Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 85: Rungkad


__ADS_3

Aku nunggu di cari kalian, tapi enggak ada yang nyari🤣🤣🤣


Happy reading 🄰


Ramaikan dengan komen😘


Tidak perlu mendengar sendiri bagaimana Polisi yang bernama Hartono itu menjelaskan duduk perkara yang membuat Datul menjadi korban. Terlalu memuakkan untuk di dengar.


Pendek cerita, Ali laki-laki tak tahu diri itu bisa keluar dari bui berkat jaminan seorang tetangga yang merupakan anggota dewan.


"Dih beraninya mengandalkan tetangga! enggak tau aja dia berurusan sama siapa, temanya malaikat Izrail nih" ucap Tomi menunjuk dirinya sendiri.


"Lagian anggota dewan bodoh banget, tau salah masih juga di lindungi"


Mas Hamam masih diam, sepatah katapun belum keluar dari mulutnya.


"Dia lapor anggota dewan, oke kita bisa lapor tenaga dalam sekarang, ayok ikut gue, Mam!"


"Kemana?"


"Ketemu Pak Gubernur"


"Gue lebih suka Lo lobi malaikat Izrail ketimbang sambat sama sesama manusia"


Tomi nyengir. Masuk akal juga, kalau bisa sih sekalian aja biar nyawa si Ali itu di cabut. Pakai mode boomerang, biar sakaratul mautnya berulang-ulang.


"Mengandalkan kekuasaan tenaga dalam, yang ada nanti makin kemana-mana. Menghabiskan waktu dan tenaga yang enggak main-main"


"Lagian siapa tahu anggota dewan itu cuma membantu, meski orang yang dia bantu jelas-jelas salah, toh sebenarnya urusan kita cuma sama Ali"


"Terus gimana? lo mau pakai cara apa? gue tetep enggak ikhlas kalo bajingan tengik itu masih leha-leha berkeliaran"


"Gue mau cari dia sendiri,"


"Habis itu? lo mau gebugin? kapan, gue ikut!"


"Itu mosi ke dua, kalau dia enggak bisa di ajak ngomong baik"


"Wah, mana bisa lo berencana ngomong baik-baik sama dia, langsung kasih aja kenapa emang?"


Mas Hamam terdiam. Di benaknya sudah tersusun rencana. Plan A atau plan B. Tapi jujur dia sedikit bimbang. Maunya sih dia lewat jalur hukum. Tapi kalau tersangka berlindung di ketiak orang berkuasa, Mas Hamam takut malah semakin runyam urusan.


"Vidio itu, gue pengen pastikan kalo dia tidak punya salinannya "


Giliran Tomi yang diam.


"Gue tetep butuh bantuan lo Tom. Setidaknya buat ngumpulin teman-teman gento kita"


***


Hari berikutnya, Mas Hamam dan Tomi mulai mengintai pergerakkan Ali. Dari Hartono, Mas Hamam menyimpan alamat rumah Ali. Benar, laki-laki itu terlihat keluar dari rumah. Penampilannya begitu klimis. Jins hitam panjang di padu dengan jaket kulit coklat. Rambutnya basah karena minyak rambut. Meski begitu, dia naik motor bebek rongsokan yang sekali tiup saja mungkin langsung mogok jalan. Sungguh tidak sumbut dengan penampilan yang klimis.


Tomi yang menyetir. Mereka mengikuti Ali dari belakang. "Bajingan itu mau pergi kemana sih"


"Ikuti aja dulu!"


Tomi menurut tanpa perlawanan. Mobil mereka ikut membelah jalanan yang semakin sore semakin ramai oleh kendaraan orang-orang yang pulang kerja.


Melewati fly over, dengan mudah Tomi masih mengikuti Ali tanpa ketahuan. Lalu setelah itu motor Ali bergerak masuk ke sebuah gang.


"Masih sore hlo ini, mainnya udah masuk SK aja"


Sebuah tempat lokalisasi terbesar di kota itu. Meski sudah lama resmi ditutup, tapi belasan tempat karaoke masih berdiri tegak di sana. Mobil mereka terpaksa berhenti agak jauh, saat motor Ali berhenti di perempatan jalan. Masuk ke salah satu gang, gang itu terlihat tertutup portal dan dijaga seorang laki-laki bertubuh sangar dan tatoan.


Begitu Ali masuk, Tomi menginjak gas lagi.


"Lo udah ada hubungi mereka?"


"Udah, kemarin gue bilang Lo butuh bantuan, mereka langsung semangat"


"Ini gimana kalo kita ribut di dalam, huh?"


"Suruh si curut dulu kali ya, buat nyampein ke penguasa sini"


"Tumben cerdas" Mas Hamam mengeluarkan ponselnya lalu hanya beberapa menit obrolannya dengan seorang yang di pangilnya curut itu rampung.


"Kita masuk sekarang, katanya aman. Malahan gampang kalau mau ribut di dalam. Curut punya nama di sini"

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim..." ucap Tomi. Mas Hamam melirik judes laki-laki kriting di sampingnya itu. Yang di lirik langsung paham.


"Kudu baca doa, di dalam pasti banyak cobaan, Mam. Lo tahu gue lemah"


"Lemah syahwat maksud Lo!"


"Anjay...!!!"


"Jangan samakan gue sama Lo, yang suka berdiri cuma karena lihat kucing betina pipis!"


"Sori bukan gue!" sanggah Hamam.


Mereka baru diam saling olok saat sampai di depan portal. Dan laki-laki sangar tadi mengetuk kaca pintu. Ternyata baru akan masuk saja mereka sudah di mintai uang. Tomi royal ya, dia kasih tuh uang kebiru-biruan. Mumpung di dashboard ada sebungkus rokok, dia kasih juga. Jadi si sangar terlihat sumringah dan manggut-manggut hormat.


***


Mata Tomi terus terbelalak mana kala melihat perempuan berbaju mini. Beda dengan Mas Hamam yang tidak tertarik sama sekali. Malah sepertinya para WPS itu yang kepanasan karena melihat ketampanan Mas Hamam.


Untungnya mereka sudah di sambut si Cindil. Anak buah si Curut. Langkah mereka di pandu hingga dengan mudahnya mereka menemukan bilik karaoke tempat singgah Ali.


"Kalian boleh langsung masuk, pokoknya aman"


"Terimakasih bang" ucap Mas Hamam sopan.


Saat pintu terbuka Ali langsung menoleh. Ruangan itu tidak begitu besar. Minim pencahayaan namun tidak gelap juga. Hanya ada satu sofa, satu meja dan satu set alat karaoke beserta tv. Tv-nya juga sudah ada set top box nya.


Mungkin baru satu lagu yang di nyanyikan, itu pun belum selesai. Ali di temani satu wanita cantik yang berpakaian sejenis seperti yang Tomi lihat di depan sana. Wanita itu agak kaget. Begitu juga Ali. Namun, buru-buru Ali merubah mimik wajahnya sesantai mungkin.


"Wow, siapa yang datang? apa kita perlu berjabat tangan?"


Buku-buku tangan Mas Hamam memerah. Rasanya detik itu juga dia ingin meremukkan mulut Ali.


"Mbak yang auratnya kemana-mana, bisa tinggalkan kami dulu?" itu suara Tomi.


Wanita itu bangkit setelah mendapat persetujuan si penyewa. Meski begitu mata jalangnya menatap tertarik ke obyek indah yang dia lewati.


"Tampan sekali sih Mas, boleh setelah ini saya temani" Mas Hamam tidak menanggapi. Malah Tomi yang nyeletuk.


"Teman saya impoten, gih keluar sana!"


"Mari silahkan duduk adek-adek, kalian tidak nyasar bisa sampai sini?"


Tomi hampir maju, gatal sekali tangannya pengen nonjok muka orang yang membuat Datul celaka. Tangan Mas Hamam menahan tubuh Tomi.


"Ada yang ingin saya tanyakan"


"Wow, wow, ... dengan senang hati saya akan menjawab, marilah duduk, akan saya bagi minuman ini untuk kita bertiga"


"Cih, tidak sudi!" Baik Mas Hamam atau Tomi memilih berdiri di banding duduk satu sofa dengan Ali.


"Mengenai Vidio itu, apa ada salinan yang lain?"


"HAHAHA... " Tawa mengejek Ali sungguh membuat amarah Mas Hamam mulai meletup-letup.


"Kau sudah melihatnya? bagaimana hasil rekaman ku? oke bukan?"


"Huh, syurrr... bikin panas. Mungkin kalau di jual bakal laku keras di pasaran BF"


"Saya tanya baik-baik sekali lagi, ada salinannya yang lain atau tidak!"


"Kenapa? kalian menginginkannya juga? bolehlah bagi saya uang, pas waktu itu padahal saya akan dapat uang banyak, tapi belum rejeki saya mungkin"


Pernyataan ini bukankah berarti kalau secara tidak langsung Ali mengakui kalau dirinya memang berniat memeras Datul. Tapi gagal karena malah insiden yang lain yang terjadi.


"Jadi, kita tidak bisa bicara baik-baik nih!"


"Cuma tanya gitu, dan orang se anjing lo malah berbelit-belit"


"HAHAHA!!!!"


"Duh, menyeramkan... saya di gertak anak bau kencur, pulang nak, anak baik-baik seperti kalian cocoknya main lato-lato!"


"Lato-lato ndasmu! "


Gedek! Tomi membukakan pintu. Seketika si Cindil masuk bareng lima orang lainnya yang Mas Hamam tidak bisa mengabsennya satu persatu.


Ali menelan ludah susah payah. Sial! mereka ternyata bawa orang.

__ADS_1


Detik berikutnya, Ali di seret ke lantai. Total enam orang bertubuh besar di tambah Tomi yang cungkring sendiri. Mereka berjamaah memukuli Ali.


Bag! Bug!


Bag! Bug!


Bag! Bug!


Bag! Bug!


Mas Hamam?


Duduk di sofa, santai sambil nyanyi lagu dangdut berjudul "Rungkad" milih Happy Asmara.


Rungkad


Entek entek an


Kelangan koe sing paling tak sayang


Stop mencintaimu


Gawe aku ngelu


Mungkin


Aku terlalu cinta


Aku terlalu sayang nganti


Ra kroso dilarani


.....


Memakai mic yang di pegang di sela menyanyikan lagu, Mas Hamam mengingatkan.


"JANGAN LUPA PERTANYAAN KU YANG TADI, TOM!"


"Ammpunnnnn!!!"


BUG!!!


"Di tanya susah sih Lo tadi!"


BUG!!!


"Tidak, tdakkk ada salinan"


BUG!


"Sumpah!"


BUG!!!


"Katanya tidak ada salinan, Mam! Anjir ganti lagu bisa!"


"Rungkad!!!"


"REQUEST APA LO!"


"Pop-lah, gue baru tahu lo bisa nyanyi lagu dangdut, Mam"


BUG!!!


"Rungkad!!!"


"NANGGUNG, ABIS INI YA!"


_


_


_


_


HaišŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2