Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 44: Oke, Aku Mau!


__ADS_3

Hamam tidak menyangka Datul seberani ini. Datul di mata Hamam hanya gadis lugu, teman baik yang dia pungut di kampung. Hamam pikir pertemanannya dengan gadis berwajah jerawatan itu akan jauh dari cerita cinta-cintaan. Tapi ternyata sama saja, Hamam tidak memungkiri pesona ketampanannya yang memang patut dia acungi jempol kaki.


Hamam membuang pandangannya tak tentu arah. Sejauh ini, Hamam hanya merasa perlu melindungi Datul, mengulurkan tangan saat gadis itu kesusahan. Teringat gadis itu sangat menyedihkan, berjalan di tepi rel kereta api, nyaris tersambar kereta saat itu. Dari sana Hamam selalu kasihan dan kasihan. Apa cinta hanya bisa sebatas itu? rasanya tidak. Hamam tidak mau menerima perasaan Datul hanya karena dia kasihan.


"Kita pulang, aku akan anggap, kamu tidak pernah mengatakan itu atau kita sudah tidak bisa berteman lagi"


Datul di tolak?


Iya! Datul sudah tahu, dia bakal di tolak. Mungkin ada baiknya memang Hamam menjauhi Datul. Tidak usah berteman juga sekalian. Tidak usah baik-baik sama Datul lagi.


"Baik, kalau begitu Mas Hamam jangan sampai bersikap seperti tadi lagi, jangan buat aku baper, hiks... aku ini, hiks... soalnya orangnya baperan hiks..."


Datul menyeka ingusnya lalu berdiri. Entah besok masih sanggup menyapa tidak. Datul malu pada Mas Hamam.


"Hisk...kita pulang sekarang"


Malam itu, baik Datul dan Hamam hanya bisa saling diam. Hamam melajukan motornya dengan stabil, sedangkan Datul memilih duduk di ujung, berpegangan pada ujung jok belakang. Jangan sampai tangannya memegang bahu apalagi pinggang Mas Hamam. Datul memberikan jarak. Datul tidak mau kesetrum dan baper lagi, meski resikonya dia bisa jatuh terjungkal kapan saja.


***


Pagi harinya, Datul kira perasaannya akan membaik. Padahal sebelum berangkat kerja tadi dia sudah berniat, Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah,


tapi kenyataannya meleyot.


Mood Datul berantakan. Males kerja, pengen rebahan terus jadi kaya. Tapi mustahil sekali, nasibnya tidak sebagus Rayyanza Malik Ahmad, yang lahir jebrol sudah punya uang 2M atau bisa jadi lebih. Tidak tahu juga, wong Datul tidak di ajak ngitung.


Datul sebenarnya tidak mau iri hati, yang namanya rezeki katanya sudah di takar tidak mungkin tertukar. Tapi boleh dong sedikit iri sama keberuntungannya. Hai siapa saja, tolong semangati Datul. Kasihan, sudah tidak punya uang dan juga ayang.


"MAI SAYANG!"


Kecuali laki-laki ini. Sumpah, panggilan itu membuat Datul ingin siram-siraman bensin lalu menyalakan api. Bisa-bisanya Tomi berteriak memanggilnya seperti itu di muka umum. Banyak pembeli stand bensin yang antre ikut menoleh. Tak beradab memang si Tomi.


Datul cuek, biarlah dia pura-pura budek. Eh, tapi kasihan tadi malam dia habis di bogem Mas Hamam, huh...


Tomi mendekat, bogem pemberian Mas Hamam meninggalkan jejak di ujung bibirnya yang terlihat membiru. Sekilas Datul melirik lalu menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Masih untung hari ini dia jaga bagian solar. Tidak terlalu ramai, meski saat mengisi agak lama menunggu, maklum mengisi bahan bakar truk-truk besar yang tangkinya sebesar kolam.


Supir truk itu menyerahkan uang segepok karena mengisi penuh. Datul menghitung uang itu sebelum kemudian memasukkan ke dalam tas pinggang.


"Pas Pak, terimakasih"

__ADS_1


Pak supir itu cengengesan, yang di artikan Datul sebagai ejekan karena di sambangi laki-laki gila berambut keriting rusuh.


"Ayang Mai, lihat nih perjuangan gue ngejar Lo"


"Biru-birukan? Hamam brengsek emang, ogah gue temenan sama dia lagi"


"Pstttt... ayang, ayang, kepalamu peang Tom. Nyebelin, bisa nggak panggil nggak kayak gitu!'


"Enggak bisa, pokoknya terhitung semalam, Lo itu ayang selingkuhan gue"


"Najis, aku tolak sekarang! Aku nggak minat"


Tomi memelas, "ini semua gara-gara Hamam, kalau dia nggak ngerusak acara kita semalam, pasti kita sudah hidup bahagia sekarang"


Asli, kepala Datul pening. Malam hari pernyataan cintanya di tolak tanpa ba bi bu, pagi hari ada yang ngemis-ngemis buat di sayang, jadi selingkuhan pula. Ya nasib.


"Lagian Lo sama Hamam semalem kemana, langsung pulang apa mlipir sih, gue telponin juga nggak diangkat"


"Bisa nggak kita ngomong gini ntar nunggu aku selesai kerja, nggak enak sama yang lain"


"Lo pulang masih sorean Mai, sore juga gue ada janji jemput Nani, udah nggak usah di anggap, lagian mereka udah apal muka gue"


Tomi terkekeh, seakan hidupnya itu di haramkan sedih. "Buruan cerita, tadi malem kalian kemana, terus ngapain, cemburu nih gue"


Datul diam menimbang. Dia memang sedang butuh tempat curhat. Dengan raut yang begitu sedih, Datul menceritakan perihal obrolannya dengan Hamam tadi malam. Tidak ada yang Datul tutupi, Tomi pendengar yang baik, meski kebanyakan cengengesannya di bandingkan ngasih saran yang masuk akal.


"Jadi begitu, aku jujur bilang ke Mas Hamam kalau aku jatuh cinta sama dia"


"Teros Hamam bilang nggak mau anggep perasaan Lo?! jahat banget sih itu"


"Dahlah Mai, bener juga Lo sama gue, gue bakal bahagiain Lo sebagai selingkuhan, suer!"


Plak!!!


Datul mengeplak lengan Tomi. "Berhenti bilang kayak gitu, aku nggak ada pengalaman jadi selingkuhan, kalau di selingkuhi sering"


"Hahaha ... makanya, sekarang saatnya kamu melebarkan sayap, yok ah bisa!" ucap Tomi menyemangati Datul, di kira lomba Agustusan. Yok ah bisa! prekkkk!


"Enggak!"

__ADS_1


"Gue janji beliin Lo cilok tiap hari deh"


"Enggak!!!!" murah banget sih cilok. Keriting biadap!


"Antar jemput kerja everyday?"


"Enggak mau, aku udah di antar jemput Mas Dai tiap hari"


"Woahh... siapa laki-laki itu,?! jangan bilang Lo aslinya udah ada selingkuhan.


"Ngawur, Mas Dai tuh itu!" Datul menunjuk angkot kuning dengan dagunya.


"Dai-hatzu!"


"Anjay... gue like kalo itu"


Datul terkikik. Emang Tomi ini auranya ngajak jadi orgil.


Tomi menggaruk pelipisnya, sudah terlanjur sayang. Jadi ambisius biar bisa di anggap ayang sama Datul.


"Udah gini aja, lusa gue mau main bareng temen-temen, ke Jogja sih deket, gue pilih ajak Lo ketimbang si Nani, sebagai bukti kalo gue asli sayang sama Lo, kita bisa happy-happy di sana" Kening Datul mengekerut berpikir keras.


"Mau ya Mai jadi selingkuhan gue, please, Lo bakal banyak senengnya, daripada Lo sedih terus, ya kan?"


Tawaran yang menggiurkan. Piknik, gratis pula. Datul memang butuh itu. Tapi jadi selingkuhan? Hoam... cari penyakit nggak sih?


"Oke, aku mau"


Ehhhh.... othornya terlonjak kaget.


_


_


_


Wow, Datul resmi jadi selingkuhan gaes...


🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2