Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 32: Kamu Empat, Aku Lima


__ADS_3

"Kenalkan namanya Maidatul Khan, ga perlu salaman kalian, ini bukan hari raya kali"


"Wuisss... over protective!!!" sorak kelima teman Hamam sambil tertawa pecah.


Karena tawa mereka, tak pelak sekarang mereka jadi perhatian. Datul hanya bisa meringis saat di kerumuni cowok-cowok bak gula yang sedang di kerumuni semut. Sungguh situasi yang tidak nyaman sekali.


Sementara itu, ciwi-ciwi teman satu fakultas Hamam mendekat. Menyapa mahasiswa yang bisa di bilang icon kampus mereka karena ketampanannya.


"Uhhh... ternyata kamu di sini? kita cari-cari dari tadi" sapa Dila, gadis yang sejak semester awal sudah mengejar-ngejar Hamam dan mengklaim kalau hanya dirinya yang pantas jadi pacar Hamam. Padahal enggak tuh. Hamam ga minat sama sekali pada gadis yang demen joget-joget pamer kemolekan tubuh dan sok cantik di medsos, terutama di Tok-Tok.


"iya... Hamam kog ga nyapa kita sih dari tadi" ungkap gadis satunya. Dua gadis lagi hanya manggut-manggut nyimak. Dila sudah mirip ketua geng dan tiga gadis yang lain dayang-dayangnya. Wes embuh, ini novel apa sinetron.


"Ga maulah Hamam nyapa kalian, berisik!"


"Ga lihat nih... Hamam bawa bidadari fresh from kayangan!" si cowok paling tengil angkat ketiak, agar Dila and friends sadar diri.


"Ihh kriting! kita ga lagi mau ngomong ya sama anda, minggir!" Dila ambisius. Mendominasi lengan Hamam yang kekar manja berbalut jas rapi berwarna coklat tua. Hamam risih, tapi mau kasar juga ga enak di pesta orang. Dila memindai Datul. Lalu senyum meremehkan dia lempar ke Datul.


Cantik apanya? kakinya pendek, hidungnya kayak jambu mete, baju sih oke, tapi no! lebih bagusan gue kemana-mana...


Bagaikan upil yang menjijikkan, Dila sama sekali enggan menyapa Datul. Dia malah menarik lengan Hamam untuk ikut dengannya saja.


"Ehhh... Dil kamu apaan sih" Hamam tak berkuasa. Tubuhnya lemah saat lengannya di apit singset oleh Dila.


"Awas! awas!" Dayang-dayang itupun mengekor pada sang ratu.


Si tengil berambut keriting mencak-mencak.


"Cewek gila!"


Sekarang Datul mati kutu. Di pesta ini hanya Hamam yang dia kenal. Kalau Hamam udah di gondol wewe. Apa yang harus dia lakukan. Rasanya Datul ingin pulang saja, tapi tidak tahu jalan pulang. Sudah begitu naik bis jurusan kemana Datul pun tak tahu. Nasib gadis kurang pergaulan memang merepotkan.


Datul mencengkram clutch yang sejak tadi dia genggam. Lalu menunduk lemas. Cemas yang berlebihan membuat otaknya tidak bisa berpikir harus apa. Kakinya malah ikutan terpaku di lantai yang beralaskan karpet merah. Padahal kalau Datul mau pintar sedikit saja. Dia bisa leluasa makan hidangan sepuasnya tanpa khawatir ada yang mengenalinya. Toh di pesta orang kaya seperti ini banyak yang tidak saling kenal.


"Mai," Datul mendongakkan kepala. Sesaat dia lupa masih ada lima manusia berjenis kelamin laki-laki di sekitarnya.


Baiklah Mas Hamam, mari kita nikmati pesta malam ini. Kamu empat, aku lima. Kalau kamu bisa tersenyum, aku juga!


"Hai..." balas Datul dengan full senyum meski di dalam hati sana dongkol dan api panas menjilat-jilat bak api unggun.


Cowok tengil berambut keriting yang sepertinya berbakat jadi buaya malam itu memperkenalkan diri dan bersikap ramah sekali pada Datul.


"Hamam tadi belum kenalin masing-masing kita,"


"Kenalin aku Tomi, ini Gilang, ini Ari, terus yang paling pendiam itu Dwi, paling ujung Aji" mereka satu persatu say hello pada Datul. Ini namanya manusia. Batin Datul.


"sekarang kita berteman, santai aja, kita anak-anak baik kog, ya kan ***!"


"Yo mesti ***!!!" Gilang terkekeh.


"Ya, baik-baik kalau jam segini, lihat ntar agak malaman, dia bakal jadi garangan!" Giliran Aji menimpali omongan Tomi yang sok baik.


"itu elu bego! kalau gue emang baik anaknya, beneran deh Mai, ga percaya tanya emak gue di rumah, gue lahir jebrol langsung baik ga ada bakat jadi orang jahat tuh"


"Halah setan lu" Timpal Gilang.


Tawa mereka seketika pecah lagi. Panggilan Mai oleh teman-teman Hamam entah mengapa membawa kenyamanan di telinga Datul. Datul merasa tidak ada salahnya dia berbaur. Toh sudah kepalang basah. Sudah cantik maksimal masak mau sedih, emanlah make up mahalnya. Kebayang Tamara ngoceh kalau sampai make up mahakaryanya luntur.

__ADS_1


Pesta pernikahan itu semakin malam semakin ramai. Di iringi penyanyi wanita yang membawakan lagu-lagu romantis, Datul menikmati pesta itu meski tanpa Hamam. Dia menikmati hidangan satu meja bersama ke lima sahabat Hamam yang sekarang jadi temannya juga. Candaan Tomi tak pernah gagal membuat Datul tersenyum hingga tertawa terbahak.


Di sudut meja lain, Hamam mendengus kesal.


Bagaimana bisa Datul ramah dengan mereka. Ketawa-ketiwi bebas seperti itu. Sedangkan aku malah terkurung satu meja bersama gadis-gadis cerewet yang membuat kepalaku pening sekarang, sialan!


Datul tahu, meski berjarak beberapa meja dengan Hamam. Beberapa kali Datul menangkap jika Hamam memperhatikannya dari sana. Datul ingin meneguk minumannya sekali lagi, tapi ternyata gelasnya sudah kosong.


"Permisi, aku mau ambil minum dulu"


"Aku temenin ya Mai" Tomi sigap hendak berdiri. Diantara yang lain, terlihat sekali jika lawan Jery si tikus itu tertarik pada Datul.


"Enggak usah, aku ambil minum doang, bukan pergi ke pasar jadi ga perlu diantar"


"Berarti kapan-kapan kalau mau ke pasar boleh dong aku antar" Tomi cengengesan. Gombalin Mai sekarang jadi hiburan untuknya. Sontak saja bungkus lemper dari daun pisang, Gilang lempar tepat di pipi Tomi.


"Garangan! Garangan!"


Datul tersenyum. Langkahnya anggun menuju meja dimana minuman rasa-rasa ada di sana. Dari rasa melon sampai ra sah bayar. Alias geratis. Hihi...


Hamam yang melihat pergerakan Datul langsung gesit menegakkan badan.


"Aku ambil minum dulu Dil"


"Okeh, jangan lama-lama ya" centil Dila


Hamam berdiri di belakang Datul, pura-pura mengantri untuk mengambil minum.


"Ehem!"


Datul berjingkat lalu menoleh. "Mengagetkan saja"


Datul mengernyitkan dahi. Kata-kata Hamam sungguh aneh. "mereka maksud kamu? temen-temen kamu?"


"Hmm... mereka memang sering bicara manis seperti tadi, sudah biasa mulut mereka manis, kamu jangan gampang percaya apalagi baper," Datul mendengus, apa maksudnya dia bicara seperti itu. Setengah jengkel Datul melirik Hamam sengit.


Sudah main ninggal tadi, sekarang malah gramyang ga jelas!


"permisi, silahkan kalau mau ambil minum"


"Heh Datul tunggu!"


"Mas Hamam berisik, kenapa sih? katanya mau ambil minum, silahkan sana" ucap Datul dengan nada datar. Padahal juga menahan emosi jiwa.


"Kamu dateng kesini bareng aku, terus haha hihi sama mereka, ga pentes!"


Datul menelengkan kepala. "Hellooo panda, memang iya kamu yang ngajak aku kesini, terus tadi yang main ninggalin aku siapa ya?"


Hamam tergagap. "Itu karena..."


"Mai kog lama sih ambil minumnya" potong Tomi yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.


"Oh iya, ini udah"


"Lagunya enak banget nih, kita dansa yok"


"Dansa?"

__ADS_1


"Iya, mau?" Tomi mengulurkan tangan, Datul bingung sembari mengedarkan pandangan pada Hamam.


"Aku ga bisa dansa"


"Gampang kali, nanti aku ajari, tinggal ngikuti irama, lihat itu, masa kita kalah sama lansia" tunjuk Tomi pada sepasang kakek nenek yang sedang berdansa mesra.


"EHEM!!!!"


Hamam menatap tajam pada Tomi. "Tom, lo ga lagi berniat nikung gebetan gue kan?"


Sumpah Datul bergetar. Ini Mas Hamam bicara apa sih. Pura-pura kog totalitas banget. Bisa sekali bikin aku bingung sekaligus baper.


"UPS, gue kira lo udah nyaman sama Dila"


"Huh Dila ga penting, ga ada acara Datul dansa sama kamu, enak aja"


"Apaan, lo dari tadi aja nyaman di sana, giliran Mai udah nyaman sama gue kog baru cerewet"


Hamam memegang pergelangan tangan Datul dan menariknya sedikit kasar untuk jalan. Minuman di tangan Datul sampai tumpah kelantai. Buru-buru Datul menyerahkan gelasnya pada Tomi. Dari pada gelasnya jatuh malah tambah rame.


"Kita pulang sekarang"


"Ehhhh..."


"Mam, jangan keterlaluan kamu!" teriak Tomi.


Hamam tidak peduli. Dia terus menarik Datul bahkan melewati orang-orang yang berdiri sesak, menonton para pasangan lain yang asyik berdansa.


Sesampainya di parkiran mobil, Datul menarik tangannya yang terasa panas akibat cengkraman tangan Hamam.


"Lepas! ini sakit Mas!" Datul merasa sikap Hamam ini keterlaluan. Dia masih manusia belum berubah jadi kambing, kog enak sekali Hamam narik-narik dia, kasar gitu lagi.


"Sori..." ucap Hamam frustasi, dia juga bingung kenapa bisa emosi seperti itu. Tapi lagi-lagi ego Hamam di atas segalanya.


"KAMU ITU KESINI SEBAGAI PACARKU"


"Bukan malah kayak gadis murahan, yang mau di kerubungi laki-laki"


"Ketawa-ketawa, hah, kamu seneng banget ya di gituin! bangga di sanjung cantik!?" Hamam berkacak pinggang.


"Jangan lupa Datul, mereka itu ga tau bagaimana aslinya kamu"


"Jangan di bilang cantik saja kamu sudah langsung terbang, besar kepala"


Jahat, itu jahat sekali. Datul tidak menyangka Hamam bisa bicara sejahat itu. Datul meneteskan air mata. Padahal tidak usah di jelaskan, tidak usah di terangkan. Datul sudah sadar dan belum hilang ingatan. Dia hanya upik abu yang sedang jadi Cinderella. Yang tidak perlu menunggu jam dua belas malam untuk berubah jadi dekil.


Emosi Datul memuncak. Diambilnya tisu basah dari dalam clutch yang dia tenteng. Lalu memakai tisu itu untuk mengusap make up di wajah. Dengan kasar, Datul mengusap seluruh make up di wajahnya hingga wajah aslinya yang berjerawat terlihat sempurna.


Datul meraih tangan Hamam dan menyerahkan tisu bekas itu ke genggaman tangan Hamam.


"Kita pulang sekarang!" ucap Datul dengan nada sendu.


_


_


_

__ADS_1


Hloh, kog malah bertengkar sih mereka. Gimana sih author ini😛


__ADS_2