Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 45: Lirikan Pak Supir...


__ADS_3

Datul menghela nafas setelah pacar barunya yang mirip anak koala pamit pulang. Sebagai selingkuhan pemula, Datul sudah di bekali ilmu, kapan waktunya mereka bisa berbalas pesan kapan tidak. Biar tetap aman terkendali.


"Jangan hubungi gue, kalo gue belum chat duluan, tapi kalo Lo udah kebelet kangen sebut nama gue tiga kali, gue pasti langsung datang di hadapan lo"


"jangan lupa juga passwordnya, apa hayo?"


"Luwak white kopi!" sebut Datul dengan mata jengah.


"eumm...manisnya luwak betina gue "


"Dih! mending aku jadi biji kopinya"


Itu sebaris percakapan antara Datul dan Tomi tadi. Datul senyum-senyum saat mengingatnya. Datul disebut luwak betina. Padahal Tomi sendiri yang lebih mirip luwak. Tapi karena gilanya Tomi, Datul patut bersyukur. Dia bisa tertawa, dan sejenak melupakan luka hatinya akibat cinta yang bertepuk tangan, eh salah, bertepuk sebelah tangan. Yah, itung-itung Datul mewarnai hidupnya yang selama ini buram.


Datul kembali bersemangat ketika memikirkan akan piknik ke Jogja. Sudah lama sekali, terakhir dia berkunjung ke sana saat pelepasan kelulusan SMA. Itu saja hanya ke wisata air terjun Kaliurang. Karena gratis dari pihak sekolah, kegiatannya kebanyakan acara resmi di rumah makan. Makan-makan sambil mendengarkan kesan pesan para guru pengajar. Datul menyesal saat itu tidak ikut mandi di bawah air terjun, gara-gara lupa tidak bawa baju ganti.


Piknik besok Datul tidak mau lupa lagi, harus siapkan baju bikini kalau perlu, apalagi tujuannya ke pantai. Canda! hihihi, Datul mana punya bikini, lagipula mana berani dia pakai baju haram. Malu sama jerawat-jerawatnya dong.


Sekarang Datul sudah bekerja, dan sebelum ke Jogja besok dia bakal gajian untuk yang pertama kalinya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bersemangat, meski perginya dengan se ekor luwak sekalipun.


Datul bergegas saat sebuah busway memasuki pelataran SPBU.


Tidak biasanya jam segini ngisi.


Bis gagah berwarna biru itu terparkir sempurna di stand Datul. Datul memegang noozle siap mengisi. Menunggu sang supir turun dan membukakan tutup tangki yang ada di samping badan bus. Fyp, tutup tangki solar bus itu susah membukanya. Berat, Datul tidak kuat.


Pak supir terlihat membuka pintu akan turun. Datul kira seperti yang lainnya, tapi Pak supir satu ini malah ngacir menuju toilet. Eh, sambil jalan dia sempat teriak,


"Isi full Mbak!"


Datul melongo, hih keburu ke picirit kali ya?


Datul mencoba membuka tutup itu beberapa kali, susah! Mau minta tolong yang lain juga semua masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Wah supir sialan!


Datul mulai gramyang. Takutnya nanti ada yang nyusul antre, kan jadi repot. Belum selesai membatin, benar saja ada truk masuk, parkir di belakang bus. Datul jadi bingung harus gimana. Masak iya harus nyusul ke bilik toilet laki-laki.


Tot!!!! Tot...!!!!!


Tuh supir truk sudah mulai tidak sabar. Mana klaksonnya keras banget. Bushettt... pantes suaranya menggelegar, corongnya saingan sama toak masjid.


Datul terpaksa mendekat ke arah truk.

__ADS_1


"Pak, tunggu sebentar sopirnya bus lagi eek"


peduli amat, itu alasan yang paling masuk akal. Daripada jujur bilang, nggak bisa buka tutup tangki. Dikira tidak profesional.


"Walah, kog ora parkir nang sisih liyo!" kog nggak parkir di sebelah lainnya.


"Enggak tau Pak, tadi langsung main pergi aja"


Ditunggu beberapa menit lagi kog tambah lama. Masak iya kudu di susul ke toilet. Tanya Datul lagi dalam hati. Datul geram. Setelah menimbang, dia menghentakkan kaki lalu nekat menyusul ke toilet.


Saat akan masuk, pas sekali Pak supir itu keluar dari pintu. Mereka hampir bertabrakan. Datul milih mundur dari pada ketabrak beneran.


"Mbak ngapain?! mau ngintip ya!"


"Eh..." Datul malah memindai Pak supir, lumayan tampan, kulit putih bersih, mata sipit, sepertinya keturunan Tionghoa, masih muda juga ternyata. Mata Datul turun ke bawah dan sialnya Pak supir lupa menutup pintu kandang burungnya.


"Aagggghhhhhh!!!!" Teriak Datul sambil menutupi matanya dengan sepuluh jari. Pak supir jadi bingung lalu berkacak pinggang. Kedua tangannya mangkrik di pinggang siap menelan Datul dengan amarah.


"Heh, heh, heh! malah teriak-teriak! kenapa heh!"


"Pak, tutup dulu itu kandang, burungnya bisa terbang!"


Pak supir langsung tersadar, buru-buru dia tutup pintu kandangnya sampai isinya sempat terjepit sedikit. Pak supir meringis.


"Udah di tutup blom Pak?!" sungguh Datul nanti harus banyak beristighfar karena matanya sudah berdosa.


"udah, udah"


"Yakin Pak?"


"Ngapain saya bohong, dasar kamu"


Datul mengintip dulu, setelah aman dia baru berani menurunkan tangan.


"Pak itu busnya jadi di isi tidak? saya itu nggak bisa buka tutupnya, Bapak main kabur aja"


Pak supir mendesis, sebal di panggil bapak karena usianya tidak setua itu. Belum lagi malu karena tutup kandang yang sempat di lihat Datul.


"Hlah, dari tadi blom di isi?"


"Belum Pak, saya sudah bilang kan, saya tidak bisa buka tutupnya, biasa juga supir lainnya buka sendiri"


Tot!!! Totttttttttt....!!!!

__ADS_1


"Tuh buruan Pak, yang ngantri udah nggak sabar"


Mimpi apa aku semalam, lihat bendulan kayak gitu, untung masih terbungkus, astagfirullah...


Pak supir membuka tutup tangki, baru kemudian Datul bisa melakukan pekerjaannya.


Sambil menunggu tangki penuh. Pak supir itu berdiri di samping Datul. "Kamu jangan ingat-ingat yang tadi, awas saja!"


"Nggak bakal tak ingat Pak, kenangan buruk tadi itu"


"heh, panggil saya Mas, Pak--Pak, emang saya Bapakmu"


Datul terkekeh, bukannya takut di marahi.


"Makanya besok lagi jangan asal nyelonong Pak--- eh Mas"


"Kayak nggak pernah tahu gimana rasanya dapat panggilan alam"


"Hehe... iya kali ini maklum saya. Udah selesai ini Mas. Notanya nanti di gabungin sama yang lain sih ya?"


"Iyalah, Pak Siswo yang urus"


"Beres Mas! jangan lupa di tutup lagi Mas"


Pak supir sontak menunduk, melihat resleting celananya.


"Bukan tutup yang itu maksud saya, tapi tutup tangkinya tuh" Datul geli sendiri. Apalagi Pak supir malah terlihat malu merona. Kikuk juga.


Wakaka... lucu sekali.


Datul pengen ngakak, tapi kog dapat lirikan dari Pak supir. Ihhh... serem!


Tidak ada yang mengira, jika berawal dari tutup kandang burung Pak supir yang terbuka, akan ada kisah di antara mereka berdua.


-


-


-


Mas Hamam terpaksa di Embu dulu biar Mateng😁


To be continue and happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2