somplaknya dengan dia sendiri. Malah semakin parah, masuk akal jika ada yang menyebut generasi anak sekarang adalah generasi micin. Zida contohnya.


"Yuk ah Mbak, jangan lama-lama mikirnya nanti Mbak Datul jadi pinter hlo!"


Kan, kan, jadi pinter kog di takuti, dasar micin kepala sapi!


"Beneran ini? aku takut ndaa,"


"Kan ada aku Mbak, kalau jatoh setidaknya Mbak Datul ada temennya, wkekekwkkw..."


Akhirnya Datul terbajak juga, eh terbujuk maksudnya. Pelan dia melajukan motornya melewati kebun pisang, tempat dimana dulu dia di putuskan brekele Zaen. Datul melengos, gara-gara itu dia jadi benci tiap kali lihat pohon pisang. Padahal pohon pisang tidak punya salah apa-apa dengan dia. Kasihan.


Huh! Masalalu....


Menyusuri gang yang ramai, Datul mulai grogi sendiri. Sayang getaran grogi itu tidak sampai ke orang yang duduk di belakangnya. Zida malah senyum-senyum, apalagi pas ada cowok tampan lewat.


"Mbak Datul, subhanallah ada cogan"


"Hush! jangan ganggu konsentrasi ku, diem!"


Zida cemberut. "Mbak Datul kalem aja sih, jangan di gas mulu, aku nangisan hlo Mbak"


Datul memekik, betapa bawelnya Zida membuat Datul semakin pecah konsentrasi. Dadanya semakin berdebar saat ujung perempatan yang dia takuti sudah di depan mata.


"Da, gimana ini? Duh!"

__ADS_1


"Kayak nyebrang pakai sepeda ajalah kakak, biasanya gimana kalau nyeberang? di gendong sepedanya?" Lama-lama Zida gemes sendiri sama Mbak Datul. Kalau Zida bisa sih mending dia yang di depan


Wes embuh, Datul mamang. Ragu-ragu mending berhenti dulu.


"Hlo Mbak kog berhenti sih?"


"Turun Da! aku beneran enggak berani nyebrang"


"Hlah terus?" Seketika Zida was-was.


"Kita tuntun aja ya motornya, lebih aman, hehehe..."


Ingin rasanya Zida nangis, atau kalau mau jahat mending pura-pura tidak kenal sama gadis yang di pangilnya Mbak-mbek, mbak-mbek itu. Tapi karena di sini dia baik hati dan rajin menabung, jadinya Zida menurut.


Dua gadis berbeda usia itu pelan-pelan mendorong motornya. Zida bertugas melambai-lambai, mencarikan jalan dan memberi aba-aba. Orang-orang yang melintas pun melihat heran. Mereka pikir mungkin motornya mogok atau kehabisan bensin. Iya enggak apa-apanya, bagus kalau mereka berpikir seperti itu. Tapi ini motor baru masih kinyis-kinyis juga. Masak mogok?


"Kosong Mbak, ayok dorong lebih cepet!"


Sampai sebrang, baru Datul meminta Zida naik lagi.


"Kita berhasil Da!" layaknya Dora yang menyelesaikan misinya menemukan harta karun. Datul terlihat sumringah luar biasa.


"Tunjuk Da, mau jajan apa"


Di belakang Datul, Zida masih menahan malu. Tapi juga tidak menolak kalau mau di jajanin.


Datul melirik dari kaca spion motornya, "Kamu lagi ngabsen semua jajanan di sini?"


"Enggak Mbak, aku mau itu semua, enggak mau tahu, Mbak Datul udah bikin aku malu setengah abad, kalau tidak mau ya sudah, nanti aku pulang sendiri aja naik ojek"


Datul mendengus kesal. Biasanya di memalak, malah sekarang di palak.


"Ini namanya pemerasan!"


****


Bulan berikutnya, Datul berhasil memiliki SIM. Surat Ijin Mengemudi bukan Surat Ijin Mencintaimu. Kali ini Mas Ali yang berjasa. Jangan cari Mas Hamam dulu, dia masih sibuk titik.


Datul juga sudah mahir mengendarai motornya. Bahkan sudah berani ucul setang. Trayeknya juga sudah lumayan jauh. Berani muter-muter kota Semarang sekarang. Ya meskipun seputar Ngaliyan saja. Yang pinggir-pinggir. Kalau ketengah kota mentok Simpang Lima. Selebihnya belum berani karena terlalu banyak lampu merah dan jalan searah yang bikin mumet.


Sore itu Mas Ali menghampiri Datul ke SPBU. Datul yang sudah selesai berkemas untuk pulang tentu saja berbunga melihat kekasih sudah berdiri di parkiran dekat dengan motornya.


"Lama Mas nunggunya?"

__ADS_1


"Euummm, tidak masalah. Kita pergi sekarang?"


"Ayo!"


Datul menyerahkan kunci motornya. Dia biarkan kekasihnya itu yang di depan. Sementara dia nemplok di belakang. Heran, saat pacaran seperti itu, hal sepele saja bisa terasa sweat asli. Atau Datul yang terlanjur bucin? Hem, coba tanya umbul-umbul yang bergoyang.


"Makan dulu atau beli helem dulu?"


Datul senang karena akan di belikan helem baru oleh Mas Ali. Kemarin dia cukup mengeluh tidak nyaman dengan helem bonus dari pembelian motor barunya. Dan laki-laki dewasa itu langsung mengajaknya membeli.


"Terserah... ngikut kamu aja Mas"


"Ya udah cari makan dulu, kamu pasti lapar pulang kerja"


"Boleh"


Menit berikutnya piring nasi Padang mereka sudah kosong. Nasi daun singkong beserta rendang sudah berpindah ke dalam perut. Datul menahan sendawa, jaim dikit di depan kekasih.


"Tunggu bentar aku bayar dulu"


Datul bergegas membuka tas lalu dompet. "Bayar pakai uangku saja Mas"


Basa-basi itu perlu. Meskipun aslinya lebih seneng di bayarin. Kalian gitu enggak? hehe...


"Ada kog ini"


"Enggak apa Mas, pakai ini, itung-itung gantian aku yang traktir"


Mas Ali nampang menimbang. "Tidak apa-apa pakai uang kamu?"


"Hmm, kayak sama siapa"


Berawal dari kayak sama siapa aja, Datul tidak tahu bagaimana semesta akan mempermainkannya besok.


_


_


_


_


Cieee.... serius amat. Pakai semesta di bawa-bawa.

__ADS_1


Dikit dulu ya...


Kayak biasa👍


__ADS_2