Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 33: Poor Datul


__ADS_3

Hamam tercenung di dalam kamarnya yang gelap gulita. Sengaja dia tidak menyalakan lampu kamarnya. Pikirannya kalut, mengingat sepanjang perjalanan pulang tadi, Datul duduk memunggunginya dengan isak tangis.


Gadis itu bahkan turun dengan tergesa dari mobilnya. Tanpa sepatah katapun. Hamam menyesal sekarang. Ternyata tadi dirinya memang keterlaluan.


Agggrrhhhh!!!


Hamam mengerang frustasi. Seprai yang tadi rapi membungkus tempat tidur pun kena amuk hingga berserakan. Dia pun bingung kenapa marah hanya karena melihat Datul dekat dengan teman-temannya.


Perasaan apa ini? apa aku cemburu?


Hah, gila apa aku, ga mungkin aku cemburu pada Datul, memang dia siapa!


Tapi Datul menangis sampai terisak seperti tadi, aku melukainya...


Harusnya dia memarahiku, minimal menampar pipiku, dia selalu bodoh, bisanya cuma nangis saja... ya dia bodoh, Maidatul memang gadis bodoh


Hamam luruh duduk di lantai, menekuk lutut, lalu menenggelamkan wajahnya di sana. Merasa buruk menjadi laki-laki karena menyakiti hati teman dekatnya. Datul gadis yang polos dan mengenaskan, Hamam tahu itu. Di saat gadis seusianya bisa hangout di cafe-cafe dan berselfi ria, Datul hanya bermimpi bisa membeli ayam KFD seember.


Bukan salah Datul jika dia bergabung dengan teman-temannya. Jelas Hamam yang mengabaikan gadis itu. Membiarkan Dila mendominasi dirinya. Lantas malah dia marah-marah tidak jelas.


Sekarang kepala Hamam pening. Hubungan pertemanan antara dia dan Datul mustahil bisa seperti dulu. Datul pasti membencinya. Pasti sangat membencinya. Harusnya Hamam biarkan saja Tomi berdansa dengan Datul, toh mereka kesana hanya niat pura-pura. Tapi, itu sama saja melukai harga dirinya.


Aghhhhhhrrrrrrr!!!!!


Hamam berteriak. Otot-otot di lehernya sampai terlihat. Mungkin jika nekat lebih keras, otot-otot lehernya akan putus. Hamam menendang apa saja yang ada di hadapannya. Kursi, speaker, bantal, buku-buku tebal bahkan berserakan di lantai sekarang. Kamarnya berubah jadi kapal pecah.


Perasaan apa ini? kenapa aku merasa, dadaku sakit, dan kepalaku hampir meledak!


"Shiiiitttt!"


Bukan doa sebelum tidur yang Hamam ucapkan, melainkan umpatan-umpatan kasar, sebelum akhirnya matanya tertutup. Hamam tertidur di lantai.


***

__ADS_1


Sementara gadis malang yang memiliki wajah penuh jerawat itu, meringkuk di tempat tidurnya. Tak kalah kacau dari Hamam. Maidatul Khan bahkan semakin terisak di tengah sepinya malam.


Andai ada orang yang mendengar. Mungkin tangisan gadis itu bakal di kira tangisan Miss Kunti yang putus cinta dari Mister Pocong. Sayangnya ayah Datul sudah terbuai dengan alam mimpinya. Sehingga tidak tahu jika anak gadisnya sedang merana.


Datul kesepian, benar-benar kesepian. Tidak ada teman sebagi tempat berbagi. Maktun lama tak menghubunginya karena sibuk bekerja. Dia pun tak enak jika harus mengganggu temannya itu.


Mas Hamam benar-benar tega. Dia yang aku kira malaikat, pahlawanku, ternyata memiliki sisi yang begitu mengerikan.


Seburuk itu aku di matanya? hanya karena aku berusaha baik-baik saja di sana, lantas aku tak pantas hanya untuk tersenyum?


Apa aku harus terus mengemis untuk bisa bahagia? apa gadis berjerawat, jelek, burik seperti aku, tidak pantas sedikittttt saja bahagia?


Hah? hiks... hiks...hiks...


Mulai malam ini, aku bersumpah tidak akan lagi menyukai laki-laki itu. Aku akan mengubur perasaanku dalam-dalam. Aku akan membencinya seumur hidupku! Aku benci dia! Aku benci dia!


"Huaaaaaaaaaa...."


"Aku benci dia!"


Datul masih menangis hingga kantuk menyapa. Sebelum benar-benar kesadarannya menghilang, dia berharap mati saja. Ogah bangun jika besok di beri kesempatan membuka mata.


***


Subuh sekali Farhan terbangun untuk menunaikan kewajiban. Sebelum pergi keluar menuju mushola yang tak jauh dari rumahnya, Farhan melongok kamar Datul. Farhan mengelus dada saat melihat anak gadisnya yang begitu berantakan.


"Astaghfirullah, Datul kamu kenapa?"


"Tadi malam pulang jam berapa?"


Tak ada sahutan. Menggeliat pun tidak. Farhan jelas khawatir. Kebiasaan anak gadisnya sebelum tidur selalu rapi. Ke toilet, membersihkan wajah, memakai krim malam, memakai autan juga. Bahkan Datul selalu menyeblak i kasurnya sebelum berbaring.


Apa yang Farhan lihat subuh ini jauh dari kata itu.

__ADS_1


Apa yang terjadi? batin Farhan sebelum memilih pergi ke mushola cepat-cepat.


Hari itu Datul melewatkan subuhnya. Matanya masih lengket. Bisa di pastikan juga bengkak dan berlodok. Datul merasa seluruh tubuhnya kesakitan. Dia tak sanggup bangun. Sedasyat ini kata-kata Hamam melukainya. Keputusan untuk memblokir nomor dan semua akun medsos Hamam sudah tepat tadi malam.


Dulu kita tidak pernah dekat, sebelum ini, kalaupun harus tidak mengenalmu lagi, aku yakin masih bisa hidup.


Datul semakin tersiksa, tubuhnya terasa panas. Begitu juga wajahnya. Datul stres berat sehingga tanaman jerawat mulai merintis di seluruh wajahnya. Salahnya juga semalam tidak membersihkan wajahnya sama sekali.


Biarkan saja aku mati. Aku tunggu saja kedatangan malaikat pencabut nyawa.


Datul masih memejamkan mata. Sama sekali tak ingin bangun meski perutnya mulai lapar. Perih.


Farhan melongok anak gadisnya lagi.


"Tul mbok bangun, makan sek, Bapak tadi beli sayur di pasar sama ikan munjahir"


"Sarapan, tidur lagi kalau sudah isi perut dulu"


Datul masih terpejam, dari sela matanya keluar air mata. Farhan tak tega. Dia menyentuh dahi Datul berniat menenangkan.


"Haduh, kamu demam. Kenapa tidak bilang Bapak kalau kamu tak enak badan"


"Tak belikan obat dulu di warung, kamu bangun Tul, jangan bikin Bapak cemas"


"Nanti aku bangun kalau sudah mau bangun Pak" lirih Datul.


Poor Datul😭


Sampai jatuh sakit begitu.


_


_

__ADS_1


_


Man teman, aku lagi berusaha untuk rajin update, kalian rajin komen dan bagi hadiah ya😚


__ADS_2