
Yang harus Datul lakukan sekarang adalah membujuk Ativa agar mau menemui Hamam. Demi kelangsungan perawatan wajah tiga bulan ke depan. Bagaimana pun caranya, Datul harus berhasil. Meski harus bersepeda malam-malam seperti ini. Datul rela. Padahal rumah Ativa cukup jauh karena berbeda kampung dengan rumah Datul.
Kenapa harus malam hari? Ya setidaknya agar orang-orang tidak melihat wajah penuh jerawat Datul dengan jelas. Datul bahkan sudah berpenampilan layaknya ninja. Brukut, hanya matanya yang terlihat.
Saat keluar dari gang rumahnya, Datul berpapasan dengan Ella. Sepupu yang lebih pantas di sebut musuh dari pada saudara. Kalau tidak ingat ada darah yang sama mengalir di tubuh mereka. Sudah lama Datul santet gadis kemayu itu. Becanda ding. Datul beriman, jangan sampai dia dolan ke perdukunan macam itu. Amit-amit.
Datul tak berniat menyapa juga. Dia genjot sepedanya semakin cepat. Pura-pura tidak melihat Ella itu lebih baik demi kelangsungan hidupnya. Ella yang sedang nyedot es Boba sambil jalan pun menoleh, menatap heran pada gadis bersepeda yang baru saja melewatinya.
Apa itu tadi Kostum squid game? niat banget anak itu main. Tapi mirip siapa ya? sepedanya kayak punya siapa ya?
Tubuh Datul yang kecil mungil memang pantas di sangka anak-anak. Apalagi sepeda yang di pakai Datul adalah jenis sepeda BMX. Maklum Datul hanya punya sepeda itu.
Sangking kerasnya berusaha mengingat sepeda siapa itu, Ella tak fokus berjalan hingga tersandung batu.
PROK!
Cup Boba di tangannya terjatuh. Beruntung dia tidak ikut tersungkur. Maka hal biasa yang dia lakukan adalah mengumpat.
"Sial! es boba ku... padahal baru aku minum dikit! setan! setan!"
Kan malah setan yang di salahkan. Hahaha....
****
Kening Datul mengembun karena keringat. Sepeda BMX miliknya dia sandarkan di bawah pohon belimbing. Maklum, standar jagul sepedanya sudah tidak ada di makan usia.
Datul mengetuk pintu rumah Ativa. Tak butuh menunggu lama. Sahabat baiknya itu langsung nongol dari balik pintu.
"Masuk, masuk!"
Datul tanpa malu menghempaskan tubuhnya di kursi rotan dengan bantalan berwarna merah motif bunga.
"Ibu mana?" Datul menanyakan ibu Ativa. Mereka sudah berteman lama jadi wajar Datul sudah mengenal baik keluarga Ativa.
"Ibu udah tidur, bentar aku buatin minum dulu, kelihatan capek banget"
Datul meringis. Pantas saja ibu Ativa sudah tidur, sudah jam sembilan lebih. Datul jadi tamu yang tidak tahu malu kalau sampai membuat wanita paruh baya itu terbangun.
"Ga usah repot-repot Tiv"
"Biasa ngerepotin juga" canda Ativa, setelah itu menghilang di balik tirai.
"Hahahaha..."
Ativa balik dengan baki berisi minuman dingin dan camilan. Gadis itu sangat luwes pembawaannya. Datul yakin sekali banyak emak di luar sana yang mendambakan Ativa jadi mantunya.
"Jadi, mau ngomong penting apa? sampai di bela-belain naik sepeda, malem-malem"
Datul meletakan gelas yang isinya baru dia minum. Nyawanya kembali full, setelah tadi mengkis-mengkis genjot sepeda.
"Gini Tiv, ada hal yang pengen aku sampaikan sama kamu,"
__ADS_1
"tentang Mas--, Mas Hamam"
Ativa memutar bola mata, malas. "Aku ga pernah respon dia hlo, kenapa sih dia lagi dia lagi,"
"kecuali makanan yang kemarin-kemarin kamu kirim, itu juga kita makan bareng kan? Eman kalau di buang... kata kamu,"
"Iya! dia tuh masih ngeyel terus, aku yang di kejar-kejar"
"Terus ini dia mohon-mohon sama aku, dia minta tolong supaya aku bujuk kamu,"
"Sekali ini saja, kamu mau ya Tiv, temui dia, please..."
Ativa menggelengkan kepala. Tidak perlu di jelaskan, Datul tahu alasannya apa. Ativa itu sudah punya tambatan hati. Pemuda yang tak kalah tampan dari Hamam. Sudah begitu seorang ustadz. Masalahnya Ativa juga tak jauh beda dari Datul, dua gadis itu sama-sama mencintai dalam diam. Bedanya, Ativa punya pilihan banyak, sewaktu-waktu jika dengan si A ini gagal, dia punya peluang memilih si B, C, atau D. Sudah lengkap macam vitamin. Tapi kalau Datul? Zonk! Saya cetak tebal supaya kalian jelas.
Wajah Datul sudah memelas, mendayu-dayu agar di kasihani. Tapi Ativa itu gadis yang teguh pendiriannya. Hilang otak Datul harus bagaimana lagi. Masa bodoh, spontan Datul melorotkan tubuhnya, berlutut sambil memeluk lutut Ativa.
"Hei, Datul! apa yang kamu lakukan!" Ativa kaget dengan sikap Datul. Ini berlebihan sekali. Mau memekik juga takut ganggu ibunya tidur.
Datul semakin erat memeluk lutut Ativa.
"Please kamu mau ya, temui Mas Hamam sekali ini saja, habis itu sudah, kalau kamu nolak, Mas Hamam udah janji, bakal berhenti ngejar kamu, please!"
"Please Tiv, please....."
Hati Ativa mulai goyah. Bukan apa-apa, Ativa hanya merasa tidak enak dengan Datul. Sahabatnya sampai berlutut memohon-mohon seperti itu.
"Datul bangun! jangan begini! lebay deh!"
"Ayo bangun!"
Datul semakin erat memeluk lutut Ativa. "Ga bakal aku lepas sebelum kamu janji mau menemui Mas Hamam!"
"Datul!"
"Enggak!"
"Datul!!!!!"
"Enggak! Enggak aku lepas pokoknya!"
"Datul!!!!" Ativa malah brambang mau nangis. Harusnya Datul yang nangis-nangiskan. Dasar air mata Datul yang tidak bisa di ajak kompromi. Sekarang Datul yang tidak enak sendiri. Pegangan tangannya mulai mengendur.
Tapi dia masih ngesot di bawah kaki Ativa.
"Tiv, maaf.... kamu marah aja, tapi jangan nangis"
"Huaaaaaaaaa... kamu udah tahu gimana perasaan aku, kalau aku merespon laki-laki lain, aku sendiri merasa menduakan Mas Amri. Kamu tahu itu..." Cinta memang aneh. Banyak jalan untuk bahagia tapi karena cinta semua orang rela menderita. Sekarang Datul baru bisa nangis.
Keduanya lalu duduk di lantai bersisian. Nangis bareng. Ativa menyandarkan kepalanya di bahu Datul, begitu pun sebaliknya. Puas menangis mereka mengobrol lagi, meski masih terisak.
"Jadi, kamu tetep ga mau ketemu sama Mas Hamam? Hiks... hiks..."
__ADS_1
"Tidak..."
Datul semakin terisak-isak.
"Hiks...hiks..., kenapa kamu nangisnya lebih parah dari aku hah?" Ativa masih belum paham.
"Tinggal bilang ke dia, aku ga mau, kenapa sih kita malah nangis bareng gini, hiks..."
Datul menyeka ingus dengan ujung kaosnya.
SROOOOTT....!!!!
"Karena kalau kamu ga mau, itu artinya aku gagal dapat gratisan perawatan wajah..."
Beberapa detik Ativa mengerjapkan mata tak percaya.
"Sialan! jahat banget sih kamu Datul!" Ativa menggeplak lengan Datul. Yang di geplak malah cengengesan. Tangis mereka seketika berhenti. Berganti sebuah kekehan kecil yang manis.
"Kamu ga kasihan sama aku? lihat, wajahku bobrok seperti ini, mana ga punya uang buat beli krim...."
"Kasihan, tapi ga gitu juga caranya. Salah! ini cara yang salah! perasaan seseorang itu jangan di buat mainan! aku ga mau kasih harapan palsu sama temen kamu itu!"
"Jadi, sekali tidak! aku tetep tidak mau!"
"Anggap saja, belum rejeki kamu, aku yakin nanti kamu di ganti sama rejeki yang lebih baik!"
"Jadi, aku ga mau merasa ga enak sama kamu! biarin!"
Omongan Ativa ada benarnya, Datul pun sadar. Segalanya tidak baik jika di paksa. Lagipula itu artinya Datul bisa lega. Tidak harus menyiapkan hati seperti yang othor sarankan. Meski ga jadi dapat gratisan perawatan seperti janji Mas Hamam.
"Haaahhhh... baiklah. Kamu benar! Sini kita pelukan!"
****
Sementara itu di rumahnya, Ella tersedak pentol cilok gara-gara baru ingat sepeda milik siapa yang tadi berpapasan dengannya.
"Uhuk! Uhuk!!!"
"Kenapa Mbak Datul berpakaian seperti itu tadi?"
Jiwa ke kepoannya meronta. "Besok, aku harus cari tahu sendiri!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Like, komen, bagi hadiah🥰