Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 71: Tepar


__ADS_3

Indah kewalahan menuntun Datul turun dari motornya. Bersamaan dengan itu Zida lewat. Gadis itu dengan polosnya berjalan sambil nyedot es tea jus. Melihat saudara sepupunya yang seakan tak bertulang, Zida bergegas mendekat dengan wajah panik.


"Mbak Datul! Mbak Datul kenapa ini!?"


Datul histeris menangis, nyaris seperti orang yang di tinggal mati kekasihnya. Rambutnya awut-awutan, wajahnya tak karuan.


"Huaaaaaaa....huaaaaa....hoooooo....huaaaa..."


"Bantu bawa masuk dulu" potong Indah. Keduanya memapah Datul masuk kedalam rumah. Sampai di dalam, bukannya tenang, suasana semakin kacau. Bapak Farkhan yang terhormat kalang kabut menemukan putrinya yang seperti itu.


Datul mengabruk di bawah kaki Bapaknya. Masih dengan tangisannya yang menyayat hati, gadis berjerawat itu bahkan meraung-raung sambil memukuli dadanya sendiri. Nyesek! mungkin itu satu kata yang menggambarkan bagaimana perasaan Datul sekarang.


"Istighfar Nduk, istighfar!"


"BAPAK! BAPAK! BAPAK! HOAAAAA....AAAA..."


"HOOAAAAAA...."


Pak Farkhan mendekap Datul di dalam pelukannya. Di akhir tangisannya yang pecah, Datul jatuh pingsan.


****


Zida tersulut emosi setelah mendengar kronologi dan latar belakang masalah yang membuat Mbak Datulnya itu tepar tak sadarkan diri. Bahkan setelah di tunggu dua jam berlalu, Datul masih belum siuman.


Sebenarnya Mbak Datul itu pingsan apa tidur sih?


"Mbak Indah makasih udah anter Mbak Datul pulang, bukan maksud ngusir, tapi kalau Mbak Indah capek boleh pulang kog"


"Ini kayaknya Mbak Datul lanjut tidur, dari tadi enggak bangun-bangun"


Indah meringis. Prihatin sih tapi kog emang kayaknya benar apa yang di katakan bocah SMA di depannya itu.


"Hmm... kalau begitu saya pamit. Kamu jagain Mbak Datul ya... btw, Bapaknya Mbak Datul kog dari tadi malah enggak keluar kamar?"


"Enggak tahu Mbak, mungkin lagi dzikiran minta petunjuk pada yang kuasa"


"Oh... gitu... ya udah nitip bilangin aja nanti, saya pamit pulang"


"Siap Mbak Indah!"


Sepulangnya Indah, Zida setia menunggui Datul pingsan yang sepertinya berlanjut tidur itu. Bukannya siuman, Datul malah terlihat menggigil kedinginan. Wajahnya pucat, dahinya pun berkeringat. Zida menyentuh dahi Datul, reflek jari tangannya dia tarik kembali karena seperti terasa memegang pantat panci yang sedang di gunakan untuk memasak air. Panas poll.


Mbak Datul demam, duh gimana ini?


"Mas Ali, Mas Ali balikin motorku..."

__ADS_1


"Mas... Mas... motorku belum lunas" Datul tidak sadar mengigau, membuat Zida terkikik sendirian.


"Hehe... Mbak aku aslinya mau kasihan, tapi kog lihat Mbak Datul ngigau, aku malah mau ketawa sendiri, lucu sumpah! hehe..."


"Mas... hiks... hiks...." Datul masih mengigau, sampai bulir-bulir air mata tergenang di sudut matanya, lalu mengalir ke pipi, padahal mata Datul masih rapat tertutup. Zida berhenti dari cekikikannya. Mode serius, dia kasihan dengan Mbak Datul.


Mbak Datul butuh seseorang yang bisa menghiburnya. Ahay Zida tahu! Iya, Mas Hamam! Pasti Mbak Datul senang kalau ada Mas Hamam. Pas Waktu itu, aku tidak mungkin salah paham. Mbak Datul dan Mas Hamam kan pernah ciuman. Tenang Mbak, aku bakal bawa Mas Hamam kesini buat Mbak Datul.


Benar saja, bukannya mengompres Datul yang demam, Zida malah berlenggang menyusul Mas Hamam ke rumahnya. Entah yang mujur Zida atau Datul, Mas Hamam malam itu mudah sekali di temui.


"Apa? motor Datul di tilap pacarnya!?"


"Ho'oh Mas!"


"Kurang aja banget!"


"Ho'oh Mas!"


"Apa sih kamu Ho'oh-ho'oh?"


"Hehe... itu namanya ekspresif Mas"


"Terus sekarang Datul gimana? jangan bilang Ho'oh lagi atau aku jitak gigi kamu"


"Wkwkwk... hla itu, hla itu yang aku mau bilang dari tadi, Mas Hamam ikut ke rumah Mbak Datul ya, dia sampai pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang Mas, tadi sebelum kesini Mbak Datul juga demam, aku bingung, makanya nyusul Mas Hamam"


"Ho'oh Mas"


Sangking terkejutnya Mas Hamam lupa menjitak gigi Zida. Laki-laki itu melesat, berlari meninggalkan Zida. Padahal jika di pikir dengan kepala dingin, dia bisa pakai motor ketimbang lari.


****


Mas Hamam mengompres dahi Datul, di temani Zida. Wajah glowing laki-laki tampan itu terlihat sedih dan prihatin melihat Datul.


Hatinya ikut terluka saat melihat gadis yang selama ini tidak pernah dia biarkan kelaparan itu terkapar dengan air mata yang setengah mengering.


"Bangun bodoh! kenapa begini saja kamu tumbang?"


"Bangun! Kita cari laki-laki brengsek itu bareng-bareng"


"Aku janji bakal bantu kamu, tenang semua bisa di urus, tapi kamu bangun dulu"


Tidak ada jawaban dari gadis malang itu. Mas Hamam pantas khawatir, takut Datul kebablasan. Astaghfirullah, kamu do'ain Datul mati Mas!?


Tidaklah. Nanti kalau Datul mati duluan ceritanya tamat dong. Hihi...

__ADS_1


Kembali ke cerita. Mas Hamam reflek menggenggam tangan Datul. Ikut merasai panas yang menjalar di telapak tangan Datul. Zida yang melihat itu, hanya bisa menggigiti kusen pintu kamar Datul. Dia merasa sedang menonton drakor kearifan lokal.


Sementara itu, mata Datul mengerjap pelan. Dia bisa merasakan tangannya ada yang menggenggam, dan itu sangat nyaman. Datul ingin memastikan apa ini nyata atau halusinasinya saja. Pelan dia membuka mata. Dan wujud Mas Hamam menyambutnya dengan mata penuh syukur.


"Akhirnya kamu buka mata..."


"Yeay, Mbak Datul bangun!"


Datul tak bersuara, barang bertanya bagaimana mereka ada di kamarnya. Gadis itu terlihat lemah. Bahkan untuk membuka mulutnya saja Datul tak sanggup. Nyesek menerpa dirinya saat membuka mata. Ingin rasanya Datul mati saja. Harusnya tidak usah dia sadar kalau rasanya masih sama seperti tadi. Datul meringkuk, memunggungi Hamam. Sekarang dia bahkan sangat malu. Malu, karena ingat selama ini dia mengabaikan nasehat-nasehat yang di berikan Mas Hamam.


"Tulaikhan! kamu bisa andalkan aku, motor kamu pasti balik, ini mudah sekali, jangan khawatir!"


Bukannya tenang, Datul malah terisak. Mas Hamam dan Zida saling pandang. Bagaimana ini? Zida malah membuat gerakan agar tangan Mas Hamam mengelus kepala Mbak Datulnya. Mas Hamam nurut saja meski sedikit canggung. Di elusnya pucuk kepala Datul dari belakang. Terasa lepek, tapi tak apa. Demi menenangkan Datul.


"Sudah, sudah, nanti kamu capek hlo nangis terus"


"Makan dan minum obat"


"Kepingin makan apa? biar aku belikan"


Mujarab. Datul mau membalikan badan. Mas Hamam jadi sedikit lega. Pun perut Datul sebenarnya memang lapar.


"Nasi goreng babat pakai telor ceplok"


Mas Hamam dan Zida langsung tersenyum. Ah, harusnya dari tadi Mas Hamam menawari Datul makan, dia kan emang suka makan.


Setelah nasi goreng itu Datang. Mereka bertiga duduk di ruang tengah, di depan televisi. Mas Hamam membelikan semua orang nasi goreng. Termasuk Pak Farkhan. Tapi karena malu makan bareng, Pak Farkhan ijin makan di dapur saja. Masak iya orang tua makan bareng anak-anak muda. Nanti malah mereka rikuh. Pikir Bapak Farkhan yang terhormat.


Televisi menyala meski masing-masing dari mereka tidak ada niat untuk menonton.


"Mari makan, biar kuat menghadapi kenyataan" ucap Zida mengawali makan malamnya dengan sebungkus nasi goreng.


Datul baru akan menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Mendengar seloroh Zida, Datul jadi urung. Ingat motornya lagi. Dia letakkan sendok berisi nasi itu lagi.


"Motorku.... huu.... motorku... hiks, hiks, hiks..."


Kan, nangis lagi...


Mas Hamam garuk-garuk kepala. Sepertinya ide menjitak gigi Zida boleh juga.


_


_


_

__ADS_1


Hai, maap ya update lama. Othor sering kecapekan kerja. Nempel bantal langsung tidur seringnya. Kemarin juga sampai harus mendatangkan tukang pijit. Lumayanlah pegal-pegalnya ilang. Hehe... tapi habis itu kerja lagi. Capek lagi deh😁


Makasih ya dukungan kalian... tetap like, komen bagi hadiah. Love kalian😘


__ADS_2