
Sapa hai dulu sebelum kita berpisah 🤗
Happy reading 🥰
"Ibu, sudah aku bilang rambutku bersih, mana ada kutu?"
"Anak nakal, kalau tidak ada kutu, kenapa kamu suka garuk-garuk rambut?"
Datul duduk di bawah kaki ibunya, sementara kepalanya sedang di jajah sang ibu mencari hewan parasit yang hobi menempel di rambut kepala. Angin yang sejuk, di bawah pohon yang rindang. Tak jauh dari tempat mereka, ada danau yang berair biru. Airnya biru bening dan tenang, pasti menyegarkan jika berenang di sana.
Karena hembusan angin dan belaian tangan ibunya, Datul lama-lama mengantuk. Terasa menyenangkan berada di apitan kaki ibunya. Tempat yang indah ini, harusnya lebih cocok di buat piknik, ini malah mencari kutu rambut.
"Palingan ketombe, aku rasa..." Meski begitu sang ibu tetap membolak-balik rambut Datul. Dari ujung depan, samping kanan dan kiri. Memang ibunya pikir Datul anak SD yang kaya kutu. Huh, Datul bahkan sudah dewasa sekarang.
"Makanya kamu rajin keramas, jangan jorok! Kebiasaan keramas dua Minggu sekali!" Ibu Datul masih mengomel.
"Iya ibu, sekarang kita sudahi ya acara cari kutunya. Aku kepengen cari bunga lagi di ujung sana"
Datul sangat senang tinggal bersama ibunya. Awalnya dia asing dengan tempat ini. Tapi setelah beberapa bulan malah betah. Dia merasa menjadi peri bunga. Hidup di bukit yang di penuhi bunga-bunga indah dan harum. Bebas memetik bunga kapanpun dia mau. Bahkan kupu-kupu yang sulit di temukan di dunianya dulu, di sini bertaburan. Datul menyukai mereka semua.
"Huh..." Akhirnya sang ibu menyerah. Memang rambut Datul bersih. Tidak satu kutu pun berhasil dia dapatkan.
Datul beranjak duduk di samping ibunya. Menyandarkan kepalanya di bahu ibunya yang nyata nyamannya. "Dih, kenapa cuma tidak mendapatkan kutu ibu jadi sedih?"
"Masalahnya ibu teringat Bapakmu, kasihan dia sendirian"
"Ibu---"
"Pas Datul tinggal kesini, Bapak sehat kog. Bapak bahagia, jadi ibu tenang saja!"
"Tidak, dia pasti sedih. Kamu kelamaan di sini"
"Apa ibu ingin mengusirku? aku lebih suka di sini, bersama ibu..."
"Tapi ini bukan duniamu, nak!"
Datul tidak paham. Kemarin saat dia datang, dia melewati lorong cahaya yang seperti tak ada ujungnya. Lalu dia sampai sini bertemu ibunya. Kalau ini bukan dunianya. Lalu Datul harus kemana? dimana dunia Datul?
"Memang kenapa? aku betah di sini, asal ada ibu,"
"Lagipula aku senang, di sini aku tidak jerawatan, tidak perlu pakai krim pagi atau malam"
"Ibu lihat sendiri kan betapa glow up, aku?"
"Ibu juga senang, nak. Tapi masalahnya tetap saja ini bukan dunia kamu!"
Lalu ibu Datul berdiri dari duduknya. Pandangannya lurus ke arah danau yang berair biru. Hening beberapa detik, hingga kicauan burung terdengar mengisi keheningan mereka.
"Kamu harus pulang, nak!"
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh ibunya seperti di telan kabut. Datul kelabakan. Mencari-cari ibunya. Datul berlari dari ujung bukit ke bukit lainnya.
"IBU!"
"IBUUU..."
"Kenapa ibu meninggalkan aku sendiri?"
Datul menangis, tubuhnya luruh di atas rerumputan hijau. Tanpa ibunya dia kesepian lagi. Ketakutannya sama saat pertama kali dia melewati lorong. Sampai sebuah suara terdengar sangat dekat sekali. Sekarang Datul bisa merasakan ada orang lain selain dirinya.
"Heh, Tulaikhan! Ternyata kamu di sini!" Itu lebih terdengar seperti bentakan dari pada pertanyaan bukan?
Datul memberanikan diri mengangkat kepalanya. Meski matanya masih basah karena air mata, tapi seonggok orang di hadapannya terlihat jelas. Orang itu sangat tampan. Wajahnya putih bersih, tak kalah glow up dari dirinya.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi, kenapa kamu malah rebahan di sini, huh!?"
Ingin rasanya Datul mengumpat. Dia baru saja di tinggal ibunya pergi, malah di bilang rebahan.
"Siapa kamu!?"
"Dan siapa orang yang kamu panggil Tulaikhan itu?"
Laki-laki tampan itu lalu jongkok tepat di hadapan wajah Datul.
"Kamu gila? siapa yang sejak kemarin nagih di belikan seblak?"
"Bukannya minta maaf karena membuatku menunggu lama, malah sok hilang ingatan"
"Siapa kamu?" Sindir laki-laki itu, menirukan Datul.
"Kalau kamu hilang ingatan, ayo kita kenalan lagi"
"Namaku Hamam Amirul Mukminin. Pria tampan yang kamu intip setiap melewati rumahmu, yang kamu mintai pajak jajan tiap hari, yang membelikan krim jerawat saat kamu tidak punya uang, dan yang terpenting, aku ini sekarang tunanganmu, apa sudah ingat?"
Datul melongo, semakin bingung.
****
Mas Hamam semakin mengabdikan diri pada Maidatul Khan. Sepulang kerja, Mas Hamam selalu membawakan hadiah untuk istrinya. Andai ruang rawat Datul bukan ruang ICU, tapi kamar mereka, sudah pasti penuh bunga dan berbagai boneka lucu. Namun pada akhirnya, bunga-bunga itu layu, teronggok bersama beberapa boneka yang mulai berdebu. Mas Hamam menaruh itu semua di depan ruangan sang sleeping beauty. Hingga setiap orang yang lewat menjadi tahu, jika cerita seorang laki-laki tampan menikahi pasien koma benar adanya.
Hari berganti hari, tidak ada tanda-tanda vital yang menunjukkan kondisi Datul yang membaik. Sampai pada ujungnya, dokter yang bertanggung jawab menyerah dan menyarankan agar alat-alat itu di lepas saja. Meminta Mas Hamam mengikhlaskan istrinya. Mas Hamam tentu saja menolak keras. Dia yakin istrinya akan bangun. Mereka akan mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Mas Hamam mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk Datul. Hingga dia lupa mengurusi dirinya sendiri. Hanya sekedar potong rambut pun dia tak sempat. Wajahnya tak sebersih dulu, karena tanpa dia sadari jambang tumbuh liar di area rahangnya. Tapi tetap saja, aura ketampanannya kekal terpatri.
Sampai di malam berikutnya, Mas Hamam yang letih sepulang kerja. Memutuskan untuk membeli seblak. Makanan berkuah yang begitu di sukai Datul. Rasanya baru kemarin Mas Hamam mengingatkan Datul agar jangan memesan makanan itu terlalu pedas. Datul yang penggila pedas tentu saja hanya mencibir.
Zida sudah pulang. Diam-diam tanpa sepengetahuan perawat yang berjaga, Mas Hamam masuk ke ruangan Datul bersama seblak yang dia bawa. Mas Hamam ingin memakan seblak itu di hadapan Datul langsung.
Biar saja! Biar kamu pengen!
__ADS_1
"Aku makan seblak dulu ya sayang, maaf aku beli cuma satu. Habisnya kamu enggak bangun-bangun"
Mas Hamam membuka buntalan seblak itu. Perutnya memang lapar, makanan berkuah tentu saja enak di makan di malam hari seperti ini. Bau pedas dan gurih langsur menguar satu ruangan begitu buntalan itu terbuka. Mas Hamam siap menyantap, namun gerakan tangannya berhenti saat jari-jari tangan lain tiba-tiba bergerak pelan.
Mata Mas Hamam membola. Seblak yang tadi menggugah selera makan dia campakan lagi di atas meja kecil. Mas Hamam setengah berlari keluar. Menghampiri meja perawat dan menceritakan apa yang barusan dia lihat. Perawat-perawat itu sigap meneruskan ke dokter yang bertanggung jawab menangani Maidatul Khan.
Menit berikutnya, dokter itu memeriksa kondisi Datul. Perlahan bola mata Datul mengikuti arah cahaya yang berasal dari senter khusus milik sang dokter.
"Ini suatu kemajuan yang bagus, pasien sudah mulai bisa merespon cahaya, tunggu beberapa menit lagi, sampai responnya lebih baik"
Mas Hamam merapal doa. Doa apa saja dia baca. Dari doa keselamatan, doa qunut, hingga sangking gugupnya doa setelah keluar dari kamar mandi pun dia baca. Hingga kelopak mata Datul benar-benar bergerak terbuka. Pelan tapi pasti, Datul kembali ke dunianya sendiri.
Bukan hanya Mas Hamam, dokter dan perawat yang ada di sana begitu lega.
"Aku bilang apa dok, istri saya pasti bangun..." Mas Hamam tergugu, menangis haru.
"Selamat, kita semua berhak bahagia dengan ini"
Kepala Datul bergerak pelan, matanya seperti mencari-cari sesuatu. Bibirnya yang kering dan pucat seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Dokter, apa boleh sebentar saja alat oksigen ini di lepas? istri saya seperti ingin bicara"
Dokter itu mengangguk. Mas Hamam mendekatkan telinganya tepat di bibir Datul.
"Katakan apa yang ingin kamu mau"
"M--as,..." jawab Datul lirih sekali.
"Iya, aku... Mas Hamammu..."
"Mana seblaknya? tadi kamu ngajak aku beli seblak"
Mas Hamam semakin tergugu. Air matanya luruh tanpa malu-malu. Dia menciumi wajah istrinya sesuka hati. Entah harus bersyukur dalam wujud seperti apa. Tuhan sangat baik padanya.
"Aku cuma beli satu, tapi kita bisa makan berdua nanti"
Dokter dan perawat yang ada di sana mengalihkan pandangan mereka. Mungkin mereka membatinkan hal yang sama.
Pantesan bau seblak, ternyata beneran ada seblak.
_
_
_
_
Seneng banget nulis part ini. Tiba-tiba terinspirasi oleh mimpiku kemarin. Aku mimpi beli siome, pas kebangun tengah malam mimpi itu terasa nyata. Dan lucunya aku beneran nyari-nyari siome pas bangun. Siomay yang isinya telor puyuh satu butir🤣🤣🤣
__ADS_1