Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 27: NYOKLAT


__ADS_3

Sesampainya di sana, Datul memilih meja pojok agar tidak terlalu terekspos mata lain seperti biasa. Namun lagi-lagi beda cerita kalau di depannya sekarang duduk laki-laki tampan yang menyilaukan mata.


Datul benci di lirik orang lain seperti barusan. Meja sebelah, dua orang gadis terlihat curi-curi pandang melirik Hamam, lalu beralih ke Datul, seperti menimbang jika Datul sama sekali tak pantas berada di sana.


Datul memilih menunduk dan merapikan maskernya sekali lagi. Belum juga meminum es coklat miliknya, Datul sudah kena mental.


Harusnya tadi di bungkus saja. Gumam Datul dalam hati.


"Wajahmu sudah baikkan?"


"Eh... ya beginilah... masih harus sabar yang panjang..." Datul menunduk lebih dalam. Malu pada Hamam, karena sekilas pria tampan berwajah licin itu menelisik wajah Datul cukup dalam.


"Yang rutin pakai krim, kalau habis tinggal bilang nanti aku bayarin lagi"


"Mas Hamam kog baik sih sama aku?"


Hamam menyedot es di gelasnya lalu mencibir.


"Kapan aku ga baik? aku ini memang baik hati asal kamu tahu"


Datul manggut-manggut. Selama dekat dengan Hamam, pria itu memang malaikat bagi Datul. Tidak malu berteman dengan Datul yang-- enggak banget. Dan sikap royalnya itu hlo, Datul suka. Ga pernah pelit kalau masalah tenggorokan dan perut. Ga pernah Datul kehausan apalagi kelaparan selama sama Mas Hamam. Idaman memang Mas Hamam ini.


"Makasih ya Mas, makasih karena udah bantu ngelawan antagonis, aku jadi ga capek harus teriak kalau aku di fitnah"


"Antagonis? Ella?" Datul mengangguk.


"Aku emang dari awal ga respect sama bocah itu, cantik engga, kemayu iya"


Sungguh terlalu Mas Hamam ini, ternyata julid juga. Datul tersenyum geli di balik masker. Ah kapan Datul bisa leluasa tersenyum, pengen pamer bibir seksoi asli. Diam-diam Datul ini membanggakan bibirnya yang tebal berisi. Tapi gegara jerawat di sekitar area sana, tentu saja Datul memilih menutupinya.


"Kalau aku?" Tiba-tiba Datul pengen tau aja penilaian Hamam pada dirinya.


"Eummm..." Hamam berpikir keras, lalu bercelatuk. "Kamu lagi ga pengen di puji kan?"


"Dih, serius nanya! menurut Mas Hamam aku bagaimana?"


"Ehem, maksudnya jangan bahas fisik, kalau itu aku bisa tanya kaca, maksudku aku ini orang yang bagaimana menurut Mas Hamam?"


"Hmmm... aneh, kadang-kadang lucu, lebihnya apa ya?" Hamam mikir-mikir lagi.


Aneh? Lucu? memangnya aku ini apa? tahu bulat yang udah kempes karena adem?


"Oh ya, kadang wajah mu itu terlihat menyedihkan sekali, seperti lelah habis memikul dunia, jadi aku banyak kasihan sama kamu"


Kan, kan, kampretnya Mas Hamam keluar!


Datul cemberut. Semenyedihkan itukah dirinya Gusti? Gusti Allah, bukan Gustinya Alya ya.


"Kalau itu jelas, aku ini jarang punya uang Mas, jadi sedih teros bawaannya, coba kalau uangku buanyak pasti aku banyak senyum"


Hamam mesem. "Mata duitan, dasar! Hahaha..."


Duh, Datul meleleh ini. Mas Hamam dan cara tertawanya itu hlo, gurih-gurih micin. Sedap!

__ADS_1


"Oh ya Mas, aku ngerasa hutang budi banget nih sama Mas Hamam, btw acara kondangan gimana?"


Datul meringis karena merasa salah bertanya. Duh mulut! Kalau di suruh bujuk Ativa lagi ya repot. Harusnya tadi Datul ga tanya itu, Mas Hamam kayak yang udah lupa terus di ingetin kalau ini mah.


"Huh! ga usah datanglah gampang, biarin juga dianggap pecundang"


"Eh... mana boleh, Mas Hamam itu bukan pecundang enak saja!" sambar Datul.


Hamam mengernyitkan dahi heran. Kog Datul yang ga terima?


Datul buru-buru menginterupsi begitu sadar sikapnya aneh barusan. "Maksudnya, Mas Hamam bisa datang dengan gadis lain kan?"


"Atau Mas Hamam mau aku temani?"


Krik, Krik, Krik!


Jangkrik lewat!


Datul menelungkupkan wajahnya di meja. Ingin rasanya sekalian jedor-jedorin kepala. Tawaran macam apa itu!


Mas Hamam ingin mengajak Ativa tentu saja untuk di pamerkan pada teman-temannya. Ativa cantik, kalem, menyejukan di pandang. Sedangkan Datul? Yang ada nanti Mas Hamam di hina teman-temannya karena di kira bawa boneka mampang.


Tepat dugaan Datul, Hamam hanya meringis. Mau menolak langsung mungkin juga tak enak hati. Beberapa detik berlalu begitu canggung.


"Ahgggg... itu, terimakasih tawarannya tapi sepertinya--..."


Brakkkk!


Datul bangkit tiba-tiba dari duduknya. Hingga kursi yang dia duduki terjengkang kebelakang.


Perasaan ini, ah sial aku jadi pengen nangis, semakin kesini rasanya aku terlalu berharap banyak sama Mas Hamam... aku malu...


"Datul tunggu, kamu bahkan belum minum sama sekali heh!"


Datul sudah tidak peduli. Dalam pikirannya dia harus segera meninggalkan tempat itu. Jangan sampai dia menangis di sana. Dua gadis meja sebelah lagi-lagi curi pandang.


Hamam tertinggal mengejar Datul karena harus mengantri membayar tagihan minum mereka di kasir. Sedangkan di luar Datul sudah mengayuh sepedanya sekuat tenaga.


Tahan, jangan sampai aku nangis sambil ngayuh sepeda kayak gini, bakal di lihat orang, ga keren yang ada malu-maluin...


Datul mengerahkan semua tenaganya, entah mengapa bukan semakin cepat laju sepeda itu, malah terasa berat dan melambat. Apa bentuk roda sepeda Datul tiba-tiba jadi kotak?


"Datul woi!!!!!"


Datul menengok kebelakang, Hamam hampir menyusulnya. Datul harus lebih cepat. Tapi kenapa sepedanya terasa semakin berat. Rasanya Datul ingin menabrakkan diri saja kalau begini.


"DATUL MENTUL-MENTUL!"


"Mas kamu ngapain ngejar aku hah! Awas!"


Datul masih kekeh tidak mau berhenti. Terpaksa Hamam menjajari laju sepeda Datul, padahal aslinya bahaya juga, mengingat jalan yang mereka lalui tak begitu lebar. Kalau ada mobil lewat dari arah berlawanan mungkin Hamam akan terserempet. Nafas Hamam masih tersengal-sengal karena ngebut tadi.


"Huuuuhhhh... kamu kenapa hah!? berhenti dulu aku bilang!"

__ADS_1


"GA MAU!"


"Datul! ban kamu bocor astaga! bisa rusak itu!"


"Biarin!"


"Datul jangan bodoh, kalau gembos bisa di tambal, tapi kalau sobek harus ganti ban, nanti kamu sambat ga punya uang lagi, berhenti!"


Kalau bicara itung-itungan uang, Datul baru sadar. Ya Tuhan, benar juga...


Terpaksa Datul berhenti. Dia pun semakin membenci dirinya sendiri. Payah, tak berguna, mengenaskan, apes melulu. Begini banget ya hidup Datul. Mau arogan sedikit saja kog ga bisa.


"Nah gitu dong! Huh, haus lagi jadinya gara-gara ngejar kamu!"


Datul menunduk seakan sedang menghitung lembaran rumput teki di bawah kakinya.


"Heh, Maidatul Khan, kamu itu kenapa sih? tiba-tiba kayak orang kesurupan, udah gitu tadi udah di belikan minum juga ga di minum sama sekali, bener aku bilang kamu itu gadis yang aneh!!" Hamam berkacak pinggang. Nada bicaranya juga terdengar galak.


"Memang kalau aku aneh kenapa? aku ga minta kamu ngejar aku sampai sini! aku sudah bilang mau pulang, kenapa kamu yang ribut!"


"Tadi seneng sekarang marah-marah, kamu tuh aneh tahu!?"


"IYA, IYA, AKU ANEH, TERUS KENAPA?" Datul sudah brambang mau nangis. Untungnya mereka berada di jalan tepi sawah. Jadi tidak begitu ramai orang lewat.


Hamam menghela nafas, setelah berpikir sat set tadi, ternyata memang dirinya keterlaluan jika menolak tawaran Datul. Pasti gadis itu tersinggung. Hamam jadi tidak tega.


"Kamu mau nemenin aku datang ke pesta pernikahan temanku? kalau mau aku jemput Sabtu sore besok!"


"Hah???" sekarang Datul yang melongo. Seperti tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kamu dengar ya, besok sabtu temani aku datang ke pesta pernikahan temanku, oke?"


"Ga, ga bisa! tadi aku cuma asal ngomong"


"Ga ada penolakan, kamu ikut atau kita ga usah temanan lagi!" Ancaman yang mengerikan.


"Terserah!" Datul udah ga bisa mikir. Ruwet! Pakai di ancam pula.


"Tinggal manut aja sih kamu, tukeran sepeda gih, biar aku yang dorong sepeda kamu"


"Ini tambal ban sebelah mana?" Kebaikan berikutnya yang bikin dada Datul berdesir-desir nyes.


"Ujung sana kayaknya ada"


"Hah, jauh juga ternyata"


"Maidatul Khan, kamu memang selalu merepotkan!"


Datul menekuk bibirnya cemberut, meski begitu dia terharu dengan kebaikan Hamam. Ga jadi nangis deh.


_


_

__ADS_1


_


Semoga kalian masih betah ya sama kisahnya Datul mentul-mentul. Tolong bagikan kisah ini sama keluarga, teman, tetangga, atau selingkuhan kalian ya... mksh... matur nuwun 😋


__ADS_2