
Datul sudah rapi. Kemarin Hamam sudah meminta ijin pada Farkhan kalau hari ini mereka akan pergi bersama ke klinik ke cantikan. Sebenarnya Hamam sudah menawarkan untuk memberi uangnya saja, tapi Datul menolak dengan dalil cemas kalau nanti uang pemberian Hamam kurang, Datul tidak mau tombok. Lagian apa yang mau buat tombok wong jalankan uang, bau uang aja Datul ga pernah nyium. Melas, melas.
Datul senyum-senyum sendiri di depan cermin. Meski sudah di peringatkan di larang baper, tapi dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri, kalau di sana ada taman bunga kecil yang sedang bermekaran. Menunggu di jemput Mas Haman dan di bonceng untuk ke dua kalinya. Hatinya tralala trilili... seneng dong bakal di boncengin pria tampan. Ada rasa bangga juga, terlebih Hamam sangat baik padanya.
Namun tralala trilili itu tak bertahan lama. Setelah Datul membaca chat dari Hamam. Genderang di hati Datul berubah jadi alunan duka. Ngekkk.... ngokkkk....!
[Kita bertemu di depan klinik, cepet! awas kalau lelet!]
Hih, rasanya Datul pengen membanting ponselnya sendiri. Tapi urung karena ingat itu harta satu-satunya yang dia miliki. Terpaksa Datul berangkat sendiri. Naik angkot.
***
Setengah jam kemudian Datul sampai di depan klinik kecantikan berlogo Ns Glow. Turun dari angkutan desa, Datul sudah di sambut cengiran Hamam yang sudah nangkring di atas motornya. Datul masih sebal, ekspektasinya tadi di hancurkan begitu saja. Hamam sering sekali begitu. Bisa berbuat baik, namun bersamaan dengan itu juga bisa berbuat laknat. Seperti sekarang ini.
"Akhirnya sampai juga, kog lama sih!?" Protes Hamam Amirul Mukminin.
"Salah siapa ga jadi jemput" Datul merenggut, dia harus merelakan uang lima ribu rupiah untuk membayar angkutan tadi. Padahal aslinya mayan bisa buat beli mie lidi.
"emang kemarin aku janji jemput kamu? enggak kan?"
"Kamu ngarep di jemput ya?"
Wajah Hamam masih tanpa dosa, masih sempat juga menggoda Datul yang jelas ngambek.
"Tau ah..." Datul lama-lama asli pengen gigit tangan Mas Hamam. Gemesh.
"Hahaha ... manyun terosss, dah lah tuh jerawat bakal meletus kalo kamu manyun teros Tul"
"Aghhh.... jahatnya mulutmu Mas. Aku pakai masker hlo ini, gimana kamu tahu kalau aku lagi manyun?" Datul bingung sendiri.
Hamam terkekeh geli. "Tahulah, wong yang kamu tutupi masker bukan mulutmu tapi jidad mu itu"
Datul panik. Benar saja, tadi di dalam angkutan dia engap lantas bukan menurunkan maskernya malah dia naikan sampai jidad. Terus malah lupa tidak membetulkannya lagi. Pantas saja tadi abang supirnya senyum-senyum, Datul kelihatan bego banget ga sih?
Sialnya lagi Mas Hamam jadi ngelihat jelas jerawat yang selama ini Datul tutupi layaknya aib.
Duh... malunya ... ada karung ga sih? pengen di karungin aja anakmu ini Pak...
Datul tak sanggup membalas ucapan Hamam. Buru-buru dia membetulkan masker. Hamam Amirul Mukminin yang gantengnya bak pangeran kesasar itu ngakak sambil memutar tumit untuk masuk. Bahu Datul merosot. Semesta selalu saja membuat dirinya terlihat bodoh dan menyedihkan.
Baru berdiri di meja resepsionis, ketampanan Hamam sudah menyihir para wanita di sana. Mbak-mbak berseragam pink yang jelas karyawan di klinik itupun terlihat berbisik-bisik mengagumi Hamam. Datul yang di samping Hamam seperti kentut, transparan tapi ada namun tak di anggap.
__ADS_1
"Mas namanya siapa? wajahnya glow up maximal, masih mau perawatan? atau jangan-jangan Mas ini artis yang menyamar jadi rakyat jelantah ya?" goda Mbak karyawan 1 yang alisnya berbentuk celurit. Cantik sih.
Hamam tersenyum ramah yang malah membuat mereka semakin tersipu-sipu.
"Bukan saya yang mau perawatan wajah, tapi ini dia teman saya,"
Mbak beralis celurit melirik Datul. Memindai dari atas ke bawah. "Siapa namanya Mbak!"
Hloh, log ketus. Batin Datul. Tadi saja manis-manis bicara sama Mas Hamam. Giliran sama Datul. Judes.
"Mai-- Maidatul..."
"Mau ambil paket apa!" Datul bingung lantas menoleh pada Hamam, selama ini dia hanya mampu membeli krimnya saja. Untuk facial apalagi perawatan wajah yang lain dia belum mampu, bukan kelasnya perawatan di sini.
"Eummm... semisal kita konsultasi dulu sama dokternya gimana Mbak? soalnya teman saya ini jerawatnya meradang parah..." ujar Hamam mewakili Datul.
"Boleh... boleh tentu saja" langsung mode manis.
Hih, dasar ga berperi keadilan! Batin Datul.
Setelah mendaftar, mereka pun duduk di ruang tunggu. Tidak berbeda dari tadi. Hamam tetap jadi pusat perhatian di manapun dia bernafas. Pasien yang sama mengantri pun bersikap curi-curi pandang pada Hamam. Datul tidak kaget.
"Tul, kira-kira wajah kamu bakal sembuh ga ya setelah dari sini?" pertanyaan Hamam menarik perhatian Datul yang sejak tadi memilih diam, pura-pura sibuk memainkan hp. Boro-boro sibuk, chat aja sepi!
"Kog?"
Datul membuang nafasnya sedikit berat. "Huftyyy... kata Bapak jerawat-jerawat ini bakal hilang sendiri kalau aku sudah menikah, entahlah... benar atau tidak, kalau aku percaya kog kesannya kayak dongeng"
"Dongeng? semacam kutukan yang bakal hilang jika bertemu pangeran? begitu maksud kamu?"
"Hmm.... " Datul mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, cepatlah menikah! lumayan, kamu ga bakal pusing lagi buat beli krim, karena itu artinya kamu sudah dapat obat mujarab bukan?"
"Cepat menikah? sama kucing?"
Hamam terkekeh. Lupa kalau Datul jones.
"Ya kali kucing mau sama kamu"
"Kalau begitu, Mas Hamam nikahin kau aja"
__ADS_1
"Hah?!" Sekarang Hamam yang cengo. Beruntung bersamaan dengan itu nama Datul di panggil.
"Becanda Mas, shock gitu wajahnya, hehe...."
Hamam memang sedikit kaget. Tidak biasanya Datul seberani itu menggoda dirinya.
"Mas Hamam ikutan masukkan? gimanapun Mas Hamam yang bakal bayar, tindakan apa nanti harus sepengetahuan Mas Hamam, biar nanti ga kaget juga pas waktu bayar"
"Iya ... iya ..., heran, aku udah mirip Bapak kamu sekarang" untung saja Hamam pintar menutupi ke terkejutannya.
Duduk di hadapan dokter perempuan bernama Aini Ernawati itu, Datul di minta melepaskan maskernya. Meski ragu karena malu pada Hamam, tapi mau tidak mau dia menurut. Toh dia sendiri yang meminta Hamam ikut masuk tadi.
"Wahhh... bisa separah ini... harus di laser biru kalau ini... sebulan sekali dan bertahap"
Datul meringis, membayangkan nominal yang harus di bayarkan nanti.
"Hmmm... ga bisa pakai krim saja Bu?" meski di bayari kalau habis banyak Datul juga ga enak hati. Apalagi status dia dan Hamam hanya sebatas teman he-he-he.
"Krim sudah pasti, pagi, sore, malam, di tambah obat minum, ini parah loh, tapi jangan khawatir, asal Mbak Datul telaten pasti membaik"
"Tapi ini bukan cacar monyet kan Dok?" tanya Hamam tiba-tiba. Dokter Erna tersenyum.
"Jelas bukan Mas, ini jelas jerawat meradang. Cacar monyet bentuknya ga seperti ini saya rasa, lagian sejauh ini virus monkey pock belum terkonfirmasi menyebar sampai sini"
"Ah... syukurlah... kalau begitu, apa boleh kami minta surat keterangan dari Dokter"
"Buat apa?" Tanya Dokter Erna heran.
"Buat bukti, kebetulan teman saya ini di fitnah orang, saya mau pakai surat dari dokter buat menyumpal mulut orang itu!"
Dokter Erna lantas terkekeh, melihat Hamam menggebu-gebu namun terlihat lucu itu siapa yang tidak ingin tertawa.
bersambung...
_
_
_
_
__ADS_1
Capek banget nulis segitu aja😌 Nas dulu😜