Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 75: Omong kosong, kata Datul!


__ADS_3

Pas waktu itu Datul tidak bisa menjawab. Dia malah cegukan dan minta pulang. Datul menganggap ajakan Mas Hamam untuk menikah hanya sebuah lelucon, padahal sebenarnya kalau Datul iyakan, Mas Hamam juga masih bingung harus melangkah bagaimana. Secara Mas Hamam masih pengangguran. Baru lulus kuliah dan belum dapat kerja.


Tapi Mas Hamam tidak mau menyerah untuk mengajak Datul jadian. Mas Hamam khawatir kalau Datul suatu waktu, tiba-tiba Datul down dan memilih bunuh diri. Jadi setiap hari Mas Hamam selalu berusaha mendekati Datul. Layaknya cowok yang sedang mengejar-ngejar gebetan.


"Selamat pagi gebetan..." Sapa Mas Hamam pada Datul yang sedang mengantri bubur ayam.


"Pagi orang gila!"


"Dih, balesnya gitu amat. Padahal aku udah romantis hlo"


Datul melirik tajam pada Mas Hamam. Untung saja beli bubur ayamnya jauh dari kampung mereka. Kalau sampai orang kampung tahu bisa heboh. Bisa jadi trending topik. Masak iya handsome man merayu gadis buruk rupa. Kan mustihil!


"Buburku butuh di bayarin, enggak butuh sapaan romantis!"


"Okeh!... berapa Pak lek?" Mas Hamam langsung mengeluarkan uang dari saku celana kolor ijo yang dia pakai.


Ehhh... gercep banget. Tahu gitu nambah sate usus. Batin Datul.


Karena Mas Hamam yang membayar, penjual bubur itu menyerahkan bubur Datul pada Mas Hamam. Baru kemudian Mas Hamam menyerahkan pada pemiliknya.


"Kog di bungkus, enggak di makan di sini?"


"Tadi enggak ada temen makan, jadi aku bungkus"


"Ckkk! kenapa enggak ajak aku?"


"Huftttt.... Kamu tahu Maidatul Khan, sekarang ini aku pengangguran, jadi sering-seringlah ajak aku pergi," Wajah Mas Hamam memelas kayak anak meong yang minta duri ikan tapi takut keselek pas makannya.


Dih, mengharap banget di ajak kemana-mana!


"Mas Hamam pas waktu itu kesurupan jin penunggu pohon randu, apa kesurupan ruh burung gagak yang e ek sembarangan itu sih, ngomongnya bikin aku merinding disko, kayak bukan Mas Hamam"


"Sayang, gebetan, My honey, terus apalagi? My baby minyak telon? eeeuhhhh!!!" gerutu Datul.


"Hahaha...." Mas Hamam terpingkal-pingkal sampai memegangi perut. Datul memang sesosok makhluk yang tidak bisa di nalar tapi masih tergolong manusia. Dirayu bukan tersipu malah misuh-misuh terus.


"Malah ketawa! emang yang lucu apa sih!"


Kontan Mas Hamam mencubit kedua pipi Datul yang gembul. "Kamu yang lucu, ihh gemeshhhh!!!"


"Lu-lu-lu, cu-cu-cu! Lucu!" ucap Mas Hamam yang belum mau melepaskan cubitannya.


"Auccch! lepas Mas! sakit tahuuuuu!" Sumpah Datul malu di lihat orang-orang. Mas Hamam keterlaluan. Alay di depan umum bisa di penjarakan enggak sih? serius nanya!


"Pokoknya selama kamu belum menerima aku buat jadi pacar kamu, aku bakal ngejar kamu terus, enggak peduli kamu ke neraka sekalipun, aku pasti kejar"


"Terserah Mas Hamam, lagi pula siapa mau ke neraka, panas, aku enggak suka. Jadi permisi aku mau pulang!"


Datul mengambil motornya cepat-cepat, dan siapa sangka, dengan sigap pula Mas Hamam ikutan nangkring di belakangnya.


"Heiiihh, Mas Hamam apaan sih! turun enggak!"


"Enggak mau, nebeng boleh kali sayang, jangan pelit! ingat bubur ayam kamu, aku yang bayar"

__ADS_1


Hlah, kog malah di ungkit...


"Mas Hamam kesini emang enggak bawa motor? enggak jelas banget!"


"Hai holla...come come ta le vu! kamu enggak lihat aku pakai celana pendek sama kurungan gini? aku sampai sini joging Tul laikhannn"


Datul membuang nafas kasar. Tidak ada pilihan lain, selain memboncengkan Mas Hamam yang sudah bayarin bubur ayamnya. Datul merasa Mas Hamam ini berubah jadi orang aneh. Aneh, dulu jutek menolak Datul mentah-mentah, sekarang malah mengejar Datul sudah kayak orang bucin.


Rajin mengirimi pesan, rajin telpon meski di reject Datul. Yang lebih parah, sekarang Mas Hamam rajin ke rumah Datul. Bahkan rumah Datul sudah kayak rumah ke dua bagi Mas Hamam. Sampai kadang Datul menemukan laki-laki itu tertidur di lantai depan rumahnya.


Kadang tidak ada Datul sekalipun, laki-laki tampan itu rela membantu Pak Farkhan menggoreng kerupuk atau mengangkat kerupuk yang selesai di jemur. Sudah begitu tiap hari kerjaannya minta makan Datul.


Di bilang Datul tidak masak sekalipun, Mas Hamam rela mengemis untuk di buatkan mie goreng Indomie. Dipikir dia apa Datul istrinya, sampai makan minta di layani.


Mas Hamam merentangkan kedua tangannya saat di bonceng Datul. Menikmati udara yang menerpa ketiaknya yang tadi basah oleh keringat. Datul melirik, melihat tingkah Mas Hamam dari kaca spion. Sedangkan Mas Hamam, di bonceng Datul seperti itu, entah mengapa dia bisa merasa bahagia. Sederhana sekali.


"Harus ya pamer ketek!?" Datul mengomel saat mereka melewati jalan yang kanan kirinya persawahan.


"Eummm... harusnya seperti apa? begini?" Mas Hamam tiba-tiba memeluk Datul dari belakang lalu meletakkan dagunya di bahu kanan Datul. Hembusan nafas laki-laki yang sebenarnya namanya terukir di hati Datul itu bahkan bisa Datul rasakan.


Datul tidak siap, kaget gila! Fokusnya langsung buyar berlanjut mereka nyungsep di semak-semak.


KRUSUK! KRUNTEL!


"Attaahhh..." Datul meringis, merasakan pahanya yang nyeri. Untung tidak aspal yang mereka cium, ke tulung semak jadi agak empuk.


"Kamu gimana sih, baru sekali di bonceng malah nyungsep gini!"


"Nyungsep-nyungsep gara-gara siapa! Mas Hamam tangannya kenapa sih? terus itu kenapa dagu pakai di tempelin di bahuku, udah enggak kuat nyangga kepala?"


Mas Hamam megap-megap belum sempat membalas, Datul sudah nerocos lagi.


"Kalau enggak kuat nyangga kepala, gih ganti kepala ayam!"


Anjayyy... ganteng-ganteng di suruh ganti kepala ayam!


Mas Hamam berdiri, berkacak pinggang. Ingin marah-marah tapi ingat masa pendekatan, akhirnya Mas Hamam memilih mengalah. "Huhhh... sori, sini aku bantu bangun sayang"


"Stop disana! aku bisa bangun sendiri!"


Kemana perginya Maidatul yang menye-menye, yang plengah-plengoh, yang penurut juga. Yang ada sekarang Datul yang galak, suka ngomel, marah-marah, jarang senyum. Mas Hamam benci Datul yang ini.


Datul coba bangun, tapi susah. Satu kakinya tertindih motor.


"Kan di bilangin susah!" Mas Hamam buru-buru mengangkat motor Datul. Sementara Datul masih betah nglemprak di tanah.


"Buburku Mas, buburku!"


"Hlahhh... tumpah Tul!"


"Aghhhh.... gara-gara Mas Haman sih!"


"Iya deh iya, gara-gara aku" Daripada makin panjang marahnya, mending ngalah.

__ADS_1


"Sekarang aku lihat kaki kamu, ada yang patah enggak?"


Plakkk!


Datul memukul lengan kokoh Mas Hamam. "Mulutmu Mas!"


"Hehe... sebelah mana yang sakit biar aku urut"


"Eh... enggak usah pegang!"


"Diem berisik! Sori nih aku pegang, sebelah sini kan?" Mas Hamam memijat kaki Datul, yang punya kaki meringis sakit-sakit agak enak. Sampai tidak sadar jadi merem melek, keenakan. Hahahaha...


"Coba berdiri," Datul masih kesusahan buat bangun, "Sini aku bantu" Mau tidak mau Datul nurut kali ini.


"Gimana, enggak sakit kan?"


"Lumayan"


"Huh, apa aku bilang. Aku ini hebat juga masalah urut-mengurut. Makanya ayok kita pacaran"


"Enggak, makasih!"


"Huh, Maidatul Khan, apa kurangnya aku coba?"


"Tampan, baik hati, suka menolong, tidak pelit, pinter mijit--"


Datul menyela pujian Mas Hamam pada dirinya sendiri, "Mas Hamam hanya kasihan sama aku, aku tahu Mas"


Seketika Mas Hamam kicep. Kata-kata Datul tajam tepat menusuk hatinya. Memang benar Mas Hamam belum sepenuhnya cinta Datul, dia pun sadar. Tapi apa namanya jika hatinya ikut sakit saat melihat Datul sakit. Apa namanya jika dia merasa ingin melindungi gadis itu. Apa itu tidak cukup sebagai dasar memulai suatu hubungan?


"Lagipula Mas Hamam pengangguran, lebih baik Mas Hamam fokus cari kerja dulu, daripada membuang waktu buat omong kosong sama aku, iya kan?" Hati Datul jadi melow, selain karena tidak jadi makan bubur ayam juga karena Mas Hamam.


"Gimana caranya buat aku bisa menyakinkan kamu hah?"


"Yakinkan dulu hatimu Mas, baru bawa orang tuamu kerumahku, setelahnya aku baru bisa yakin"


"Hmmm... baiklah... kamu lihat nanti, saat itu tiba, kamu enggak ada lagi alasan buat nolak"


"Hm... aku yakin kalau kamu enggak bakal melangkah sejauh itu Mas, jadi aku terima tantanganmu!"


"Oke! kita lihat saja nanti!" Mas Hamam tersenyum. Meski belum tahu kedepannya bagaimana, setidaknya hati Mas Hamam sedikit lega. Itu artinya Datul tidak benar-benar menutup hatinya. Tidak akan ada sebutan Datul perawan tua. Iya, masih ada celah yang bisa dia masuki. Tinggal tunggu timingnya saja.


_


_


_


Maaf ya lama update 🙏


Sibuk dengan dunia nyata biasalah, drama hidup😬


Makasih sdh sabar menunggu 🤗

__ADS_1


__ADS_2