Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 54: Jalan Malioboro


__ADS_3

Dari pom bensin tempat mereka menumpang mandi, mereka naik Trans Jogja dan diturunkan di halte Malioboro. Datul berbinar ketika kakinya berhasil menapak di trotoar Malioboro. Sore yang hangat. Deretan toko-toko berpadu dengan tatanan kota yang instagramable. Kabarnya semakin malam daerah Malioboro akan semakin ramai.


Datul ingin ngelunjak main di tempat ini hingga larut malam. Tapi Mas Hamam yang sejak tadi mulutnya sudah menjulidi gaun yang Datul pakai mana mau.


Datul! astaga baju apa yang kamu pakai?


Datul! rok kamu itu apa tidak kurang panjang?


Kenapa pakai dress warna merah mencolok mata gitu? kamu kesini mau jadi jablay?


Pedes ya mulutnya Mas Hamam? Lama-lama aku cium baru tahu rasa dia.


Aku cuma pakai dress merah di atas lutut dua senti palingan. Dia ngomelnya sepanjang jalan kenangan.


Apa salahnya juga pakai warna merah, Mas Hamam yang berisik kayak anggota partai yang sensi dengan partai merah.


Jadi sekarang giliran Mas Hamam yang ngambek. Gara-garanya ya itu, Datul tidak mau mengganti dress yang dia pakai sekarang. Kata Mas Hamam tadi, mending Datul pakai kolor kotak-kotak aja sama pakai kaos, daripada kemayu pakai dress merah cetar membahana. Ya meski atasannya di padu jaket jins, tetap saja mencolok.


Hilih, Datul cuma pengen kelihatan gaul kog, sumpah, enggak pengen jadi jablay juga. Meski aslinya emang jarang di belai. Lagipula sekarang mereka itu sedang jadi turis, jadi menurut Datul apa salahnya bergaya.


Datul menusuk-nusuk punggung Mas Hamam yang jalan lebih dulu di depannya. Udah gitu jalannya cepet banget. Datul jadi curiga, mereka sepertinya kesini bukan untuk jalan-jalan tapi untuk lomba gerak jalan. Satu, satu, dua, dua, satu, satu, dua, dua!!! Gitu aja terus sampai lebaran.


"Mas Hamam yuhu.... aku ketinggalan nih!"


Datul sejak kapan jadi manja gitu ya.


Mas Hamam kekeh, males noleh. Datul jadi semangat menggoda ini. Gelayutan di lengan Mas Hamam. "Dih ambekan ternyata."


"Kalau kayak gini, Mas Hamam kayak suami posesif tau"


"Aku bukan suami kamu!" sambar Hamam dengan langkah masih cepat. Tidak peduli dengan berpasang-pasang mata yang melirik mereka.


"Memang pakai dress kayak gini, enggak pantes ya aku? enggak cantik?" Duh Datul sifat dari mana sih ini, atau jangan-jangan pas semobil bareng kambing tadi, nyawa Datul tidak sengaja tertukar dengan nyawa embek betina. Kenapa dia jadi kemayu plus enggak tahu malum


Cantik banget dan bikin tubuhku adem panas.


"Khem!" Mas Hamam berdehem dan mengusap belakang lehernya. Gaya tubuh apa itu. Datul tidak paham. Baru kali ini Mas Hamam bergaya seperti itu. Lupakan!


Sekarang waktunya Datul membujuk Mas Hamam. Gawat kalau tidak jadi di belikan cilok sedandang.


Datul menarik ujung kemeja Hamam. Mengiba karena perutnya juga sudah mulai lapar. "Mas aku laper..."


"Enggak ada makan kalau kamu enggak mau ganti baju"


Demi Fredi tapi bukan Sambo. Datul jadi gemas sendiri. "Di bilangin aku udah enggak ada baju ganti kog"


"Kamu bisa pakai baju yang tadi!"


"Yang bau kambing? hla Yo ogah aku Mas"


"Kalau begitu kita beli baju ganti sekarang"


Datul menggeleng. Enak aja, dress ini spesial Datul siapkan buat foto-foto di sini. Mana boleh seperti itu. "Nanti gampanglah Mas, mending sekarang kita happy-happy dulu, cari makan, beli cilok, beli Boba, beli oleh-oleh juga, bakpia, bakpia tugu Mas, aku pengen, katanya enak, aku belom pernah coba sih"


Cetakkk!

__ADS_1


Mas Hamam menyentil jidad Datul. Untung pas enggak ada jerawatnya di sana. Datul meringis. "Eh... nyentilnya beneran sakit hloh"


"Nyinyi-nyinyi... ceriwis! enggak bisa ngomong pelan?"


"Hihihi... bisa Mas bisa..."


"Coba ngomong yang bener" tantang Mas Hamam dengan tangan bersidekap. Kalau sudah begitu Datul mana berani menolak. Mending pasang wajah memelas.


"Mas Hamam please... kita jalan-jalan dulu, janji nanti ganti baju"


"Heumm... baik, tapi janji nanti kamu harus mau pakai baju sesuai pilihanku, enggak ada penolakan!"


"Nan...!"


Datul baru mangap, tapi Mas Hamam udah gercep pegang pergelangan tangan Datul.


"Ayo jalan!"


Yaya... apa hanya Datul yang merasa kalau Mas Hamam sering banget main gandeng gitu. Datul enggak keberatan sih, malah seneng.


Gandeng teros adek bangggg!


Astaghfirullah, jijik ah Tul.


***


Datul menikmati sore itu. Setelah perutnya kenyang dengan semangkuk bakso malang, rasanya dia sudah siap jiwa raga untuk menjelajahi kota dengan julukan kota gudeg itu.


"Mau cilok dan Boba Mas"


Mencari jajanan di sekitar sana tidak akan kesulitan. Rasanya semua jajan dari Sabang sampai Merauke ada semua.


"Mas Hamam sekalian mau di bungkuskan?"


"Boba aja"


"Rasa apa?"


"Taro"


"Hmm... aku kira Mas Hamam mau jawab, rasanya aku jatuh cinta sama kamu Tul, hihihi..." Datul cekikikan. Ngarep banget di cintai Mas Hamam. Baper lagi nangis lagi hlo Tul.


"DATUL!!!"


Sebelum di omeli, Datul lari berjingkat, menyusup di antara pembeli cilok yang lain. Mas Hamam geleng-geleng kepala. Laki-laki yang tampannya bikin ngelus dada itu memilih duduk bersandar di kursi besi pinggir jalan. Menikmati suasana Malioboro yang begitu istimewa.


Datul lama-lama meresahkan juga, enggak sadar roknya nyaris tersingkap di ajak lari-lari gitu... ahhhh... ini kenapa aku jadi panas keringatan sih... fiyuhhh!


"Mas Hamam! pesanan datang yuhu..." ucap Datul beberapa menit kemudian.


"Hebat juga kamu, bisa cepet kalau masalah beli jajan"


"Ini namanya the power of pesona Maidatul Khan, pernah denger istilah wanita cantik selalu di utamakan? ini buktinya"


Mas Haman merebut cup Boba di tangan Datul. Menusuk penutup cup itu dengan hati yang terusik. Lalu menyedotnya kuat-kuat.

__ADS_1


Sruuutttttt!!!


"Jangan kecentilan, nanti kamu sendiri yang rugi"


Datul mencebik. "Siapa yang centil, godain yang jualan aja enggak"


Datul suka heran, Mas Hamam itu ada masalah apa coba. Dikit-dikit ngomel. Dibilang cemburu enggak mau. Di cintai juga enggak mau. Repot Datul dong menata hatinya gimana coba.


Datul ikut minum es Boba miliknya sendiri. Rasa tiramisu. Masih enak-enaknya nyedot juga di ganggu lagi.


"Bagi dong, kayaknya punyamu enak"


Sruuuttttttt!!!!


"Ahh... Enakkkk"


"Eh..." Datul melongo.


"Mas Hamam, bisa enggak jangan main comot, itu sedotanya bekas aku minum"


"Terus kenapa? keberatan? mau bilang kalau minum satu sedotan yang sama kita secara tidak langsung kayak ciuman? kita bahkan udah ciuman beneran tadi pagi"


Asem, asem apa yang bikin jengkel?


Asem tenan! Datul misuh-misuh dalam hati.


Bilangnya hanya terbawa nafsu, tapi masih di ungkit juga. Jangan-jangan itu alibi Mas Hamam saja.


"Ungkit teros Mas, hobi banget bikin aku jengkel"


Datul bangkit dari duduknya. Berniat mendekati papan tulisan Jalan Malioboro yang menjadi cita-citanya untuk berfoto di sana.


"Heh, mau kemana? ayo jalan lagi, katanya mau beli baju"


"Mau foto dulu, tuh mumpung udah agak sepi"


"Buat apa coba foto di depan tulisan gitu doang di pengenin"


"Hish... biar afdol! buruan ah"


Datul berpose layaknya anak muda yang sedang alay-alaynya. Dua jarinya membentuk lambang piss, lalu satu matanya menutup bergaya orang glilipan.


Centilnya masyaAllah...


Muncul niat jahil di otak Mas Hamam.


Cekrekkk!


Yang di foto cuma sebatas hidung Datul ke atas. Yang penting tulisan jalan Malioboro kelihatan. Hehe ...


Enggak kepikiran nantinya Datul bakal jingkrak-jingkrak kayak kuda lepas dari kandang.



Si Datul sengaja nyewa topi gituan buat berfoto gaess... Mau beli eman-eman ntar enggak kepakai juga. Datul kan jarang pikenik.🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2