Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 57: Pria Idaman Lainnya


__ADS_3

Di semester akhir ini Mas Hamam sedang sibuk-sibuknya. Layaknya mahasiswa lain yang harus menggarap skripsi sebagai tugas akhir pendidikan mereka. Mas Hamam tipe orang yang tidak begitu ambisius mengejar cita-cita. Baginya kuliah seperti ini dia pilih karena dia senang. Entah nanti setelah lulus mau terjun ke bidang apa, dia belum pikirkan.


Mau bersantai kayak di pantai kog ibunya sudah memberi ultimatum. Kalau tidak lulus tahun ini, Hamam di suruh nikah dengan gadis pilihan ibunya. Padahal salah satu alasan Mas Hamam mau kuliah juga agar tidak di buru-buru untuk menikah.


Mas Hamam sedang melakukan penelitian di salah satu pusat kesehatan masyarakat di daerah Kendal. Penelitian ini dia lakukan untuk menggarap tugas akhirnya. Saat istirahat ngopi-ngopi tampan di warung kucingan, Mas Hamam tidak sengaja menemukan selebaran brosur detail angsuran motor. Ah... dia jadi ingat Datul. Datul pernah bilang jika sudah bekerja dia ingin membeli motor. Dan bekerja di SPBU dengan gaji UMR, Hamam pikir bisalah Datul kredit.


Satu bulan ini Mas Hamam sama sekali tidak menemui gadis kaya akan jerawat yang biasa dia jahili. Meski begitu, sesekali dia mengirimkan pesan. Datul juga hanya membalas pesan-pesan itu sewajarnya.


Nanti malam aku akan menemuinya, sekalian traktik dia seblak. Lagi dia sombong sekali, tidak pernah chat kalau bukan aku yang mulai duluan, Ckkkk!


Mas Hamam menyeruput kopi hitam di gelasnya. Doping biar tidak ngantuk. Pagi mengumpulkan data, malam mengolah data. Tak jarang juga dia melek sampai pagi lagi. Lingkaran hitam di matanya sudah mirip mata panda.


****


"Mbak, pertalite kapan ready!?"


Itu pertanyaan entah sudah berapa kali. Bibir Datul rasanya jadi keriting dan mengembang. Macam mie medok. Di depan sudah ada tulisan pertalite kosong. Masih juga tanya kapan ready. Meski begitu dia di tuntut agar selalu ramah pada customer.


"Maaf Pak, kurang tahu, coba nanti siang kesini lagi ya"


"Haduh! payah!!" Bapak-bapak itu kecewa lalu ngegas motor pergi. Menyisakan asap mengepul di wajah Datul. Wajah Datul tercemar.


"Uhukkk!!!" Datul terbatuk-batuk. Tuh motor edisi tahun purba kali ya, asepnya ngabluk cuy.


Datul melanjutkan pekerjaannya. Kebetulan ada pembeli. Harga BBM yang naik drastis membuat masyarakat kebanyakan beralih dari Pertamax dan memburu Pertalite. Apalagi premium di hapuskan. Kebanyakan mengeluh. Biasa mengisi lima puluh ribu Pertamax, tangki motor hampir penuh, ini sekarang jadi secrit kayak pipis kuci. Jadilah mereka memilih ngantri panjang direwangi padu. (di bela-belain berantem mulut)


"Berapa Pak?"


"Dua lima aja Mbak"


"Oke"


Datul mengisikan Pertamax yang katanya kayak pipis kucing. Selepas orang itu pergi, Datul menganggur karena belum ada pembeli lagi. Sembunyi-sembunyi dia memainkan ponselnya. Membuka aplikasi pesan yang belum sempat dia baca.


[Saya sampai Krapyak, tak belikan sate lontong nanti tak anter kesana]


Sebaris pesan dari Mas Ali. Entah karena apa, semenjak mengenal Mas Hamam, rasanya mudah sekali laki-laki tertarik dan mendekatinya. Apa dia kecipratan aura hoki dari orang tampan. Atau karena ibarat kata, saat ada satu laki-laki di sampingnya yang bagaikan kumbang, maka kumbang-kumbang lainnya berdatangan. Kalau mereka kumbang, Datul jadi bunganya dong. Bunga bangkai ya Tul, kamu kan tidak cantik. Blekkkk!


Mas Ali ini orangnya dewasa sesuai usia. Usia tiga puluhan, pantas saja dia lebih bisa ngemong. Sudah begitu, perhatian dan royal seperti Mas Hamam. Suka ngirim Datul jajan. Yang baksolah, siomelah, sate lontonglah, tak jarang juga suka nitipin jus alpukat. Gizi Datul terpenuhilah.


Sejauh ini mengenal Mas Ali, Datul cukup nyaman. Meskipun tidak setampan Mas Hamam dan tidak segokil Tomi yang selalu bikin dia ngakak, Mas Ali berhasil menyentuh hati Datul perlahan-lahan.


Apa mereka sudah jadian?


Datul menggeleng. Mas Ali tidak pernah menyatakan perasaannya secara langsung. Kayak ABG, aku cinta kamu. Tidak pernah!


Saya mau dekat sama kamu Datul. Nanti kamu rasakan sendiri gimana ...


Kalimat seperti itu saja malah membuat Datul penasaran. Apa begini bahasa orang dewasa. Menjalin hubungan yang katanya serius tanpa harus di umbar.


Singkat cerita mereka sudah dekat. Intens berbalas pesan. Meski jarang bertemu. Tapi kata Mas Ali kalau waktunya tepat nanti dia bakal ngajak Datul main yang jauh pakai helem.


[Nanti biar aku aja yang ambil ke terminal]


SPBU tempat Datul kerja itu bersebelahan dengan Terminal. Dekat sekali, tinggal lompat pagar. Tapi mana mungkin Datul lompat beneran, palingan jalan kaki. Mau minjam motor temannya juga dia tidak bisa naik motor.


[Enggak usah, tak anter kesitu nanti]

__ADS_1


[Oke deh, makasih🤗]


[😘]


Datul cengar-cengir dapat emot cium kayak gitu. Duh bahagianya anak gadis Pak Farkhan.


***


Malam harinya Datul anteng di rumah sambil asyik vidio call dengan Mas Ali. Hati Datul berbunga-bunga. Dengan tubuh terlentang dan kaki bertengger di tembok, sesekali kakinya menendang-nendang udara saat dia gemas sendiri mengobrol dengan Mas Ali nya itu.


Lama-lama wajah Mas Ali racun juga. Apalagi supir busway yang habis mandi itu rambutnya masih basah karena baru mandi sehabis pulang kerja. Kalau Mas Hamam tampan dengan wajah ala-ala Korea, Mas Ali ini tampan ala-ala rakyat jelata. Kulitnya juga cokelat, jadi lebih macho. Mereka sedang merencanakan waktu yang tepat untuk pergi berdua. Tahu banget kalau Datul senang di ajak main.


"Udah, sana istirahat dulu Mas, makan dulu"


"Hmm... masih kangen"


Kangen Mas Ali bilang. Khemmm... Datul merona malu, bantal guling yang dia gigiti ujungnya. Maklum ya Mak anak gadis Pak Farkhan ini gampang baperan.


"Hilih, apaan sih Mas. Aku tutup dulu bye..."


Wajah Mas Ali sekilas terlihat tidak terima saat Datul memutuskan obrolan mereka. Datul sungguh malu, takutnya kalau kelamaan bisa-bisa busa bantal guling miliknya ikut dia kunyah-kunyah.


Aghh.... Mas Ali, Mas Ali, Mas Ali... emuachhh! Hehe....


Datul seperti orang gila karena menciumi layar ponselnya sendiri. Apa ini artinya dia sudah move on dari Mas Hamam?


Sepertinya tidak juga. Datul mentul-mentul tetap memberikan tempat untuk laki-laki yang diam-diam sangat berarti dalam hidupnya. Susah sekali menghapus nama Mas Hamam. Jadi biarlah perasaan itu tetap di sana pada tempatnya. Sementara Datul berkelana mencari cinta sejatinya. Maksudkan kalian?


Kalian pernah tidak begitu? Serius tanya nih othornya!


Tapi kali ini Datul benar-benar ingin bersikap realistis. Barangkali Mas Ali ini K.W tiganya dari Mas Hamam dan jodohnya di masa depan, apa salahnya Datul jalani hubungan ini? Datul juga pengen cepet nikah. Wong di tinggal haha hehe, ujug-ujug usianya sudah dua-dua. Dua puluh dua tahun, tanpa ada satu pencapaian pun yang bisa dia banggakan.


[Seblak mau?]


^^^[Gasss!]^^^


[Gas susah]


^^^[Ganti kayu bakar]^^^


[Asepnya bs bikin atmosfer bolong nda]


^^^[tambal ban msh buka lur]^^^


^^^🤗^^^


[Lima menit wus-wus]


^^^[gambar alis dulu heh🙄]^^^


Mas Hamam tidak membalas lagi, langsung jalan kali ya.


Datul menyambar cardigan miliknya. Lalu menunggu Mas Hamam di depan rumah. Baru sadar, cukup lama mereka tidak bertemu. Lima menit menunggu, Mas Hamam datang.


"Datul!"


" Cie yang udah nunggu"

__ADS_1


"Demi seblak gratis" Datul langsung loncat membonceng Mas Hamam. Pakai motor beat, jadi dia tidak kerepotan. Jangan tanya motor siapa, anak juragan ayam potong. Motornya buanyak.


"Berangkat!!!" Mas Hamam clegekan menirukan logat tokoh yang ada di drama seri Ojek tikungan.


***


Datul menghabiskan seblak di mangkuknya. Tandas tanpa sedikitpun kuah tersisa. Gadis itu lalu melirik mangkuk Mas Hamam. Laki-laki tampan yang priyayi, tiap makan bareng mesti milik Datul duluan yang habis. Kalau begini kan Datul jadi pengen nambah.


Seperti ada ikatan cinta, ecieeee....!


Mas Hamam mendorong mangkuknya, Datul langsung nyengir. "Habiskan Tul!"


"Hihihi... kog tahu sih, kayaknya punya Mas Hamam enak"


"Kamu apa-apa enak kayaknya"


Datul nyengir lagi lalu menyuapkan satu sendok seblak yang berkuah merah kinyis-kinyis.


"Tadi bilang mau ngomong sesuatu, apa Mas?"


"Oh... itu, kamu kapan mau beli motor? katanya pengen punya..."


Datul menghentikan makannya. Obrolan berbobot ini. Kalau sambil makan bisa tersedak.


"Eummm... belum ada uang muka"


"Kredit sekarang enggak usah pakai uang muka pun bisa Tul, tapi ya itu, berat angsuran"


"Memang kamu belum ada tabungan sama sekali?"


"Ada sih Mas, cuma dua ribu doang"


Bola mata Mas Hamam hampir terbalik. "Serius Tulaikhan!"


"Hihihi... dua ribu itu maksudnya dua Jeti Mas,"


"Gitu aja Mas Hamam langsung tegang"


Tegang apanya hayo!


"Datul gunakan bahasa yang baik dan benar, diksi kamu itu ambigu"


"Wakkk... enggak juga ah, tergantung pemahaman masing-masing aja"


"Ckk! sok banget sekarang, belajar omong kosong dari mana coba"


"Dari Mas Ali, upsss!" Datul keceplosan.


"Siapa? pacarmu?" tembak Mas Hamam.


Datul senyum-senyum menjijikan. Lalu mengangguk-angguk kecil.


Mas Hamam menunduk, kehabisan kata-kata. Kenapa hatinya sedikit perih ya. Saat ada nama pria idaman lainnya yang di sebut Datul. Ughhh....


_


_

__ADS_1


_


Cacian Mas Hamam, sini othor peyuuk!


__ADS_2