Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 59: Konyol


__ADS_3

Mungkin ini yang kedua kalinya Datul membuat mata Pak Farkhan berkaca-kaca karena terharu. Pertama saat dirinya mendapat pekerjaan di SPBU dan hari ini saat satu buah motor masih terbungkus plastik bening itu nangkring di ruang tamu rumah mereka.


"Bapak bangga dengan kamu Tul"


Astaga, padahal Datul hanya beli motor baru, belum mengharumkan nama bangsa, itu pun juga masih nyicil bayarnya. Tapi sang ayah sudah mengatakan hal yang terlalu dramatis bagi Datul. Batin Datul jadi tersentil. Betapa dia jadi anak tak berguna selama ini.


"Besok bikin nasi bancaan Tul, bagi ke tetangga"


"Tapi besok Datul masih kerja Pak"


"Oh iya ding," Pak Farkhan diam seperti berpikir barang sedetik.


"kalau begitu nanti pesen aja ke Mbak Minem"


Mbak Minem yang jualan es di samping rumah Datul. Ah Datul lupa, di sana memang terima pesanan juga.


"Boleh Pak, nanti Datul itung dulu tetangga kita ada berapa"


"Pokoknya bancaan dari ujung gang sampai ujung gang barat sana harus di kasih semua Tul"


Datul meringis. Bapak tidak tahu aja uangku tinggal berapa lembar di dompet. Boleh enggak sih yang di kasih bancaan tetangga yang baik aja, yang suka julidun di skip. Hihi... yang ada nanti Bapak malah ceramah. Auto cari utangan nih.


***


Esoknya sore, Datul membagikan nasi gudangan sebagai tradisi bancaan di kampungnya itu. Konon katanya kalau belum di bancaa'i saat beli motor baru, bisa-bisa bakal celaka atau minimal jatuh terus motornya lecet. Padahal kalau sudah takdirnya jatuh ya jatuh. Tapi tak apa, namanya tradisi baik, anggap sedekah, nanti kalau tidak di jalani malah di ghibahin tetangga, kan jadi enggak enak di telinga.


"Wah Mbak Datul motornya baru cie... kapan-kapan bonceng lah Mbak"


Itu Zida sepupu Datul yang baik hati dan tidak ompong. Giginya putih meski kulitnya dekil. Datul nyengir sampai matanya segaris.


"Udah berani ketemu malaikat Izrail emang?"


Zida mengeplak bahu Datul. "Sembarangan kalo ngomong ih Mbak"


"Hahaha... habisnya, aku aja naik motor masih amatiran,"


Datul berhenti tertawa saat satu sepupunya yang lain mendekat. Masih ingat Ella uler keket? Dia orangnya.


"Duh bahagianya yang udah bisa kredit motor"


"Merek itu sih kalau aku enggak level ya... tapi cocok kalau Mbak Datul yang beli, murahan sih"


"Dih Mbak Ella, syirik kali ya... syirik bos?! bilang dong.... papale, papale paaaleeee..."


Datul biarkan saja Zida dan Ella jambak-jambakan. Terlalu melelahkan kalau meladeni mulut Ella. Datul pulang kerja langsung bagi-bagi nasi bungkus. Belum sempat mengisi perut atau pun barang meluruskan kakinya untuk istirahat.


Huffftttttt... ada yang bilang, orang sabar pantatnya lebar. Oke Datul terima, pantat lebar malah bahenol. Hihihi....


****


Harus banyak praktek di jalan. Minimal jalan gang kampung.


Datul mengingat pesan dari maha tutornya. Hamam Amirul Mukminin. Jadi sekarang dia ceritanya mau beli pembalut di warung. Karena mau uji coba naik motor, alhasil dia cari warung yang agak jauhan sedikit. Di gang perumahan sebelah.


"DATUL!"


Panggil salah satu tetangga gadis itu. Datul tidak berani menoleh barang sedetik. Takut oleng terus terperosok ke selokan. Biarin deh dianggap sombong. Nyatanya dia sendiri merasa kayak babi kopet yang enggak bisa nengok kebelakang pas jalan.


Sementara itu Mas Hamam sedang sibuk di puskesmas tempat dia melakukan penelitian. Agenda hari ini adalah membagi angket pertanyaan seputar pelayanan kesehatan masyarakat secara umum. Harusnya dia sudah selesai dengan datanya satu itu. Tapi karena yang kemarin jawaban responden banyak yang kosong, terpaksa Mas Hamam mengulangi lagi dari awal.


Ponsel Mas Hamam di saku terasa bergetar. Dia berhenti membagikan lembaran kertas itu lalu berjalan menjauh, cari tempat agak pojok agar tidak menggangu yang lain. Apalagi pengeras suara berkali-kali terdengar mendengung di telinga, saat petugas pendaftaran memanggil nama pasien selanjutnya.


"Hiya Hallo..."


"Apa? nyerempet orang?"


"Kog bisa?"

__ADS_1


"Oke, aku ke sana langsung, di perumahan dekat kampung kita kan?"


"Oke, oke gang Sadewa"


Mas Hamam tergesa-gesa meninggalkan pusat kesehatan masyarakat itu. Itu telfon dari Datul. Gadis itu terdengar panik luar biasa. Mas Hamam yang merasa jadi maha guru Datul mau tak mau tanggung jawab terhadap anak didiknya yang dia anggap bodoh.


Dua puluh menit kemudian, Mas Hamam menemukan Datul yang duduk nglemprak di tanah. Gadis itu terlihat kacau. Celana selututnya kotor ada noda tanah. Kakinya selonjor dengan sandal jepit putus satu. Di atas pelipis kiri Datul juga terpasang plester. Mas Hamam masih rancau. Sedangkan di sampingnya ada bapak tua yang rambutnya full beruban. Lalu dimana orang yang di serempet Datul? Apa Datul yang malah terluka karena jatuh?


"Astaga Datul, motor kamu baik-baik aja kan?"


"Ada yang lecet enggak motornya?"


Bukan marah karena yang di tanyakan duluan malah motornya, Datul malah bersungut-sungut. "Yah Mas Alhamdulillah banget motornya enggak kenapa-kenapa, aku tadi juga deg-degan takut motornya lecet, belum juga mulai nyicil"


Mereka cocok dalam hal ini.


"Terus mana orang yang kamu serempet? udah di bawa ke rumah sakit?" Datul belum sempat menjawab apalagi mendongeng.


"Khem...! Mas, saya orangnya yang di serempet Mbaknya ini"


"Eh..." Hamam tercekat. Bapak tua full uban seterong sekali, malahan lebih ancur Datul.


Karena sudah tua Mas Hamam mengoreksi panggilannya. "Mbah, apanya yang sakit? ada yang lecet? atau tulangnya retak?"


"Endak, ndak! saya baik-baik saja kog. Justru Mbaknya yang terluka kayaknya, coba Mas cek dulu dia" Mbah tua terlihat khawatir pada Datul.


Ini Mas Hamam tambah bingung, yang nyerempet siapa, korbannya siapa? Absurd semua. "Beneran Mbah enggak kenapa-kenapa?"


"Saya sudah bilang endak popo, cuma agak kaget tadi"


"Oh... Mbah saya minta maaf atas kesalahan teman saya ini, dia ceroboh, barangkali Mbah mau di antar pulang, biar saya antar ayok"


"Mbah rumahe wong situ tok le, udah Mbah mau pipis ini, kamu urus dia, dari tadi ndak mau bangun"


Mas Hamam segera mengeluarkan dompetnya. Menarik satu lembar uang merah dari sana. "Mbah, ini tali asih buat pijat barangkali ada yang sakit kakinya atau tangannya mungkin"


Tapi kenyataannya di terima juga uang itu. Mbahnya pinter basa-basi euyyy. Mas Hamam ikhlas kog suwer! uang segitu masih sedikit di banding Datul nanti di laporkan polisi jika korban tidak terima.


"Mbah, saya minta maaf sekali lagi" ucap Datul masih di posisi yang sama.


Mbah tua yang sudah mengantongi uang merah merasa jadi orang muda. "Endak apa nok, besok lewat sini lagi ya... hehe..."


Rejeki memang tidak pernah tertukar. Mayan seratus ribu bisa buat beli kopi sebulan.


Lalu Mbah tua melenggang meninggalkan Mas Hamam dan Datul yang melongo dengan mulut terbuka. Untung pas ada lalat lewat mereka sudah mingkem.


"Udah Tul, kamu sampai kapan mau ngesot di situ hah? heran aku!"


Datul malah meremas perutnya sambil meringis. Dari selah kakinya dia melihat darah segar yang mengalir. Mas Hamam terbelalak.


"Datul kamu kenapa? kenapa ada darah di situ?"


"Mana, mana yang sakit? kamu bisa gerakin kakimu kan? coba di gerakin!" Suara Mas Hamam terdengar panik. Takut kalau kaki Datul ada yang patah.


"Hushh! diem Mas! aku enggak kenapa-kenapa, cuma aku enggak bisa berdiri sekarang"


"Aku bantu berdiri atau aku gendong kita ke rumah sakit sekarang!"


"Tahu gini tadi uangnya mending buat kamu berobat,"


"Dih perhitungan. Orang udah di kasih ke bapaknya"


"Sebel aja, Mbah tadi malah kegirangan gitu mana berharap besok di serempet kamu lagi"


Datul meringis lagi saat perutnya terasa di remas. "Mas... auchhhhh... syakittt!"


Mas Hamam sudah berjongkok, "Ayo biar aku gendong"

__ADS_1


"Enggak, sebenernya aku..."


"Aku--"


"Kamu kenapa?"


"Sebenernya ini bukan darah luka,"


"Tapi darah menstruasi, hehe... aku bocor Mas, tadi rencana emang mau beli pampers"


Mas Hamam terjengkang. Setengah mati dia khawatir. Datul ini ngeprank atau bagaimana sih.


"Astaghfirullah, ampuni dosa hamba mu ini ya Allah,"


"Heh, Datul mentul-mentul! kebangetan, aku sudah jantungan dari tadi, ternyata malah idih-idih darah kotor, ckk!"


"Ya maap"


"Kalau begitu buruan bangun, kenapa juga pelipis kamu itu?"


"Kalau ini bekas jerawat meletus tadi malam Mas," enteng banget Datul ngomong, padahal di pikir Mas Hamam Datul pelipisnya nyium aspal.


"Mas aku T, malu berdiri, malu di lihat orang"


"Apalagi itu T? ngomong yang jelas, kamu sudah bikin aku tombok 100k"


"Tembus! gitu aja mikir!"


"Ya udah berdiri cepet!"


Datul kepayahan berdiri, selain perutnya kram di hari pertama kayak gini, dia juga risih sendiri. Tidak tahu celananya bentuk gimana, kebol-kebol kayak duduk di eek kocing mungkin.


Tanpa Datul prediksi, Mas Hamam melepaskan hoodie coklat yang baru kali ini Datul lihat di pakai Mas Hamam. Lalu dengan telaten mengikatkan hoodie itu di sekeliling pinggul Datul.


"Eh Mas, nanti kotor ini" Datul mleoot lagi.


"Udah enggak usah bawel. Yang penting ketutup dulu, lagian kamu ini mens apa keguguran sih! bisa deres gini sampai luber-luber"


"Mulutnya Mas! di hamili kamu aja aku belum pernah kog, malah dituduh keguguran"


"Mulutmu Tul!"


"Hahahaha..."


Lalu mereka tertawa bareng. Mas Hamam memapah Datul jalan ke motornya. Dia akan mengantarkan Datul pulang dulu bersama motornya, sedangkan motor keren milik Mas Hamam di taruh di tepi jalan gitu aja. Aman.


"Makasih Mas Hamam, kamu terbaik!"


"Jangan kapok naik motor!"


"Enggak akan kapok, lagian harusnya aku enggak jatoh tadi, kemarin kan sudah bancaan"


"Hilih, nasibmu aja yang selalu buruk!" ejek Mas Hamam. Datul mencibir dalam hati.


Iya dulu aku merasa seperti itu, tapi semenjak mengenal Mas Hamam, sepertinya tidak lagi. Mas Hamam memang keberuntungan ku.


"Makasih ya Mas, hoodienya aku kembalikan besok kalau udah tak cuci"


"Enggak usah di kembalikan, meski itu baru aku beli Minggu lalu,"


Tuh Datul beruntung lagi.


_


_


_

__ADS_1


Kayak biasa👍


__ADS_2