Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 78: Pokoknya Lima Bulan Lagi!


__ADS_3

Saat Datul menapakan kaki turun dari motor, saat itu juga ibu Mas Hamam keluar dari rumah. Wanita itu ternyata sudah tidak sabar, ingin melihat siapa gadis yang di bawa anak laki-lakinya.


"Eh... kamu Datul anaknya Pak Farkhan yang jualan kerupuk kan?"


Datul di serang canggung bukan main. Ingin bersalaman tapi kog bukan tamu jauh. Sedangkan ingin langsung mengakrabkan diri kog takut di kira cari muka. Ujungnya Datul cuma bisa drengesan melempar senyum bodoh. Nglenyer poll!


Baru masuk rumah, Datul langsung di giring ke ruang makan. Di atas meja sudah tertata makanan aneka ragam hayati. Datul nyaris tersandung kaki kursi sangking tergiurnya oleh makanan yang semuanya terlihat enak.


"Bapak mana Bu?" Itu Mas Hamam yang bertanya.


"Bapakmu biasalah ikut manaqiban di mushola, tuh suara siapa kalau bukan Bapakmu"


"Duduk Datul, jangan sungkan-sungkan" lanjut Ibunya Mas Hamam.


Mas Hamam dengan pengertian menyeret kursi untuk Datul duduk. Sweat emang. Meja makan di rumah itu berbentuk bundar, jadilah posisi Datul duduk di tengah, di antara Mas Hamam dan ibunya. Jarak mereka juga tidak jauh.


Kegugupan Datul kembali di detik berikutnya. Mulutnya terasa kaku, pun bingung tidak tahu caranya berbasa-basi. Mungkin kalau masih ada sesosok ibunya ada yang mengajari. Bagaimana adat dan tata krama datang ke rumah calon mertua. Pun juga Datul tidak kepikiran untuk membawakan buah tangan. Dasar Datul payah!


"Kita ngobrol sambil makan tidak apa-apa kan kamu?"


"Khem, iya Budhe, hehe..."


"Saya itu nggak nyangka kalau kalian ini punya hubungan dekat" ucap ibunya Mas Hamam sambil menyentongkan nasi ke piring mereka.


"Kamu udah yakin sama anak saya? suka beneran kamu sama dia?"


Kerongkongan Datul terasa kering. Siapa yang tidak suka Mas Hamam, buaaannyak sekali perempuan yang antri, justru malah sebenarnya Datul yang merasa tak pantas.


"Ibu, di tawari dulu dong Datulnya mau makan apa, masak langsung gitu tanyanya,"


"Ckk! itu karena kamu juga, enggak pernah ngomong sama ibu, kalau tahu pacar kamu satu kampung kan ibu enggak kepikiran,"


"Huh, ibu kepikiran apa sih? Apa menurut ibu Hamam ini tidak laku, tanya Datul gih gimana sepak terjangnya Hamam"


Sepak terjang apa, tampan tapi tidak bisa memikat sahabatku! eh jadi aku dong yang kepincut...


"Gimana coba Datul kamu cerita, anak saya ini udah tua, lulus kuliah kalau tidak di ancam mau di jodohkan juga masih betah dia jadi mahasiswa abadi"


Datul tersenyum lagi. Tidak mungkin menyuarakan isi hatinya. Intinya Datul dari tadi hanya bisa pamer gigi. Giginya sampai kering kemripik.


"Oh ya kamu mau lauk apa, rawon atau mau ikan bakar?"


"Euuummmm..."


"Hmm... nggak usah malu-malu, kayak sama siapa"


"Biar Hamam yang ambil buat Datul. Udah nih kamu pakai sambel aja ya, enggak usah pakai lauk,"


"HAMAM!" Ibu Mas Hamam melototi putranya yang memang jahil.


"Hahaha... habisnya dia pakai malu segala. Biasa juga malu-maluin"


"Kamu tuh ya, dasar! Sini piringnya biar ibu yang ambilkan. Rawon aja ya biar kamu mudah makannya" Datul mengangguk sungkan.


Detik berikutnya mereka fokus dengan makanan masing-masing. Datul tidak banyak bicara, memang sebelumnya interaksi dengan ibu Mas Hamam sebatas menyapa atau hanya berkomunikasi saat membeli ayam potong di lapak beliau.


"Gimana enak enggak masakan ibu?"


"Eumm, enak budhe"


"Hei, mulai sekarang di biasakan panggil ibu"


"Iya Budh--, eh maksudnya ibu"


"Nah gitu... nambah makannya"


"Hehe... udah Bu, kenyang"


"Kamu juga harus sering-sering main kesini, ibu sering kesepian kalau di tinggal Hamam main"

__ADS_1


"Hehe... iya Bu"


Setelah makan Datul bermaksud membantu mencucikan piring. Tapi ibu Mas Hamam yang gelang emasnya sebesar rantai sepur itu melarangnya.


"Udah cuci tangan aja, biar nanti Hamam yang nyuci. Ayo kita pindah duduk di ruang tengah, ibu punya camilan enak"


Hihihi... merdeka! batin Datul. "Eh, enggak apa-apa biar Datul cuci dulu"


"Heei... ayo sini ada yang pengen ibu obrolin "


Seketika dada Datul berdebar lagi. Kalau begini terus, lama-lama Datul bisa lapar lagi. Perasaan dari tadi makan juga udah ngobrol.


Batin Datul.


Di ruang tengah Mas Hamam sudah dlosoran di depan tv. Enak banget jadi Mas Hamam, tidak perlu ikutan deg-degan. Datul sampai heran sendiri. Apa laki-laki yang memproklamirkan diri jadi pacarnya itu tidak takut kalau ibunya kurang sreg sama Datul?


"Hamam duduk dulu, ibu mau ngomong serius" Baru deh Mas Hamam duduk. Datul ikut bergabung duduk di lantai, sambil melirik isi toples yang ternyata kacang mete. Ughh... menggiurkan.


"Ibu serius banget wajahnya, bikin Hamam deg-degan"


Hih, dari tadi aku Mas... sambat Datul dalam hati.


"SeriusIbu tanya sama kamu Hamam, burung kamu udah bisa berdiri belum kalau deket Datul?"


Pffffttttt.... Datul hampir saja ngakak. Pertanyaan serius tanpa di sensor itu nyatanya bisa membuat Mas Hamam kelimpungan. Urat malu Mas Hamam ternyata belum putus seluruhnya. Wajar malu di tanya begitu di depan gadis.


"IBU!!!"


"Apa? ibu kan cuma mengulang pernyataan kamu kemarin"


"Gimana?"


Datul menahan tawa menunggu jawaban Mas Hamam.


"Apa kamu senyum-senyum!" sentak Mas Hamam pada Datul. Gadis itu malah cengengesan.


"He-he-he..., apa?"


"Iya udah, udah! puas ibu?"


"Hahaha.... syukurlah." Dari mata ibunya Mas Hamam Datul bisa melihat kalau beliau senang. Tangan Datul diraihnya lalu di genggam di pangkuannya.


"Datul, karena anak ibu burungnya udah bisa berdiri, kamu harus mau terima lamaran ibu untuknya, oke!"


"Hikkk... hikk!!!"


Dan terjadi lagi, Datul cegukan di saat yang tidak tepat.


****


"Apa aku bilang, ibuku pasti setuju sama hubungan kita"


Mas Hamam mengantarkan Datul pulang, sekalian mampir lagi. Datul malah terlihat lemes menyandarkan punggung di kursinya yang keras karena terbuat dari kayu jati.


"Kamu kenapa? tidak senang mau nikah?"


"Huaaaaaaaa... mau nangees. Aku belum siap Mas!"


"Umur kamu udah dua tiga, udah tua nunggu apa lagi?"


"Lagian harusnya kamu seneng aja, kapan lagi nikah sama orang tampan"


"Narsis!"


"Kenyataan Datul!"


"Mas..." Datul merengek.


"Apa? pengen di peluk?"

__ADS_1


"Aghhhh.... Mas Hamam mana tahu penderitaan ku"


"Makanya ngomong! Eh, kamu enggak mau ngasih minum calon suamimu nih?"


"Pretttt ah, pesen es sendiri sana"


"Rame og di mbak minem" Mas Hamam melongok dari jendela, dari posisinya warung Mbak Minem langsung terlihat.


"Males, banyak cewek kayaknya, emang kamu mau calon suamimu nanti di godain"


"Huh, alesan... mau minum apa?"


"Es jeruk"


"Tunggu bentar, lagian udah malam juga enggak langsung pulang malah pakai mampir, nyusahin" dumel Datul.


"Apaan sih Datul, sama calon suami gitu banget, anggap lagi latihan jadi istri sholehah, melayani suami dengan senang hati" goda Mas Hamam, Datulnya sudah menghilang di balik pintu. Beberapa menit kemudian Datul balik dengan dua gelas es jeruk dan semangkuk mie rebus.


"Aku masih kenyang..."


"Hih PD banget, emang mie ini buat kamu, mau tak makan sendiri ya, jangan minta"


"Astaga, perut karettt..."


"Aku stress Mas, butuh makan banyak" Datul menyuap satu sendok mie penuh, setelah sebelumnya dia tiup-tiup biar agak adem.


"Kasihan pacarku, segitu stresnya mau kawin" Mas Hamam mengelus pucuk kepala Datul dari tempatnya duduk.


"Mas, bilang ke ibu, apa harus nikah tahun ini?"


"Sruuuuttttppp....!" bunyi mulut Datul menyeruput mie menarik perhatian Mas Hamam. Terlihat enak kalau Datul makan.


"Kamu keberatan?" Datul mengangguk.


"Karena?"


"Aku belum ada tabungan sedikitpun Mas, kamu pahamkan posisiku gimana?"


"Hmm... aku kira apa"


"Kamu tenang aja, kalau ibuku sudah bilang kita menikah tahun ini, itu artinya ibu udah siap dana"


"Kita tinggal nikah aja dan memproduksi anak-anak yang lucu, yang banyak"


"Seriusan Mas!"


"Kamu kira aku becanda?"


"Bagi mienya dong, enak banget kayaknya" Mas Haman membuka mulutnya lebar-lebar, tapi Datul tidak peka.


"Aaaaaaa.... suapi! Aaaaaaa...." Datul baru sadar dan langsung menjejalkan satu suap besar mie ke mulut Mas Hamam dengan perasaan dongkol. Mas Haman kalau diajak serius ngomong sukanya clegekan. Datul jadi sebal sendiri.


"pkokkknyijj jgvbbhagbah tnghabh"


"Ngomong apa sih kamu Mas!"


Mas Hamam menelan mie yang berhasil dia kunyah juga. Baru deh bisa ngomong bener.


"Pokoknya kita nikah, lima bulan lagi"


_


_


_


_


Enggak pakai lama, sat set, wus-wus!

__ADS_1


Btw, di depan camer Datul cuma bisa hehe ya... kayak aku dulu, wkwkwkwk


Otw nikah🥰


__ADS_2