Maidatul Khan

Maidatul Khan
Chapter 67: Berkunjung


__ADS_3

Kali ini Datul merajuk. Mas Ali benar-benar melupakan hari ulang tahunnya. Tidak ada ucapan selamat atau pun sebuah kado yang sebenarnya Datul harapkan.


Dia bahkan sudah berani memblokir nomor Mas Ali. Biar saja, Mas Ali sesekali memang harus di kasih pelajaran.


Ditempat lain, Mas Ali kelimpungan. Subsidi rokok dan makan siang entah kenapa belum ada kabar. Laki-laki itu juga sudah berusaha menghubungi Datul. Tapi dia baru sadar kalau sudah di blokir. Bingung sendiri, salah apa dia.


Ckkk! aku harus menemuinya nanti...


Mas Ali datang ke rumah Datul malam harinya. Dia pinjam motor milik temannya. Fyp, dia aslinya kere tapi belagu. Datul agak kaget saat membukakan pintu.


"Hai, selamat malam... aku enggak ganggu kamu 'kan?"


"Ada perlu apa Mas Ali kesini?"


"Boleh aku masuk dulu?"


Datul masih berbaik hati mengijinkan Mas Ali masuk. Melihat wajah Datul yang merenggut dan jelek, Mas Ali tebak gadis ini sedang ngambek.


"Bapak mana?" tanya Mas Ali yang sekarang sudah duduk manis di kursi tamu.


"Mushola"


"Oh..."


"Sepi ya rumah kamu?"


"Biasa kayak gini"


"Ekhem... aku mau ngomong"


"Emang dari tadi main angklung?!" jutek Datul


Wajah Mas Ali memelas berbalut kebingungan. Aslinya Datul kasihan kalau Mas Ali sudah melas begitu. Wajah kayak yang benar-benar kelaparan.


"Aku ada salah apa sama kamu? kenapa sampai blokir-blokir nomor segala?"


Mas Ali mulai menyusun strategi untuk menaklukkan Datul lagi. Gadis ini jangan sampai memberontak terlalu lama, kemakmuran kantungku bisa terancam.


"Kamu udah bosen sama aku?"


Beberapa detik Datul tertegun. Dia ingin di bujuk, di rayu, di puja oleh Mas Ali. Kalau Mas Ali tanya begitu, Datul jadi takut di tinggalkan.


"Tidak, tidak begitu..."


"Lalu?"


"Mas Ali melupakan satu hal, dan itu membuatku marah"


"Dan berpikir kalau sebenarnya Mas Ali tidak benar-benar menyayangiku"


"Aku lupa apa?"


"Mas Ali masih tidak sadar?" Pria itu menggeleng mantap. Datul cemberut kecewa.


"Aghhh... seminggu yang lalu aku ulang tahun Mas! Mas Ali tidak tahu apa pura-pura tidak tahu hah!?"


"Oh, Astaga!" Mas Ali terlihat menyesal. Tentu saja itu pura-pura. Selain sebenarnya dia memang tidak peduli.


"Maaf, aku lupa, serius... enam belas Juli ya?"


Mas Ali meraih tangan Datul untuk dia genggam. Tatapannya fokus pada netra Datul yang masih merajuk. "Sori, katakan kamu pengen apa, biar aku bisa menebus kesalahanku, please jangan diamkan aku, aku enggak sanggup"


Dan dengan mudahnya Datul luluh lagi. Mas Ali terlihat tulus memohon, lagipula Datul tidak mau berpisah dengan Mas Ali. Nehi, itu hal buruk yang matian-matian Datul hindari. Datul ingin hubungan mereka sampai pelaminan.


"Bawa aku ke rumah Mas Ali, aku ingin dan kepengen tahu rumah Mas Ali"


"Itu saja?" Datul mengangguk.


Hah, tentu saja Datul, mari kita bermain di rumahku... dan aku akan membuat mu semakin terikat padaku.


***


Hari berikutnya, Mas Ali membawa Datul ke rumahnya. Rumah petak di salah satu perumahan di daerah Jalan Sudirman. Berhubung mereka pas libur, Mas Ali meminta Datul menemaninya seharian. Dia berniat memberikan kenangan indah untuk Datul.


Sengaja Mas Ali mengajak Datul belanja sayur dan ikan sebelumnya. Mas Ali bilang ingin mencicipi masakan Datul. Atau nanti mereka bisa masak berdua. Sok romantis ala-ala drama Korea.


"Mari masuk..." Mas Ali membukakan pintu untuk Datul. Datul agak canggung karena rumah itu begitu sepi.

__ADS_1


"Kog sepi Mas?"


"Habisnya mau ada siapa lagi, aku udah bilang kalau tinggal sendirian, ibuku ikut kakak di Solo, kamu lupa?"


"Hmm..." Datul memindai tiap sudut rumah itu. Dinding kosong, tanpa foto-foto keluarga. Hanya jam dinding yang menggantung, itupun jarumnya mati.


"Aku enggak bakal kurang ajar sama kamu, paling minta cium doang" goda Mas Ali. Wajah Datul memerah. Malu. Dan entah mengapa malah bayangan dia ciuman dengan Mas Hamam melintas begitu saja.


"Apaan sih Mas,"


"Hahaha... mau minum apa? bikin sendiri aja gih, sekalian bikin buat aku"


"Hmmm... kesini aku jadi pacar atau di jadikan pembantu sih" balas Datul yang gantian di balas kekehan oleh Mas Ali.


"Anggap rumah sendiri Bu Ali..."


"Ckkkk!!!"


Bahagia Datul sesederhana itu. Mau bagaimana pun di perlakukan, asal bukan KDRT, Datul masih bisa terima. Mau di bonceng pakai motor buntut hayuk, di ajak guleg sambel terasi Ok. Bahkan di minta bersih-bersih rumah ayang pun Datul lakukan dengan berhore-hore.


Setelah bersusah payah, padahal yang di masak cuma sayur bayam dan goreng ikan bandeng. Akhirnya mereka bisa makan.


"Enak Mas?"


"Ekhem... enak, bumbunya mantep" hoekkk.... ini ikan bandeng goreng apa ikan asin sih? payah!


"Syukur kalau Mas Ali suka, kata Bapak sih tiap kali aku masak rasanya keasinan, ya gimana, aku suka asin, hehe..."


Parah, bisa mati karena darah tinggi suamimu kelak!


Mas Ali ingin muntah, tapi demi menjaga perasaan Datul, dia paksa untuk menelan makanan sampah itu.


"Datul..."


"Ya?"


"Bulan depan aku ingin pulang ke Solo, pengennya sih pakai motor aja biar hemat"


"Tapi kamu tahu motorku sering rewel"


"Hmm, mau pakai motorku?"


Datul menyelesaikan makannya, lalu cuci tangan. "Mas Ali, berapa kali aku bilang, kayak sama siapa? pakai saja motorku, nanti aku bisa naik bus berangkat kerjanya"


"Oh... baiklah, nanti tanggalnya aku kabari"


"Ashiap!"


Habis makan mereka bersantai, nonton tv sambil rebahan. Sesekali Mas Ali menggoda Datul dengan meletakkan kepalanya di paha Datul.


Oke, ini masih aman!


"sayang ..."


"Ya?"


"Boleh cium?"


Datul menimbang dalam hati. Satu sisi hatinya menolak, satu sisi lagi berbisik. Enggak apa, toh ini bukan yang pertama. Toh dia pacarmu sendiri.


Minta cium versi laki-laki dewasa, mana mungkin cium pipi ya kan?


"Apaan sih Mas! ngaco!"


"Katanya sayang?" Mata Mas Ali sudah berliput nafsu. Wajahnya yang tengadah di paha Datul memberi isyarat agar Datul mendekat, melakukan hal yang sama. Datul menunduk, di tuntun usapan halus yang di berikan Mas Ali pada pipinya. Gelenyar aneh mulai di rasakan Datul. Dua bibir itu hampir menempel, hingga...


Drrrrrrrtttttt....!


Drrrrrrrrtttttt....!!!!


Ponsel Datul bergetar. Nama Mas Hamam muncul di layar.


Shittttt! sebentar lagi padahal!


"Hehe.... iklan Mas. Aku angkat telpon dulu ya"


Mas Ali terlihat terusik.

__ADS_1


"Hallo, ada apa?"


"Dimana?"


"Aku lagi tidak di rumah, ngapain sih telpon"


"Katanya mau minta kado, giliran di samperin enggak di rumah"


"Ahh... itu, besok-besok lagi aja" Datul sedikit berbisik, tidak enak kalau Mas Ali dengar.


"Udah ya, aku tutup"


"Hoh, liat aja nanti kalo ada yang nangis lagi, ogah aku temen..."


Tut!


Datul menutup telpon itu sepihak. Yakin sekali Mas Hamam di sana mencak-mencak.


"Siapa yang telpon?"


Datul membalik badan, berusaha bersikap wajar. "Aaa... itu temen,"


"Coba sini lihat"


Tiba-tiba aja Mas Ali merebut ponsel Datul. Baru kali ini dia begitu.


"Mas Hamam?" kerutan di dahi Mas Ali ketara sekali.


"Temenku Mas, satu kampung"


"Kamu enggak bohong kan?"


"Buat apa aku bohong?" Maaf Mas, aku bohong, Mas Hamam punya tempat sendiri di hatiku.


"Tampan dan masih muda. Yakin kamu enggak naruh rasa sama dia?"


Datul gelagepan. "Mana mau dia sama aku Mas? lagian Mas Ali masak lupa, dia itu yang dulu bareng aku pas pulang dari Jogja, ingat?"


"Hm, aku enggak suka kamu dekat sama dia, dia sepertinya ada rasa sama kamu, kamu tahu pas itu aku perhatikan dia sangat perhatian"


"Pas Kamu tidur, dia menyelimutimu pakai kain sarung miliknya, enggak wajar kalau enggak ada perasaan"


"Mas Ali yang salah paham. Dia itu cerewet banget, sepanjang perjalanan bisanya ngomeli rok yang aku pakai, katanya terlalu pendek, terlalu seksi, maka dari itu dia bungkus aku pakai sarung"


"Mas Ali percayakan sama aku"


"Hmm..."


"Makasih sayang...."


"Udah sore, mandi gih sana!"


"Nanti di rumah ajalah"


"Katanya bawa baju ganti, sekalian kan enak"


"Gitu ya?"


"Heem"


"Ya udah Mas Ali tunggu sini"


"Hmmm... padahal pengennya di ajak... hehe..."


"Gaje!"


"Hahahaha..."


Datul mandi dengan perasaan yang agak mengganjal. Sedikit was-was. Namun lagi-lagi gadis itu meyakinkan hatinya sendiri, tidak ada yang perlu di takuti. Kalau ada hantu sekalipun, ada Mas Ali di depan. Tinggal teriak aja.


_


_


_


_

__ADS_1


Komen, komen, komen, Yoh🤗


Makasih ✌️


__ADS_2