Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 30: Full Senyum


__ADS_3

Empat hari berlalu begitu saja semenjak peristiwa tali kutang nyangkut di rambut kepala Maidatul Khan. Meski malu yang teramat sangat, tapi entah mengapa justru hal itu mampu membuat hati Datul berflower-flower.


Kalau sedang sendirian melamun, bahkan Datul sudah mirip orang gila, bisa senyum-senyum sendiri. Untung rumahnya selalu sepi dan pintu terkunci.


Jangan sedih, jangan khawatir, nanti aku bantu, nanti aku yang pikirin...


Kata-kata itu terus terngiang di telinga Datul. Bagaikan kata-kata magic yang mampu membuat hati Datul tentram sekaligus bahagia secara bersamaan. Bagai air hujan pertama yang jatuh membasahi tanah setelah musim kemarau panjang. Meneduhkan dan memberi kehidupan baru.


Mas Hamam seperti itu selalu bisa memberikan aku keyakinan jika semuanya akan baik-baik saja, bahkan saat aku merasa di titik paling lemah, dia selalu ada.


Yah Datul sadar, mungkin perasaannya ini bagaikan pribahasa pungguk merindukan bulan. Tak akan pernah terbalas. Tapi Datul bisa apa? dengan sadar pula dirinya sudah banyak bergantung pada Mas Hamam.


Sisi hati Datul yang lain seringkali mengingatkan. Jangan! Jangan baper nanti sakitnya pasti jeru, tapi sisi yang satunya selalu egois, tak apa, itu wajar, itu tidak salah, itu hak asasi mu, percaya suatu saat nanti pasti rasa itu terbalaskan, kamu hanya butuh bersabar.


Mas Hamam bilang, aku cukup manut, maka dari itu hari ini aku putuskan untuk tidak terlalu pusing memikirkan nanti malam.


Meski aslinya Datul pusing setengah hidup. Mau pakai baju apa, make up gimana, bahkan dia tidak punya sandal baru untuk di ajak jalan ke gedung pesta.


Hawesh embuh! Datul lagi-lagi memilih menyibukkan diri. Membungkus gunungan kerupuk-kerupuk itu ke dalam plastik bening, tidak lupa label bertuliskan namanya sendiri ikut dia masukan. Tangan Datul lincah melakukan itu semua, bahkan tanpa harus khawatir akan salah masuk lubang. Lubang mulut, misalnya. Ah, itu sih sesekali tapi sering. Tidak apalah wong punya bapaknya sendiri.


Mas Hamam is calling....


Datul membiarkan panggilan itu berdering agak lama. Tidak langsung mengangkatnya, anggap saja itu hukuman atas rasa yang sebenarnya Datul ciptakan sendiri. Dih!


Baru kemudian, "Holla..."


"Kamu habis pup ya?"


"Hah?" Itu pertanyaan yang mengagetkan jiwa raga sungguh. Niat mengerjai malah sepertinya di kerjai duluan. Huh!


"Enggaklah! lagi packing kerupuk ini," Ciehhh, kata-katanya keren 'packing' padahal yang dibungkus kerupuk lima ratusan. Wkwkwk...


"tangan berminyak jadi cuci tangan dulu" tambah Datul dusta.


"O... gini, aku cuma mau ngomong, nanti sore temenku bakal ke rumah kamu,"


"Buat apa!?" sambar Datul.


"Hish, makanya dengerin dulu Tul, temenku bakal bantu make over kamu, katanya kemarin kamu butuh persiapan, ini demi kamu, aku juga udah beli baju sama sepatu buat kamu,"


Datul mesam-mesem. Ah, bunga-bunga di hatiku semakin bermekaran, sekarang di tambah kupu-kupu berterbangan di sana. Mas Hamam so sweet. Sepersekian detik Datul tak bersuara.


"Heh Datul"


"Hem... baju baru Mas?" hanya itu yang keluar dari mulut Datul, maklum otaknya sedang terbang bersama kupu-kupu.


"Enggak, PL (preloved)!"


"Dih jahat!"


"Hahaha... canda kali, masak ya tega aku beli PL, udah gitu dulu. Nanti malam jangan lupa aku jemput di rumah mu, oke?"


Duh, duh, duh, sumpah jantung Datul berdebar-debar ini. Tidak hanya mesam-mesem lagi, tapi sudah full senyummmm. Membayangkan di jemput Mas Hamam yang tampan, terus di bonceng tanpa embel-embel kandang burung yang jadi penghalang. Lalu pergi ke pesta dan bersenang-senang. Cita-cita Datul banget ini.


"Oke" Balas Datul kegirangan.


-

__ADS_1


-


Senyum Datul mengembang bak di formalin, awet hingga sore tiba. Apalagi saat teman Mas Hamam datang mengetuk pintu rumahnya. Mas Hamam ternyata memang tidak berbohong. Dia mengirimkan temannya kesini.


Datul membukakan pintu, dan sesosok pria tampan tapi gemulai berdiri dengan wajah sebal. Tangan kanannya terlihat kesusahan membawa berangkas make up, sedangkan tangan satunya menenteng koper besar, entah apa isinya. Semoga saja tidak bom.


"cus me!" excuse me maksudnya, karena sangking kemayunya jadi gitu deh.


"Temen Mas Hamam?"


"Iyess! bantu bawa ini masuk ye, ai cuapek perjalan jauh..." Belum di minta masuk si gemulai udah nyelonong.


Jadi ini yang bakal make up aku ya... kenapa bentukan gini sih, jadi was-was kalau gini! gimana kalau luput habis di make up aku malah kayak ondel-ondel! Hiiiii


"Sisteurrr... mau di make up atau mau berdiri aja di luar sampe subuh?"


"Eh..." Yang punya rumah aku hlo, kog galakan dia. "Hehe... maaf, mari silahkan duduk, mau di bikinin minum apa Mas, ehhh Mbak, ehh... apa ya panggilnya..."


"Hem, panggil saya Tam-Tam, nama ai Tamara, berhubung ini masih sore jadi cukup panggil aja Tam-Tam"


Datul meringis sampai matanya tinggal segaris. "Oke Tim-Tam, eh Tam-Tam, maaf salah terus.."


"Lu kira, ai ini coklat? big no! ai lebih lezat daripada makanan itu"


"Yang bener lu kalau kata, nanti ai bdmd ga bakal tuh wajah lu jadi syantik, nih juga kalau bukan Mas Mamam yang guanteng yang minta tolong, males ai jauh-jauh datang ke kampung"


Datul gagap, mulutnya salah berucap lagi mungkin beneran dia di jadikan ondel-ondel.


"Piss, damai Tam-Tam, aku pesenin es jeruk biar seger, wait, five minut" Ini malah Datul ikutan ngomong alay gini sih.


"Ai tadinya curiga, kalau gadis yang bakal ai make up itu gebetan Mas Mamam, tapi abis ketemu lu, jujur ai lega"


"Kenapa memangnya?" Datul hanya bisa melihat lawan bicaranya itu lewat pantulan cermin di depannya. Sedikit menoleh saja dia bisa kena omel Tam-Tam lagi. Di make up itu harus anteng, perintahnya tadi.


"Ya elu jelek, ga mungkin gebetan Mas Mamam jelek berjerawat gini, sekelas ai aja yang mulus di tolak, apalagi lu"


Ampun, jelas di tolak lah Mas Hamam masih normal. Iya kali pisang makan pisang. Tapi demi kedamaian, Datul memilih menyimpan pikirannya sendiri. Daripada dengerin kata-kata Tam-Tam yang terlalu jujur, mending dengerin musik. Ide bagus untuk mencairkan suasana.


"Tam-Tam aku puterin lagu ya"


"Serah, awas kepala tetap di angkat, bisa rusak karya ai kalau lu banyak gerak"


Datul segera memutar lagu lewat aplikasi Joox. Selain nonton drakor, Datul juga hobi dengerin musik yang lagi viral dong. Kudu cepet-cepet milih lagu, keburu di lirik sinis Miss Tam-Tam.


...Mbok yo sing full senyum sayang (Haa-aa-aa)...


...Ben aku soyo tambah sayang (Haa-aa-aa)...


...Rasah pusing-pusing...


...Gek ndang dandan, ayo kita healing, uu-uu...


...Bukane aku ora peduli...


...Tapi pancen kodemu angel dipahami...


...Ngomongo wae kabeh opo anane...

__ADS_1


...Ben podo penake......


Baru beberapa lirik, Tam-Tam sudah ikut berdendang. Mulutnya cumak-cumik ikutan nyanyi lagu Jawa yang lagi viral ini. Sedangkan tangannya masih aktif dempul sana dempul sini. Wajah Datul memang harus di bedakin tujuh sap dulu baru mulus.


...Mbok Yo sing full senyum sayang......


...Ben aku Soyo tambah sayang......


"Tetep full senyum maseeh, masio untu mu kuning-kuning, hihihi..." Tam-Tam terkikik tanpa dosa. Datul jadi ikutan senyum, mau ngakak juga takut bedaknya di sekitar bibir bisa pecah.


"Ngawur og, ganti-ganti lirik"


"Ye... tuh ai cuma niru di tok-tok,"


"Hehehe... emang ada?"


"heee... ga percaya? nanti ai kasih lihat, kelarin muka lu dulu inihhh... OMG, boros bedak ai, ga mau tahu nih... ai mau minta bayaran mihil"


"Hehe... minta Mas Hamam, saya ga punya uang"


"Lu jangan khawatir, ai paham banget sama wajah-wajah kayak lu" Datul hanya meringis.


Butuh dua jam untuk menyulap wajah Datul yang tidak mulus menjadi semulus pantat bayi dan glow up to the max.


"Lu buka mata, siapa itu yang di cermin?"


Datul tidak percaya, ini seperti mimpi. Gumun setengah hidup. Wajah yang di pantulkan oleh cermin seperti bukan wajahnya.


"Gimana bisa? ternyata aku bisa secantik ini ya Allah,"


"ini, ini sih bukan Maidatul Khan, tapi Anya Geraldine, sumpah saya terharu banget, makasih Tammmmmm..."


"Joss kan? ai gitu lohhhh..."


Datul manggut-manggut. "Joss gandos!" puji Datul sambil mengacungkan dua jempol untuk Tamara.


"Full senyum sayang... Ben aku tambah sayang...haa-aa-a..." Tam-Tam bersenandung lagi sambil beres-beres senjata make up miliknya. Sesekali pinggulnya yang tepos ikutan goyang-goyang lucu.


Datul full senyum sungguhan. Kalau cantik begini, sudah pasti dia percaya diri jadi pasangan Mas Hamam nanti malam.


Mas Hamam, aku siap jadi istrimu... siapkah engkau jadi imamku...


Wakkk... Datul beneran gila kali ya... astaghfirullah...


-


-


-


note:


judul lagu: Full senyum sayang


penyanyi : Evan loss


Asli enak banget lagunya, cuss cari di utub ya man teman. Biar bisa ikutan nyanyi bareng miss Tam-Tam.🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2