Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 76: Kamu Nanya?


__ADS_3

Hamam Amirul Mukminin memilik wajah yang bisa di bilang tidak biasa. Pun keberuntungan yang selalu mengelilinginya. Di saat setiap orang susah mencari pekerjaan, bahkan tidak sedikit orang yang di PHK karena perusahaan gulung tikar, Hamam Amirul Mukminin bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan.


Bukan lewat jalur belakang, karena jelas laki-laki tampan itu masuk dari pintu depan. Begitu datang dan melakukan interview, tim penguji tiga orang yang merupakan ibu-ibu itu bahkan langsung terpesona dengan paras Mas Hamam. Di tambah nilai indeks prestasi yang memuaskan. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak Mas Hamam. Mas Hamam langsung di terima bekerja di Dinas kesehatan kota.


Keluar dari gedung yang menjulang tinggi itu, Mas Hamam tersenyum sumringah. Lega, karena itu artinya dalam waktu dekat ini ibunya tidak punya hak untuk ngopyak-ngopyak agar Mas Hamam ikut jualan ayam potong. Bukan tidak mau membantu orang tuanya jualan. Masalahnya kalau Mas Hamam yang jualan, lapak mereka langsung ramai di serbu pembeli. Pedagang ayam potong yang lain jadi ngeweh, Mas Hamam kan jadi kasihan.


****


Mas Hamam memutuskan untuk pulang dulu sebelum memberi tahu kabar baik ini pada Datul. Sesampainya di rumah, Mas Hamam merasa aneh. Ada mobil terparkir di halaman rumahnya. Tamu siapa? Batin Mas Hamam. Bapak dan ibunya biasa pulang jam dua siang, dan ini baru jam sebelas. Mas Hamam memilih masuk ke dalam rumah dari pada menerka-nerka sendiri, bikin lapar.


Pintu rumah sedikit terbuka. Dari sana Mas Hamam langsung masuk dan menemukan Bapak dan ibunya sedang menyambut tamu. Ternyata orang tuanya pulang lebih awal. Mas Hamam tidak kenal dengan tamu-tamu orang tuanya. Dia berniat langsung masuk aja ke dalam.


"Eh, kenapa kamu masuk tidak mengucap salam, dasar anak nakal!"


"Eummm, ibu lagi ada tamu rupanya"


Wanita yang di panggil ibu itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Mas Hamam. Dengan halus menuntut anak laki-lakinya untuk bergabung duduk.


"Kenalkan ini teman-teman ibu, Pak Lukman dan Bu Indah, teman ibu waktu sekolah SMP dulu, dan ini putri mereka, namanya Amanda"


"Salim gih kog malah bengong, kenapa? Amanda cantik ya?" Dan mereka bersama-sama tertawa kecil.


Mas Hamam menyalami sebagai bentuk penghormatan dan sopan santun. Jelas sekali kalau mereka juga kagum dengan ketampanan Mas Hamam. Tak lama saat giliran Mas Hamam menyambut uluran tangan gadis bernama Amanda itu, Mas Hamam kaget setengah mati dan hampir beristighfar sekeras-kerasnya.


Bagaimana tidak, pantas dari tadi gadis itu terlihat kesusahan mingkem, ternyata saat tersenyum,.... beuuuhhhh ternyata, giginya tonggos!


"Hehe... senang berkenalan dengan Mas Hamam"


Buru-buru Mas Hamam menarik tangannya. Lalu beristighfar tiga puluh tiga kali di dalam hati.


Gila! giginya minta di pageri sih itu Mbak!


Jadi jangan bayangkan Amanda ini secantik Amanda Manopo ya, beda jauh, jauh banget, jauhnya kayak jarak Kabupaten Kendal dengan New York. Seriusan! Sudah begitu kerempeng, tubuhnya cuma terdiri dari tulang dan kulit. Rata semua. Masih mending Maidatul, dadanya besar. Wakkk! Dasar Mas Hamam cabul!


"Oh ya, kamu katanya tadi interview, gimana hasilnya?" kali ini Bapak Mas Hamam yang terhormat yang bertanya.


"Keterima Pak, mulai besok bisa langsung training"


"Sungguh? kamu keterima di Dinas kesehatan?!" Emak Mas Hamam heboh, di mata ibu-ibu yang sudah bolak-balik pergi haji itu sampai ada bintang-bintang bertaburan. Mas Hamam hanya mengangguk kecil.


"Tuh kan apa saya bilang. Anak saya itu tidak ada minusnya, tampan, pintar, dan rajin"


Apa sih maksudnya ibu, tidak usah di banggakan seperti itu juga semua orang sudah tahu kalau kau tampan...


"Luar biasa, saya percaya kalau anak seperti Mas Hamam ini memang calon menantu idaman"


"Apa?"


****


"Ibu tidak berniat menjodohkan Hamam sama anak teman ibu itu kan?"


"Itu kamu tahu!"


Mas Hamam membuang nafas kasar. Setelah tamu itu pergi, rupanya Mas Hamam tidak bisa mengendalikan diri untuk mendapatkan kejelasan maksud kedatangan mereka.


"Aku menolak di jodohkan!"


"Bapak, tolong beri penjelasan ke ibu" Bapak angkat tangan, ibunya lebih berkuasa di rumah.

__ADS_1


"Lagipula Bu, gadis itu--"


"giginya aku tidak suka!" Mendengar ini Bapak malah cekikikan. Langsung diam saat mata ibu melirik tajam.


"Itu gampang, nanti kalau sudah nikah tinggal kamu suruh pasang aja itu, apa namanya yang kayak kawat itu, bendrat?"


"Hahahah..." Bapak auto ngakak. Gigi orang mau sembarangan di bendrat, sudah macam bangunan.


"Bapak apaan sih pakai ketawa!"


"Tahu tuh ibu, kayak anaknya udah enggak laku, main mau di jodohin, udah gitu, enggak cantik sama sekali"


"Memang kalau enggak cantik kenapa? kamu jangan menilai perempuan dari wajahnya saja, sikap dan dari keluarga mana dia didik itu lebih utama Nang"


"Tapi enggak jelek juga sih Bu"


"Kalau enggak cantik kenapa, coba ibu tanya?"


Di tatap garang oleh ibunya, Mas Hamam agak menciut. "Ya itu-"


"Itu apa, ngomong yang jelas!"


"Ya kalau tidak cantik, mana mau burung Hamam berdiri"


"Astaghfirullah hal adzim!"


"Anakmu Pak..." Ibu Mas Hamam geleng-geleng kepala.


Kalah telak, ibu Mas Hamam memegang kepala, darah tingginya mungkin kumat.


"Ya sudah, kamu bawa calon pilihanmu secepatnya ke hadapan ibu. Kalau kamu tidak bisa, pokoknya kamu harus mau ibu jodohkan sama Amanda, titik!"


Bisa ke cangkul bibirku!


"Ibu aku tidak mau! nanti aku carikan calon mantu secepatnya! asal ibu batalkan perjodohan gila itu-"


"Ibu!" Ibu Mas Hamam masuk ke kamar. Tidak memperdulikan anaknya yang hampir nangis meratapi nasib.


Percuma aku tampan, kalau takdirku buruk!


Sedangkan Bapaknya? malah pura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Yang sabar, ini ujian!" ucap sang Bapak sambil berlalu dan bersiul-siul.


"CK!"


Mas Hamam tidak jadi ganti baju. Dia memilih pergi lagi untuk menemui Maidatul Khan.


****


"Mas Hamam ngapain kesini?"


"Aku punya kabar baik dan kabar buruk, kamu ingin dengar yang mana dulu?"


"Enggak mau keduanya, mending Mas Hamam pergi, aku lagi kerja nih"


Wajah Mas Hamam kacau, tidak mau di nikahkan dengan gadis bergigi tonggos.


Mending Maidatul kemana-mana. Meski jerawatan, aslinya kalau jerawatnya hilang, dia cukup manis.

__ADS_1


Mas Hamam tidak punya waktu untuk berpikir lagi. Dengan mantap dia berlutut di hadapan Datul. Eh, tapi dia tidak bawa cincin. Bagaimana berpikir akan melamar Datul tanpa cincin?


"Mas kamu ngapain kayak gitu?"


"Psssttt! bangun, bikin malu ih"


Mas Hamam ngesot, matanya melihat sedotan bekas berwarna putih tak jauh dari tempatnya berlutut. Lalu di buatnya simpul dari sedotan itu, hingga terbentuk seperti cincin ala kadarnya.


Dengan mantap lagi Mas Hamam berlutut di hadapan Datul. Di saksikan berpasang-pasang mata orang yang sedang mengantri bensin pertalite. Mas Hamam mengacungkan cincin sedotan itu layaknya orang yang sedang melamar kekasihnya.


"MAIDATUL KHAN, MENIKAHLAH DENGANKU...."


"DAN HIDUP BAHAGIA BERSAMAKU SAMPAI KITA MENUA"


"Cie... cie.... cieeee...."


"Terima! terima! terima!" sorak orang-orang di sana.


Mata Datul berkaca-kaca. Ketakutan jika di sakiti lagi oleh laki-laki, bahkan bisa jadi Mas Hamam hanya menjadikannya mainan saja. Datul trauma. Disisi lain, dia terharu. Baru kali ini ada laki-laki yang terlihat sungguh-sungguh dan tulus melamarnya. Meskipun pakai cincin sedotan.


"Datul please, jangan permalukan aku..."


Bukan berhambur ke pelukan lelakinya. Datul malah mendekati Mas Hamam. Memukulinya layaknya maling.


Bug! Bug! Bug!


Lengan Mas Hamam juga Datul gigit. "Attahhh! astaga aku melamar drakula kali ya, ini sakit sungguhan!"


Semua orang yang di sana tertawa melihat ke somplakan keduanya. Tapi tidak apa-apa. Mas Hamam ikhlas, dia artikan gigitan Datul itu sebagai tanda kalau gadis itu menerima lamarannya.


"Mana jarimu, aku pakaikan cincinnya"


"Kamu kira kita akan mainan rumah-rumahan?"


"Belikan yang emas sungguhan"


"Ahhh... baik, besok kita ke toko Emas Bagong langsung, kamu pilih sesuka hatimu"


Datul manggut-manggut. Entah kehidupan yang seperti apa nanti, yang jelas dia ingin percaya kepada lelaki di depannya ini. Yang mengajaknya menikah dan hidup bahagia hingga menua nanti. Beberapa detik mereka habiskan dengan saling bertatapan mata. Hingga pelanggan Datul menyadarkan mereka.


"Udah belum dramanya? bisa isi bensin sekarang?"


Mereka berdua menoleh bersamaan, lalu kompak bilang.


"KAMU NANYA?'


_


_


_


_


Udah ketawa belum?😁


Wajib ketawa ya! enggak ketawa aku marah hlo!


Wkwkwkwkkw...

__ADS_1


Makasih ya udah setia baca🥰🖐️


__ADS_2