Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 14: Kepincut


__ADS_3

Satu bulan berikutnya Datul benar-benar pamit. Jadi pengangguran dan jomblowati lagi. Bedanya, sekarang Datul sudah kebal. Enggan meratapi nasibnya lagi. Gambaran hatinya seperti kalimat yaweslah meh piye neh? Ya sudahlah mau bagaimana lagi? Di pikir sepaneng ndak dadi gendeng!


Life must go on... Toh, Bapak Datul masih sanggup memberi makan Datul tiga hari sehari. Bantu-bantu ngantar kerupuk biar nanti di kasih uang lebih buat beli krim jerawat.


Siang itu pintu rumah Datul di ketuk. Datul yang baru saja wudhu hendak sholat dhuhur membuka pintu dengan wajah setengah basah.


Ternyata teman satu kelasnya waktu SMA, Mita.


"Hai Datul..." sapa Mita yang sekarang semakin glow up. Datul pantas iri, sebagian besar teman-temannya SMA kini tengah menitih pendidikan tinggi di universitas bergengsi, tentu saja penampilan mereka banyak berubah. Kece badai.


"Eh... masuk-masuk, maaf lama tadi lagi wudhu,"


"Santai, sebentar saja kog, mau ngasih ini," Mita memberikan sebuah undangan pernikahan. "Datang ya Minggu depan,..."


Datul terbengong untuk beberapa detik. Jadi calon pengantin nganterin sendiri undangan pernikahannya. "Ahhh... senengnya, masuk dulu ayo... ngobrol-ngobrol lama ga ketemu kan nanti biar aku pesenin es tehnya Mbak Minem," Datul basa-basi.


"Heummm... makasih, tapi maaf ini masih banyak yang harus di antarkan, saya pamit langsung ya"


"Hloo... kog buru-buru sih"


"Lain kali oke... makasih ya" teman Datul itu bahkan tak mau masuk. Dari paper bag yang dia tenteng memang masih banyak tumpukan undangan sih. Jadi memang buru-buru.


Sekarang Datul menatap undangan itu dengan nanar. Kepingin sekali datang bersama pacar gitu. Kemarin-kemarin pas punya pacar ga ada undangan datang. Giliran jomblo undangan pernikahan datang silih berganti. Dunia tak pernah memihak Datul memang.


****


Baiklah, tak ada pacar teman pun jadi. Masih beruntunglah punya sahabat satu frekuensi dan berada di bawah bendera yang sama. Jomblowers. Mereka bersama kumpul di rumah Datul sebelum nanti akan berangkat kondangan bersama.


"Menor ga lipstik ku?" tanya Datul yang anggun dengan dress panjang berwarna hitam. Rambut nya yang semi keriting ia jepit ke satu sisi.


"Menor nda kayak biduan gitu!" sambar Maktun.


"Ahhhhhh... masak sih? kayaknya udah pas deh"


"Tuh ngeyel, tanya di jawab malah prokes"


"PROTES Makkk!" ujar Tiva menimpali dengan raut tenang plus kalem. "Cantik kog Tul, PD aja lagi!" Tuh orang cantik pikirannya positif terus, wajar banyak cowok yang ngejar.


"Oke, ga aku hapus!" Datul mencibir ke arah Maktun lalu menyambar mini bag miliknya. Tak lupa memasukkan amplop kecil yang sudah Datul isi dengan selembar uang lima puluh ribuan. Maklum Datul punya segitu aja, kan pengangguran. Yang penting ikhlas.


Sampai di tempat acara, mereka bertegur sapa dengan teman-teman yang lain. Acara pernikahan Mita malah seperti acara reunian, karena jarang-jarang mereka bisa berkumpul dan bercengkrama begini, di suguhi makanan yang banyak pula.


Sementara pasangan pengantin duduk anteng di pelaminan, Datul dan kawan-kawan mulai beredar mengambil makanan. Ambil makan juga, pas tadi berangkat belum makan.


"Tul, ambil semur telur enak kayaknya!"


"Dih, sejak kapan aku makan telur!?"


"Oh ya ding, haram bagi kamu makan telur ya" Maktun cekikikan sambil menuang kuah semur di piring miliknya sendiri.


"Ga berani mengharamkan makanan sih, cuma aku ga mau mati gara-gara habis makan telur pasti jerawatku gila-gilaan, sakit tau!"


"Hahaha... ya udah ambil ayam aja gih"

__ADS_1


"Pasti, ayam goyeng, ayam goyeng" ucap Datul menirukan Ipin. "kamu mau Tiv?"


"Boleh"


Tak mereka sadari dari sudut meja yang lain ada lelaki tampan yang mengamati tingkah mereka bertiga.


Gadis yang manis,... sepertinya saya harus mendekati Datul... ya... Datul...


****


Keesokan harinya Datul bingung, apa sekarang dia berhalusinasi?


Mas Hamam berkaos kuning menyala duduk di warung mbak Minem? Siang-siang bolong yang panasnya jangan di tanya, Datul yang haus, rasanya ingin menyedot mas Hamam saja kalau bisa. Cowok itu selalu terlihat menyegarkan mirip soda gembira. Menghilangkan dahaga plus membuat gembira.


"Datul!" Datul melonggo, namanya di sebut, ah jadi mleot hati ini.


"Ya???" Lalu Hamam mendekat, berlari kecil ke arah Datul. Sumpah, Datul jadi pengen gendong aja bawa masuk ke rumah.


Mereka sekarang berdiri berhadapan. Sorot mata Hamam berhasil mengalihkan dunia Datul. Jantung Datul kembali berdetak kencang, macam ada drum band beratraksi di sana.


"Oi Datul! kemarin kamu datang ke pernikahan Mita ya?"


Datul gagap. "Yah... a-pa?"


"Kemarin kamu datang ke pernikahan Mita, kalian pernah satu kelas?"


Datul mengerjap. Lalu berhasil menguasai diri. "Ah... iya..., satu kelas pas SMA"


"Mas Hamam kenal Mita?"


Lihat aku? hah, kapan? bagaimana aku bisa melewatkan orang tampan begitu saja...


"Oh ya? saya ga lihat Mas-Hamam tuh?"


"Kamu asyik bercanda sama teman-teman kamu sih"


"Ah... ya mungkin..." Datul cengengesan alih-alih bersikap manis.


"Kamu mau beli es? pesan sana biar saya yang bayar!"


Dalam rangka apa? apa Mas Hamam ingin mendekati ku? GR boleh ga sih?


"Iya, eh maksudnya tidak usah Mas, saya bawa uang kog"


"Sudah, sudah pesan saja!"


"Mbak Minem punya Datul ikut hitungan saya nanti ya!"


"Sip Mas!"


"Mau di buatin minum apa Tul?"


"Es good day coklat Mbak, biasa air sedikit, es batunya yang banyak"

__ADS_1


"Duduk sini!" perintah Hamam. Mau, mau, jalankan di minta duduk di warung, diajak duduk di pelaminan saja Datul mau mas.


Mereka pun duduk bersebelahan. Suatu kehormatan bagi Datul bisa duduk satu bangku begini bersama orang tampan. Oh, habis ini Datul akan bagi-bagi kerupuk sebagai wujud rasa syukur.


Hamam meneguk es miliknya sambil ngemil tahu susur. Datul semakin gila dengan pikirannya sendiri.


Gila, makan tahu susur aja bisa sekeren itu!


"Datul!"


Pengen jawab, "iya sayang?" hahaha.... ngimpi!


"Iya?"


"Kemarin itu pas saya lihat kamu, saya memerhatikan salah satu temen kamu,"


Deg! Siapa? Maktun, Eni, Aina, Susi? Datul mengingat deretan teman yang bersamanya kemarin. Datul masih diam.


"Yang pakai baju hitam hlo... dia deket sama kamu terus kog"


Wait, bukankah kemarin yang pakai baju hitam itu Datul sendiri, apa Mas Hamam terpesona lantas pura-pura begini.


"Yang mana sih mas?'


"Ah... itu yang ambil makan bareng kamu"


Jleb! Datul melupakan satu orang yang pasti mampu menarik perhatian siapa saja.


"Oh... Tiva? Namanya Ativa..."


"Heummm... dia manis sekali menurut saya..."


Prangggggg....!!!!


Itu bunyi hati Datul yang retak!


....


"Boleh saya minta nomor hpnya?"


"..."


.


.


.


.


.


Poor Datul.... mas Hamam malah kepincut sahabat baiknya, gimana nih?

__ADS_1


komen, like, bagi kembang sekebon😘


__ADS_2