
Tempat perlombaan balap merpati sudah ramai saat mereka datang. Berada di tepi persawahan, tempat itu benar-benar tidak ada pohon yang bisa untuk berteduh.
"Aduh!"
Hamam menoleh pada Datul. "Kenapa?"
"Tangan saya rasanya mau copot" Datul meringis merasakan tangannya yang kebas karena memegang dua sangkar burung tadi.
"Pegel ya?"
Masih tanya, kalau tidak demi mengukir sejarah, cih mana mau saya!
Datul merengut manja, barangkali Hamam kasihan terus memijat lengannya, lumayan bisa di sentuh-sentuh cowok tampan. Hehe...
Eh, Hamam tidak peka, dia malah ngakak dan lebih fokus pada burung-burung miliknya. Datul kecewa dong, jawab Datul; sudah biasa!
"Saya mau tanding dulu, doain biar menang"
"Emang kalau menang hadiahnya apa?" palingan uang tak seberapa. Batin Datul.
"Uang, sepuluh juta..."
"hah???" Datul melongo. Ternyata hadiahnya ga kaleng-kaleng. Yang capek burungnya, yang menuai cuan manusia. Dasar manusia!
"Gimana, lumayan gak?" Datul manggut-manggut dengan wajah masih takjub. Uang sepuluh juta, Datul belum pernah pegang uang sebanyak itu. Bahkan di kantong celananya sekarang hanya ada sepuluh ribu. Kesenjangan sekali bukan.
"Lumayanlah, dari pada Lu manyun!" goda Hamam sambil mencolek hidung Datul. Hamam tertawa lebar sebelum meninggalkan Datul dan ikut bergabung dengan yang lainnya.
Astoge, astoge... Datul lemes. Waktu terasa melambat dan pergerakan orang-orang di sana seperti slow motion di mata Datul. Sentuhan jari istimewa itu membuat jiwa Datul terbang hingga langit ke tujuh.
Oh... Mas Hamam... calon imam akuh...
Para penonton sekarang terlihat menepi untuk menyaksikan pertandingan. Di sana, Hamam terlihat layaknya bintang yang bersinar. Terlalu mencolok. Mungkin bisa di ibaratkan, Hamam itu berlian diantara tumpukan jerami. Dan kini Datul baru sadar, ternyata itu alasan banyak gadis-gadis yang rela berpanas-panasan dan bersorak menyebut nama Hamam.
"Mas Hamam semangat!"
"Mas Hamam! Mas Hamam!"
"Mas Hamammmm... aku padamu!"
Gila, suporter Mas Hamam sudah mirip suporter balap motor GP di Mandalika tempo hari. Para gadis-gadis itu berdiri bergandengan tangan di bawah terik matahari. Datul juga fans Mas Hamam sih, tapi dia males jika harus teriak-teriak gitu. Bikin tenggorokan kering. Sedikit bangga karena Datul sudah satu langkah di atas mereka. Datul sudah berhasil mengukir sejarah, menjadi orang pertama yang di bonceng Hamam dengan menggendong sangkar burung. Itu luar biasa.
Datul mengamati sekeliling, ada empat tiang yang berdiri tegak setinggi kira-kira 8 meter. Di atasnya terdapat tali yang di pasang membentang dengan hiasan kain-kain perca berwarna merah. Kain itu bergoyang mengikuti angin. Dan Haman sudah berada di tengah sana sebagai joki geber burung.
Satu burung yang sempat di puji cantik oleh Datul tadi sudah di bawa salah satu teman Hamam ke tempat star dimana burung tadi akan mulai di lepas. Ternyata burung jantan, tapi Datul memujinya cantik. Dasar Datul!
__ADS_1
Datul tak begitu paham bagaimana aturan main balap burung merpati ini. Dia hanya fokus pada Hamam yang berdiri menanti dengan satu burung lain yang dia sembunyikan di balik tubuhnya.
Mas Hamam sangat keren! Puji Datul dalam hati.
Begitu burung di lepas dari garis star, para burung itu terbang seakan paham sedang di adu. Terbang dengan cepat. Wussss....
Saat berada di ketinggian, seekor burung terlihat memasuki kolong di atas dan juri meniup peluit.
Pritttttttt......!!!
Hamam menggeber burung betina yang tadi di sembunyikan di balik tubuhnya.
"Wehhh....! wehhhh....!" panggil Hamam pada si jantan. Sedangkan si betina seperti menarik perhatian si jantan dengan mengepakkan sayapnya yang indah.
Merpati memang tak akan ingkar janji. Begitu melihat merpati betina yang mengepakkan sayapnya di tangan Hamam. Merpati jantan itu lantas terbang menukik kebawah hingga menabrak tanah di hadapan Hamam. Brakkkk!
Auchhhhh.... itu pasti sakit sekali! Datul tak tega. Suporter Hamam berteriak kegirangan.
Apa itu artinya burung milik Mas Hamam yang menang?
Ternyata benar. Hamam terlihat puas dengan kinerja burung didikannya. Dia bahkan terlihat tersenyum sangat manis. Datul bersyukur bisa ikut menikmati senyuman itu.
"Ya Allah teduh banget senyumnya"
Datul kira permainan sudah selesai saat itu juga. Ternyata itu baru babak penyisihan. Masih ada babak selanjutnya. Kalau terus di sana yang ada Datul babak belur. Wajahnya seperti terbakar. Di tambah tak ada satu orang pun yang menyapa atau sekedar mengajaknya mengobrol. Datul merasa tidak nyaman sama sekali. Hamam juga terlihat masih fokus pada permainan selanjutnya. Mustahil Datul mendekat ke sana. Semua yang berkerumun di sana adalah kaum lelaki.
****
Malam harinya, Datul berdiri di depan cermin. Menyesalkan kebodohannya tadi siang.
"Harusnya aku tidak ikut ke perlombaan itu, lihat sekarang aku lebih mirip monster daripada manusia" monolog Datul.
Mungkin gara-gara banyaknya debu yang menempel di wajahnya saat menonton Hamam berlomba, sekarang jerawat Datul meradang. Tidak menunggu hari esok, kulit wajah Datul yang amat sangat sensitif langsung menggila. Jerawat meruntus hampir di seluruh permukaan wajahnya. Padahal kemarin jerawat Datul sudah mendingan. Perih, perih sekali. Datul sampai meringis kesakitan.
Dering ponsel Datul memutus ratapannya.
Mas Hamam calling...
Datul sudah setengah hari menunggu di cari, tapi baru sekarang Hamam menelpon. Sial memang.
"Oi Datul! keluar sebentar, saya di depan rumah mu!"
"Hah, ngapain?" Masalahnya ini sudah jam sebelas malam. Lampu-lampu di dalam rumah Datul bahkan sudah di matikan. Menyisakan lampu luar yang masih menyala. Datul heran Hamam itu jenis manusia apa sih, kayak ga tau etika bertamu.
"Saya bawa nasi goreng buat ganti tangan kamu yang pegel tadi!"
__ADS_1
"Dih, murah sekali. Ga mau, bawa saja pulang Mas! Saya mager udah rebahan di kasur"
Bukan apa-apa, Datul hanya mau menghindar. Iya kali wajahnya sedang buruk-buruknya malam ini. Datul hanya tidak mau membuat Hamam jijik.
"Heh, tidak sopan! saya sudah baik hlo ingat kamu saat makan nasi goreng tadi. Maka dari itu saya bungkus buat kamu. Buruan keluar sebentar!"
"Saya bilang ga mau!" Datul masih bersikeras menolak. Moodnya memburuk gara-gara jerawat, di tambah jengkel karena Hamam baru mengingatnya sekarang. Tadi siang, sore, kemana saja. Tingkah Datul sudah merasa kayak pacar Hamam saja. Padahal kalian tahu sendiri.
"Ya sudah saya taruh di depan rumah kamu! Terserah mau di ambil atau tidak!"
Hamam menutup obrolan mereka dengan perasaan setengah jengkel juga. Niat baiknya di tolak begitu saja.
Apa susahnya membuka pintu lalu menerima ini!
Di sisi lain Hamam juga merasa aneh, biasanya Datul paling cepat kalau urusan makanan. Tumben ini di tolak. Muncul ide jail di benak Hamam yang kinclong.
Setelah meletakkan bungkusan nasi goreng di lantai depan rumah Datul, Hamam mengendap bersembunyi di sebelah tembok warung Mbak Minem.
Sementara itu Datul juga mengendap-endap berjalan dalam gelapnya ruangan. Sengaja tak menyalakan lampu. Kemudian menyibak sedikit korden agar bisa mengintip dari sana. Memastikan juga jika Hamam sudah benar-benar pergi.
Di lihatnya situasi sudah aman. Ternyata benar, Mas Hamam meninggalkan nasi goreng itu begitu saja. Tidak di ambil juga mubadzir yang ada ...
Datul keluar, memungut sebungkus nasi goreng peninggalan Hamam dengan kecepatan cahaya. Lalu buru-buru masuk lagi ke dalam rumah. Meski sepintas, dari jaraknya berdiri Hamam bisa melihat wajah Datul dengan jelas.
Kenapa dengan wajahnya? perasaan tadi siang tidak separah itu?
Hamam merasa kasihan dan prihatin, kemungkinan Datul malu menemuinya karena itu. Hamam paham sekarang. Lalu dia memutar tumit untuk pulang.
Sementara itu di dalam rumah Datul membuka bungkusan plastik pemberian Hamam. Meski tahu isinya nasi goreng, tapi Datul tidak menyangka kalau isinya dua bungkus. Bisa jadi yang satu Hamam belikan juga untuk Bapaknya.
Tadi Mas Hamam bilang 'kan sudah makan, ternyata dia pengertian sekali, beli dua, pasti yang satu buat Bapak, makasih Mas...
Datul beranjak membangunkan Pak Farkhan untuk di ajak makan bersama. Datul terharu. Besok dia harus meminta maaf karena sudah bersikap tidak sopan tadi. Tidak sepantasnya dia merundung. Mereka hanya berteman selama ini.
.
.
.
.
.
Masih mau lanjut cerita ini?
__ADS_1
Terus dukung komen, vote dan poin ya๐๐๐
Makasih๐๐๐