
Hamam terbangun dengan tubuh kaku, serasa baru di gebuki maling. Tidur di lantai tanpa alas dan bantal. Sedangkan tempat tidurnya terlihat tak kalah kacau dengan perasaannya semalam. Hamam menyandarkan kepalanya di tepian ranjangnya. Wajahnya menengadah frustasi. Rasa bersalah itu kembali menyambangi hatinya.
Benar aku yang keterlaluan semalam. Aku akan minta maaf dan memperbaiki semuanya. Datul gadis yang baik, tidak neko-neko. Ucapanku semalam sudah pasti melukai hatinya.
Hamam mencari ponselnya di antara selimut, bantal, dan buku-buku yang berserakan di sekitarnya. Berpikir meminta maaf secepatnya akan lebih baik, bahkan sebelum dia cuci muka dan gosok gigi.
Ketemu! ponselnya masuk ke kolong tempat tidur. Hamam susah payah menggapai benda mati yang amat banyak di cintai orang itu. Hamam berniat mengirimkan pesan. Tapi seketika matanya membulat saat melihat foto profil Maidatul Khan default, alias cuma tampak gambar orang berwarna abu-abu.
Hamam mendengus kesal. Perempuan dan keanekaragamannya memang menyusahkan.
Baiklah masih bisa lewat DM, Hamam beralih ke intagram. Biasanya cewek itu suka sekali memposting fotonya setelah acara istimewa. Tapi acara semalam apa termasuk istimewa bagi Datul? Hamam tidak yakin. Bisa jadi malah malapetaka bagi gadis itu.
Hamam mengulir layar ponselnya lagi. Dan sial, dia tidak bisa menemukan Datul di sana. Di blokir juga ternyata. Alamat harus menemuinya langsung. Hamam membuang ponselnya kasar di atas kasur. Terlalu gengsi untuk memohon maaf.
Dia itu bocil banget ternyata, gitu aja langsung blok! Dasar cewek!
Hamam butuh mandi. Siapa tahu setelah mandi basah, otaknya jadi seger terus kasih ide brilian.
****
Sementara itu di rumah Maidatul Khan.
Sepiring nasi, segelas air putih dan obat bodrex sudah di siapkan Farkhan. Laki-laki paruh baya itu bahkan sudah bolak-balik sebanyak tujuh kali untuk memastikan anak gadisnya sudah minum obat apa belum.
Ini yang kedelapan kali,
"Tul, masih belum di makan juga nasinya?"
"Allah nduk, nasinya sampe garing"
"HmmaiaghghfyahhUahhajJ"
Datul menaikan selimutnya hingga menutupi kepala. Bukan bermaksud membuat bapaknya cemas. Tapi Datul benar-benar tak sanggup untuk sekedar membalas perkataan Farkhan. Pengen menghilang dari dunia ini. Kalau ada imigrasi penduduk ke planet mars, Datul pengen ikut. Di sana mungkin dia bisa jadi yang paling cantik. Cantik di antara alien-alien maksudnya.
"Hemftttt... ya sudah Tul sekarepmu" terserah kamu.
"Bapak goreng kerupuk dulu di belakang,"
__ADS_1
Farkhan keluar dari kamar Datul masih dengan perasaan cemas. Mungkin kalau masih ada ibunya, masih ada tempat untuk bermanja anak semata wayangnya. Sekeras apapun berusaha menggantikan figur yang telah hilang itu, Farkhan tetap tak bisa. Kodratnya sebagai laki-laki membuat dirinya tetap saja kaku jika ingin menunjukkan perhatiannya sebagai seorang ayah.
Kepala Datul semakin berat dan pusing. Kalau tidak merasa ingin buang hajat, dia malas sekali bangun. Datul meringis saat mengangkat kepalanya.
Sakit banget, hiks,....
Datul berjalan gentuyuran, tangannya merembet memegang tembok dan berjalan tertatih layaknya orang yang sekarat. Toilet yang berjarak hanya berapa meter itupun terasa jauhh sekali.
Haduuuhhhh... kebelet tolong....!
Baru satu kakinya yang menapak di lantai toilet, Datul sudah tidak tahun. Cairan bening berbau pesing itu sudah merembes di panties Datul. Datul ngeser, pipis di celana. Ini akan jadi rahasia yang bakal Datul simpan sendiri seumur hidup. Meski tidak tahu dengan persis berapa harga dress yang di belikan Hamam ini, tapi Datul yakin ini bukan baju serba tiga puluh lima ribu yang dijual obral.
Datul mencampakkan dress itu dan membersihkan diri. Semoga saja tidak tumbang di dalam toilet. Kalau sampai tepar di sana, Datul yakin tidak akan ada yang menolongnya. Bapaknya sibuk mengoreng kerupuk di dapur kotor belakang rumah. Kalau sudah fokus, Farkhan bahkan bisa melupakan dunia dan seisinya.
Datul meringis menahan sakit, ternyata selain ngompol dia juga berdarah-darah. Lengkap sudah penderitaannya. Datul tidak mandi, hanya cuci muka dan membersihkan bagian itu. Selesai, dia berjalan rambatan lagi balik kekamar.
Datul duduk terpekur di tepian ranjang. Kata-kata Hamam entah mengapa tetap terngiang berulang-ulang seperti kaset rusak yang terus berputar. Datul meneteskan air mata lagi. Lama memendam rasa, belum sempat mengutarakan, tapi justru sudah tersakiti seperti ini.
Pandangan Datul beralih di meja nakas tempat bapaknya meletakkan nasi dan segelas air putih. Dia butuh makan lalu meminum obat murah yang di belikan bapaknya di warung. Tidak ada orang yang bisa di sambati. Begini saja sudah merepotkan bapaknya. Cukup! batin Datul.
Di pangkunya piring itu, lalu Datul menyendok sesuap nasi yang mengering karena sudah berjam-jam yang lalu dia abaikan. Datul mengunyah nasi garing itu dengan perasaan sakit dan otot perut yang mulai meremas.
Makan sambil menangis. Tidak ada indikator yang lebih menyakitkan melebehi ini. Ibarat kata, hidup segan matipun enggan.
Di luar rumah Datul, Hamam sudah kelinteran. Berharap melihat Datul lalu pura-pura tidak sengaja bertemu. Lalu meminta maaf dan mereka bisa berteman lagi seperti kemarin.
Hih, tidak semudah itu Naruto!
Untuk mengetuk pintu rumah Datul dan bertamu saja Hamam gengsi setengah mati. Jangan harap bertemu Datul di luar, jalankan keluar rumah, orangnya saja sedang merana di dalam kamar.
Hamam sudah mirip orang bodoh. Di tendangnya batu kerikil yang dari tadi melet-melet seperti mengejek dirinya.
"Aduhhhhh!"
Hamam tidak menyangka kerikil itu mengenai kaki seseorang. Orang itu mendelik dan siap mencak-mencak. Hamam memilih kabur lari terbirit-birit. Terlebih orang itu si ulet keket. Mending kabur.
"Mas Hamam! kudu tanggung jawab pokoknya!" teriak Ella sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
"Bodo amat! ga sengaja sori!" balas Hamam sambil berlari dengan nafas putus-putus.
"Sial emang!"
Tiap ke rumah Datul, kenapa sih malah ketemunya ulet keket! Males!
Hamam berkacak pinggang setelah sampai di halaman rumahnya. Dia berjalan mendekati kandang burung yang beberapa hari ini tercampakan karena kesibukannya sendiri.
"Ikut lomba lagi kali ya, terus dapat uang buuuanyak aku kasihkan semua ke Datul, sebagai permintaan maaf!" Hamam bermonolog.
"Eh, tapi tidak. Nanti dia tersingung lagi, di kira harga dirinya mudah di beli dengan uang"
"Ya meski aku tahu dia suka sekali dengan uang. Tapi tidak!" Hamam geleng-geleng sendiri.
"Bagi ide dong rung burung!"
"Kurrr... kuk... kurrrr...kuk!" jawab burung merpati balap milik Hamam. Pemiliknya mana paham dia ngomong apa.
"Ngomong apa sih kamu! yang jelas dong!"
"Kurrrr... kuk...kurrr...kuk!" Ulang si burung merpati. Hamam melotot ketika imaginasinya mampu menangkap burung itu bicara.
"Kurrrja... kurrrrja...kurjak"
"Ahay! betul sekali, Kerja, Datul pasti senang kalau mendapatkan pekerjaan"
"Ughhhh... burung kamu memang pintar!"
"Nanti tak belikan pakan jagung yang banyak- banyak"
Hamam bersiul-siul setelah menemukan ide cerdas itu. Dengan alasan ada lowongan pekerjaan, dia bisa menemui Datul. Saatnya mengepakkan sayapnya, menhubungi teman, saudara, deretan mantan, untuk mencari info loker terbaru. Siapa tahu mereka bisa bantu, zaman now relasi itu penting. Masa bodohlah jika di sebut KKN. Toh korupsi, kolusi, nepotisme sudah biasa juga kan di negara kita tercinta ini.
_
_
_
__ADS_1
Bagi info loker dong lur? yang gajinya banyak lgsg bisa bikin orang cepat kaya gitu😚