Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 88: Hati Yang Pulih


__ADS_3

Mas Hamam bahagia luar biasa, meski harus di omeli para perawat karena penampakan seblak yang teronggok di ruang ICU. Tak apa, toh aroma seblak itu yang membangunkan Datul dari tidur panjangnya.


Berlanjut Mas Hamam yang di usir keluar. Dokter memeriksa kondisi Maidatul Khan lebih lanjut. Pasien yang baru sadar dari kondisi koma, tidak serta merta bisa di katakan sembuh begitu saja. Perlu observasi lagi. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi pada pasien pasca koma. Satu, hilang ingatan. Dua, lumpuh. Semoga Datul tidak mengalami keduanya, atau cerita ini bakal tidak kelar-kelar. Hihi...


Mas Hamam mengabari ayah mertuanya lebih dulu. Lalu kedua orangtuanya yang sekarang juga sudah menjadi orang tua Datul. Mendengar kabar dari Mas Hamam, mereka bersyukur luar biasa. Ibu Mas Hamam bahkan langsung berencana mengadakan syukuran di rumah.


Mas Hamam menutup obrolan mereka saat pintu terbuka dan menampilkan sesosok dokter dan dayang-dayangnya.


"Pak Dokter!" Mas Hamam tidak sabar menunggu kabar baik. Dia ingin membawa Datul pulang secepatnya. Bayangan kamar tidurnya melambai-lambai bak menunggu penghuni baru. Penghuni baru, pengantin baru pula.


"Kita bicara di ruangan saya" Mas Hamam mengangguk lalu mengekori sang dokter.


Sesampainya mereka di sana, jantung Mas Hamam terus berdegup kencang. Nada bicara dokter yang sudah tak muda itu, membuat Mas Hamam malah was-was.


"Khem, jadi harus saya sampaikan, pasien saat ini memang kondisinya sudah stabil, tingkat respon kesadaran juga mulai stabil, tapi tadi saat kami periksa lebih lanjut, ternyata pasien belum mampu mengangkat kedua kakinya"


Bahu Mas Hamam merosot, penjelasan dari dokter membuat bayangan-bayangan romantisme yang sempat Mas Hamam bayangkan tadi menguar di udara


"Apa itu maksudnya, istri saya mengalami kelumpuhan, dok?"


Dokter di hadapannya hanya mengangguk kecil. Mas Hamam menjambak rambutnya sendiri. Bukan karena gatal ketombe, melainkan karena frustasi. Betapa hancurnya Datul nanti dengan kondisi seperti itu.


"Ya Tuhan..."


"Pesan saya, jangan di ajak ngobrol yang berat-berat, yang berpotensi membuat pasien terganggu"


Oke, kalau ini Mas Hamam paham. Bagian masalah tentang Ali saja, jika Datul tak lebih dulu menyinggung, Mas Hamam tidak akan membicarakan itu lagi.


"Kalau anda punya keyakinan yang besar saat istri anda belum sadar, kenapa sekarang anda frustasi?"


Mas Hamam mengangkat pandangannya lagi, maksudnya bagaimana, kenapa malah Pak Dokter terkesan mengajak tebak-tebakan.


"Masih ada peluang, Mbak Datul bisa sembuh kog, asal nanti rutin fisioterapi"


Detik itu juga, rasanya Mas Hamam ingin membelikan Pak Dokter seblak beserta gerobak dan penjualnya. Pak Dokter pinter sekali membuat Mas Hamam deg-degan. Dasar!


"Ngomong-ngomong, beli seblak dimana? kayaknya enak"


Mas Hamam meringis, "Pak Dokter mau? besok saya belikan"


Hlah, ini Pak dokter apa cenayang? Macam bisa baca pikiran saya. Gumam Mas Hamam dalam hati.


****


Beberapa hari kemudian, Datul mentul-mentul sudah di pindahkan ke kamar rawat biasa. Masa kritisnya sudah berlalu. Tinggal pemulihan saja. Dia juga koorperatif dalam menerima keadaan kakinya yang belum bisa di gerakkan. Mas Hamam berhasil meyakinkan Datul kalau dalam waktu dekat pasti dia bisa normal berjalan kembali.


"Kalau nanti kamu sudah bisa jalan, aku janji bakal nuruti kamu kemanapun yang kamu pengen"


"Telomoyo?"


"Tentu!"


Telomoyo adalah salah satu pegunungan yang ingin Datul kunjungi. Gara-garanya dia lihat Vidio di beranda instagramnya yang memamerkan betapa indahnya gunung itu. Datul jadi ingin kesana juga. Melihat lautan awan putih dari puncak sana. Dia bahkan berniat membawa sendiri Mie Gaga Jalapeno cup bersama air termos untuk di makan di sana.


****


Menuruti pesan-pesan dari sang dokter, agar pasien jangan di beri beban pikiran terlalu berat, sampai hari ini Mas Hamam belum berani bilang kalau mereka sudah menikah. Sudah menjadi sepasang suami istri sah di mata agama dan hukum negara. Takut Datul tidak siap, shock malah nanti jadi sleeping beauty lagi. Jadi Mas Hamam bersikap sewajarnya.


Sampai seorang perawat datang membawakan sebaskom air hangat dan waslap.


"Mas, ini saya taruh disini ya. Mbaknya bisa di bersihkan tubuhnya biar lebih nyaman. Baju gantinya juga sudah saya siapkan"


Mas Hamam mengangguk kecil seakan itu bukan masalah besar. Dia terlalu fokus membalas pesan WhatsApp dari teman sekantor.

__ADS_1


Maidatul Khan terbengong. Kalau tidak di bantu perawat, lalu siapa yang akan membantu membersihkan diri? Tubuhnya memang terasa lengket karena keringat. Meski ruangan ini full air conditioner, tetap saja setelah mengonsumsi obat, tubuh Datul bercucuran keringat. Reaksi obat yang dia minum bisa jadi.


"Hlo Mbak suster, kalau bukan anda yang membantu, saya mana bisa bersih-bersih sendiri?"


Perawat itu tersenyum kecil. Dimata Datul senyum itu seperti sebuah godaan. "Kan, ada Masnya Mbak, dia telaten hlo kemarin-kemarin"


Mas Hamam baru nggeh dengan pembicaraan antara Datul dan perawat tadi.


Jadi dia sedikit tergagap, "Hah, apa?"


"Permisi, saya tinggal dulu" pamit Mbak perawat.


"Mbak suster tadi bilang, Mas Hamam telaten kemarin-kemarin,"


"Apa itu maksudnya Mas Hamam telaten membersihkan tubuhku, pas aku belom sadar?"


Mas Hamam jadi Aziz gagap. Kemarin-kemarin setelah sah menjadi suamik, dia sok memang, mengakuisi membersihkan tubuh Datul sendiri. Perawat yang sudah tahu kalau mereka suami istri tentu saja dengan senang hati mengijinkan.


"Aaa... i-tu... bukan! tentu saja bukan-- bukan akulah, mungkin maksudnya aku telaten jagain kamu,"


"Masak gitu, konteksnya tadi kan ngomongin membersihkan tubuh--"


Mas Hamam mengalihkan topik, dari pada dia tambah berbohong lagi.


"Kita ke taman depan, mau?"


Datul menggeleng. Bosan memang berada di kamar terus-menerus. Tapi dia kan belum bersih-bersih. Wajahnya saja terasa berminyak. Ada satu jerawat besar yang tumbuh di hidung. Kemarin dia merasa cantik ternyata hanya bagian dari mimpi panjangnya. Kenyataannya wajahnya masih berjerawat dan kusam.


"Kenapa tidak mau?"


"Kan belum mandi"


Muter lagi ke topik itu. Andai saja Mas Hamam bisa bicara jujur sekarang. Jalankan mandiin Datul, mandi bareng pun mau. Karena pikirannya sendiri, ada bagian tubuh Mas Hamam yang menegang.


"Kamu mau cari kesempatan ya Mas?"


"Iya, eh... maksudnya tidak!" Datul mengernyitkan dahi. Masih curiga.


"Terserah juga sih kalau mau nunggu Zida, itu berarti besok kamu baru bisa ganti baju. Hari ini kan full aku yang jaga kamu"


Benar juga, masak nunggu besok. Keburu gatal-gatal biang keringat bisa-bisa. Mau manggil perawat yang tadi juga rikuh, barang kali memang sedang sibuk. Pasien di sini buka Datul seorang.


"Janji kamu enggak cari kesempatan?"


Mas Hamam tersenyum dalam hati. Dikit-dikit bolehlah wong halal. Mas Hamam hanya mengangguk tapi tidak sungguhan berjanji.


Sebelum menyeka wajah dan leher Datul, Mas Hamam mengikat rambut Datul hingga memamerkan leher Datul yang putih bersih. Baru kemudian dia menyeka wajah Datul terlebih dulu dengan penuh tatapan cinta. Gerakan tangan Mas Hamam turun kebawah, ke area leher yang sejak tadi menggoda imannya.


Detik itu begitu mendebarkan bagi Mas Hamam, berbeda dengan Datul yang biasa saja. Gadis itu terus bicara sendiri, menceritakan berulang kali potongan mimpi-mimpi panjang yang dia alami saat koma.


"Beneran, pas itu aku di suruh ibu pulang, aku nolak karena betah sama ibu di sana, sampai tiba-tiba Mas Hamam datang ngajak beli seblak" oceh Datul.


Mas Hamam memerhatikan bibir Datul yang ranum dan berisi. Tanpa sadar, entah di menit ke berapa bibirnya sudah hinggap di sana.


Datul agak tersentak kaget awalnya. Tapi karena itu Mas Hamam, dia mana bisa menolak. Terlebih dia juga rindu dengan debaran hebat yang membuat tubuhnya seperti melayang.


Ah... atau mungkin ada baiknya memang aku katakan sekarang saja. Batin Mas Hamam.


Ciuman mereka selesai. Meski begitu mereka masih beradu pandang. Meraba perasaan masing-masing setelah sekian lama terpisah di ambang hidup dan matinya Datul.


"Ada yang ingin aku katakan"


"Tentang?"

__ADS_1


"Status kita..."


Datul menelengkan kepala. "Sekarang bulan apa?"


"Bulan Mei"


"Itu artinya rencana pernikahan kita harusnya sudah dua bulan yang lalu bukan?" Datul menunduk.


"Maaf..." ucap Datul sedih.


Dia merasa bersalah karena gara-gara kecerobohannya dia celaka sendiri. Membuat masalah sampai pernikahan mereka gagal. Meski keluarga Mas Hamam terlihat biasa saja, pasti mereka kecewa dan menanggung malu karena anak laki-lakinya batal nikah.


"Kita sudah menikah, aku menikahimu tepat di tanggal rencana pernikahan kita"


Datul bingung harus berekspresi seperti apa. Mas Hamam pasti sudah tahu semuanya saat dirinya terkapar tak berdaya di rumah sakit. Harusnya dia bahagia, tapi rendah diri menyerangnya begitu saja. Datul merasa tak berharga dan hina. Tak pantas mendapatkan suami sesempurna Mas Hamam.


Datul ingin meringkuk, membelakangi Mas Hamam yang masih di sampingnya. Tapi kakinya yang kaku membuat gerakannya terbatas. Yang ada Datul hanya bisa terlentang. Dengan tatapan menerawang ke langit-langit, pelan-pelan buliran halus air mata menetes.


Aku tidak pantas, aku tidak pantas!


"Maaf jika membuatmu terkejut, jika kamu tanya bagaimana perasaanku sekarang?"


"Aku sangat senang menjadi suamimu, aku bersyukur bisa memilikimu"


"Mari kita jalani hidup baru, yang kemarin-kemarin tidak perlu kita ingat, semuanya sudah selesai"


"Aku mencintaimu Maidatul Khan, sebanyak buih di lautan"


Datul tidak mampu menjawab apa-apa. Dia terisak-isak. Mas Hamam naik, ikutan berbaring di ranjang Datul. Dia menenangkan istrinya dengan sebuah pelukan hangat. Perlahan isak Datul berhenti karena Mas Hamam terus memeluknya seperti guling.


"Terima kasih Mas, buat semua cinta yang kamu berikan untukku..."


"Of course sayang," Pelukan Mas Hamam semakin erat. Datul mengerang membuat sang suami jadi terkekeh.


Mas Hamam mengeluarkan ponselnya, lalu memberi lihat Datul foto-foto pernikahan mereka. Pengantin perempuan yang memakai baju pasien dan hiasan rambut yang cantik. Benar itu dirinya.


"Karena kamu sudah tahu kalau kita sepasang suami istri, bagaimana kalau sekarang aku gantikan bajumu?"


"Ohh, atau aku lap sampai dalam sana ya?" Mas Hamam bangkit kegirangan.


"Dasar Mesum!"


_


_


_


_


TAMAT


Terimakasih untuk teman-teman yang setia mengikuti kisah Maidatul Khan. Di novel ke tiga saya ini, memang sengaja saya santai saat menuliskannya. Saya merasa enjoy😁Maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisan dan sebagainya.


Terima kasih untuk teman spesial saya, yang menjadi sumber inspirasi. Belajar dari Maidatul Khan, tidak ada kisah yang biasa-biasa saja, setiap perjalanan hidup kita masing-masing itu sangat berarti. Maka dari itu tetaplah melangkah meski lelah. Kebahagiaan datang di waktu dan porsi yang sudah di tentukan.


Terimakasih semua🙏🥰🥰🥰


Next, aku masih ada satu bab bonus chapter buat kalian. Tapi jangan di tunggu, karena bakal aku post enggak tahu kapan, wkwkkwkwk...✌️


Good bye Maidatul Khan & Mas Hamam, semoga kalian lebih bahagia lagi dan lagi🥰


__ADS_1


__ADS_2