
Mengetik... hapus!
Mengetik... hapus!
Tingkah Datul sudah mirip penulis novel online yang sedang stuck ide. Padahal dia hanya ingin mengirim pesan maaf dan terima kasih pada Mas Hamam yang gantengnya bikin taubatan nasuha.
Gara-gara menolak menemui Hamam malam itu, note: barang kali kalian lupa. Datul bingung merangkai kata.
Mengetik ....
Mas nasi gorengnya enak, beli dimana?
Hapus!
Datul masih malu mengakui kalau sebenarnya dia sudah memakan nasi goreng pemberian Hamam.
Mengetik...
Mas, aku mau minta maaf
Hapus!
Gengsi, kemarin malam Datul memang sebel banget. Minta maaf alay tidak ya? Meskipun sadar sikapnya juga berlebihan. Datul mengerucutkan bibirnya, lalu mendengus kasar.
Tiba-tiba satu panggilan masuk. Mas Hamam is calling...
Datul yang sedang telungkup di kasur langsung menegakkan badan. Mengatur detak jantung sebelum suara indah Mas Hamam terdengar di telinganya. Ini masih pagi lur, dan Datul si buruk rupa yang pemalas sudah di telpon babang tamvan.
Pengen cek sound dulu deh sebelum bilang halo.
"Tes! ehem! ehem!"
"Tes! satu, dua, tiga, di coba!"
Datul nyengir sendiri saat sadar dia baru saja bersikap konyol.
"Yah... halo..." sengaja di buat suara semanis mungkin.
"Mengetik apa membatik?! lama sekali..." tembak Hamam seketika. Saat sahutan Datul yang terkesan lama. Di rumah yang lain Hamam sudah tahu jika Maidatul Khan tadi sempat mengetik pesan berulang tapi beberapa kali urung. Kebetulan Hamam juga masih berbalas pesan dengan salah satu teman kampusnya. Dan nama kontak Datul berada di daftar chat di bawahnya. Otomotif, eh maksudnya otomatis mata Hamam melihat dong tulisan kecil Datul is typing...
"Dih, nungguin ya?" goda Datul. Kalau lewat chat begini Datul memang berani menggoda atau membual, tapi kalau bertemu langsung, beuh Datul mengkerut, nervous nda.
"Gue-eeeeerrrr! Seorang Hamam Amirul Mukminin, mana mungkin nunggu chat dari perempuan, apalagi perempuan itu Datul mentul-mentul, sori ya!"
"Nyenyenyenye... berarti bohong dong kalau bilang tiap hari nunggu chat balasan dari Ativa"
"terkecuali dia!" sambar Hamam cepat. Bikin hati Datul terkoyak saja memang. Kerasa banget tahu. Datul diam sepersekian detik.
"Btw, gimana nasi gorengnya enak?"
Datul blingsatan, gimana Mas Hamam tahu ya?
"Eh... apa...! nasi goreng ya, eummm..." Datul terbata.
"Ga usah malu, di makan 'kan? masak iya sudah di ambil terus di buang?"
__ADS_1
"Kog tahu sih? aku ambil nasgornya?" Hamam hanya terdengar ngakak.
"Ckkk.... iya, iya... aku makan, itu tadi typing juga mau ucapin makasih!"
"Terus? belum denger kata itu hlo dari tadi..." terdengar Hamam terkekeh kecil. Hati Datul seketika bertabur bunga-bunga indah.
"Makasih Mas Hamam nasi gorengnya enak sekali btw beli dimana? kapan-kapan mau dong di traktir lagi, kan hadiah lombanya sepuluh Jeti, masih sisa buanyakkk dong ya, sikiliyin iji di biring simiyi, simi giribik-giribiknyi!" ucap Datul cepat dalam satu tarikan nafas.
"Wuakakakkaka..." Hamam tertawa terpingkal, dia suka Datul yang begini. Lucu! Suka bukan berarti c.i.n.t.a hlo, bukan!
"Borong deh borong! gampang kalau itu. Nanti malam tongkrongan yoh! aku jabanin bikin kamu kenyang deh!"
Percaya sih, kalau sama Mas Hamam ga bakal kelaparan. Secara melihat wajahnya saja Datul sudah kenyang. Hilang rasa lapar dan dahaga. Apalagi kalau lihat Mas Hamam senyum, diabetes, diabetes deh si Datul. Masalahnya saat ini Datul sedang buruk seburuk buruknya. Wajahnya breakout gila-gilaan. Jalankan bertemu Mas Hamam, sama cicak di dinding aja Datul minder. Mulusan wajah cecak ketimbang wajah Datul.
"Heh, hallo!" kebanyakan isi kepala, Datul sampai lupa lagi telponan kan.
"Ga bisa!"
"Kenapa?"
Mesti tanya alasan ya, jadi sedih. Kalau bukan karena jerawat yang meradang. Datul gercep dah.
"Lagi isolasi mandiri!" jawab Datul sekenanya. Terlalu malas menjelaskan, ini hlo Mas, mukaku yang ga cantik semakin buruk rupa gara-gara breakout.
Hamam berdecak, "Dih! korona udah pergi ke planet lain, masih aja isolasi mandiri, apa ga sekalian aja bertapa sana di gua Kalak!"
Gua Kalak adalah gua di daerah Pacitan sana. Pelataran gua ini biasa digunakan sebagai ritual-ritual gitu. Kabarnya ada seekor naga yang menjadi penghuni gua ini. Dengar-dengar sih.
"Di mana itu?" Datul cupu, jalankan letak gua, di ajak jalan ke kota aja dia udah ga bisa membedakan mana timur mana barat.
"Di Israel sana, jauhhhh..."
"Jadi ga mau nih?" tanya Hamam meyakinkan lagi.
"Enggak! aku tegaskan ya Mas Hamam yang tidak budiman, sampai batas waktu yang tidak di tentukan, aku Maidatul Khan tidak bisa kemana-mana karena sedang menjalani isolasi mandiri, oke?"
"Hoeeekkk...!!! sampai batas waktu yang tidak di tentukan apa! dasar lebay!!!"
Mulai deh mulut Mas Hamam semena-mena. Ga tahu rasanya Datul tersiksa ya Allah.
"Aggggghhhhhhhhh... tau ah sebel!" semprot Datul.
"Ya udah matiin telponnya! biasa di film-film gitu kalau sebel, kamu malah ketara masih betah denger suaraku ngomong"
"Hihhhhhh... pengen tak cekik kamu Mas!"
"Kan, kan, gemes? tentu aja gemesh sama orang ganteng kayak saya! hahahaha...."
Tut...Tut...Tut....
sambungan terputus tak lama setelah Hamam ngakak!
Datul kecewa, masih betah dong telponan sama Mas Hamam guanteng. Meskipun telinganya panas karena mesin telpon yang menempel. Huhuhu...
Kalau sudah begini Datul males ngapa-ngapain. Males pegang pekerjaan rumah maunya di sayang aja. Datul rebahan lagi. Guling ke kanan, guling ke kiri. Bebas wong pengangguran kog.
__ADS_1
Farkhan muncul dari balik pintu. "Lagi apa nduk?"
Datul berjingkat, sedikit kaget. Bapaknya terlalu halus, sampai buka pintu aja ga kedengaran. "Lagi ga ngapa-ngapain Pak, gimana?"
"Anterin kerupuk gih!"
"Ahhhh... Bapak lihat?" tunjuk Datul pada wajahnya sendiri. Dan Farkhan sudah paham.
"Yawes, tak anter dewe" ya udah, tak antar sendiri.
Farkhan hendak memutar tumit lalu balik lagi.
"Mau di belanjakan apa? jajan apa?"
Tuh kurang baik apa Bapak Datul. Sudah bisa menerima keadaan Datul yang pengangguran dan pemalas. Pengertian sama anaknya. Masih di tanya mau di belikan jajan apa? Duh, duh Pak, Datul berdoa semoga dapat suami yang kayak Bapak gini, doa Datul dalam hati.
"Sembarang Pak mau belanja apa, Bapak kepengennya apa, nanti Datul yang masak."
Farkhan mengangguk kecil. "Jajan?"
"Tahu bacem, sate kere, sama es dawet, kalau Bapak masih ada uang, hehe..." Kan ngelunjak si Datul mentul-mentul. Btw, mentul-mentul apanya? hahaha... othor ikut-ikutan Mas Hamam tadi.
"Iya nanti Bapak beli"
Datul tersenyum merekah. "Makasih Pak..."
Yah syukurlah, semenderita-menderitanya aku, masih ada Bapak yang sayang buanget sama anak perawannya... lop you Bapak...
Datul melirik meja nakas di sebelah ranjangnya. Membuka tutup wadah skincare merek terakhir yang Datul gunakan sebagai senjata perawatan kulit wajah. Datul meringis saat melihat isinya yang tinggal beberapa dulit.
Alamak... siaga tiga ini. Bapakkkkkk!!!! bolehkah tambah minta uang buat beli krim???? Jerit Datul dalam hati.
Akhir-akhir ini Datul sering mendengar Bapaknya mengeluh. Pria baik hati itu mengeluh jika sekarang banyak bermunculan kerupuk-kerupuk goreng pasir dengan label baru. Lebih laku di pasaran. Kerupuk pasir mereka jadi kalah saing karena polosan tanpa label nama produksi.
Kasihan Bapak... mana mungkin aku minta uang lagi, ya Allah beri hamba pekerjaan agar bisa beli krim jerawat. Meskipun pada dasarnya, hamba bukan hanya butuh krim untuk mencerahkan wajah hamba, tapi juga krim untuk mencerahkan masa depan hamba, Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad! sholu alaih....
Sholawatin aja terus wes, biar doa-doa Datul di ijabah...☺️
.
.
.
.
.
.
Hai, lama tak jumpa ☺️
Maaf lama tidak update. Maidatul balik nih, btw dia ikutan lomba writer season 7. Mohon dukungannya ya, terus like, komen, bagi hadiah terbaik kalian. Btw aku puas banget nulis bab ini. Lama vakum, otak agak bebal. Awal cerita susah mampus merangkai kata. Tapi setelahnya aku nikmat banget nulisnya.
Semoga kalian suka ya☺️
__ADS_1
Terimakasih 😜
salam kerupuk goreng pasir🥰