
Setelah melihat cangcut mas Hamam hingga masuk angin dan mual muntah apa yang Datul harapkan? Nyatanya setelah itu tidak ada adegan pangeran mencari Upik abu, toh Datul tidak meninggalkan sendal jepitnya apalagi sepatu kaca, Datul tak punya.
Jadi pemirsa jangan berharap dapat cerita yang manis-manis lagi, saya ga jamin ya...
Tahulah ini kehidupan Datul yang membosankan dan penuh derita.
"Humftttttt..." itu helaan nafas Datul yang pertama.
"Humffftfghthjjjklmnopqhhhhhhhh...." ini yang kedua lebih puanjaaangggg...
"Why kenapa? muales gitu wajahnya?"
"Butuh healing mbak"
"Hilih... kalau saya daripada healing lebih butuh uing, bayar kontrakan, listrik, air, susu anak..."
"ckk... " Datul berdecak. Kebutuhan mereka tentu saja beda, Mbak Nur sudah berkeluarga sedangkan Datul single alias jomblo. Dan Datul mulai jenuh dengan pekerjaannya. Jam kerja yang panjang, jatah libur yang hanya sebulan sekali, dan gaji yang jauh di bawah upah minimum. Di tambah kekosongan hatinya. Membuat jiwa Datul memberontak. Datul ingin foya-foya tapi tak berdaya.
"Ijin, ijin, ga usah masuk dulu, maen sana yang jauh mumpung masih muda"
"Ahh... itu masalahnya mbak, ga ada yang ngajak aku main!" Datul merenggut lagi, di pikir hidupnya memang sepo, hambar kayak sayur tanpa masako.
"Kuper banget sih kamu Datul, masak iya ga punya temen, temen main kek, temen sekolah kek, nih ya dulu pas mbak muda, beuhhhh...temen mbak--..."
"satu doang" mbak Nur terkekeh.
"kirain mau bilang banyak"
"Satu doang yang baik maksudnya, yang banyak datang cuma kalau butuh bantuan ngerjain tugas atau pinjam uang, heran juga padahal sejak dulu saya juga pas-pasan, apa yang mereka pandang coba..."
Sekelas mbak Nur yang berkarakter tegas saja pernah di manfaatkan manusia berstatus teman, apalagi Datul yang tak berkarakter, sasaran empuk dan enak pasti. Kayak dulu Datul pernah punya teman kerja, sebut saja mawar, baru sebentar kenal, main bareng, terus makan bareng.
Bayarin dulu ya nanti aku ganti.
Pinjam uang kamu dulu ya, uang ku ketinggalan nih...
Dan pada akhirnya orang itu reko-reko lupa. Datul pun enggan menagih, takut di kira perhitungan. Yang penting Datul sendiri menghindari hal yang seperti itu. Hutang itu harus di bayar, kalau mainnya seperti itu, Datul takut di akhirat nanti diajak itung-itungan sama Malaikat, mampus di sana ga ada dirham apalagi rupiah.
"Wajah Mbak Nur menipu sih, wajah horang kaya, padahal aslinya duafa, hahahaha...."
"Sialan!"
Datul terbahak, semakin kesini dia sudah tak takut lagi dengan mbak Nur yang berwajah garang macam kak Ros, garang-garang ternyata somplak juga kog.
Candaan mereka berhenti saat ada pembeli datang. Datul seperti biasa langsung sigap melayani dengan baik. Berharap ada yang ngajak main gitu, ide bolos kerja sepertinya boleh juga.
"Mbak..."
"Hmm...?"
__ADS_1
"Kalau besok aku bolos, mbak Nur jangan bocor ya sama ibu," ibu yang di maksud yaitu pemilik toko obat itu.
"Gak, asal ada tutup mulutnya..."
"Dih..." Giliran Mbak Nur yang ngakak melihat wajah Datul yang sebel.
****
Esoknya Datul beneran ga masuk kerja. Alasannya sakit, padahal on the way ke Watu gunung. Itu loh wisata kolam renang yang ada di kaki gunung Ungaran. Ga jauh kog, jadi mereka motoran.
Datul berhasil merayu empat teman sekolahnya semasa SMA. Ga ada yang ngajak, jadi dia inisiatif jadi orang yang ngajak. Nunggu ada yang ngajak jalan bisa-bisa Firaun bangun lagi.
Sesampainya di sana mereka berganti baju dan langsung nyemplung ke dalam air.
"Brrrrrrrrrrrtttttt... dingin ndaaa...!" teriak Datul masih di dalam air. FYI, Datul ga begitu pandai berenang, cuma bisa gaya bebas itu aja belum bisa otomatis ambil nafas. Masih dasar banget, standar iso-isonan. Hehe...
"Huum, dingin ya ternyata..." jawab Tiva, teman Datul yang cantik dan kalem memepesona.
"Iyalah, sumber air asli pegunungan, ga ada formalinnya ini air" kalau ini Maktun yang bicara, suka ngawur dan seenaknya.
"Kaporit Makkkkk...!!!!" jawab semuanya hampir serentak.
"Yah, maksudnya itu..."
"Renang woy, ga ngerumpi aja macam mak-emak!" Birin teman cowok Datul menginstrupsi dari sudut kanan. Kolam renang umum serasa kolam pribadi karena hanya mereka berlima dan tiga orang pengunjung lainnya. Enaknya main pas bukan weekend ya gini.
"Foto Yoh!" ajak Arik, cowok kalem yang pengertian. Meski begitu Datul tidak tertarik pada temannya satu ini. Padahal di pikir lagi, Datul beberapa kali juga pernah merepotkan dia. Misal, minta di temani kondangan, atau melamar pekerjaan. Toh, Ariknya juga lempeng tipe asyik buat di ajak main aja tanpa main ati.
"Satu, dua... cekrek!"
"Satu, dua, tiga... cekrek!" Beuhhh, Datul pasang wajah paling manis dong.
"Arik, aku pengen di foto pas lagi renang, fotoin ya"
"Yohhhh..."
"Awas kalian minggir dulu!" usir Datul pada teman-temannya." Mereka pun menepi. Menyaksikan dua orang yang nampak seperti fotografer dan model abal-abal.
Datul merentangkan kedua tangan dan kakinya, mengapung beberapa detik saat di potret dari sisi atas. Gayanya itu bak perenang profesional, padahal aslinya mah apa. Renangnya gaya celap-celup di pinggiran sambil pegangan sisi kolam.
Beberapa kali cekrekan lantas tak membuat Datul lelah. Datul menikmati sesi bersua foto di dalam kolam renang itu. Di selingi canda dan tawa dengan teman-temannya. Healing tenan kalau ini.
Dirasa ujung-ujung jari mereka sudah mengkerut, mereka pun lantas bilas dan berganti baju. Datul tidak pernah meninggalkan tutul bedak keramat miliknya. Setelah beres dengan baju gantinya, dia sisiran lanjut bedakan bareng Maktun dan Tiva.
"Lihat Tiva, temenmu itu..." cibir Maktun saat Datul membubuhkan bedak di wajahnya.
"Masih belum ganti tutulnya?"
Datul cuek, "Aku tipe orang setia..."
__ADS_1
"Yah, sampai seringnya di sakiti..." sambar Maktun.
"Ga usah di bahas!"
"Oke..." Tiva hanya tersenyum kecil. Berteman cukup lama dengan Datul dan Maktun jadi sudah paham dengan karakter keduanya.
"Eh... tadi fotoku keren-keren banget sumpah, tapi sayang jerawatku kelihatan temblong-temblong"
"Arik sih lupa ga pasang mode cantik" Datul besengut.
"Edit kan bisa nanti..."
"Bener... nanti di edit deh" Datul berbinar.
"Sekalian punyaku editkan, biar ga kelihatan gendut gini,"
"Oke, nanti aku edit kamu jadi langsing, tinggi semampai, kek pohon kelapa, hahaha..."
"Asemmmm!!!" ketiganya terkekeh di balik bilik.
"Btw, kayaknya aku mau keluar aja kerjanya..." sontak kedua teman Datul itu menoleh. Siapa sih yang tidak tahu, Datul itu susah dapat kerja.
Gilaran udah kerja dia cepat bosan.
"Hlahhhh..."
"Ingat cari kerja itu susah!" tegur Maktun.
"Bertahan di tempat kerja padahal sudah tidak nyaman itu juga susah Mak.... aku udah berusaha tapi di titik ini aku jenuhe puoolll"
"Jadi tiap berangkat aku udah wegah duluan"
"Ya cari yang lain kalau gitu" jawab Tiva bijaksana.
"jangan keluar dulu kalau belum dapat ganti!" ngegas gini udah pasti Maktun.
Dan Datul sekarang bingung mau menuruti nasihat siapa.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Langsung aku kirim belum sempet baca ulang. Mau belanja Bu ibu...
Jangan lupa like dan komen, suwun😘