
"Hah, aku benci lihat kamu nangis!"
Meskipun terdengar galak, tapi aslinya Mas Hamam kasihan pada Datul. Datul sepertinya butuh waktu untuk menuntaskan emosinya.
Mas Hamam berdecak, "Baiklah, setidaknya kita cari tempat buat kamu puas-puasin nangis"
Mas Hamam menilik jam di pergelangan tangannya. Terhitung sudah hampir satu jam Datul menangis. Untung saja dia menemukan tempat nyaman untuk menunggui Datul. Gadis itu masih terisak di bawah pohon randu yang rindang. Di sebelahnya ada aliran sungai kecil yang cukup bersih. Itu kenapa Mas Hamam bilang tempat itu nyaman, lumayan buat ngadem sambil lihat ikan-ikan kecil di sungai.
"Udahan nangisnya! enggak capek apa?" Datul masih terisak-isak. Tadi di biarkan nangis sepuasnya, sekarang Mas Hamam merasa harus membujuk gadis itu. Sudah satu jam lebih.
"Hemftt... diem, jangan nangis lagi, nanti aku belikan tahu bulat" bujuk Mas Hamam dengan nada lembut.
Datul melirik Mas Hamam, bukan berhenti menangis, malah semakin kencang nangisnya.
"Huuuuaaaaaaaa.... huaaaa...."
Mas Hamam jadi panik. "Eh, kenapa tambah kenceng sih!" takut di lihat orang, terus di kira bertindak senonoh.
"Huaaaa... huaaa....hiks...hiks..."
"Belikan es krim! kog tahu bulat... huhuhuhu... hiks... hiks..."
Mas Hamam tersenyum. Datul lucu kalau nangis sambil ngomong gitu. Merajuk manja tidak apa, asal berhenti menangis. Pikir Mas Hamam lagi.
"Haha... oke aku belikan, asal kamu berhenti nangis. Mau ikut atau tunggu di sini?"
"Sini!" jawab Datul cepat, khas anak kecil merajuk.
"Ya udah tunggu sini..."
Mas Hamam menaiki sepeda motornya lalu menyisir jalan, berharap menemukan Mamamart terdekat. Tapi nihil. Adanya toko jualan pulsa, rumah makan masakan Padang, toko baju, dan toko makanan hewan peliharaan. Masak iya cari es krim di toko terakhir? Ngaco!
Ada satu toko kelontong cukup besar, pun terlihat ada mesin penyimpan es krim. Tapi saat Mas Hamam berhenti di sana. Ternyata mesin penyimpanan itu sedang rusak. Isinya juga kosong. Mas Hamam berdecak jengkel sambil menggerutu.
"Gitu kog ya masih di taruh di depan!"
Mas Hamam lanjut muter lagi, karena frustasi dia bertekad membelikan apa saja, yang penting bisa di makan. Dan Datul berhenti menangis.
****
Maidatul Khan masih duduk di bangku seperti saat Mas Hamam meninggalkannya tadi. Kelihatannya sekarang gadis itu sudah mulai tenang.
"Ambil ini!" Mas Haman mengulurkan sebungkus plastik. Datul menerima dengan pandangan aneh.
"Gorengan?"
"Cuma ada itu, cari es krim udah kayak cari orang jujur, enggak nemu"
Mas Hamam memang di anugerahi keberuntungan. Meski tidak bisa membelikan Datul es krim, nyatanya gadis itu tetap mau membuka buntalan gorengan. Atau mungkin juga Datul lapar, maklum habis menguras air mata.
__ADS_1
Datul mencomot bakwan lalu memakannya bersama cabai setan. Satu gigitan bakwan bisa habis dua sampai tiga cabai. Mas Hamam sampai bergidik ngeri, Datul makan cabai sudah kayak makan Pocky, itu loh biskuit berbentuk stick yang ada coklatnya di ujung.
Mata Datul merah dan bengkak, hasil kerja kerasnya tadi menangis. Sambil ngunyah bakwan, Datul mulai mencurahkan isi hatinya. Padahal tidak usah di ceritakan juga Mas Hamam sudah paham.
"Aku udah habis-habisan sama Mas Ali, makan tiap hari aku kirim. Rokok kalau aku ada uang, pasti aku belikan yang mahal, kalau lagi enggak ada, aku tetep belikan meski yang murah. Dia sambat pinjam uang, aku cari-carikan pinjaman, aku kasih ke dia, enggak berniat minta di balikin. Dia ulang tahun, aku kasih perhatian, aku kasih kado istimewa, dia minta apa aku turuti, aku enggak banyak nuntut, aku ulang tahu enggak di kado apa-apa, aku juga masih maafin..."
"Tapi balasannya seperti ini?" Air mata itu lolos dari pelupuk mata Datul, lagi. Gadis itu lekas menyekanya dengan lengan baju. Tangannya bekas cabai, bisa kepedesan kalau nekat ngucek mata.
Mas Hamam tidak menyahut, cuma mengangsurkan tahu petis untuk di makan Datul lagi. Diam-diam hatinya juga sakit. Datul gadis yang malang. Jarang punya uang, tiap punya pacar selalu jadi pihak yang tersakiti. Di tambah wajah yang berjerawat parah, pasti habis ini Datul jadi jomblo yang mengenaskan lagi. Sungguh Mas Hamam tidak tega.
"Apa aku ini gadis yang buruk? iya kali ya Mas? aku buruk makanya ketemunya cowok brengsek terus?"
Enggak kog, kamu baik. Cuma agak dolop.
"Laki-laki itu yang brengsek!" Mas Hamam tidak mau bilang Datul gadis baik, nanti besar kepala.
"Aku bodoh, jadi mudah di manfaatkan, bener omongan Mas Ali"
"Kalau ini aku setuju, makanya jangan di ulangi"
"Hembbb... tuh Mas Hamam aja setuju"
"Aku bodoh, aku buruk, aku menjijikan, aku enggak pantas dapat laki-laki baik"
"Eeiits! bukan begi-tu... berhenti menilai buruk dirimu sendiri! aku tidak suka!" Ada hati yang terusik ternyata.
"Kenyataannya seperti itu"
"Mas, kamu jadi saksiku sekarang"
"Aku bersumpah tidak akan menikah sampai kapanpun. Lebih baik sendiri daripada harus sakit hati lagi. Aku enggak sanggup!"
Bersamaan dengan sumpah Datul, ada burung terbang melewati mereka.
Tletok!
Burung itu eek sembarangan. Nyaris mengenai kepala Datul. Untungnya tidak kena. Rahang Mas Hamam mengeras. Sefrustasi apapun, mana boleh Datul memutuskan hal gila seperti itu.
"Heh, baru bersumpah saja kamu nyaris di telek i burung. Apalagi kalau beneran enggak mau nikah, kamu mau di kutuk malaikat?"
"Mau enggak jadi umat Nabi lagi?"
"Enggak kasihan sama Bapak kamu?"
"Laki-laki brengsek memang banyak, tapi laki-laki baik juga masih banyak, asal kamu sabar nunggu jodohmu!"
"Enggak, mungkin laki-laki baik memang masih banyak, tapi bukan untuk aku yang hina"
Aku bahkan sudah berciuman dengan Mas Ali. Aku murahan..
__ADS_1
"Jadi menunggu hanya sia-sia. Aku bisa hidup sendiri tanpa laki-laki"
Mas Hamam semakin panik. Pikirannya jadi kemana-mana. Bagaimana kalau setelah ini malah Datul jadi lesbian. Membayangkan Datul jadi perawan tua saja, Mas Hamam tidak tega. Apalagi kalau terjerumus hubungan satu jenis. Dia akan merasa jadi teman yang payah kalau sampai itu terjadi.
"Omong kosong!"
"Aku serius Mas!"
"Kalau begitu jangan! Jangan berpikir hal aneh seperti itu!"
"Terserah aku, Mas Hamam hanya aku minta jadi saksi, kog rempong"
"Aku tidak mau jadi saksi! itu artinya sumpah mu masih bisa di tarik"
"Cepet tarik!"
"Enggak, aku sudah terlanjur sumpah. Dan sampai kapanpun aku tidak akan menarik sumpahku sendiri"
Sepersekian detik tidak ada yang bersuara. Hembusan angin terasa menerpa wajah mereka. Hening sejenak.
"Bagaimana kalau aku bilang, aku mau jadi pacarmu, aku mau kita menikah,"
"Apa kamu masih tetap memutuskan untuk sendiri?"
"Hah, apa?"
"Kamu pernah bilang menyukaiku bukan?"
"Jadi mari kita pacaran saja!"
Datul lupa berkedip, lupa juga bernafas.
Sementara Mas Hamam membatin, kalau di biarkan sendiri kamu drawasi Tulaikhan!
_
_
_
note:
Drawasi itu artinya meresahkan.
Jadi reader, Datul itu apesan apa beruntung?
Wkwkwkkwwk.... mari kita kawal Mas Hamam dan Datul.
Enaknya mereka di nikahin enggak ya?
__ADS_1
jawab di kolom komentar
ππππ€π€