Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 9: Menasehati Diri Sendiri


__ADS_3

"Oi Datul!"


Plak!


Datul kaget lantas megeplak paha temannya yang sebulan ini tak nongol. Nongol-nongol udah klesotan di sampingnya.


"Ngagetin tahu,"


"Habis ngelamun aja, aku ketuk pintu sampai ga denger kan kamu"


Datul memang sedang melamun, meski duduk dengan pandangan menonton televisi tapi sebenarnya malah televisi yang nonton Datul. Gimana ga melamun, dia di ghosting gitu sama pacar.


"hah... aku pikir kamu sudah lupa sampai ga pernah maen kesini"


Maktun menarik tepi bibirnya, lalu memutar bola mata. "Hai... kamu kira aku berleha-leha, bayangkan aku tuh kerja kayak kerja rodi, ya meski di bayar, tapi beneran dari hari Senin sampai Minggu aku ga punya libur, berangkat pagi pulang malam, hoaaahhh... andai saja uang boleh di fotocopy, males banget kerja gitu..."


"terus sekarang kamu udah kaya belum?"


"belum, tapi aku udah berani sombong nih, tiap gajian aku pegang uang setebal ini" terang maktun sambil mengisyaratkan dengan jari tangannya. Datul percaya saja, toh memang kerja di garmen terkenal dengan jam lemburnya ya menghasilkan cuan lebih dari cukup.


"Hilih, traktir kalau gitu..."


"Ashiappp... kapan sekarang po?"


"Sekalian aku mau minta temenin kamu..."


"Kemana?"


"Ketemuan sama cowok" Maktun mengedip-ngedipkan matanya. Membuat Datul pengen muntah. Ga pantes Maktun sok imut gitu.


Kemudian mereka berdua benar-benar keluar rumah sore itu. Maktun memarkirkan motornya di pelataran Masjid Al Muttaqin lalu mereka jalan berdua menuju alun-alun. Untung saja pas Datul hari ini juga dapat jatah libur. Jadi temannya itu tidak kecewa datang ke rumahnya.


"Mak, ini beneran kamu mau kopi darat sama makhluk asing?"


"Kamu pikir, dia alien? sembarangan!"


"aku kenal dia lewat FB sih, terus akhir-akhir ini dia ngajak ketemuan, kamu tahu... tiap dia telpon suaranya... merdu... ngomong aja merdu gitu apalagi nyanyi ya... aku jadi ngebayangin wajahnya pasti setampan Shahrukh Khan, baru denger dia ngomong aja rasanya aku mau joget India, apalagi nanti ketemu, aku ajak dia muter-muter pohon dah..."


"Jadi kamu belum tahu wajah aslinya?"


Maktun menggelengkan kepala. "Dia ga pernah pasang fotonya, profilnya cuma gambar ayam"


"Wah mak, ternyata kamu berani juga ya. Gimana kalau nanti cowok itu tidak sesuai ekspektasi kamu? Ngeri tahu!"


"Ada kamu, setidaknya kalau dia buruk rupa aku ada temen kabur, hahahha..."

__ADS_1


"Edan...!"


"Buruan chat dia, ketemuan di mana ini!" Datul mulai sewot, cemas-cemas takut dengan pikirannya sendiri bercampur kepikiran pesan-pesannya yang sampai sekarang belum di balas Nugroho.


"Iya, ini juga lagi di chat, subur tau!"


"Sabar!"


"Yah...itu!"


Datul dan Maktun akan menyebrang, dari posisi mereka terlihat bapak-bapak berbaju kuning yang juga terlihat memerhatikan kearah Datul dan Maktun.


Datul menegang, tak sadar dia meremas lengan Maktun dengan kuat hingga temanya itu mengaduh kesakitan.


"Mak, Mak, lihat bapak baju kuning itu... jangan-jangan itu laki-laki yang kamu bangga-banggakan... amit-amit tuwil banget ga sih itu..."


Datul ga tau saja, jantung Maktun juga sudah berdebar. Di tambah membaca chat yang baru saja masuk,


[Saya sudah lihat kamu, kita berseberangan, saya pakai baju kuning]


"Ga usah banyak ngomong, ga usah lihat ke arah bapak-bapak itu juga, kita nyebrang aja, lalu pura-pura ga lihat dia, oke?"


"Tapi---..." sebenarnya Datul ingin mengatakan kalau mau kabur kenapa tidak putar balik saja ke parkiran, tapi Maktun keburu bergerak. Mereka malah menuju keramaian. Dan sialnya, si bapak-bapak bau tanah itu mengikuti mereka.


"Jangan noleh, jangan noleh!"


Langkah mereka semakin tak terarah. Datul gugup setengah mati. Hingga dia menyenggol lengan seorang pria berhodie abu-abu.


"Eh... maaf... saya tidak senga--ja..."


Mas Hamam...


Belum puas Datul menatap Mas Hamam dalam jarak yang sedekat itu, Maktun menariknya lagi. Asem tenan.


"Lari Tullllll......!!!!!"


Bang...Bang!


Datul dan Maktun benar-benar lari sekarang, sekuat tenaga. Hingga nafasnya terengah-engah. Mereka baru berhenti saat menemukan toilet umum dan masuk kedalamnya.


"Haaaahhhhh... mati aku!"


"Iya sana mati saja! Apa aku bilang! jangan sembarangan mau di ajak ketemuan! kamu itu bodoh atau oon sih!" Datul memarahi Maktun, tapi kalimat yang dia ucapkan seperti menampar dirinya sendiri. Datul lebih gila, menerima cinta berondong yang baru sebulan saja menjalin hubungan sudah angin-anginan. Ga jelas.


"Sori...sori... aku gelap mata... kamu tahu sendiri bab cowok aku memang buta, pacaran juga belum pernah... huhhhhh...ah..."

__ADS_1


"Sebenarnya, aku juga sama bodohnya..." tiba-tiba Datul ingin menangis. Perihal berondong manisnya, Datul belum cerita ke Maktun. Tiba-tiba dia merasa bersalah, kenapa dia baru bercerita saat dia sedih begini. Sebulan pas manis-manisnya, dia bahkan tak ingat Maktun.


"Kamu kenapa?"


"Udahlah, aku cerita nanti saja kalau sudah ketahuan endingnya"


"Dasar aneh!" Maktun mengernyitkan dahi. Merasa Datul menyembunyikan sesuatu. Pasti.


Namun ada hal yang lebih penting sekarang. Memblokir nomor laki-laki bau tanah itu.


"Udah kapok belum kamu?"


"Kapok kalau yang ini, tapi besok aku coba lagi, hehe..."


"Berusaha boleh Mak, tapi lebih hati-hati lagi,"


Gila dari tadi aku kayak nasehati diriku sendiri.


"Iya..."


"Bentar aku lihat dulu, dia masih ngikutin kita ga?" Maktun membuka sedikit pintu lalu melongok keluar.


"Aman, aman!"


"Syukurlah... traktir! aku ga mau tau!"


"Iya bawel, mau minta apa hayuk!"


"Minta di lamar Mas Hamam boleh?"


"Mas Hamam? siapa hayo?"


"Eh...."


"Enggak! maksudnya, aku pengen makan ayam... hiyaayam... ayam bakar!" Datul, bodoh. Hatinya sedih memikirkan berondong manis, tapi kenapa separuh hatinya juga masih terpesona pada Mas Hamam. Apa boleh seperti itu? Atau memang sebenarnya Datul juga punya bibit tidak setia? Tapi selama ini dia terus yang tersakiti je...


.


.


.


.


.

__ADS_1


like, komen, bagi hadiah...


Selamat berbuka puasa 🙏


__ADS_2