Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 42: Di Bioskop


__ADS_3

Sabtu malam atau malam Minggu. Tergantung bagaimana penyebutannya, intinya sih sama. Yang jelas malam ini beda, Datul sudah ada janji. Nonton film di bioskop ndaa.


Sama siapa?


Tomi dong. Hahahaha....


Anggap Datul gila. Ajakan Tomi kemarin sore langsung di iya-iyakan Datul. Berhubung ada yang ngajak, itung-itung cari pengalaman. Maklum, dua puluh satu tahun Datul menghirup nafas, belum pernah dia masuk ke dalam bioskop. Gimana cara beli tiket masuknya pun Datul tak paham. Maklum lagi, Datul itukan gadis kampung yang sederhana, sering tidak punya uang karena kelamaan jadi pengangguran.


Datul tegaskan di awal, dia tidak punya rasa sama sekali dengan Tomi. Karena itu Datul memilih mengabaikan ultimatum Mas Hamam. Toh niatnya hanya berteman. Mau di pikir berlebihan juga yang ada jadi stress. Terlebih dia jomblo. Jomblo bebas dong mau main dengan siapa saja. Termasuk pacar orang. Eh...


Datul tidak perlu dandan cantik-cantik, apa adanya aja, lagian Tomi sudah tahu Datul burik, kaya akan jerawat. Yang di tunggu akhirnya datang. Tomi menjemput Datul di depan gang kampung Tanjung Sari. Bukan Tomi lupa jalan rumah Datul, itu Datul yang minta. Dia menolak di jemput di rumah karena malas dengan mata tetangga.


"Lama nunggu?"


"Enggak kog, baru tiga puluh tiga menit yang lalu" sindir Datul yang dari tadi di kira kang parkir karena berdiri di tepi jalan.


Bukan minta maaf, Tomi malah ngakak. "Dahlah, buruan naik"


Tomi kali ini pakai motor yang sama kayak punya Hamam. Nggak pakai mobil kemplingnya, lagi ngirit mungkin. Datul sama susahnya saat akan membonceng. Jelas itu mengingatkan Datul pada laki-laki yang dia cintai diam-diam, namun sekaligus ingin dia benci tapi susah.


"Miringin motornya Tom, susah nih"


"lupa ding, kakimu kan pendek ya, besok-besok bawa tangga kalo mau bonceng"


"Hah, apa? bawa tetangga? mana muat motormu buat bonceng dua orang"


Selain menye-menye ternyata Datul agak lemot di tambah kurang pendengaran. Komplit banget sih.


"Hoh dasar budek!"


Di kata budek bukan sakit hati Datul malah ketawa ngakak sampai matanya segaris. Datul akui dia memang nggak paham Tomi ngomong apa. Motor-motor yang lewat terdengar bising sangking banyaknya. Malam Minggu ini, malam yang panjang kalau kata lagu. Lagu apa? ketik di google aja othornya lupa.


Motor yang mereka kendarai membelah jalan raya. Datul menengadah, menatap langit penuh bintang. Wah Datul, cuaca mendukung untuk pacaran ini. Datul menggeleng, pikiran apa itu. Sekarang aja dia sedang jalan sama pacar orang.


"Mau nonton film apa nanti?" Suara Tomi beradu dengan angin dan bisingnya kendaraan lain.


"HAH APA?"


"MAU NONTON FILM APA NANTI!!!"


"TERSERAH!!!" Balas Datul ikut teriak mengimbangi Tomi.


"Tau gitu ga usah tanya, dasar cewek" gumam Tomi.


"HAH NGOMONG APA?!"


Wes embuh Tul, capek ngomong teriak-teriak. Othornya aja capek harus nulis pakai caps lock teros apalagi Tomi. Wkwkwkkw...


Tomi milih diam dan memacu motornya lebih kencang. Datul otomatis memeluk pinggang Tomi. Di pikir-pikir kog tiap membonceng situasinya gini sih. Ga Mas Hamam ga Tomi, naik motor pelan apa repotnya sih.


Sesampainya di mall lantai dua, Tomi terus menggandeng tangan Datul. Takut Datul lepas terus ilang di dalam mall. Jadi lebih baik di gandeng aja.


"Ini harus pegangan tangan gini ya Tom?"


"Harus Mai, biar di kira kita pacaran, kayak yang lain tuh"


Datul memindai sekitar, memang benar kebanyakan pasangan muda terlihat gandengan tangan dengan pacar masing-masing. Kayaknya cuma Datul yang gandengan sama pacar orang.


"Tapi kita kan ga pacaran Tomi! lepas deh"


"Udah diem, kalo lo mau kita bisa kog pacaran, anggap ini lagi uji coba"


"Dih, pacar kamu mau di apakan?"


"Enaknya di apakan?"

__ADS_1


Hah, semakin kesini Tomi semakin gila memang. Datul mengedikkan bahu, tanda cukup, dia juga ga mau ikut pusing.


"kita obrolin nanti di dalam, sekarang kamu duduk aja yang manis di sana, biar aku yang antri tiket"


Datul menurut, ada kursi kosong di sudut, lumayan buat selonjoran. Naik motor nungging ternyata capek juga pinggangnya.


Tanpa mereka sadari, ada laki-laki bertopi hitam yang mengamati mereka dari sudut lain.


***


Di dalam bioskop yang minim pencahayaan. Tomi dan Datul mulai menikmati film yang di putar. Bukan film romantis apalagi humor, tapi sengaja Tomi memilih film dengan genre horor. Biar Datul jerit-jerit sambil peluk-peluk dia kalau takut.


Tapi nyatanya sudah setengah main film itu, wajah Datul masih lempeng. Padahal penonton lain sudah teriak-teriak kayak orang kesurupan.


"Mai lo ga takut?"


"Enggak, ini kan cuma film"


"Tapi kan ngeri..."


"Lebih ngeri eek di toilet ku pas tengah malam"


Tomi melongo, berpikir apa gadis di sebelahnya ini punya pengalaman mistis saat eek.


"Lo pernah ngelihat apa emang?" Kali ini Tomi mengabaikan film yang menampilkan mbak Kunti sedang gelantungan sambil cekikikan.


"Ga lihat apa-apa sih, cuma seringnya merinding" Tomi manggut-manggut, percaya aja.


"Gue denger kata orang, kalau merinding emang biasanya ada makhluk lain"


"Enggak juga sih,"


"wong aku merinding cuma karena seringnya BAB sembelit kog," ucap Datul tanpa beban hidup.


"Dih, gaje!"


"tadi kamu mau ngomong apa?"


"Yang mana?"


"Tadi sebelum beli tiket"


"Oh itu, pacar, Lo mau ga jadi pacar gue"


Enteng banget ngomongnya lur.


"Kamu nembak nih ceritanya?"


"Anggap aja gitu"


"Terus pacar kamu?"


"Pacar dua kan ga apa Mai,"


"Aku jadi selingkuhan kamu dong"


"Gitu juga boleh"


"Anjay..." ga ada indah-indahnya memang. Ga romantis, ditembak, kalau jadian bukan jadi pacar tapi selingkuhan. Horor banget hidup Datul.


"gue serius, gue suka lo tapi ga mau mutusin Nani"


Datul tercenung. Hanya bisa diam dengan mulut tersumpal popcorn.


"kalau butuh waktu, jawab besok aja ga apa Mai, gue ga buru-buru"

__ADS_1


Laki-laki di samping kanan Datul mulai terusik. Mereka berdua benar-benar sudah gila!


"Berisik banget woy! mau nonton film apa talk show sih kalian!"


Datul dan Tomi bersamaan menoleh, menatap laki-laki yang sejak tadi sangat aneh karena selalu menutupi wajahnya dengan topi.


"Mas Hamam!"


"Hamam! ngapain Lo!"


Hamam merutuki kebodohannya. Harusnya dia diam saja. Jadi ketahuankan kalau begini.


"Gue? gue lagi mergoki orang ga tahu malu, ga nyangka ternyata elo emang tai Tom"


"Eyyyy... Apa hak Lo marah-marah!"


"Eh, Lo jangan kurang ajar ya, gue ga bakal biarin Datul kemakan rayuan buaya kayak Lo!"


Datul menciut, Tomi dan Hamam saling beradu pandang. Di mata mereka berdua seperti ada nyala api. Datul jadi takut kebakar.


"Gue jujur, di banding Lo munafik, tukang bohong demi kepentingan Lo sendiri!"


"Eh siapa yang bohong!?"


"Elu! perlu gue perjelas!"


"Lo benar-benar kurang ajar Tom!"


"Mau apa Lo!" tantang Tomi


"Sini Deket! gue jambak rambut saru Lo!"


"BERISIK!!!!!" teriak para penonton lain yang terganggu karena Tomi dan Hamam adu mulut tidak tahu tempat.


Alhasil mereka bertiga di usir keluar oleh petugas.


"Pulang kalian! bikin kacau saja!" petugas dengan tubuh sangar mendorong mereka keluar secara tidak terhormat. Datul malu sekali. Sungguh pengalaman pertama yang luar biasah.


"Gara-gara Lo!"


"Elo berengsek!"


"STOP!!!"


"Kalian berdua kenapa sih, ga malu?"


"Enggak!!!" jawab keduanya.


Datul frustasi. Melerai mereka butuh tenaga. Datul tidak kuat. Tadi pas berangkat belum sempat makan. Besok-besok tahu begini, dia makan banyak-banyak dulu, bawa bekal buat nambah sekalian.


"Aku yang malu, dari tadi jadi pusat perhatian, orang-orang pasti pada mikir, aku ini jelek, ga pantes buat di ributin"


Hamam dan Tomi kicep.


Datul menunduk sedih, di iringi backsound lagu mall yang terdengar mendayu-dayu.


Mendung tanpo udan


Ketemu lan kelangan


Kabeh kuwi sing diarani perjalanan...


_


_

__ADS_1


_


To be continue....


__ADS_2