
Omongan Mas Hamam berputar di otak Datul yang bodoh.
"Di kibulin kamu Tul, lagian kalo dia cowok baik, harusnya gimanapun yah, anterin kamu pulang dulu kek, enggak malah di gabur, udah kayak burung merpati kamu Tul, mau aja di gabur"
Datul meremat mie instan yang ada di tangannya. "Enak aja menyamakan aku dengan seekor burung!"
Kremek! Kremek!
Karena emosi Datul tidak sadar meremat mienya hingga remuk. Padahal tadinya dia ingin merebus mie itu karena masih lapar.
"Duh, padahal udah mendidih airnya, ini semua gara-gara Mas Hamam haah!" monolog Datul yang sudah mirip orang gila.
Kompor dia matikan, lalu memakan mentah-mentah mie remuk itu setelah mencampurkan semua bumbu bubuk kedalamnya. Biarlah mie itu mengembang sendirinya di dalam lambung Datul.
****
Gara-gara omongan Mas Hamam, Datul jadi kepengen mengulik Mas Ali saat bekerja. Pacarnya seorang supir busway, tapi Datul sendiri belum pernah ikut di bus yang di supiri Mas Ali.
Datul mengutarakan keinginannya saat mereka bertukar pesan. Saat itu Datul tidak habis pikir kalau Mas Ali menolak Datul ikut.
^^^[Kenapa enggak boleh?]^^^
[enggak enak kalo di lihat teman kerja, nanti di pikir aku enggak profesional]
Padahal, Datul tidak minta di pangku hlo ya. Dia cuma ingin ikut, jadi layaknya penumpang yang membeli tiket dan duduk anteng di kursi penumpang. Kalau di larang kan jadinya Datul berpikir yang aneh-aneh. Jangan-jangan Mas Ali sudah punya pacar di tempat kerja. Jangan-jangan Mas Ali malu punya pacar yang enggak cantik kayak Datul.
Datul merajuk selama satu Minggu ada. Dia abaikan Mas Alinya itu. Sesekali Datul ingin melihat feedback dari Mas Ali. Apa peduli atau malah loss dol. Lagian lumayan, satu Minggu Datul jadi bisa menghemat, tidak membelikan sarapan atau makan siang. Meskipun hatinya tetap saja was-was. Sudah makan belum pacarnya. Ditambah kangen dan hatinya merasa kosong juga.
Dan sialnya, Mas Ali tidak ada pergerakan. Menghilang kayak kentut tanpa bau. Balas mendiamkan Datul. Tidak ada chat masuk apalagi panggilan telpon. Datul jadi uring-uringan sendiri. Tiada hari tanpa merengut. Bawaanya marah-marah dan jutek.
Pernah pas pagi itu, dia juga tidak fokus bekerja. Mengisi tangki bensin motor pembeli hingga luber-luber. Padahal pembeli itu cuma beli sepuluh ribu. Karena itu kelalaian Datul, jadi terpaksa dia yang tombok dengan uang pribadinya. Sedangkan si pembeli berulang kali mengucapkan terimakasih.
Tidak cuma itu, dia kayak orang linglung. Uang lima puluh ribu yang dia genggam, dia kira struk tidak penting. Ia remat-remat lalu di buang di tempat sampah. Pas pulang sampai rumah baru heboh, kehilangan uang lima puluh ribu rupiah.
Gila aku, gila!
Hari berikutnya Datul libur kerja. Dia dandan secantik mungkin. Tapi sayangnya tidak juga cantik-cantik. Apalagi Datul sekarang berhenti pakai krim Ns Glow. Yo tidak mampu wong gajian Datul ludes buat setoran motor dan paylater. Meski begitu Datul merasa sudah maksimal dan tidak malu-maluin. Masalah wajah kan bisa di manipulasi dengan pemakaian masker. Amanlah.
Datul sudah membeli tiket. Dia duduk di halte mengamati petugas busway satu persatu. Dimana Mas Alinya? Mata Datul terus mencari. Hingga satu bus dengan nomor lambung 007 merapat. Dan Mas Ali yang gagah perwira terlihat di sana. Duduk di kursi supir. Iyalah, dia kan supir.
Tanpa sadar Datul menarik ujung bibirnya. Sehebat ini cinta. Hanya melihat dari kejauhan, penyakit linglung, galau, mencret -mencret, hilang seketika. Biar saja di cap Datul keras kepala. Yang penting keinginannya terpenuhi.
__ADS_1
^^^[Aku di halte Mas, ikut ya?]^^^
Mata Datul melihat kearah Mas Ali. Pria itu terlihat menunduk, menekuri ponsel. Lalu centang biru dua terbaca di ponsel Datul.
[Masuk!]
Hati Datul lega. Dia kira akan di usir pulang. Tapi balasan singkat itu cukup membuat Datul puas. Datul masuk kedalam bus. Menghampiri Mas Ali lalu menyerahkan bekal makan siang istimewa. Sengaja Datul membelikan lauk rendang sapi untuk Mas Ali tercinta.
"Buat makan nanti"
"udah capek ngambeknya?"
Datul mencelos, sebel tapi kangen. Euuuhhhh!
"pengen di rayu tapi kog malah di cuekin, bikin capek!"
"Hahaha... salah siapa ngambek. Kayak anak kecil"
"Emang aku anak kecil, Mas Ali tuh ya tua"
Mas Ali meraih tangan Datul. Menggenggam sebentar, mumpung belum ada penumpang lain. "Aku kangen, kamu ikut aku kerja ya, tapi duduknya di belakang sana"
"Iya tahu, lagian area perempuan kan emang duduk di belakang"
"Apaan sih Mas! aku kebelakang sekarang ya"
Datul ngacir, karena ada penumpang yang baru saja masuk. Tanpa dia sadari rekan kerja Mas Ali ada yang mengamati interaksi mereka dari luar.
Syukurlah Datul kesini pas Vivi libur. Bisa gawat kalau Vivi lihat.
Seharian Datul ikut Mas Ali kerja. Dari matahari terang hingga redup lalu menghilang. Busway mereka berkeliling tiga kali pulang pergi, mengantarkan penumpang dari satu titik ke titik lainnya.
Selesai dengan pekerjaannya, Mas Ali mengajak Datul makan dulu sebelum pulang. Mereka mampir di warung pinggir jalan. Semacam warung Lamongan.
Dari hasil pengamatan Datul, sejauh ini Mas Ali memang fokus bekerja. Pun meskipun kondektur busnya perempuan, tapi interaksi keduanya normal-normal saja. Mas Ali juga tidak genit sama penumpang. Fokus lihat jalan. Datul sempat tertidur saat di perjalanan, habisnya cara menyupir Mas Ali memang halus, tidak ugal-ugalan apalagi macam jet Koster. Kepercayaan Datul kembali full untuk Mas Ali. Dia merutuki dirinya sendiri karena sempat mempertanyakan kejujuran kekasihnya itu.
"Oh ya Mas, bagaimana keadaan ibu kamu?"
Mas Ali hampir tersedak duri lele. "Ekhem... ibu ya... ibu udah membaik... alhamdulilah"
Dusta, padahal ibu Mas Ali sudah meninggal tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
"Kapan ajak aku ketemu ibu? aku pengen jenguk"
Mas Ali tidak kehabisan alasan. Dia pembohong profesional. "Ibu kemarin di bawa kang Masku pulang ke Solo. Di sini enggak ada yang ngerawat. Aku kerja kamu tahu sendiri"
"Oh... harusnya kemarin aku jenguk ibu kamu ya Mas, tapi malah kita ambekan, jadi enggak sempet deh"
"Syukurlah kalau ibu udah membaik"
"Iya enggak apa-apa, udah habisin makanmu, habis ini aku antar pulang"
"Oke, suapin Mas" manja Datul.
Mau tak mau Mas Ali menyuapi Datul. Dalam hati dia ingin muntah dengan sikap Datul.
Anjir! iya kalau cantik, manja sih seneng-seneng aja aku, lama-lama aku muak juga sama ini gadis.
"Eummm... makan dari tangan Mas Ali bikin makanan ini semakin enak sepuluh kali lipat"
"Sungguh?"
"Serius, Mas Ali mau gantian di suapi?"
Ihhhh najis!
"Enggak, malu, katamu aku udah tua"
"Wkwkwkkwkw.... orang tua romantis juga boleh kog Mas, enggak ada undang-undang yang melarang"
"Hmmm.... malu Datul!"
"Ya udah deh, aku enggak maksa"
"Aaaa...." Datul membuka mulutnya lebar-lebar. Minta di suapi lagi. Sungguh aslinya Mas Ali pengen misuh-misuh.
_
_
_
Happy reading 🥰
__ADS_1
Aku kepengen dapat notifikasi like dan komen yang banyak🤗
Pengen banget, sumpih✌️